Warna
Januari 9th, 2007 by Idris Siregar
Hujan barusan reda. Genangan air masih membasahi jalan Tritura di kota Medan. Bonar masih berdiri di halte. Ia menghisap sebatang rokok yang tinggal seperlima. Ingin menyambung lagi, tetapi tak cukup uang untuk membeli barang sebatang rokok lagi. Memang masih ada uang di kantong. Hanya saja uang itu pas untuk ongkos naik bus umum sampai ke rumah.
Apa yang harus dilakukan? Batinnya bertanya. Predikat sarjana sastra tak langsung membuatnya dapat diterima bekerja. Apakah itu sebagai Pegawai pemerintahan. atau berkerja di peruhasaaan-perusahaan yang kerap lebih memprioritaskan sarajan tehnik atau ekonomi.
Tapi ia tidak menyesal. Bonar tak akan menyesali pilihan jiwanya saat enam tahun silam memilih fakultas sastra untuk pilihan melanjutkan pendidikan. Meskipun ia sadar benar ayahnya sangat tidak setuju ketika pilihan itu ia utarakan kepada ayahnya.
“Mau makan apa kau ? Makan puisi? Cerpen?” kata ayahnya ketus.
Bonar tak mampu menjawab alasan apa yang membuatnya tertarik ke dunia sastra. Yang ia tahu ia sejak kecil menyukai pelajaran mengarang. Di sekolah dasar ia kerap mendapat nilai tertinggi dibandingkan teman-teman dalam pelajaran mengarang. Ketika masuk ke SMP, Bonar tetap menyenangi dunia merangkai kata-kata, dengan menyalurkan bakatnya itu pada majalah dinding sekolah. Ketika di SMA, karyanya berhasil menjuarai sayembara mengarang esai antar pelajar SMA di kota Medan. Itu semakin membuatnya memacu diri untuk berkarya.