Sastra dan Kebudayaan; Interaksi Timbal Balik
Januari 12th, 2007 by cahyonowidar
Oleh; Tjahjono Widarmanto
Sastra, merujuk A.Teeuw, berasal dari akar kata sas (Sansekerta), yang berarti mengarahkan, mengajar, memberi petunjuk, dan instruksi. Akhiran tra berarti alat atau sarana. Jadi, secara leksikal sastra berarti kumpulan alat untuk mengajar, buku petunjuk atau buku pengajaran yang baik. Sebagai contoh, dalam khazanah Hindia, sastra sebagai makna buku petunjuk dapat dijumpai pada istilah silpasastra (buku petunjuk arsitektur untuk candi), kamasutra (buku petunjuk percintaan). Dalam perkembangan selanjutnya, istilah sastra sering dikombinasikan dengan awalan su sehingga menjadi susastra, yang dimaknai sebagai hasil ciptaan yang baik dan indah.
Dalam teori kontemporer sastra dikaitkan dengan ciri-ciri imajinasi dan kreativitas. Imajinasi dan kreativitas inilah yang kemudian menjadi ciri khas dan karakteristik kesusastraan. Sastra dalam istilah-istilah Barat, yang mengacu dari bahasa Latin, disebut sebagai litteratura, yang artinya segala sesuatu yang tertulis.
Sastra merupakan strukturasi pengalaman. Hal ini berarti bahwa sastra tidak dapat dilepaskan dari pengalaman hidup pengarangnya atau sastrawannya. Semua genre sastra, baik itu prosa, puisi, atau drama, hadir sebagai media berbagi pengalaman sastrawan kepada pembaca. Hal itu sejajar dengan pendapat Zaimar (1990:1) bahwa dalam karya sastra terpancar pemikiran, kehidupan, budaya, dan tradisi yang hidup dalam masyarakat.
Objek karya sastra adalah realitas. Sastrawan sebagai causa prima lahirnya karya sastra akan memproyeksikan dirinya ke dalam karya sastra. Pendapat ini senada dengan pernyataan Griffith (1982) bahwa sastra merupakan ungkapan dari pribadi sastrawannya. Kepribadian, perasaan, keyakinan, ide sastrawan akan mewarnai karyanya. Sistem berpikir sastrawannya akan dimanifestasikan dalam karya-karyanya. Sistem berpikir sastrawan sangat dipengaruhi oleh ideologi, nilai, orientasi yang dibentuk oleh kebudayaan yang dijumpainya dalam realitas hidupnya. Oleh karena itu, teks sastra hadir tidak semata-mata sebagai penglipur lara belaka, namun selalu hadir sebagai kisah sekaligus berita pikiran. Sebagai kisah sekaligus berita pikiran, sastra merefleksikan sekaligus merespon berbagai sistem budaya yang ada dalam masyarakat.
Setiap genre sastra selalu hadir sebagai sebuah sistem lambang budaya yang merupakan hasil kegiatan intelektual sastrawannya dalam merespon berbagai fenomena yang hadir di sekelilingnya. Jadilah teks sastra sebagai sebuah fakta kemanusiaan, fakta kejiwaan, dan fakta kesadaran kolektif sosiokultural. Raoucel dan Warren menyebutnya sebagai proyeksi kegelisahan manusia dengan segala macam persoalan kultural, sosial, sekaligus kejiwaan.
Sastra merupakan salah satu aspek kebudayaan. Sastra berperan penting dan terlibat dalam kebudayaan. Peranan dan keterlibatan sastra dalam kebudayaan setidaknya ada dua hal. Pertama, dalam kaitannya dengan penyediaan sumber data, yaitu dalam bentuk karya sastra, baik lisan maupun tulisan. Kedua, peranan dan keterlibatannya dalam kaitannya dengan teori, khususnya teori-teori postrukturalisme.
Sebagai sumber data, sastra bersifat fiksi sekaligus fakta. Sastra merupakan sumber data dengan medium bahasa yang kemudian diprensentasikan dalam bentuk wacana, karya sastra juga merupakan objek kajian yang amat kaya karena sebagai sebuah system symbol selalu menunjuk sesuatu yang lain.Di samping menyediakan sumber data yang amat kaya, sastra juga menyediakan teori-teori. Dalam kaitannya dengan studi kultural, teori-teori yang dimaksud adalah postrukturalisme yang mengangkat fiksi dan fakta, rekaan dan kenyataan menjadi isu penting.
