KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

“Take your time. Think a lot. Think of everything you’ve got. For your will still be here tomorrow, but your dreams may not.”

Lagu Cat Stevens (Yusuf Islam), “Footsteps in the Dark/Greatest Hits Vol 2”

Penggalan syair lagu diatas bermakna, “Marilah kita meluangkan waktu untuk sejenak memikirkan tentang apa saja yang telah kita peroleh. Kita mungkin masih di sini esok, tetapi impian kita tidak”

***

Menjelang berakhirnya tahun tidak sedikit orang yang mengambil waktu untuk berefleksi. Pada satu sisi, ia membuat neraca tentang tahun yang akan berlalu. Pada sisi lain, ia diliputi rasa ingin tahu tentang apa yang akan terjadi pada tahun yang akan datang. Satu hal yang biasa dilakukan adalah membuat tekad (resolusi), di mana sering kali merupakan ulangan dari tekad tahun kemarin yang belum kunjung tercapai.(Kompas, 27/12/06)

Tak sedikit pula orang yang mengapresiasi berakhirnya tahun dengan cool, garing dan biasa-biasa saja, tanpa ada yang istimewa. Bagi mereka melepas tahun dan menyambutnya kembali adalah hal yang tidak perlu dibesar-besarkan. Singkatnya, pergantian tahun sama dengan pergantian almanak (kalender), tidak lebih dari itu.

Namun, juga tidak sedikit (bahkan mayoritas) diantara kita yang menyambut dan melepas mahluk bernama “tahun” dengan perasaan suka cita, hura-hura dan canda tawa. Bagi mereka menyambut tahun baru “wajib” dirayakan semisal perayaan upacara yang sakral. Entah sejak kapan sejarah menyambut tahun baru ini dengan luapan kegembiraan. Ketika pukul 00:00 lewat beberapa menit saja, bumi yang berusia 4,5 miliar tahun ini sontak membahana. Suara bising terompet, klakson kendaraan roda dua atau empat dan kembang api berbaur memenuhi udara. Bisa dikatakan ini semua adalah sesajen menyambut tahun baru. Bahkan di Pulau Dewata upacara menyambut tahun baru telah digelar jauh-jauh hari. Sekitar 20.000 warga Karangasem, Bali, makan bersama atau megibung di Taman Soekasada Ujung, Karangasem. Kegiatan yang telah menjadi budaya ini diselenggarakan setiap kali menyambut tahun baru. Ini hanya satu potret budaya masyarakat kita yang mengapresiasi datangnya tahun baru. Pada suasana seperti itu, dapat dipastikan mereka semua tenggelam dalam kegembiraan, tanpa terpikirkan manfaat dan mudharat apa yang mereka dapatkan dari perayaan.

Tahun adalah bagian dari waktu. Menurut teori Fisika, satu tahun didefinisikan sebagai jumlah waktu yang diperlukan oleh bumi untuk melakukan satu putaran lengkap mengelilingi matahari. Sedangkan satu hari didefinisikan sebagai jumlah waktu yang dibutuhkan oleh bumi untuk melakukan suatu putaran lengkap pada sumbunya. Tahun dan bulan kemudian dirinci menjadi unit-unit lain, seperti hari, jam, menit dan detik.

Satu hal yang harus dievaluasi ketika kita melepas dan menyambut tahun baru, yaitu bagaimana kita memaknai waktu. Agama Islam mengajari, kita harus sensitif terhadap waktu. Karena waktu akan menghakimi orang yang mengisinya, yaitu kita. Hal itu disiratkan dalam firman Allah Swt surat Al Ashr: “demi masa. Sesungguhnya manusia dalam kerugian…” ini mengabarkan kepada kita bahwa nasib seseorang dapat dilihat dari sikapnya terhadap waktu. Oleh karena itu, seseorang yang bermutu akan tampak dari bagaimana dia menyikapi waktu.

Waktu tidak akan pernah kembali. Meski pepatah mengatakan “sejarah mungkin berulang”, mungkin sejarahnya yang berulang, tetapi waktunya tidak. Setiap orang yang mendiami bumi ini diberi jatah waktu yang sama: 24 jam sehari. Ada yang dalam 24 jam bias mengurus bangsa, mengurus perusahaan, tetapi ada yang mengurus dirinya saja tidak sanggup. Saya dan presiden Susilo Bambang Yudhoyono waktunya sama: 24 jam sehari, tetapi yang dilakukan dan dihasilkan jelas berbeda. Saya masih di sini-sini saja menjalani aktivitas sehari-hari, tetapi pak SBY telah melanglang buana, mengunjungi berbagai Negara. Bintang kelas dengan yang tidak naik kelas waktunya sama: 24 jam sehari.

