Pangeran Dari Negeri Seribu Satu Malam
Januari 13th, 2007 by Banhawy
Malam semakin larut, sejauh mata memandang hanya ada hamparan pasir yang membentang luas dan hembusan angin gurun yang dingin hingga menusuk tulang. Tidak terlihat lagi tanda-tanda kehidupan. Kehampaan yang dalam mulai terasa dan gadis kecil itu terus berjalan di tengah gurun pasir yang ganas. Gadis kecil itu bernama nadia. Ia terpisah dari keluarganya, ketika sebuah badai pasir datang dan menerpa tenda tempat ia dan keluarganya tengah beristirahat dalam sebuah acara wisata. Ia terus berjalan dan menangis sembari memeluk boneka kecil berbentuk kuda poni yang merupakan mainan kesayangannya. Boneka itu adalah hadiah ulang tahun dari sang kakek tercinta. hembusan angin gurun yang kencang membuat tubuh mungilnya menggigil dan akhirnya ia pun terjatuh. Seluruh persendiannya terasa lemas dan tak berdaya. gadis kecil itu terduduk di dalam hamparan gurun pasir yang luas sambil memeluk erat boneka kuda poninya. Pandangannya tertuju pada bintang-bintang yang bertaburan di angkasa. Indah sekali. Gumamnya dalam hati. Agak lama ia terpesona dan terus memandang ke angkasa. hingga akhirnya seorang pemuda tampan menepuk pundaknya dengan lembut.
Pemuda tampan yang belakangan di ketahui bernama rashid itu, memakai pakaian tradisional arab bedoin yang terbuat dari sutra berwarna putih dengan sulaman garis keemasan di bagian lengannya, sedangkan pada bagian dadanya terdapat medali emas bergambar elang, yang merupakan lambang suku arab bedoin. Di sampingnya berdiri seekor kuda cantik berwarna putih dengan surai emas dan mata kehijauan. persis seperti boneka kuda poni yang di miliki oleh nadia. Untuk sesaat nadia merasa takjub.bagaikan bertemu dengan pangeran dalam dongeng.adik kecil siapa namamu? dan apa yang sedang kau lakukan di sini? tanya pemuda yang bernama rashid itu dengan ramah. Nadia hanya terdiam, ia tidak menjawab karena takut dengan orang yang baru saja di kenalnya. Melihat gelagat nadia yang tampak ketakutan, rashid hanya bisa tersenyum. lalu ia pun kembali bertanya sembari memperkenalkan dirinya.
Adik kecil kakak bukan orang jahat. kakak hanya ingin tahu apa yang terjadi pada dirimu. mana papa dan mamamu? boleh kakak tahu siapa namamu?. Melihat sikap rashid yang baik dan bersahabat, ketakutan nadia pun sirna dan ia mulai menceritakan apa yang terjadi pada dirinya. Namaku nadia..papa dan mama hilang terbawa angin…anginnya besar sekali… nadia bercerita dengan polosnya, hingga ibalah hati rashid dan ia pun memutuskan untuk menolongnya. Ia pun mengajak nadia pergi ke rumahnya dengan menunggangi kuda bersurai emas miliknya.
Ajaib. Tiba-tiba saja kuda bersurai emas terbang dan memiliki sayap yang membentang luas. Dalam sekejab mereka pun tiba di sebuah tempat yang di sebut alif laylah wa laylah ( seribu satu malam). Tempat itu sangat indah. Bagaikan sebuah kastil arab di tengah gurun pasir. Istana yang terbuat dari emas itu, memiliki taman yang di penuhi dengan hamparan bunga mawar merah dan putih,air mancur yang menjulang tinggi serta pohon kurma dan palem yang rindang. di tempat tersebut nadia di perlakukan bagai putri raja. Ia di beri pakaian yang bagus-bagus dan di jamu dengan hidangan yang lezat. Ia juga menari dan bernyanyi bersama rashid, para dayang dan para kurcaci kecil yang lucu. Mereka menari dengan penuh kegembiraan hingga melupakan segala kesedihan dan kecemasan. Malam kian larut dan nadia pun mulai mengantuk. Sesekali ia mengusap matanya dan wajahnya tampak sangat lelah.
Kak rashid aku mau bobo…aku ngantuk sekali…celoteh gadis kecil itu. Suasana tiba-tiba menjadi hening. para kurcaci diam seribu bahasa dan para dayang terlihat murung. Sudah saatnya…kita harus mengembalikannya…pelan terdengar bisikan dari salah seorang kurcaci yang berdiri di dekat rashid. Wajah rashid pun berubah menjadi murung, namun ia tetap berusaha gembira di hadapan nadia. kemarilah nadia, tidurlah di pangkuanku, ujar rashid. Segera saja ia menghampiri nadia dan memeluknya dengan penuh kasih sayang. di letakkannya tubuh mungil nadia di dalam pangkuannya. Pelan terdengar suara rashid yang berdendang kecil untuk meninabobokan nadia.
