Antara Darah dan Bisikan Hati
Januari 30th, 2007 by Vee
Semburat tinta hitam
di atas sebuah kanvas. Putih.
Ragu nan sedih tak terbisukan
Jari-jari mungil seorang nirmala terluka!
Parah!
Darah … Darah …
Bukankah lukisan itu lebih indah!!!
Dengan darahmu, Nirmala!!
Biarkan kanvas itu melukiskan kesedihan
dan duka. Yang lama terpuruk
dalam butiran-butiran yang biadap!
Aku ‘kan mengiris kulit-kulit ini
Hingga kulihat tawa dan
kebahagiaanmu. Tapi ….
Kau masih saja sedih. Kau masih saja
meratapi nasibmu yang tak berujung
Kau biarkan saja iblis-iblis menari di atas
rambutmu
Kau …. kau …
masih menunggu lagi siksa apa lagi yang hendak
menyapamu.
Aku tak tahan! Kapan kau mau berduka
dan menyadari penderitaanmu