Saliva
Januari 7th, 2007 by lubisgrafura
O, Tuhan aku melakukannya lagi. Aku sudah mencoba untuk tidak berbuat demikian, tapi aku tak kuasa. O, Tuhan ampunilah diriku. Bimbinglah jalanku. Jangan biarkan aku melakukannya lagi. Sungguh! Aku telah berusaha. Sungguh! Aku bersumpah! Tapi sekuat apapun bendungan itu kubangun, air itu masih juga meruntuhkannya.
***
Air liurku menetes dari dinding mulut. Persis seperti air yang merembes dari dinding goa, kemudian menggantung di atas stalagtit dan jatuh membentuk genangan. Sela-sela bibirku tak mampu menampung, sehingga menetes keluar dari bibir. Ya, aku seperti serigala yang menjulurkan lidah dengan tetesan air liur yang keluar dari mulut ketika melihat mangsa di depan mata.
Aku serigala? Bukan, bukan! Aku adalah seorang pegawai rendahan yang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Honorku tak seberapa, tapi cukuplah untuk hidupku sebagai seorang bujang. Tiap bulan aku dapat menyisihkan uang itu untuk tiga adikku yang kesemuanya masih sekolah. Sisanya masih sempat kutaruh di bank.
Keluargaku bukanlah keluarga religius. Namun, kedua orang tuaku selama ini cukuplah memberikan diriku bekal sopan santun. Tata cara bertamu, bergaul dengan orang yang lebih tua, tata wicara, dan apapun yang berhubungan dengan attitude sudah dijejalkan dalam benakku dari kecil.
Walau keluargaku bukanlah keluarga yang kental agama, namun nilai-nilai agama di keluarga cukuplah untuk pegangan hidup. Akupun memiliki pemikiran yang sama dengan ayah, ketika aku tengah mengobrol sambil merokok suatu pagi, sedikit tahu tenatang agama tapi diamalkan adalah lebih baik dari pada tahu banyak tentang agama namun tidak dijalankan.
Diperantauan, kata ayah suatu kali, sering kali banyak orang datang dengan niat yang baik, namun tidak sedikit dari mereka yang memilih jalan yang tidak seharusnya dia berada di sana. Jangan lupa sembahyang, kata ibu menambahkan, sembahyang itu dapat mencegah dari perbuatan maksiat dan terlarang.
Kira-kira tiga tahun yang lalu, aku datang ke kota ini dengan hanya berbekal ijazah dan beberapa sertifikat yang pernah kudapat. Tuhan ternyata bermurah hati, mungkin juga mengabulkan doa-doa ibuku setiap habis sembahyang, sehingga beberapa kali aku melamar kerja aku sudah dapat panggilan.
Dari kerja itulah diriku dapat membiayai keperluan sehari-hari. Setiap bulan sebagian honorku selalu kuweselkan untuk biaya sekolah adik-adikku. Beberapa rupiah sisanya bisa kumasukkan bank. Aku juga tak pernah lupa pesan ayah dan ibu, yang setiap kali menelpon dari wartel sehabis wesel yang kukirim mereka terima, yang selalu memesankan dua hal yang sama ketika diriku hendak berangkat: hati-hati dan sembahyang!
Aku merasa bosan juga jika setiap hari diriku harus terus sendiri dan menjalani rutinitas yang selalu itu-itu saja. Aku merasa pagi, siang, dan malam adalah sebuah lingkaran waktu yang menjemukan. Ya, aku keluar dari lingkaran itu, dan membuat garis baru dalam hidupku.
Setiap bulan aku masih mengirimkan uang kepada adik-adikku. Aku tak pernah telat melakukannya. Namun, aku tak lagi bisa menabung. Bahkan aku sering mengambil uang hasil tabungan.
Sehabis pulang kerja aku dengan beberapa teman sekantor akan menghabiskan malam dengan pergi nonton, ke kafe, night club, pub, diskotik, dan yang terakhir mereka mengenalkan kepadaku tentang perempuan.
Aku tak menyalahkan perempuan-perempuan malam yang setiap malam tengah menungguku. Aku hanya menyesalkan kenapa aku selalu berliuran ketika aku melihat mereka. Ya, seperti yang pernah kukatakan bahwa air liurku akan keluar dengan deras ketika aku melihat mereka. Cara berjalan mereka, caranya menyapa, menyentuh, melirik, berpakakaian, bentuk tubuh, rambut, mata, dan ah semua miliknya selalu membuat diriku menjadi seacam serigala.
Serigala yang meraung keras ketika berada di atas puncak bukit dengan bulan membulat di belakangnya. Aku benar-benar menjadi serigala – manusia serigala: manusia yang akan berubah menjadi serigala ketika melihat bulan purnama. Aku benar-benar manusia serigala ketika melihat perempuan itu dan saat mereka mencium leherku, melumat telingaku, dan membisikkan kata-kata jorok yang benar-benar membuat diriku utuh untuk menjadi serigala gila.
Aku berpacu. Aku menderu. Serigala itu menggigit mangsa dengan liar – bahkan lebih liar dari serigala aslinya. Aku mengaum keras kepada purnama. Kukerahkan seluruh tenaga untuk meloncat meraihnya. Mencakarnya. Aku menggelantung di atas purnama. Menjilatinya. Sebelum diriku jatuh terkapar dan tersadar bahwa diriku adalah seorang pegawai rendahan pada sebuah perusahaan swasta dan setiap bulan aku harus mengirim wesel untuk biaya adik-adikku.
Seorang perempuan melingkar dengan pundaknya yang langsat luput dari selimut. Kudapati diriku tengah telanjang menatap awang-awang. Dan begitulah yang kulakukan setiap kali aku selesai melakukannya dengan perempuan-perempuan malam. Di awang-awang itulah seolah aku menemukan sebuah jawaban, walau pada saatnya aku juga sadar bahwa jawaban itu adalah maya.
***
Jangan menuduhku bahwa aku tak pernah mengirim uang untuk adik-adikku di desa. Aku masih melakukannya. Aku masih menyisakan uang untuk mereka. Itu sudah menjadi tekad dan janji saya. Tapi, satu hal yang masih juga tak bisa kutinggalkan ketika air liurku sudah merembes di langit-langit mulut dan menetes bagai air di dinding gua, saat itulah aku berubah menjadi serigala.
Malang, Januari 2006