Perempuan Nahkoda
Januari 9th, 2007 by finasato
Cerpen Fina Sato
Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Padang lamun termenung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah: takdir, seperti badai. Takkalai disombalang dotai lele ruppu dadi nalele tuali dilolangan1, kata tuah terakhir atau sebagai awal kehidupan yang akan dijalani kemudian? Entahlah. Ketika malam kisruh menjaring kembali seluruh kenangan, mungkin ingatan, ia hanya mampu mengingat badai, deru ombak, dan paluh yang menggerus cadik, katir, dan sabang. Ingatan yang memberikan derai sungai di lekuk wajahnya juga dengus nafas yang tak putus.
Perempuan kisut itu sudah terlalu lelah, mungkin jenuh. Kini hidupnya cukup menjadi kondo’na boyang, Ibu rumahtangga yang pulang-pergi dari hari pasar di kecamatan, sebagai penjual ikan hasil tangkapan saudara dan keponakannya. Bila tak habis terjual, maka ia segera mengawetkannya dengan es kemudian keesokkan harinya, bila bukan hari pasar, ia akan pergi ke Tinambung atau beberapa kilometer ke sebelah barat kampungnya: Balanipa. Walaupun jaraknya sangat jauh, bukan masalah baginya, karena anak semata wayang menanti segenggam harap bagi lapar dan dahaga, juga impian.
***
Tiga malam sebelum berangkat motangnga, sore harinya, Amma’ Uti telah mengatur menu untuk ritual kuliwa. Ritual khas ini merupakan “penyeimbang” antara harapan bagi rezeki dalam usaha yang akan dilakukan. Sebagai istri seorang punggawa posasi’—nahkoda, ia jangan sampai melupakan segala sesuatunya. Semua ini demi mendapatkan keselamatan dan rezeki bagi seluruh awak kapal saat berlabuh. Sokkol dan cucur telah diletakkannya di dekat posi’ boyang. Kedua menu makanan itu pun jangan sampai dilewatkannya. Ritual berjalan lancar, dari awal ritual sampai suaminya: Mustafa, melumuri bagian depan lambung sande’: perahu bercadik khas sukunya dengan layar segitiga, dengan pasir pantai. Amma’ Uti berdoa khusyuk, mudah-mudahan cuaca tidak kikir angin pada musim timur ini. Permukaan laut akan tenang dan sangat kurang menguntungkan bagi perahu yang mengandalkan angin seperti sande’. Bila berlabuh cepat, suaminya dan para sawi atau anak buah kapal,akan mendapatkan hasil tangkapan yang berlimpah.
Suasana sungguh semarak ketika seorang sawi membawa menu ritual keluar rumah dan diburu oleh anak-anak yang menginginkan menu ritual itu. Namun, pastilah tak dapat terjamah. Sesampainya di perahu, barulah habis semua menu ritual diborong anak-anak penuh girang.Ia pun tak lupa mengingatkan suaminya untuk menangkap Dingkis lebih banyak. Telur ikan itu kesukaan Amma’ Uti. Suaminya hanya mengangguk lalu tersenyum manis kepadanya. Melihat renjis wajah suaminya, Amma’ Uti merasa tersindir, cekat ia bergumam, “bawaan si bayi”.
Namun, ada sesuatu yang menghantarkan Amma’ Uti pada sebuah kegelisahan. Sebuah duga yang tak disangkanya saat itu. Malam sebelum diadakannya kuliwa, Mustafa mengutarakan keinginannya untuk berhenti mengejar ikan terbang. Ingin ditambatkannya perahu itu ke selat lain. Entah kenapa, Amma’ Uti seperti melihat sesuatu yang gasal pada wajah suaminya itu. Dirinya dan warga kampung di sana sangat tahu dan juga menyadari, bahwa suaminya seorang passande’ sejati: pelaut dengan perahu sande’ yang ulung. Telah bertahun-tahun berlayar, berburu beribu-ribu ikan terbang sampai tui-tuing. Lalu apa yang membuatnya berubah pikir seperti itu, bahkan secepat itu. Usia Mustafa belum menginjak setengah abad. Mustafa muda yang kaya pengalaman, semua itu ia dapatkan dari ayahnya dahulu, seorang punggawa posasi’ sejati. Dan kekhawatiran apa yang tak sanggup dibagi suaminya bersama Amma’ Uti. Malam ganjil semakin menggigil.
