Kekasihmu Impianku
Januari 7th, 2007 by poetra_kelana
¯Poetra Kelana¯
“Hai, guys!” kata Andreas, vokalis bandku, seketika dia memasuki ruangan studio yang hanya baru dihuni olehku saja.
“Hai, hai. Punten kek. Assalamualaikum. Hai, hai.” Ucapku.
“Deuh … Gitu ajah marah. Punten akang.” Candanya sembari mencolek daguku.
Aku sebenarnya mau membalas gurauannya, namun sesosok wanita yang berdiri di depan pintu studio mengalihkan perhatianku. Aku menatap wanita itu dari ujung kaki hingga ujung rambut. Sungguh wanita yang cantik. Dari wajahnya. Tubuhnya. Senyumnya. Sungguh wanita impianku.
“Rik, kenalin cewe gue!” kata Andreas.
Aku pun termangu.
“Mila.” kata wanita itu memperkenalkan dirinya sembari mengulurkan tangannya.
“Riko.” Ucapku tak sadar, karena aku masih terbuai akan kelembutan dan keagungan dirinya.
Kami bertiga pun saling bercakap sembari menunggu teman band lainnya yang seperti biasa selalu datang terlambat. Saat kami bercakap-cakap, banyak ku temukan kesamaan antara diriku dan Mila. Seandainya saja Mila bukan pacar temanku, mungkin aku pun langsung mengeluarkan rayuan mautku. Sayang, dia pacar temanku.
Lima menit kemudian, teman-teman band kami pun datang. Kami habiskan 2 jam untuk latihan, seperti biasanya.
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
Malam itu, wajah Mila masih terbayang dalam lamunanku. Kelembutan hatinya masih menempel di tanganku. Suara merdunya masih terngiang di telingaku. Ternyata, Mila penyanyi yang lebih baik dari Andreas. Hal itu pun diakui oleh Andreasnya sendiri.
Aku pun bertanya pada diriku sendiri kenapa aku tidak beruntung. Wanita yang selama ini selalu ada dalam mimpiku telah menjadi milik orang lain. Tapi selama janur kuning belum berkibar, aku masih punya kesempatan. Janur kuning apa bendera kuning yach?
Tetapi ada satu masalah apabila aku berniat untuk mengejar Mila. Andreas. Andreas bukan saja vokalis bandku, tetapi dia juga sahabatku. Kami telah berteman sejak masa-masa indah di SMA dulu. Bersama dia pula, aku mendirikan band yang sekarang ini. Bagaimana kumaha? Di satu sisi, wanita impianku telah hadir dalam kehidupanku. Namun di sisi lain, wanita itu pacar temanku.
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
Keesokan harinya, aku baru saja keluar dari toko musik untuk membeli pick gitar saat aku melihat Mila. Dia sendirian. Kelihatannya, dia sedang menunggu seseoragn. Entah Andreas atau yang lainnya. Aku sebetulnya bimbang untuk mendekatinya, tapi setelah 5 menit berlalu, aku pun menghampirinya.
“Hi !” sapaku.
Wajahnya nampak kaget, namun sedetik kemudian dia tersenyum seolah telah mengenali siapa orang asing yang menyapanya.
“Sendirian?” tanyaku dengan bodohnya, karena dia hanya tersenyum.
“Lagi nunggu siapa?” tanyaku lagi.
“Lagi nunggu Andreas. Emang ngga bareng?” katanya.
“Ngga. Kebetulan hari ini ngga ada latihan jadi ngga bareng. Bosen ama dia mlulu.” Jawabku.
“Udah ngehubungin hpnya?” tanyaku lagi.
Belum dia menjawab, hp dirinya sudah berbunyi. Dia pun dengan cekatan mengambil hpnya.
“Sialan. Emang jodoh tuch anak.” Umpatku dalam hati.
“Dari dia?” tanyaku.
Dia hanya mengangguk sembari membaca pesan yang tertulis di hpnya. Lalu, saat selesai membaca sms, wajahnya binggung.
“Kenapa?” tanyaku coba untuk beramah-tamah.
“Dia ngga bisa dateng. Katanya mobilnya mogok. Duh, mana aku udah janji jam 2 lagi.” Katanya dengan wajah yang kebingungan.
“Kesempatan nich.” Kata hatiku.
“Kalau ngga keberatan, aku bisa anterin koq.” Kataku sembari berharap dan bedoa semoga hari ini hari keberuntunganku.
Setelah beberapa saat, dia pun menganggukkan kepalanya setelah aku berhasil menghilangkan keraguannya. Rasa ragu bahwa dia telah mendua dengan sahabat kekasihnya.
Dalam perjalanan kami berbincang banyak. Kebanyakan tentang dirinya menjawab pertanyaan yang bertubi-tubi ku lancarkan. Aku hanya ingin memastikan apakah dia bahagia atau tidak. Ternyata dia bahagia. Saat kami telah sampai tempat tujuan, dia pun turun setelah menorehkan rasa kekecewaan dalam hatiku.
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
Kejadian tadi siang berulang sering kali. Aku sering bertemu dengannya saat dia sedang sendirian secara kebetulan. Tetapi aku tidak percaya akan kebetulan. Apalagi apabila berulang lebih dari tiga kali. Kami mungkin berjodoh, namun mungkin terlambat untuk kami.
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
Setiap malam, aku tidak dapat melupakan sosok wanita impianku yang merupakan pacar sahabatku. Dia memang bahagia bersama temanku. Tetapi aku yakin bahwa dia akan lebih bahagia bersamaku. Sayangnya aku belum tega mengkhianati persahabatanku. Coba kalau aku tega.
¯ ¯ ¯ ¯ ¯
Keesokan harinya, aku sengaja datang ke studio terlambat karena aku tidak mau perasaanku pada Mila bertambah kuat. Apalagi bila harus melihat dirinya bermesraan dengan sahabatku, hatiku serasa panas dan terbakar.
Saat aku buka pintu studio tempat latihan, ternyata yang ada di sana hanya Andreas. Tiada teman band yang lain. Dan tiada Mila. Ku lihat Andreas sedang melamun.
“Hai” kataku pelan karena tidak mau terlalu mengagetkan dirinya.
Dia menoleh ke arahku, lalu terdiam.
“Ada apa? Siang-siang begini ngelamun?” tanyaku.
“Lu tau kan Mila. Cewe gue. Gue rasa dia punya cowo lain dech. Bayangin ajah, tiap gue ajak jalan selalu ajah ada alasannya.” Katanya dengan nada yang sedih.
“Waduh …….”
O o O
Nanggung ceritanya!
sengaja. takut ada yg kesinggung. gini ajah udah ngerasa dianya ^_^
it’s an open ending.
jd ending nya diserahkan ke pembaca ^_^