ku panggil dia yasmin
meski lidahku kelu tuk berkata begitu,
setidaknya begitulah hatiku memanggilnya.
bila ia berkata-kata
suaranya menggetarkan dada.
seperti pujangga yang dilanda kerinduan,
dengan merdu suaranya
meskipun ia bukan seorang biduwan.
keindahannya datang bersama mentari,
saat langit pagi mencuri birunya lautan.
dan menjadi sempurna dengan merah pelangi diwajahnya
saat ia tersipu malu.
apabila angin berhembus,
aroma wanginya semerbak memenuhi ruang.
meski tanpa campuran minyak dalam botol.
kuhirup memabukan jiwa,
tiada kuhirup menyesakan dada.
yasmin.. diartikan bunga begitulah ia.