KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ramalan

“Teng…..teng……teng!” bunyi lonceng memecah keheningan suasana belajar mengajar SMU Harapan. Siswa-siswi berhamburan keluar kelas meluangkan waktu istirahat sejenak. Di sudut kiri kantin, tepatnya di depan siomay Bang Somat, berkumpul Sari beserta sobat-sobatnya. Gosip group band Ungu yang sedang naik daun menjadi topik pembicaraan hangat mereka. Mereka saling berebut untuk menjadi nara sumber.

”Aduh…aduh..rame amat ya!” tiba-tiba Bang Somat menyodorkan hidangan yang sudah dipesan.

”Eh…friends …mau tahu nggak gosip terbaru Pasha?” sahut Mitha dengan antusiasnya sembari mengeluarkan majalah remaja edisi terbaru.

Belum sempat Mitha meneruskan cerita pentolan group Ungu tersebut, secepat kilat tangan Dewi menyambar mejalah tersebut. Alhasil protes keras dilontarkan Mitha.

”Eit..eit…sorry kalo gue nggak sopan, abisnya lo pada nggak merhatin gue sih!” bela Dewi seolah butuh perhatian dari sohibnya.

”Aduh kasihan deh …anak mami satu ini, emang ada problem apa sih?” tanya Sari.

Kali ini Dewi tak segera menjawab. Ia lebih sibuk membuka-buka majalah yang ada di genggamannya, hingga pada halaman ramalan bintang, Dewi tampak serius membacanya.

”Ya ampun….mati deh gue…ramalan ini mirip ama apa yang gue alamin!” kekesalan tampak dari raut muka Dewi yang imut itu.

”Wi…Wi.., hari gini masih percaya pada ramalan bintang? Sadar Wi…sadar Wi!” Mitha coba menghibur.

”Lo nggak ngerti sih, gue kan yang ngerasain.” Dewi lebih sewot dengan argumennya.

”Ya udah, gue nggak mau debat ama lo’. sebenarnya ramalannya apa sih?” tanya Mitha.

”Lo semua pada dengerin ya!” pinta Dewi

”Pertama, ramalan gue tentang cinta: gue bakalan putus atau gagal dalam menjalin cinta dengan seseorang, ini mirip yang barusan gue alamin., berantem ama Rico.”

”Tenang Wi…kalo terjadi apa-apa ama lo, gue mesti bikin perhitungan ama Rico.” sahut Rina yang sejak tadi sibuk dengan dua porsi siomaynya.

Tampang Rina yang tomboy serta didukung keahliannya dalam Tae Kwon Do membuat dia jadi backing bagi teman-temannya. Dengan rambut dikepang, ia lebih mirip dengan tokoh dunia persilatan.

”Kedua, dari segi keuangan, tidak bisa nyimpan duit alias besar pasak dari pada tiang.”

”Tahu nggak, gue kan diembargo ekonomi oleh nyokap selama satu minggu.”lanjut Dewi menjelaskan ramalannya itu.

”Ye ile…pake istilah embargo segala, emangnye lo salah ape?” tanya Siti dengan logat Betawinya yang kental.

”Gue ketahuan bolos dari bimbel, padahal baru kali itu gue nggak ikut.”

”Emang kalo lagi apes ya begini akibatnya.”dengan sedih Dewi menceritakan semuanya.

”Wi…kamu sabar dulu ya, entar pasti ada solusinya.” hibur Sari.

”Pulang sekolah kite mampir ke Mall yuk!” pinta Siti.

Seperti biasa, agenda utama mereka adalah mengunjungi toko buku atau toko kaset sambil cuci mata. Tak ketinggalan pula acara makan nggak boleh terlewat.

Kali ini Siti yang terlihat ngeborong. Dari album pop kompilasi hingga buku novel terbaru yang menjadi best seller.

Tepat pukul 15.15 WIB, mereka menuju ke lantai 4 guna pemenuhan urusan perut yang sudah mulai keroncongan. Saat itu kondisi di luar sedang turun hujan, tak pelak lagi mereka sepakat memilih Mie Japos.

”Wi…lo mau nggak diperistri Pak Puspo?” tanya Mitha sambil menunjuk gerai Ayam Bakar Wong Solo yang ada di sebelah Hoka-Hoka Bento.

”Iya ..Wi, gitu-gitu dia presiden, maksud gue dia Presiden Poligami.” Rina tak mau ketinggalan komentar.

”Yang pantes itu lo…Rin, pacar aja nggak punya!”dengan nada sewot, Dewi coba membela diri.

Tanpa sengaja mata liar Sari terpaku pada spanduk yang ada di sudut ruang. Saksikan Pameran Magic Show di lantai 1, begitulah garis besar isi spanduk tersebut.

”Kenapa kita tadi nggak lihat ya?” Dewi tampak penasaran.

”Lo gimana sih, kita tadi kan langsung ke toko buku di lantai 2!” kata Sari.

Setelah agenda makan bubar, mereka langsung meluncur ke lantai 1. Karena sesuatu hal Rina dan Siti langsung ngacir pulang sedang trio kwek-kwek (Dewi, Sari & Mitha ) penasaran ingin melihat pameran tersebut. Terdapat sekitar 9 stan / bilik buat Magician (orang-orang yang ahli di bidang magic). Dari aksi sulap, pertunjukan hipnotis, ramal nasib, jodoh dan karir atau ada juga yang sekedar menjual pernak-pernik magic dan juga pelatihan singkatnya .

”Mith….kita ke stan Mama lorenz yuk!” ajak Dewi yang pingin membuktikan ramalan bintang yang barusan ia baca.

Mereka bertiga berjalan mendekati lokasi stan yang dimaksud. Betapa terkejutnya mereka ternyata bukannya Mama Lorenz yang begitu tenar di dunia ramal-meramal di tanah air. Ternyata stan tersebut milik Mama Loreng. Usut punya usut, karena dia berjubah macan loreng maka dia akrab di panggil Mama Loreng. Jadi sedikit mendopleng ketenaran Mama Lorenz. Dewipun akhirnya memberanikan diri untuk diramal. Spesialisasi Mama Loreng adalah ramal garis tangan yang dikaitkan dengan tanggal lahir. Dari hasil penerawangan Mama Loreng, ada sedikit kemiripan dengan ramalan bintang di majalah remaja itu. Ada titik terang yang bisa membuat hati Dewi lega yaitu keretakan hubungannya dengan Rico bisa terjalin baik kembali asalkan titik kelemahan Dewi (egoisme serta cuek terhadap keadaan sekeliling) di buang jauh-jauh. Sedangkan tentang nasib atau karir, Mama Loreng mensyarankan lebih menekuni dunia seni karena dalam diri Dewi ada talenta seni yang harus digali dan diasah terus.

Tampaknya Dewi belum puas dengan ramalan Mama Loreng. Dia mencoba peruntungannya diramal oleh Teteh Mieke. Jari jemari Dewi tampak sibuk memegang dagunya serta sesekali menggaruk-garuk kepalanya saat melihat kartu tarot dimainkan. Kali ini apa yang diungkapkan Teteh Meike lebih detail dan garis besarnya mirip dengan ramalan Mama Loreng.

Karena udah mendekati maghrib, akhirnya mereka pulang. Petualangannya dengan dunia magician tidak membuat Dewi jera. Kapanpun dia akan terus mencari hingga kebenaran itu terbukti.

By : Imas

One Response to “Ramalan”

  1. on 29 Mar 2007 at 18:01irza

    kok endingnya g’ seru? masukin unsur komedi dong, biar g’ nge betein

Tinggalkan Komentar