Pelamun di Sarang Anak Perawan
Januari 11th, 2007 by azzamdf
Aku terus mengayuh sepedaku. Sudah hampir 4 jam untuk hari ini kulewatkan waktu untuk mencari kost dari satu tempat ke tempat lain. Ini adalah tahun keduaku menetap di kota Bandung. Aku sendiri berasal dari Surabaya. Datang ke Bandung untuk melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi negeri. Nasib membawaku kesini, ke sebuah kota dengan budaya, corak masyarakat yang berbeda.
“Assalamualaikum, punteun Ibu, abdi cari kost, nu kosong aya keneh? kalimat pembuka yang selalu terucap setiap kali bertemu seorang pemilik kost. Aku berharap dengan sedikit memakai bahasa Sunda, obrolan akan lebih cair. Meski aku sendiri kurang percaya diri menggunakan bahasa Sunda, karena logat jawaku yang begitu kental. Tapi setidaknya, berbicara sesuai dengan bahasa masyarakatnya membuat kita lebih mudah mencapai maksud tujuan kita. Itu teori penting yang kuingat, dan ini sudah sangat sering dipraktikan oleh para ibu yang berbelanja di pasar.
Sambil mengelap keringat yang ada di wajahku, aku berhenti sebentar. Aku menimbang, cukup sudah aku akhiri misi pencarianku hari ini. Hasilnya masih nihil, tidak ada satupun tempat kost yang cocok. Sebenarnya aku tidak punya kriteria yang sulit. Yang terpenting aman, tidak jauh dari kampus, bersih, dan tenang.
“Sep, nuju naon?” seorang ibu penjual sayur bertanya kepadaku. Mungkin ia heran melihatku, seperti patung, terdiam, bisu. “Ieu, ibu nuju cari kost, teu acan dapet!” jawabku. “Bade di tempat kost ibu?”. Tidak kusangka seorang penjual sayur, mempunyai usaha sampingan tempat kost. Dalam hati kuberpikir, “jangan-jangan rumahnya kecil, kurang bersih, berantakan, pokoknya jauh dari kelayakan!”. “Enggal, sep, bengong wae asep mah!”. “Muhun, bu. Punteun”. Dalam keraguan, akhirnya tetap aku ikuti ibu penjual sayur tadi.
“Kumaha asep tertarik?”. Setelah kulihat-lihat seluruh ruangan. Tidak kusangka, si ibu penjual sayur punya rumah kost yang besar, lengkap dengan ruang TVnya, tempat kumpul, dan 10 kamar. Tidak lupa, aku melihat kondisi kamar mandinya. Kata bundaku, kalau mencari kost atau rumah, yang pertama dilihat adalah kamar mandi, kalau kamar mandinya bersih maka pasti ruang lainnya bersih, dan penghuninya pasti orang yang suka kebersihan. Ini teori lain yang juga kuingat. Logikanya kamar mandi adalah tempat yang kotor dan jorok. Kalau itu saja bersih, maka pasti tempat-tempat yang lain terjamin bersihnya.
“Sabaraha mahasiswa nu kost didieu, ibu?”. “kamari mah, aya 7!” “sadayana istri!” . Aku sempat tertegun sebentar. Maklum aku termasuk orang yang pemalu kepada mahluk yang bernama perempuan. Aku sulit berinteraksi dengan perempuan, cenderung kaku, bahkan sering menghindar. Melihat aku seperti itu, si ibu menambahkan, “Tahun ieu, bade ngalih sadayana!”. Bahagia aku mendengar mahasiswi-mahasiwi itu akan pindah dari tempat kost si ibu. Akhirnya misi pencarianku berakhir hari ini. Siang itu aku pastikan mengkost di tempat ibu dengan membayar uang muka tanda jadi.
Hari ini, setelah lepas kuhabiskan masa liburan panjang UAS 2 bulan di Suarabaya, saatnya bagiku melakukan pindahan ke kost baru. Dengan menyewa mobil pick up dan dibantu teman-teman akhirnya pekerjaan itu dapat terselesaikan. Sebelumnya aku berbicara kepada bapak kost dan istrinya, si ibu penjual sayur. “Apa, Pak?”, “Wah kok!” terkejut aku mendengar penjelasan bapak kost. Bapak dan ibu meminta maaf kepadaku terkait batalnya para mahasiswi itu pindah. Para mahasiswi itu memutuskan tetap menetap di rumah kost si ibu penjual sayur karena pertimbangan dekatnya masa kelulusan. Dunia seperti menjadi gelap, matahari meredup, langit menghitam mendung. Tidak disangka aku akan menjadi teman kost 8 mahasiswi di sebuah rumah kontrakan yang berkamar-kamar.
