Naha Salah Lamun Kuring Boga Rasa Salain Ka Anjeun!*)
Januari 26th, 2007 by hendri f. isnaeni
Aku tak percaya pada apa yang telah aku lakukan. Aku telah memukul perasaan wanita yang telah menghadirkanku ke dunia fana’ dan wanita yang selama ini mengisi hari-hariku dengan bunga-bunga: yaitu ibuku yang duapuluh tahun lalu melahirkanku dan dia yang tiga tahun yang lalu menerimaku sebagai penjaga hatinya.
Aku telah menumpahkan air mata bundaku karena aku tak menjaga amanatnya, “jangan sekali-kali menyakiti hati wanita.” Yang setiap aku pulang kata-kata itu pula yang senantiasa ibuku pesankan padaku. Aku ibarat Malin Kundang yang tak mengakui ibunya sendiri yang kemudian dikutuk oleh menjadi batu. Aku takut ibuku melakukan seperti yang dilakukan ibunda Malin Kundang padaku. Karena dia sangat mewanti-wanti sekali hal yang satu ini. Bahkan di akhir pesannya ibu menambahkan dengan kata-kata yang akan membuatnya murka jika aku melanggarnya: …kalau kamu menyakiti wanita, berarti kamu telah menyakiti ibumu sendiri.
Aku telah mengingkari sebuah janji yang kutulis sendiri dalam sebuah prasasti cinta, dengan huruf yang hanya aku dan dia yang memahaminya. Aku yakin Arkeolog manapun tak kan dapat menerjemahkannya, karena prasasti itu selain abstrak juga tersimpan dalam lubuh hati kami yang paling dalam.
Namun, semua telah terjadi. Ibarat pepatah, nasi sudah menjadi bubur. Tak mungkin menjadi nasi kembali. Aku harus terima ini sebagai sebuah kenyataan. Kini, perasaanku terbelah dua antara rasa bersalah dan bahagia karena aku merasakan cinta kedua selain darinya. Perasaan bersalah timbul setelah aku mengatakan, “Maafkan aku! Aku terpaksa melakukan ini. Aku harap kamu mengerti dan menerima ini sebagai sebuah kenyataan.”
Di hadapanku mematung seonggok wanita muda. Mukanya yang selalu membuatku rindu ditutupnya dengan dua telapak tangan sehingga aku tak bisa melihat wajah ayunya. Dia tertunduk layu, matanya yang dulu paling aku sukai darinya meneteskan air mata merembes ke sela-sela jemarinya yang indah bukan main laksana jari-jari cleopatra─wanita mahacantik yang aku ketahui lewat buku sejarah─, butiran air mata itu terjatuh seperti embun pagi yang jatuh ke daun talas. Siapa pun bisa menebak bagaimana perasaan; hancur, luluh berkeping-keping. Dia masih diam seribu bahasa. Saat itu, sepatah kata begitu mahal baginya. Padah ketika kami bersama dulu, dia orangnya ceria, manja, senang becanda dan itulah magnet yang menarikku ke medannya. Aku mengerti kenapa dia mengunci mulutnya, sebab percuma saja dia berkata-kata, semua telah terjadi. Dan kata “Maaf” yang keluar dariku─yang kini menjadi mantan soulmate-nya─ibarat palu hakim yang dihantamkan di meja hijau untuk pesakitan barang haram narkoba yang tidak bisa diampuni lagi, bahkan Presiden sekalipun enggan memberikan amnesti maupun grasi.
“De…” sapaku lembut namun onak baginya. Untuk diketahui kawan! “De” adalah panggilanku untuknya. Meski usianya hanya selisih beberapa bulan saja, namun dia meminta aku memanggilnya “De” dan dia memanggilku “Kaka”. Panggilan itu bukan karena aku nge-fans sama gelandang serang muda AC Milan asal Negeri Bola, Brazil, Ricardo Inzection Leite yang dipanggil “Kaka”. Tetapi aku merasa lebih bermakna baginya kalau aku dipanggil “Kaka”.