Kata dai kondang─yang belum lama ini tersangkut kasus poligami─ Aa Gym dalam tausiyahnya, bahwa bila waktu digunakan sia-sia maka kita akan menjadi manusia sia-sia. Sebaliknya bila waktu digunakan untuk yang berharga, kita menjadi berharga. Intinya, berharga tidaknya hidup kita sangat tergantung pada bagaimana kita menyikapi waktu.

Jam kadang dianggap sepele. Padahal semakin kita melihat jam, maka semakin efektif kita melihat waktu, karena kita selalu memperhatikan sesuatu yang penting. Semakin jarang ingat kepada waktu, berarti waktu dianggap tidak penting. Semakin jarang melihat jam, waktu dianggap belum begitu penting. Menurut penelitian, semakin kita berhitung dengan waktu maka semakin bernilai waktu kita. Penelitian juga menghasilkan, orang yang tidak punya jam─tanpa menyinggung yang tidak punya jam─, dia sering menyia-nyiakan waktunya, karena untuk cari waktu saja dia telah kehilangan waktu, “jam berapa sekarang?” berapa detik mengucapkan kalimat tanya itu? Berapa detik menengok? Berapa detik pula si pemilik jam melihat jamnya dan menyampaikannya kepada si penanya yang tidak punya jam? Akumulasikan, itulah angka kehilangan waktu.

***

Benar adanya syair lagu Cat Stevens, cobalah di ambang pintu tahun baru ini, kita meluangkan waktu sejenak untuk memikirkan tentang apa saja yang telah kita dapatkan dan telah kita abaikan.

Banyak orang─termasuk saya─yang mengabaikan waktu satu detik, padahal banyak hal yang terjadi dalam satu detik. Joe Boot di Ravi Zacharias International Ministries, misalnya mencatat bahwa setiap detik 4,5 mobil dibuat di dunia, ada 2.000 meter persegi hutan yang lenyap, ada 3 bayi yang dilahirkan, ada 1,5 orang yang meninggal. Dalam satu detik juga ada 2,4 juta sel darah merah yang diproduksi di sumsum tulang dan dalam satu detik, bumi yang kita diami ini melesat sejauh 30 Km dalam revolusinya mengeliling matahari. Sungguh banyak hal yang terjadi dalam satu detik tanpa kita sadari.(www.rzim.org)

Apa yang dapat kita petik dari fakta ini? Ternyata tak sedetik pun waktu yang kita miliki ini sia-sia. Sebab banyak orang yang mengecap manisnya kesuksesan karena mereka begitu menghargai waktu. Sebaliknya orang yang kurang punya kesadaran tentang waktu tentu saja tidak menganggap penting arti sebuah waktu. Sehingga kesuksesan pun nun jauh di seberang sana.

Pada sisi lain, ada yang mengatakan, untuk apa pabrikan Swis membuat jam tangan yang hanya meleset satu detik dalam 250 tahun. Mengapa harus secanggih itu? Apa pedulinya dengan waktu sepresisi itu?

Boleh jadi, waktu bisa menjadi bahan refleksi ketika tahun 2006 segera berakhir. Apakah penghargaan kita terhadap waktu pada tahun 2007 masih akan sama dengan tahun 2006? Bila ya, jangan-jangan hidup kita pun tak beranjak dari tahun 2006.

3 Responses to “Memaknai Waktu: Refleksi Melepas Tahun 2006, Menyambut Tahun 2007.”

  1. on 12 Jan 2007 at 19:05lia nurlianingsih

    Ass. I think your article is interesting, but i just found your article n your poem. any other your your article? or only this article?
    my comment about this website is intersting and apply our hobies in this web. heee…hee…good!!! C U…Next time..bye…!!

  2. on 09 Apr 2008 at 16:01hana

    jelek begini dibilang bagus

    ANEH UUUU LIA NURLIANINGSIH!!!!!!!!!!!!!!1

  3. on 16 Aug 2008 at 23:56LieZMaya

    duh ndak kerasa dah mau nginjek 2009 lagih.

Tinggalkan Komentar