Sastra dan kebudayaan, baik secara definitif etimologis maupun secara praktis pragmatis berkait erat, keduanya berbagi wilayah yang sama, yaitu aktivitas manusia, namun dengan jalan yang berbeda. Sastra melalui kemampuan imajinasi dan kreativitas yang ditumpu kemampuan emosionalitas, sedangkan kebudayaan melalui kemampuan akal sebagai kemampuan intelektualitas. Kedua-duanya sama-sama menaruh perhatian besar pada aspek-aspek rohaniah sebagai pencerahan akal budi.
Sastra dan kebudayaan selalu dikaitkan dengan nilai-nilai positif. Sama-sama memiliki fungsi kemanusiaan, sehingga karya sastra sering dianggap sebagai katharsis (Aristoteles), lango (Zoetmulder), aesthetic fungtion (Mukarovsky), aktivitas pencerahan (pujangga-pujangga reinesance). Melihat kaitan erat antara sastra dan kebudayaan maka beberapa perguruan tinggi yang memiliki fakultas sastra, mengubah namanya yang semula fakultas sastra menjadi fakultas sastra dan kebudayaan.
Intensitas hubungan antara sastra dam kebudayaan dapat diurai melalui dua cara. Pertama, seperti yang terjadi pada hubungan antara sastra dengan masyarakat yang melahirkan sosiologi sastra yang dipicu oleh stagnasi strukturalisme yang terlampau mengagungkan unsur intrinsik sehingga melupakan aspek ekstrinsik yaitu aspek sosiokultural. Kedua, hubungan antara sastra dan kebudayaan juga dipicu oleh lahirnya perhatian terhadap kebudayaan yang didalamnya membicarakan masalah-masalah yang berkait dengan kritik sastra. Dalam hubungan ini tampaklah peran sastra dalam studi kultural yaitu mendudukan sastra sebagai peristiwa-peristiwa kebudayaan. Oleh karena itu cultural studies atau studi kultural sangat mungkin diterapkan dalam kajian sastra atau dengan kata lain sastra dengan berbagai genrenya merupakan salah satu objek studi kultural.
Sebagai bagian dari aliran postmodernisme, teori-teori yang dikembangkan dalam studi kultural adalah teori-treori postruturalisme yang berangkat dan diadopsi melalui teori bahasa strukturalisme Sausurean. Teori-teori ini dalam sastra mutakhir kemudian dikenal dengan sebutan postrukturalisme, seperti:semiotika, resepsi, interteks, feminis, postcolonial, dan dekonstruksi.
Dalam bukunya Cultural Study for Beginners, Borin Van Loon (1997) mengemukakan bahwa sumbangan sastra amat besar dalam studi kultural. Dikuatkan oleh Hutcheon (2004) bahwa walaupun postmordenisme dan studi kultural secara umum didefinisikan sebagai kajian yang mempelajari seluruh aktivitas kemanusiaan, namun jikalau dilihat dari sejarah kelahirannya di Inggris diawali dengan perdebatan mengenai sastra, khususnya perbedaan sastra tinggi dengan sastra kelas pekerja.
Milner menegaskan pula, bahwa pada dasarnya studi kultural merupakan pergeseran sosiologis, sebagai pergeseran paradigma dari penelitian dan kajian sastra yang memberikan perhatian besar pada kualitas estetis karya sastra yang tidak terikat ruang dan waktu ke penelitian sastra sebagai konstruksi social. Dengan kata lain, studi cultural dapat dengan leluasa diterapkan untuk mengkaji karya sastra, baik dalam genre prosa, puisi, maupun drama.
Kelahiran postrukturalisme berpengaruh besar pada cara pandang kebudayaan. Terjadilah pergeseran paradigma dari pusat ke pinggiran. Masyarakat manusia bukan hanya kelompok manusia yang hidup di kota-kota, masyarakat kelas atas, melainkan juga masyarakat kecil, masyarakat tertindas, tunawisma, tunakarya, tunasusila, dan sebagainya. Kajian sastra dengan studi kultural diarahkan pada kompetensi dan eksistensi masyarakat tertentu, masyarakat yang barangkali terlupakan. Melalui studi cultural bisa disibak berbagai hal mengenai sastra lokal, sastra perempuan, sastra popular, tokoh komplementer dan sebagainya.
Interaksi yang simultan, yang kedua-duanya saling memberi ruang dan saling mewarnai. Selama sastra dan kebudayaan membicarakan persoalan manusia- kemanusiaan, masyarakat-kemasyarakatan, dan hidup-kehidupan, maka interaksi itu akan terus ada dan akan menawarkan berbagai pendekatan yang akan memperkaya kesusastraan dan kebudayaan.*****
*) Penulis adalah penyair yang tinggal di Ngawi
oke ni yang aku cari baru aku temukan. aku guru sastra yang berkecimpung dengan puisi, prosa dan drama. mudah-mudahan aku menekan naskah yang relevan, soalnya aku juga pembina teater. mohon kirim naskah drama yang tepat untuk anak2 sma.
