Taman Tanpa Bunga
Januari 14th, 2007 by BANGKIT.S.MAHANANI
Menyusuri jalan yang diselimuti kabut tipis itu, ia seperti memasuki lorong-lorong masa silam yang sunyi dan mencekam. Desir angin menggugurkan dedaunan tua diranting pohon. Menari gemulai di udara sebelum tersungkur ke bumi. Menatapnya, seolah ia mendengar himne kematian sayup-sayup sampai.
Minggu pagi yang dingin. Untunglah lelaki tua itu selalu menggunakan jaketnya. Disebuah taman di pusat kota, ia putuskan untuk mengaso setelah letih jalan pagi. Duduk di bangku semen yang penuh coretan tangan-tangan iseng. Ia nikmati suasana di depan matanya sembari manata napas. Sepasang suami istri tampak gembira membimbing anaknya belajar melangkah. Banyak juga yang duduk menghampar di rerumputan. Sesekali melintas satu dua orang sedang marathon atau jalan pagi, dilatari horison timur yang mulai memerah.
Seorang wanita berwajah teduh yang telah lama hilang ditelan waktu, tiba-tiba menjelma dipelupuk matanya. Si lelaki tua mendesah haru. Di taman itu, puluhan tahun lalu, ia pernah menitipkan kenangan. Kini ia datang lagi, tapi dengan penuh kesadaran bahwa ia tak mungkin menggenggamnya kembali. Ia hanya ingin bernostalgia, seperti membuka-buka album foto usang yang teronggok berdebu dalam gudang.
Kota kenangan itu bernama Yogyakarta. Sebulan setelah pensiun, ia putuskan kembali kesana, tempat ia melewati seperempat usianya. Semula, ketiga anak dan menantunya tak setuju. Mereka ingin ia tetap di Jakarta. Akan tetapi, niatnya tak bisa ditawar lagi.
Malam itu dia menasehati anak dan mantunya di sebuah kedai kecil.Meski sudah mapan,dia tak ingin mereka takabur dan lupa bersyukur. Di bawah temaram cahaya lampu, wajah tiga pasang suami istri itu agak sulit diterjemahkan. Entah gelisah, sedih, cemas, atau tersiksa mendengar petuah panjang lebar yang membuat mereka seolah-olah dianggap masih anak kemarin sore. Sambil menyeka kacamata minus, ia sambung celotehnya. Ia kangen suasana Jogja, itu saja
Jam sembilan malam, bus melesat meninggalkan terminal yang riuh. Duduk di bangku kanan dekat jendela dan menatap keluar sana, hatinya nelangsa. Ia merasa berdosa pada anak cucu. Apalagi ketika wajah almarhum istrinya berkelebat. Di balik sejumlah alasan yang telah tumpah, sesungguhnya ia masih menyimpan satu rahasia. Selama ini tak ada yang bisa mengorek isi hatinya dan menemukan sesuatu yang tersembunyi di sana. Hanya ia sendiri yang tahu, bahwa sudah puluhan tahun ia pelihara kerinduan yamg mendalam di kota Jogja.
Pulang ke kotamu…
Sesampainya di terminal matanya berkaca-kaca sewaktu didengar lagu Yogyakarta-nya KLA PROJECT mengalun perlahan seolah-olah ingin menyambut kehadirannya.
Pulang ke kotamu…ada setangkup rindu
Masih seperti dulu tiap sudut…
Tak terasa air mata mengalir dari sudut kedua matanya.
Seminggu menjelang bulan Mei tutup buku, tepatnya tanggal dua puluh, ia singgah lagi ke tempat itu. Sebuah taman tanpa bunga, nyaris dipenuhi belukar. Jam setengah lima sore. Taman lengang. Ia tertatih menuju bangku tempat biasa mengaso. Tiba-tiba batinnya berdesir mendapati punggung seorang perempuan bersweater hijau tosca sedang duduk mencakung di sana. Seketika saja sosok itu mengingatkannya pada seseorang dari masa lalu.
Dua langkah menjelang bangku taman ia berdehem, seakan ingin menyadarkan lamunan perempuan itu bahwa ada orang lain di dekatnya. Benar saja. Si perempuan menengok kearah sumber suara. Detik itu juga, ketika beradu pandang, dua manusia itu tercekat. Wajah si perempuan pucat. Bibir si lelaki bergetar. Meski uban menghias kepala dan kerut-kerut usia terpahat di dahi, tapi mereka masih bisa mengenali satu sama lain. Di senja sore yang dingin, kenangan menjerat mereka.
