Suara
Januari 6th, 2007 by lubisgrafura
Hujan mengetuk jendela ruang kuberdiam
ada suara yang merambat di gelombang udara
: seperti suara perempuan
Kumatikan note book, televisi, dan lampu
namun aku masih mendengar suara itu
sebegitu dekat, seolah di depan gendang telinga kau merambat
“apa yang terjadi?” tanyaku pada dingin hujan
“kau gila!” jawab hujan sembari mengetuk daun jendela
Aku berlari turun ke jalan menembus hujan
suara itu terus memanggil lewat getaran-getaran
dedaun dan reranting di pinggir jalan kota tua.
Selembar kertas di jalan yang basah menceritakan padaku
tentang seorang pengantin perempuan yang lari
di hari pernikahannya, karena ia tahu
: yang menutup dan mengunci ruang hatinya -
adalah hanya kekasihnya,
yang kini sedang berdiri di perempatan jalan kota tua
saat hujan meluruh. Dan aku melihat pengantin perempuan itu
- sedang menuju ke arahku.
Bengkel Imaji Malang, Ujung Tahun 2006