Boleh tau naskah drama apa aja yang cocok buat anak sma. tengs
aku lagi nyari sosiologi sastra,tapi masih binggung apa tuch teori-teori yang mendalam yang ada dalam sosiologi sastra
PAK. NI ANAK STKIP>>> bisa ksh tw g caranya supaya saat nulis novel g kehilangan akal di tengah2 ….. cz, bnyk juga kn temen2 yg demen nulis novel tp dtengah2nya puts gra2 hilang akal… ( inspirasi mandeg) thanks y pak…
menanti tepi…..
terasa seperti mati
slalu seperti mendekatinya … aku
walau tubuh tiada goresan luka…
aku berburu waktu
tanpa lari…
ingin kugapai bayang senja yang ku cari…
berhenti…..!!!
bayang senjaku tak bersinar
menunggu waktuku dengan ranjau - ranjau ratapq
aku malu…
bisakah Kau bantu aku?!
kenapa harus di senja ini q ratapi tubuhq sendiri
mengerling ke air yang tak kunjung tampakkan senyum qwajah buramq..
gilakah aku????
beribu sajak q terbangkan untuknya…
tapi sang senja tak berharap aku ada
berhenti… !
jangan bawa sayap - sayapq….
*) pak komentar anda gimana… ni wktu gw patah hati..
bnarkah bapak dlu punya bnyak inspirasi waktu patah hati???
kirim ke sini ya pak >>>> SACHIZEKH77@PLASA.COM
TRIMS sblumnya..
o. iya tugasq smester 1 blum kelar jg!!!! maaf
saya sedang membuat tugas analisis cerkak Pacar Gadhing karya Tamsir A S berdasarkan sosiologi sastra, tapi bingung…
tolong beritahu saya bagaimana menganalisis yang benar dan apa saja yang bisa dianalisis
bgm cra utk mnjadi seorang esais dan kritikus yg baik? apakah harus slalu bca buku atau belajar dari org lain? atau msh ada cra yg lbh bagus lainnya?
pak……….bagaimana caranya agar mudah memahami sebuah novel terjemahan yang terkadang bahasanya kurang pas dengan penggunaan bahasa indonesia sehari-hari.dan bagaimana cara mudah dalam menulis sebuah skripsi jika menganalisis sebuah novel asing contohnya novel jepang tetapi bahasanya sudah diterjemahkan dalam bahasa indonesia.
wah ini yg gue cari-cari dari kemaren. saya benar2 butuh deskripsi2 yg seperti ini.thanks.
pak judul skripsi saya:ANALISIS SOSIOLOGI KARYA SASTRA NOVEL “INCEST”
KARYA I WAYAN ARTIKA OLEH SISWA KELAS XI SMA NEGERI 8 DENPASAR TAHUN AJARAN 2008/2009
tolong beri masukan apa yang harus saya lakukan kalo jdulnya seperti itu. n tlg kirim teori2 tentang sosiologi sastra.thx
HIDUPKU TAPI BUKAN MILIKKU
Apa gunanya jasad di tangan tapi hati di kesunyian
Badai pasti berlalu tapi kapan akan berlalu?
1 tahun, 10 tahun atau 100 tahun?
Ratusan keriput akan menjadi ribuan keriput
Bungapun berganti buah tapi…
Suuttt…
Kamu dengar bayangan hitam itu menyapamu?
Tolong..tolong jangan harapkan itu
Gara-gara ia…gara-gara makhluk berjubah abu-abu itu
Aku tak biasa melihat dalam terang
Tak biasa bernyanyi
Tak biasa menangis
Tak biasa memiliki hati
Setetes embun pun enggan mengalir dalam sendi-sendi tulangku
Hei.. ada yang mendengarku?!?
Aku tak ingin sendiri dalam ruangan tanpa batas ini
Aku ingin ada makhluk di dekatku untuk menuntunku meskipun,
Meskipun itu…. Lalat!!!!!!!
ini salah satu puisi yg saya coba bt, tlg beri komentar terhdp puisi saya ini.thx. saya tunggu bvalasannya di alamat email saya. GBU all
saya juga lagi membuat skripsi tentang kajian sastra.
saya minta tolong, kalau anda tahu segala sesuatu tentang kajian sastra, tolong kirim kan kealamat email saya.
tolong bantu saya……
segera!!!!!
saya lagi membuat skripsi tentang sosiologi sastra pada cerpen Naguib Mahfouz.
saya minta tolong, kalau anda tahu segala sesuatu tentang sosiologi sastra pada cerpen Naguib Mahfouz, tolong kirim kan kealamat email saya.
tolong bantu saya……