Hari-hari di kost seperti tinggal di penjara. Pergi keluar untuk kuliah, jalan-jalan, ke rumah teman, mencari makan ataupun sekedar ke masjid jadi seperti angin segar yang membunuh kebosanan dan kesendirian dalam kamar yang kusebut ruang pasungan. Tidak ada TV, Radio, sehari-hari hanya membaca dan membaca.
”Agus, keluar donk!”, “Kok, di dalem kamar terus?!”, “Entar bulukan loh!” seru para mahasiswi itu bersahut-sahutan dari luar kamar. Malam itu mereka semua sedang menonton acara kegemaran mereka “To Ming Tse”, sebuah melodrama asing. Jantungku berdegub kencang. “Gimana ya?”, “Aku malu!” gumamku dalam hati. Aku pura-pura sudah tidur sampai akhirnya benar-benar tertidur.
Pagi itu, karena cucian kotorku sudah menumpuk, kujadwalkan setelah sholat shubuh untuk mencuci baju. Selang sebentar, ada yang mengetuk pintu kamar mandi, “Siapa nih?”, “Cepetan dunk, sudah kebelet nih!”. “Iiiyaa teh!” kuberanikan menjawab. “Agus, ya?”. “Iiiya teh!”. “Kok nyucinya jam segini sih?”. “Iiiya teh!”. “Ini jamnya orang ke balakang dan mandi!”. “Iiiya teh!”. Aku hanya bisa menjawab demikian 2 patah kata itu saja. Aku jadi teringat pesan bundaku untuk membiasakan bangun lebih pagi dari orang-orang yang bangun pagi. Kalau kata orang kebanyakan supaya rizkinya tidak dipatuk ayam. “Maaf teh!” sambil membuka pintu kamar mandi. “Eehm, kirain iya teh lagi!” katanya. “Panggil aja gue, Tira, gue anak Jakarta!” kata teteh itu sambil berlalu masuk kamar mandi.
Karena masuk agak siang hari itu, kuputuskan untuk menjemur baju di halaman belakang. Hatiku agak risih melihat baju, celana, dan pakaian dalam perempuan bertengger di jemuran itu. Sambil menjemur baju, untuk menghilangkan kerisihan itu kulantunkan tembang jawa masa lalu. Diam-diam ada dua orang dari jendela atas di tingkat dua rumah kostku memperhatikanku. “Apik, dik!” serunya. Aku menoleh keatas, senyum tipis keluar dari bibirku. “Agus, kalo senyum jangan pelit-pelit donk!” seru teteh satunya lagi. Aku ingat teori bahwa senyum adalah tanda persahabatan, kesantunan, ungkapan perasaan kasih sayang dan cinta bahkan suatu sedekah yang paling mudah kata guru ngaji di kampungku. Aku sejujurnya sangat malu, apalagi tidak tersadar sedang memegang pakaian dalamku dengan terbalik. Aku memang terbiasa menjemur yang demikian di urutan terakhir. “Kebalik, tuh!”, “Weleh-weleh, mbo yo jangan ngelamun dik!”. “Aku Karsi!”, “Ini Ani!”, “Kami teman seengkatan di FKG!” mereka meperkenalkan diri. Aku hanya mengangguk, terus menunduk.karena malu dengan kejadian tadi. Kuusudahi saja cepat-cepat tugasku ini dengan masih menyisakan beberapa helai pakaian dalam di dalam ember.
Pagi itu aku sedang beres-beres kamar, mau tidak mau aku harus membuang kotoran yang menumpuk ke luar kamar. “Teh!” sambil berlalu mengaggukkan kepala ke Tira dan Ani yang sedang duduk di sofa menonton TV. Selang beberapa lama, warga rumah kost itu keluar dari kamarnya masing-masing, menuju sofa ruang tengah. “Agus, kesini, dik!” Mba Karsi menyapaku dengan logat jawa yang kental. Mba Karsi berasal dari Malang. Jadi sedikitnya aku mempunyai keberanian berbicara karena sama-sama orang Jawa. “Duduk aja, dik!”, “Gak usah malu!”, “Kita keluarga kok!” . Ia terus memberanikan diriku untuk tidak malu. Di sofa itu 8 perempuan duduk berjejer, ada juga yang berbaring sambil menonton TV, sambil menikmati kueh serabi yang disajikan Ibu kost. Mba Karsi memperkenalkanku kepada semua anggota rumah kost. Sambil berdiri aku perhatikan wajah mereka satu-persatu. Mba Karsi, Teh Ani, Teh Tira, Wina, Teh Intan, Teh Mirna, Rosa, Teh Nita adalah para penghuni rumah kost ini, yang semuanya adalah para mahasiswi. Aku sendiri satu-satunya laki-laki, bagaikan seorang arjuna yang dikelilingi para wanita.