Tidurlah putri kecilku yang cantik…tidurlah dengan penuh kebahagian dan hati yang damai…angin gurun telah membawamu padaku…maka aku akan melindungimu dengan kasihku…bila kelak kita berpisah, kuharap kau tetap teringat akan dirimu… Perlahan mata gadis kecil itupun meredup dan ia pun terbang ke alam mimpi.
Pagi itu terdengar suara orang-orang dan para tim pencari korban bersorak sorai. Mereka telah menemukan gadis kecil yang hilang selama 3 hari akibat di terpa badai gurun. Ia tergeletak di sebuah oase yang sangat indah dengan hamparan air yang bening dan pohon kurma yang lebat. Pagi itu nadia terbangun dalam pelukan sang mama. Tampak olehnya sang mama sedang memeluk dan menciuminya dengan linangan air mata. Tampak pula olehnya sang papa yang berdiri di samping sang mama, menangis haru sambil mengusap-usap kepalanya.
Syukur alhamdulilah kau selamat nak…kami sangat khawatir…ujar sang mama. Mama dan papa kenapa menangis? mana kak rashid dan teman-teman yang lain? tanya nadia dengan wajah sedikit murung. Tampaknya ia merindukan pemuda yang kemarin malam bersamanya. Tenanglah nadia, mama dan apa ada di sini. Kau aman sekarang. Ujar sang papa. Gadis kecil itu masih tidak mengerti, namun ia memilih diam seribu bahasa. Pandangannya sibuk mencari rashid dan para kurcaci, hingga ia melirik dan menengok ke sana kemari seperti anak yang kehilangan sesuatu, hingga menarik perhatian pemandu wisata yang ikut dalam pencarian itu.
Apa yang kau cari nak? tanya sang pemandu dengan ramah.
Aku mencari kak rashid dan teman-teman kurcaci, tadi mereka bersamaku.ujar nadia dengan polosnya. Setelah mendengarkan cerita nadia, wajah pemandu tersebut berubah pucat pasi dan dengan segera ia memberi isyarat kepada para tim pencari dan orang tua nadia untuk segera meninggalkan oase tersebut dengan alasan bahwa daerah itu berbahaya. Rombongan pun bergegas pergi menjauhi oase yang bernama alif laylah wa laylah tersebut dan nadia pun pulang dengan hati yang hampa karena tidak bisa bertemu dengan rashid dan teman-teman kurcaci untuk yang terakhir kalinya.
Pak pemandu, mengapa kau suruh kami untuk cepat-cepat meninggalkan oase tersebut? Bukankan kau sendiri yang bilang bahwa oase itulah tempat berlindung yang paling aman di wilayah gurun pasir ini? lalu bagaimana dengan orang yang bernama rashid tadi? Mungkinkah dia penduduk setempat? tanya ayah nadia dengan penuh keheranan.
Kita harus segera meninggalkan tempat ini tuan. Percayalah. Tempat ini sangat berbahaya dan sering di sebut sebagai padang pasir yang berdimensi dua setengah. Penuh dengan fatamorgana dan ilusi. Karena itu meski sudah berusia ribuan tahun dan memiliki daerah yang subur, tidak ada seorang pun yang mau tinggal di sini. Tidak manusia, tidak juga hewan. Kalau kita terlalu lama di sini, kita akan mati. jawab sang pemandu sambil menambah kecepatan mobil.Mendengar hal itu sang ayah hanya bisa menghela nafas panjang sembari memandang ke arah putri kecilnya yang tertidur lelap di pangkuan sang bunda. Mobil semakin melaju dengan kencang dan bergerak mendekati perbatasan gurun pasir dengan kota. Samar-samar tanpa mereka sadari terlihat seorang pemuda tampan menunggang kuda berwarna putih dan bersurai emas, di dampingi oleh para pengawalnya, berdiri di atas bukit gurun pasir yang terjal, sambil memandang ke arah mobil tersebut.
Selamat tinggal adik kecilku, jika kita berjodoh, suatu saat kita pasti bisa bertemu lagi di tempat ini. tempat di mana mimpi dan dongeng adalah hal yang nyata. tempat di mana seorang pangeran yang kesepian dan selalu menanti akan datangnya hari ini tinggal. serta tempat yang merupakan pintu masuk menuju ke dunia lain. Tempat itu adalah alif laylah wa laylah ( seribu satu malam)
Tamat
mau nanya sedikit boleh ya? tumben sudah beberapa hari ini kolomkita kok tidak nge-post cerita baru? thx