***
Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu. Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini halai-balai tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Dok tak punya musim beristirahat atau bekerja. Musim-musim berhenti merenyapkan angin. Namun, tidak baginya. Dari tempatnya sekarang, ia dapat berlari ke anjung-anjung, ia tegakkan andang-andang lalu dihempaskannya tros dari tanggul itu. Segera dilarikannya perahu-perahu menuju pesolot di ujung matanya. Ia bentangkan layar. Berlabuhlah! Berlabuhlah! Lalu dikejarnya su’ba, kerumunan ikan itu, dengan seruan pasti kepada Baruna, sang penguasa laut, tapi tetap ia tidak berdaya. Tetap selalu tidak berdaya…
Ada yang selama ini ia rindukan, Lopi sande’na malolo: Perahu sande’ yang cantik. Di jenjang pintu itu, ia dapat mengkhayalkan segala impiannya. Tak ada yang melarang atau menggubrisnya tiba-tiba. Ia sendiri. Namun, khayalnya hanya jelang sesaat saja. Kepalanya menunduk dengan wajah kesah. Wajah kesah itu kembali meringkusnya. Ya, kembali ia mengingat pembicaraan itu semalam.
“Cukup jadi po’angga’ saja. Dengan seperti itu pun, hidup kita masih lebih dari cukup. Perutmu masih bisa diisi kan?” tukas Amma’ Uti.
“Kawan-kawanku semuanya jadi sawi. Melaut!”
“Rupanya telah kau dengar cerita itu…” wajah Amma’ Uti melemas.
“Lopi sande’na malolo. Tidakkah kita menginginkannya kembali? Aku bisa menggantikan ayah melaut dan ibu menyiapkan ritual…,”
“Hentikan!!! Sudah cukup perjuangan ayahmu diwakili olehnya sendiri. Dan sekarang, hiduplah kita apa adanya saja…” berlalulah segera perempuan itu ke dapur: terisak.
Ubahudin mafhum dan terdiam. Ibunya tercinta telah dilukainya. Perempuan yang mengasuh dan membesarkannya selama ini, seorang diri. Ya, hanya seorang diri saja perempuan itu menjaga anak semata wayang: Ubahudin, lari dari kenangan, mungkin ingatan, dan kesu-kesi warga kampung.
Amma’ Uti melakukan semua pekerjaan sendirian, tanpa kecuali pekerjaan lelaki sekalipun, demi anak semata. Setiap hari pulang-pergi dari kecamatan, jarak berpuluh-puluh kilometer dilaluinya bersama keringat, muai udara, pekik debu, masarri: bau yang menyengat, kaki yang rengkah, lecet, bahkan sempat dengan cucuran airmata. Entahlah. Ketika itu, Amma’ Uti sempat menyerah, setengah kalah melalui kehidupan ini sendirian tanpa sanak saudara yang membantunya. Amma’ Uti masih muda dan cantik, tapi ia tidak ingin menikah lagi. Kenangan itu, mungkin ingatan, tidak dapat lenyap dari pikiran dan hatinya. Terlalu menyakitkan, bahkan nanti dapat menyakiti orang yang ada di dekatnya. Namun kemudian, ia dibangunkan oleh suara tangis Ubahudin kecil di malam kelam kala itu. Ya, suara tangis yang setia menemani kehidupannya hingga sekarang agar tak henti berjuang. Seperti tangis gasal Mustafa malam itu ketika terakhir kali pergi melaut.
***
Laut selalu penuh misteri. Tak ada yang dapat diduga. Alam adalah keheningan yang bersiasat. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Padang lamun termenung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu. Ada yang selalu tak berubah: takdir, seperti badai. Seperti malam kisruh ketika Mustafa dan para sawi melajukan sande’ menantang ricuh gelombang laut dan gemuruh rusuh angin yang membentangkan layar. Bulir-bulir air terbang, menampar wajah-wajah nanap para pelaut. Mengombang-ambing kapal wasiat nenek moyang. Layar semakin kencang, meringis, menahan arus kencang angin yang berang.