“A’Udin mana sih?!”, “airnya kan kosong di bak!”, “masa kita gak mandi!”, “emangnye kita cewe apaan!” Intan terlihat cemas bercampur marah. Sore itu aku sedang merebus air di dapur untuk minum. “Minyak tanahnya ada , dik?!” mba karsi menyapaku “Ada, mba!” jawabku. Aku memberanikan diri untuk bertanya ke Mba Karsi, hanya kepada mba Karsi saja aku memang berani bertanya, “Ono opo, Mba?” kupakai bahasa Jawaku agar terkesan akrab. Mba Karsi menjelaskan bahwa air di bak mandi kosong, sedangkan A’Udin, anak ibu kost, sedang tidak ada di rumah. A’Udin yang biasa menimba di sumur untuk mengisi bak yang kosong sewaktu musim kering. Aku paham itu pekerjaan kasar yang biasanya dilakukan oleh laki-laki. Ada sebuah kepercayaan di masyarakat bahwa wanita tidak dianjurkan untuk melakukan pekerjaan kasar. Meski pada kenyataannya, di saat kondisi serba sulit sekarang, di kota-kota besar tidak sedikit wanita yang menjadi supir, satpam, tukang parkir ataupun pekerjaan lain yang cenderung dikategorikan sebagai pekerjaan kaum Adam. Tapi aku sadar, lagi-lagi karena aku orang baru sekaligus laki-laki satunya di rumah kost ini. “Biar aku aja, mba yang menimba!” aku langsung bergegas menuju sumur. “Yo, wis kalau mau nimba, tapi aku gak minta kamu nimba yo, dik!” seru mba Karsi. Air bak akhirnya kupenuhi dari hasil timbaanku. Tira langsung bergegas masuk menuju kamar mandi, sambil menyapaku, ”Thanks Agus, baik sekali pria,ini!”. Aku hanya tersenyum kecil, meski dalam hati merasa tidak paham dengan kebiasaan kaum hawa. Mungkin hanya sebuah pemakluman, “Namanya juga perempuan” bisikku dalam hati.
Malam ini malam pertama bulan Ramadhan. Aku harus bangun lebih awal untuk makan sahur. Aku tidak mau kalah oleh para perempuan itu. Kukuatkan tekadku dengan memasang alarm di telepon seluler. Malam itu, aku tidur lebih awal agar waktu tidurnya cukup dan tidak kesinganan nantinya. “Agus, Agus, bangun!”, “Saur gak!” suara TehAni dan ketukan pintu dari pintu kamarku. Aku membuka mataku yang masih tertutup rapat, kulihat jam dinding, “Masya Allah!” gumamku. Jam menunjukan pukul 03.45 waktu sahur akan segera habis, imsak sebentar lagi akan menjelang. Kubuka pintu kamar, teteh-teteh itu sudah terduduk di sofa, sambil makan sahur bersama. “Kesiangan, ya!”, “Wah gimana bapak kita ini?” Tira menegurku. Aku berlalu ke kamar mandi untuk cuci muka, lalu bergesas menuju pintu keluar rumah kost untuk bersegera mencari makan di kantin. “Mau kamana, Gus!” Teh Nita bertanya. “Ke Rumah Makan!” jawabku. “Semuanya juga udah pada abis, jam segini sudah diserbu orang!”, “Kalo mau, tadi aku udah belikan lauk lebih, nasinya tingal ambil di Magic Jar!” kata Teh Nita. Aku melihat teteh-teteh lain menatapku yang terlihat begitu bingung. “Ora malu-malu, dik!, wis, terima toh!” Mba Karti menambahkan. “Agus, teu usah teu enakeun sama kita, mah!” Teh Mirna ikut menyahut. “Iya, A’Agus, kalo ke rumah makan jam segini, paling dapet oseng kangkung doang!, mana seger buat puasa!” Rossa yang termuda di antara kami juga ikut menyahut. Aku binggung harus bgaimana, sejujurnya aku sangat malu. “Terimakasih, Mba, Teh!” jawabku singkat, sambil bergegas mengambil nasi di Magic Jar. “Nah begitu, dong!, “Baru Pria!” kata Intan yang memang tomboi. Waktu sahur itu, mau tidak mau jadi pertama kalinya aku duduk di sofa bersama mereka untuk makan sahur.
