Pesan yang Tak Sampai
Januari 12th, 2007 by hendri f. isnaeni
(satu)
“Tunggu pesanku di tungku batu” katamu dulu
Pesan yang kau titipkan pada angin
belum jua kuraba
Mungkin singgah pada dahan pecah
ranting yang patah
Sebab gesekan embun di daun perdu
mengajakku untuk menunggu
seperti kisah sunan yang membatu
menunggu datangnya wahyu dari sang maha guru
Kuimla hari dari tiap reruntuhan pagi
sekian malam aku mengeram
menggigil
mendekap suam bara api padam
pada tungku batu yang kini tak beribu
Sesekali kuhembus nafas, huh! huh! huh!
¾ api mati hidup lagi ¾
hingga subuh melepuh
“Kenapa kau titip pesan pada angin?” tanyaku
pesanmu akan berhembus kemana dia mau
kepadamu, kepadaku,
dan kepada orang-orang yang tak tahu
Dulu kau begitu percaya pada kata-kata angin
yang sering lepas
seperti pohon pinus di musim panas
Sekarang kau tangisi sebuah sesal
mengadu pada guling dan bantal:
“Gara-gara angin pesanku tak sampai” gumammu.
(dua)
“Tunggu pesanku di jendela kayu” katamu
Pesan yang kau titip pada merpati
belum jua kudapati
Aku yakin dia mati ditembak pemburu
atau terperangkap pukat
Sebab angin yang membawa pesanmu dulu
mengabari itu padaku
Jendela kayu terlalu layu untuk menunggu
sedang senja benamkan siang
mentari berganti rembulan
Jendela dan tirai akan berderai
“pesanmu sudah pasti tak akan sampai”
(tiga)
“Jangan kau tunggu pesanku
sebab angin dan merpati tak akan sampai kepadamu” katamu
Di kepalaku tumbuh pohonpohon usia
aku renta
tongkat menjadi penyangga
Aku tak kuat lagi menghangatkan diri
tubuhku layu
kalau duduk di jendela kayu
hingga akhirnya
tungku batu dan jendela kayu menjadi fosil
sedang mulutku menggigil
“Aku akan tetap menunggu pesanmu
hingga usiaku dijemput waktu” janjiku
Jakarta, 9 Januari 2006