Yang Mencuri Usia
Januari 11th, 2007 by cahyonowidar
stasiun itu telah lama kita tinggalkan
hanya sisa hujan menitipkan dinginnya
lantas,
kita saling terka
arah cuaca mana akan kau hembuskan nafasmu
barangkali: ke arah sepotong senja
jauh di sebelah sana
nafasmu tiba-tiba jadi burung gereja
di paruhnya menetes embun
embun yang kelak jadi cermin
untuk menengok rindu dan secarik masa silam
mata dan lambung tiba-tiba jadi perih
menatap burung-burung itu yang menatap kehilangan-kehilangan
dan, saat hujan mengirim curah pertamanya
kita lambat membaca satu isyarat:
waktu yang mencuri usia.
ngawi, 2006