Sejak malam sahur itu, aku mulai merasakan bahwa pandangan dan karakterku terhadap kaum hawa sedikitnya banyak mulai berubah. Aku merasakan kebaikan mereka, dan penghargaan mereka atas kehadiranku di rumah kost kami. Namun, bagaimanapun rasa maluku yang bergitu besar kepada kaum hawa belum dapat hilang. Aku mencari pembenaran dari sesuatu yang kuyakini bahwa rasa malu itu bagian dari iman. Kalau manusia tidak punya rasa malu, maka manusia mudah melakukan perbuatan-perbuatan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan. Mungkin karena hilangnya rasa malu itu juga, banyak kasus korupsi terjadi di negeri ini. Rasa malu itu juga yang kualami ketika aku harus bagun lebih awal sebelum waktu sahur untuk pergi melakukan mandi wajib sebagai suatu kewajiban setelah kita bermimpi suatu hal yang kerap disebut orang “mimpi basah”. Aku mengendap-endap, berjalan dengan langkah kaki yang bisu. “Aman, tidak ada orang!” gumamku dalam hati. Aku mandi pada pukul 02.00 ketika udara Bandung benar-benar sedang menusuk kulit. Selesai mandi, dengan langkah cepat dan tetap tidak bersuara aku menuju kamarku. “Agus, kok mandi pagi-pagi!” Tira menegur, “Kan dingin A’Agus!” Rossa setengah bertanya. “Ono opo, nih dik?” Mba Karsi bertanya sambil tersenyum. Sedangkan Intan, Wina, Teh Ani, Teh Mirna dan Teh Nita cengar-cengir menatapku. Aku ternyata salah menduga, aku mengira mereka masih pulas dalam tidurnya. Perempuan-perempuan itu ternyata membiasakan diri bangun lebih awal di Ramadhan ini. Satu hal lagi yang membuatku menjadi malu. “Lagi mau mandi pagi aja, Mba, teh!”. Aku mencoba beralasan, menutupi yang sebenarnya, meski kalau melihat wajah mereka, aku menduga mereka pun tahu dengan hal-hal seperti ini. Mungkin aku yang terlalu lugu dalam menilai mereka. “Aku ke kamar dulu, Mba, Teh!”. Hanya itu yang kemudian terucap, untuk menghindari pertanyaan-pertanyaan lanjutan para permempuan itu. “Awas jangan ketiduran lagi, loh!, nanti kehabisan berkah sahurnya!” Mba Karsi mengingatkan. Satu pengetahuan lagi kudapat mengnai mereka bahwa mereka bukanlah orang yang tidak memahami tentang masalah laki-laki. Mungkin ini yang bundaku ingatkan bahwa jangan coba menipu perempuan atas apa yang terjadi karena mereka mempunyai feeling yang begitu kuat.
Hari demi hari, bulan demi bulan kulalui bersama para perempuan itu dalam lika-liku kehidupan kost. Banyak hal baru yang kupahami tentang karakter, kebiasaan , kepribadian para perempuan itu. Meski awalnya, aku merasakan kehampaan dan penyesalan karena tejebak dalam kost para perempuan, lalu kemudian ada kelucuan, canda-tawa, kebaikan-kebaikan yang melahirkan kekeluargaan, bahkan konflik-konflik. Selama 1 tahun itu kudapatkan sebuah pengalaman yang indah yang senantiasa kukenang dalam hidupku. Sebuah kenangan yang kemudian membuatku diriku berbeda dari Agus yang dulu. Setidaknya sampai hari ini ketika kubuka-buka kembali buku diariku.
Danni Ferianto
Jl. Gandaria Raya No.171
Depok II Tengah 16411
Phone: 0811496912
Keterangan:
Punteun: Permisi
Nu: Yang
Aya Keneh: Masih Ada
Sep (Asep): Sebutan untuk anak laki-laki
Nuju Naon: Lagi apa
Ieu: Ini
Nuju: Lagi
Teu Acan: Belum
Bade: Mau
Enggal: Cepat
Wae: Aja
Muhun: Iya
Kumaha: Bagaimana
Sabaraha: Berapa
Kamari: Kemarin
Sadayana: Semuanya
Istri: Perempuan
Ngalih: Pindah
Ono Opo: Ada apa
Ora: Jangan
Teu Enakeun: Tidak Enakan
ceritanya tak membosankan, dengan sesekali narasi, seperti dalam pencarian kost dengan memaparkan persoalan kamar mandi, bahkan sesekali menggelitik masalah kepribadian bangsa, mengenai budaya malu. tak lupa juga ada sebuah sindiran mengenai perilaku laki-laki (patriarki) yang mengganggap seorang perempuan tak mengetahui tentang laki-laki. dan saya menganggap inilah sebuah karya yang mempunyai pribadi berbeda dari pada karya yang pernah saya baca.
Nanzah. manado.
Terimakasih mba, sebelumnya atas responnya. Aku perlu mendapat kritikan atas apa yang harus diperbaiki.Ini kali pertama aku membuat cerpen,yang itu juga dari Truth Story, ga tahu kalau ngarang bisa ga.
Salam kenal
Danni Azzam F
Hmm.. Mbahku pernah di ’surga’ setahun, ya? ^_^
Yang kena edit:
Ora = Tidak
Ojo = Jangan