“Lad…”
“Ndra…”
Sepasang manusia itu tampak salah tingkah, meredakan gelombang gelisah. Tangan kanan si lelaki mencekal sandaran bangku, menopang tubuhnya yang agak
limbung, sebelum duduk di sana. Sunyi terasa ngilu, bercampur haru, juga setangkup rindu.
“Apa kabar, Lad ?”, seolah ada kerikil menyumbat tenggorokan si lelaki tua ketika pertanyaan itu melompat dari mulutnya. “Baik”, balas Ladya gamang.
“Tak kusangka kita bisa bertemu lagi. Berapa tahun, Lad ? dua puluh ? tiga puluh ? mungkin lebih ?! “Ladya sedang terpukau menatap seekor kupu-kupu di pucuk ilalang. Hendra pun seolah tak membutuhkan jawaban. Pikirannya menerawang ke masa silam. Ladya adalah sekelumit kisah masa lalu. Hendra pernah mencintainya ketika sama-sama tinggal di Jogja. Namun, cuaca buruk akhirnya memisahkan. Mungkin emosi lebih dominan kala itu. Mereka pun lenyap ditelan waktu. Meski sempat beberapa kali betemu, tapi rasa itu sudah hambar. Mereka telah menjadi dua kutub berbeda. Kadang kala perpisahan diucapkan tanpa kata. Tanpa sungguh-sungguh selesai.
“Sudah lama di Jogja, Ndra ?”
“Hampir seminggu. Banyak yang berubah di sini.”
“Lantas, apa yang menuntunmu ke taman ini ?”
“Tiap orang punya kenangan, Lad. Itulah yang membawaku kemari.“ Hendra menghela napas sebelum menyambung kalimatnya. “Selamat ulang tahun, Lad…”. Air muka Ladya berubah. Ada senyum tersaput samar dibibirnya. Ia tak menyangka, Hendra masih ingat tanggal kelahirannya. Ya, hari itu tepat lima puluh dua tahun usia Ladya dan taman itu pernah jadi saksi kisah cinta masa lalu yang sederhana.
Waktu adalah hakim yang paling adil. Puluhan tahun berlalu. Sekian kisah telah dituai. Pagi itu, perjalanan hidup mempertemukan mereka kembali dalam suasana yang jauh berbeda. Lama tak bersua tanpa kabar berita, keduanya saling mendedah cerita. Kalau ada hal yang paling mereka sesali saat itu, satu-satunya adalah, mengapa hanya untuk menumbuhkan sebuah kesadaran tentang cinta, mesti diperlukan waktu berpuluh-puluh tahun dan hanya dipertemukan kembali di tempat yang sama dengan suasana jauh dari yang mereka harapkan.
Sungguh pemandangan yang unik. Jika ada orang lain memperhatikan mereka, mungkin akan menganggap Ladya dan Hendra sedang bertengkar atau
sudah pikun. Seorang kakek dan seorang nenek duduk berjauhan di tepi bangku taman, berbincang-bincang, tanpa saling bertatapan.
Pertemuan dan perpisahan untuk kembali menempuh jalan yang berbeda. Selebihnya, mereka lebih banyak membisu, terseret arus perpisahan masing-masing. Matahari membenamkan dirinya. Lambat laun taman mulai sepi ditinggalkan pengunjung. Tinggal Ladya dan Hendra yang tersisa.
Mereka seperti peziarah yang singgah di sebuah nisan tanpa nama, merangkai sisa kenangan, berkaca pada lampau dan hari-hari kini, untuk kemudian pergi lagi.
Begitulah. Setelah saling berpamitan, keduanya melangkah menuju mata angin yang bebeda. Hendra ke utara. Ladya ke selatan. Sekitar tiga puluh meter meninggalkan taman tanpa bunga itu, seolah ada kekuatan, entah apa dan dari mana yang memaksa mereka menengok ke belakang.
Dua manusia lanjut usia itu bertatapan. Gamang. Tak ada senyuman. Tak ada lambaian tangan. Hanya sunyi dan haru yang membentangkan jarak menyakitkan. Mereka sama-sama menyadari, ada yang tak sempat terurai, ada yang tak sempat terangkai, namun terasa indah. Angin berbisik lirih, mengimbau mereka kembali melanjutkan langkah.
Jalan pulang terasa jauh.
aku copy-paste tlisan ini, untuk aku baca menemani makan malamku bersama 2 ekor kucing, dalam pembagian yang sama, satu piring nasi dan pindang untukku, satu piring nasi dan 2 pindang untuk 2 temanku. terimakasih
Very touchfull
however kizah cinta yang prnah trgorez dijiwa
Zelamanya tak akan prnah dapat kembali menjadi jiwa zprti zmula bahkan kitapun tidak akan dapat menjadi orang yang zama zetelah cinta menjamah kita
Zezederhana apapun cinta itu