“De! Naha salah lamun kaka boga rasa salain ka anjeun!” bahasa Suku-ku: Sunda keluar.
Isakannya mulai mengeras. Aku merasa bersalah mengucapkan kata-kata itu. Ingin aku tarik kembali kata-kata itu. Namun, kata yang keluar dari mulutku adalah anak panah yang lepaskan busurnya. Tak mungkin kembali. Dan sialnya panah itu menancap di ulu hati yang yang semula telah aku tancap dengan belati.
“Maafin Kaka, De, telah berkata seperti itu. Kaka hanya berusaha jujur tentang apa yang Kaka pilih.” Aku berusaha menjelaskan kepadanya. Aku yakin meski tanpa dijelaskan pun dia sudah tahu. Tetapi, ingat kawan! Di dunia ini, beretorika itu perlu untuk menutupi janji-janji yang telah diingkari. Seperti pejabat yang berkampanye. Menghambur-hamburkan kata-kata manis bernama kesejahteraan, demi menarik simpati. Atau menghembuskan angin surga kepada masyarakat yang mendambakan surga karena mereka lelah lama berendam di kawah candradimuka bernama kemiskinan.
Tanganku hendak meraih pundaknya. Ingat kawan! Jangan “neti” (negatif thinking) dulu, aku hanya ingin memberikan rasa tenang melalui tanganku. Dengan itu aku berharap dia membuat prediksi bahwa dalam lubuk hatiku yang paling dalam aku masih menyimpan rasa cinta padanya. Itu bukan perkiraannya, tapi perkiraanku. Sebenarnya aku tahu dan sadar, bahwa memegang pundaknya sama saja membuat pekerjaan yang sia-sia dan menyita waktu karena tangan kasarku jelas tak kan dapat mengobati sakit hatinya. Namun, apa boleh buat lagi, cuma itu yang bisa kulakukan, tak lebih.
Dia melepaskan tanganku dari pundaknya pertanda dia tak sudi aku pegang. Itu juga menunjukan bahwa aku tak berhak lagi atasnya. Ingat kawan! Atas cintanya bukan atas segala-galanya, aku tidak sah untuknya begitu pula dia untuku. Dia berdiri dengan cepat. Matanya merah seperti orang yang tidak tidur selama tiga hari tiga malam karena harus meronda sebab kampungnya baru-baru ini diganggu kelong wewe yang mengintai bayi-bayi merah. Tanganya menyibak air deras yang terus mengucur dari sudut matanya yang ─bagiku─tetap indah dan bening meski basah kuyup.
“Baiklah, Ka, kalau ini yang Kaka mau.” Akhirnya sesuatu yang aku tunggu-tunggu keluar juga dari mulut indahnya. Singkat, padat dan jelas, itu jawaban dari semua keputusan. Dia ibarat pesakitan yang menerima apapun putusan hakim (yaitu aku) kepadanya.
Setelah itu, dia membalikan badannya melangkahkan kakinya. Tubuhnya yang sempurna, dengan balutan kerudung warna pink yang dulu pertama kali membuatku jatuh hati padanya. Karena bagiku kerudung adalah kemenangan dan kesempurnaan wanita muslimah. Dengan itu dia akan terjaga dari gangguan laki-laki yang tak memiliki kehormatan. Sebab laki-laki yang terhormat adalah laki-laki yang menghargai dan menghormati wanita.
Dia begitu cepat berlalu dari pandanganku. Jauh! Jauh! Dan semakin jauh! Hingga membentuk titik. Dalam hati aku berkata, “Sesungguhnya, aku tak kan pernah melupakanmu hingga usiaku dijemput waktu. Namun, apa yang ku lakukan adalah bagian dari perjalanan hidupku yang harus aku lalui. Semoga aku senantiasa menjadi lumpur yang akan abadi melekat di tembok (kamu) yang kokoh: membiarkanku ─dengan ikhlas─ melekat dihatimu.”
Jakarta, 15 Januari 2007
*) Bahasa Sunda: Apakah salah kalau aku punya rasa selain ke kamu.