KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Siklus

E L E G I Magelang,010107
teruntuk:

Ariyanti Budi Lestari
(Bidadari Telaga Warna-ku)

Sepagi lagi berlalu menyisakan haru : malam yang terlewati, sesak dengan doa, harapan dan rindu. Malam yang gelap, dan sepi-nyeri yang mengaduk udara hingga menjadikannya mengental lalu perlahan membeku, menyumpal rongga dada. Menjerat semua intisari rasa dalam kristal-kristal bening, untuk kemudian jatuh di awal pagi. Menjelma embun yang tak hanya menghiasi rerumputan, dedaun dan ranting, namun juga sudut mata yang kuyu. Menguap bersama kehangatan mentari, meyakinkan nurani satu lagi, mimpi tlah usai.

Betapa, rindu ini haus yang tak kenal musim. Selalu berulang dalam siklus putaran bumi:

Setiap awal hari adalah langkah mencari tak henti-henti. Mengikuti kilasan sinar pagi, berharap kan menuntunku ke istana salju yang memenjarakan hatimu, mencairkannya dan akan kunyalakan sedikit api pada hatimu yang beku. Namun masih saja, setiap kali hari berakhir, aku baru sampai kepada senja yang sendu……

dan,

Setiap senja…..akan selalu melahirkan malam. Malam-malam sunyi tempat ku bisa merenung. Menyemai benih rindu, doa dan harapan, menantikannya tumbuh dan bersayap….agar di puncak hening malam dapat kulepaskan keangkasa, biar mengembara bersama bintang-bintang mencoba mengetuk pintu langit.

Begitulah Rie, setiap siklus yang kujalani adalah kelahiran hari baru dan juga luka baru, namun pada satu cinta rinduku selalu menjadi nyawa. Meski tahun berganti,dinding hati melumut dan berkerak, aku akan menunggu…sekuat hati akan kutunggu. Karena luka telah mengajariku tentang siapa kau…..apa yang telah kau lalui……luka ini pula yang pernah menikammu berulang- ulang hingga akhirnya kau menyerah kalah. Menjadi tawanan dalam kebekuan. Telah kuputuskan, sejak bisa kumerasakan manis luka ini…..aku akan menjadi penjagamu. Ini bukanlah pengorbanan cinta, Rie…..ini juga bukan rasa terima kasih…..ini juga bukan rasa simpati. Ini, adalah takdir yang kupilih. Bila aku harus menjadi pengelana untuk seumur hidupku….mencarimu….merindukanmu…..maka akan kujalani. Dan lihatlah, setiap siklus yang berputar akan semakin menguatkan aku…..dan setiap malam aku akan mengangkasa mencoba mengetuk pintu langit. Dan setiap pagi aku akan bersiap kembali….untuk satu lagi perjalanan menemukan hatimu………

One Response to “Siklus”

  1. on 09 Jun 2007 at 12:40nietha

    Menunggu????? Bukankah itu terlalu menyesakkan??
    Sangat dan sangat begitu sejak.
    Yach aku tahu bila kita telah menemukan sosok yang menjadi pelangi hati sulit sekali buat mengahpusnya.
    Emmm…. tunggulah selagi kau masih bisa menunggu, tapi jika dadamu mulai sesak,,,,,, tak ada salahnya kan mencoba lagi?

Tinggalkan Komentar