“Putar haluan!!!” teriak Mustafa
“Sebentar lagi. Lihat ikan-ikan itu!” teriak sawi sambil menunjuk ke arah ikan-ikan terbang yang berlompatan lalu lindap.
“Tidak! Tidak akan bertahan lama! Kita kembali! Aku sudah tahu!”
“Kita kembali!”
“Putar haluan! Putar haluan!”
“Layar!!!”
Kemudian semua awak kapal berpegangan pada tali di tiang layar. Mereka berdoa dan berharap dalam degup, dapat selamat dari amuk badai yang tiba-tiba jelang tanpa terduga. Dan tiba-tiba mereka (harus) mengingat semua kenangan, mungkin ingatan, istri tercinta dan anak-anak, sanak saudara, dan pottana—daratan. Namun, cuaca tak dapat diduga karena ia datang tiba-tiba. Begitu pula badai yang mengerumus sande’ dan para awak kapal. Semuanya lindap, terlambat, namun tetap ada yang bersisa: puing-puing patahan kayu, katir, tiang layar, kain layar yang terkulai, dan berkolek-kolek nyawa di lautan. Usai badai, laut kembali berdamai. Seperti tak ada jenjang antara laut dengan langit, hanya hamparan biru yang mengharu.
***
Sudah setahun lewat, hingga akhirnya amuk badai kembali berlayar ke daratan. Tertambat di daratan hati Amma’ Uti dan Ubahudin kecil, yang kini hidup berdua tanpa sanak saudara. Sebenarnya tetangga di sekitar rumah Amma’ Uti adalah sanak saudara dari Mustafa, namun mereka tak menghiraukannya lagi setelah Mustafa tiada. Amma’ Uti harus dapat hidup sendiri. Berjuang sendiri demi Ubahudin kecil, malaikat titipan dari Mustafa, suami tercinta.
Sebelum kesu-kesi menjamur di telinga warga kampungnya, yang berkisah tentang pelayaran motangnga di malam berang, hidup mereka baik-baik saja. Semuanya rukun dan tenang, seperti hari-hari biasa kehidupannya dahulu ketika Mustafa masih bersamanya. Kini, kisah itu menjadi luka dan badai baru dalam kehidupan Amma’ Uti. Hati Amma’ Uti masih sakit, karena tak diduganya membesarkan seorang anak laki-laki sendirian, tanpa seorang ayah! Amma’ Uti ketakutan. Sanggupkah ia melewati semua rintangan hidup sendiri bersama Ubahudin kecil. Dan ketika Amma’ Uti tahu, bahwa keluarga Mustafa tidak terlalu menyukainya karena ia berasal dari kampung seberang, seorang perempuan Bugis sejati2, ia mulai sadar diri lalu menyendiri.
“Mustafa sudah tahu. Ia pun tahu tentang pa’issangang aposasiang, bahkan tahu juga pa’issangang asumombalang” ujar Kandaenna Afah.
“Mustahil bisa tenggelam,” timbal seorang warga kampung yang lain.
“Ayahnya seorang punggawa posasi’ sejati. Begitu pula ia,”
“Belangnya bagus. Kokoh!”
“Dahulu pun mereka pasti kembali. Badai berang tak jadi masalah bagi sande’ sebuas itu”
“Ritual kuliwa berjalan lancar. Disiapkan oleh istrinya dengan baik…,”
“Istrinya?” Kandaenna Afah mengernyitkan dahi.
“Iya, malahan waktu itu pamanku sendiri yang membawakan menu ritual itu ke perahu”
“Hmm…”
***
Ia basuh keringat yang bercucuran menuruni tebing pipinya. Seperti biasa, udara panas siang itu masih mampu dikalahkannya. Menunggu lama ia di jenjang pintu. Matanya meraba seluruh hamparan pasir-pasir dan bangkai perahu yang enggan berlaju. Dilihatnya katir yang lepas lunglai dari lengan cadik. Perahu-perahu yang dulu hidup bersamanya, kini tergolek tak berdaya. Sande’-sande’ itu telah dikalahkan. Laut selalu penuh misteri. Sunyi menggelanggang. Gelombang yang membawa dendang riang bahkan kematian. Batu karang memberi rintih abadi bagi deru pacu dan ringkik ombak di tepian tanjung. Padang lamun termenung. Ada yang selalu diam, sepi, dan dingin. Ada yang selalu menatap dendam, sedih, dan rindu.
Ia masih setia menunggu perempuan setengah baya yang akan memberikan senyum damai di hatinya. Kemudian ia akan bangkit dari jenjang pintu dan berlari, membawakan kerau kosong, sisa dari hari pasar. Dan akan ia utarakan keinginannya lagi untuk melaut, menjadi sawi, bersama kawan-kawannya. Ayahnya, Mustafa, telah memanggil, memintanya berjabat dengan gelombang, riuh ombak, dan badai ganas. Sudah waktunya ia melaut, pikirnya. Perjuangan ibunya, Amma’ Uti, tidak akan pernah sia-sia. Bagaimanapun ia adalah seorang anak dari punggawa posasi’ sejati. Seorang pelaut ulung. Kehidupannya adalah laut.
“Aku pasti kembali!” tegas Ubahudin.
“Hanya kabar…” Amma’ Uti menggeleng.
“Aku terlahir dari dua moyang pelaut. Aku pasti kembali”
“Dan membiarkan Ibumu merindu, sendirian…”
“Ayah memanggilku, menjemput ia untuk Ibu…”
“…”
“…”
Ada yang terisak dalam dekap. Ada yang berlari memburu mimpi, memburu hidup yang pasti. Laut memberi cemburu bagi hati ibu yang sendu. Camar memberi kabar gelisah yang tak berkesudahan. Ada yang tiba-tiba lindap di hati yang terluka.
***
bumi singgah,
Maret 2006
Keterangan:
1 Takkalai disombalang dotai lele ruppu dadi nalele tuali dilolangan:
“Sekali perahu kembangkan layar lebih baik tenggelam daripada balik di tengah jalan”. Sepenggal ungkapan yang menyimbolkan keberanian dan tekad mengarungi lautan di kalangan pelaut dan nelayan di Sulawesi Selatan.
2Orang Bugis dan Makassar sejak dahulu menguasai daerah-daerah subur dan mempunyai akses terhadap pelabuhan-pelabuhan strategis, mereka menjadi suku-suku yang dominan di Sulawesi Selatan. Sebaliknya, Mandar dan Toraja sering menjadi korban ambisi penguasa Bugis atau Makassar. Abad ke-17 dipenuhi perburuan hegemoni antara Bugis Bone dan kerajaan Makassar Goa.
motangnga: kegiatan menangkap ikan terbang beserta telurnya di palung Selat Makassar dan sekitarnya. Menghanyut di lautan selama 10-15 hari atau lebih untuk menunggu alat tangkapnya yang berada di sekitar perahu
posi’ boyang: posi’ berarti pusar; pusat; utama. Istilah ini sangat penting dalam kepercayaan mistik di masyarakat Mandar yang menyimbolkan kehidupan. Posi’ di dalam rumah disebut posi’ boyang.
tui-tuing: jenis ikan terbang yang paling tinggi harganya di antara jenis ikan lainnya; Cypsilurus sp. Telur ikan ini adalah komoditas ekspor.
po’angga’: salah satu unsur kelompok nelayan yang bertugas mewakili punggawa pottana (nelayan darat) dalam tawar-menawar dengan pembeli, mengurus administrasi, dan mengurus pembagian hasil.
pa’issangang aposasiang: pengetahuan tentang pelbagai hal yang berhubungan dengan laut, pelayaran, cuaca, bahaya-bahaya, mantra-mantra, dan cara menangkap ikan.
pa’issangang asumombalang: pengetahuan mengenai berlayar dan keterampilan taknis lainnya.
belang: bagian bawah lambung perahu sande’ atau perahu bercadik berukuran kecil lain yang terbuat dari sebatang kayu utuh. Kayu tersebut dikeruk sampai membentuk kedalaman lambung yang diinginkan.