Mutant Project
Januari 6th, 2007 by rifki arifin
Siang ini terasa begitu terik. Matahari seakan membakar perempatan Abu Bakar Ali. Ditambah lagi dengan asap knalpot yang mengepul dari kendaraan bermotor dan lampu merah yang tak juga berganti menjadi hijau, membuat suasana makin tidak nyaman.
Memang, sejak diberlakukannya traffic light di tempat itu kemacetan sering sekali terjadi. Maklum, perempatan tersebut dikelilingi daerah strategis seperti Malioboro dan Stasiun Tugu, sehingga dianggap sebagai perempatan yang paling macet di kota gudeg ini.
Akhirnya lampu hijau menyala juga. Untung Supra X-ku cukup ramping untuk menyusup di antara mobil-mobil dan dengan cepat aku bisa lolos dari kemacetan. Fuih, lega juga rasanya. Aku menghela napas beberapa kali.
Kulirik arloji pemberian almarhum ayah yang melingkar di tanganku. Jam satu kurang seperempat! Gawat, lima belas menit lagi aku harus sudah sampai ke laboratorium. Doktor Arman yang terkenal tegas dan disiplin itu tak boleh sampai menungguku. Beliau tidak akan mentolerir alasan apapun, termasuk macet. Segera kupercepat laju sepeda motorku. Whuuss!
***
“Bagus, kamu tidak terlambat,” Doktor Arman yang sudah ada di depan pintu laboratorium terlebih dahulu menyapaku. Napasku agak terengah-engah. Letak tempat parkir yang agak jauh dari laboratorium membuatku terpaksa setengah berlari.
“Seperti kesepakatan kita biasanya, kamu hanya saya ijinkan menggunakan ruangan B, dan waktunya hanya satu jam. Ingat, satu jam, tidak lebih,” Doktor Arman seraya memberikan kunci laboratorium kepadaku.
“Baik, Dok!”
“Saya akan menghadiri pertemuan dosen. Satu jam lagi saya kembali, dan kamu harus sudah ada di luar dengan pintu laboratorium yang harus sudah terkunci!” tegas Doktor Arman.
“Baik, Insya Allah!” Aku menganggukkan kepala.
Doktor Arman pun pergi. Benar-benar Doktor Arman, gumamku dalam hati. Ilmuwan muda yang selalu tegas dan tanpa basa-basi dengan siapapun. Termasuk juga denganku, asistennya sendiri.
***
Laboratorium biologi benar-benar mewah. Tempatnya luas dan peralatannya pun cukup lengkap. Di dalamnya ada dua ruangan utama yang sering digunakan, yaitu ruangan A dan ruangan B. Masing-masing dilengkapi satu unit komputer. Alat-alat yang sering dipakai diletakkan di tempat yang mudah dijangkau dan disusun secara rapi. Terdapat juga fasilitas pendukung seperti toilet dan wastafel yang selalu terjaga kebersihannya.
Aku mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Sejenak aku kagum. Sekalipun aku telah berkali-kali masuk ke laboratorium ini, aku tidak pernah merasa bosan. Tidak salah aku memilih jurusan biologi di universitas ini. Memang biayanya cukup mahal, namun sebanding dengan fasilitas yang diberikan.
Sayang, sejak Doktor Arman menjadi penanggung jawab laboratorium, kira-kira setahun yang lalu, tidak semua mahasiswa dapat menggunakan fasilitas ini. Hanya beberapa mahasiswa tertentu yang bisa menggunakannya—sebagai asistennya aku termasuk di dalamnya. Itu pun harus dengan prosedur yang cukup panjang. Laboratorium sekarang ini seakan tertutup bagi mahasiswa.
Ups, aku hampir lupa. Waktunya hanya satu jam. Aku harus memanfaatkan waktu yang cukup pendek ini sebaik-baiknya. Segera aku menuju ruangan B yang terletak di sudut laboratorium.
***
Untung saja eksperimenku tentang perkembangan embrio ikan yang akan kujadikan bahan skripsiku hampir mencapai tahap akhir. Tugasku sekarang hanya mengecek ulang hasilnya dan memasukkan datanya ke komputer. Selanjutnya akan kutransfer ke flashdisk yang telah kusiapkan. Semoga aku bisa menyelesaikannya dalam satu jam ini.
Kunyalakan komputer yang ada di ruangan ini. Wah, sial, monitornya tidak menyala. Kutunggu beberapa saat, namun layar monitor tetap berwarna hitam. “Apa mungkin komputernya rusak?” pikirku. Padahal sebelumnya tak pernah seperti ini. Kalau begini tugasku tak akan bisa selesai. Aku berpikir sejenak. Lebih baik aku menggunakan komputer di ruangan A.
Aku pun pergi menuju ruangan A. Baru saja akan kunyalakan komputernya, tapi aku segera ingat kalau Doktor Arman hanya mengijinkanku menggunakan ruangan B. Aku berpikir kembali. Ah, tidak apa-apa. Yang penting tugasku segera selesai. Semoga beliau bisa memakluminya.
Segera kunyalakan komputernya. Bagus, monitornya menyala, tidak rusak. Aku harus cepat memasukkan data tugasku ke komputer ini. Waktunya tinggal sedikit lagi. Kubuka program Microsoft Word. Beruntung aku cukup menguasai keterampilan mengetik sistem sepuluh jari, sehingga bisa mempercepat waktu kerjaku.
***
Akhirnya tugasku selesai juga. Kuklik icon save, kusimpan data tugasku ini di my document. Kupastikan bahwa file tugasku telah tersimpan dengan baik dengan membuka kembali folder my document. Bagus, sudah tersimpan. Kumasukkan flashdisk-ku ke dalam USB port. Aku akan segera mentransfer file tugasku, tapi…
“Hmm, tunggu, apa ini?” Dari beberapa file dalam my document, ada satu file yang menarik perhatianku. File bernama Mutant Project dalam format Microsoft Word yang berukuran 115 megabyte. Setahuku jarang ada file Microsoft Word yang berukuran sebesar ini. Rasa ingin tahuku tiba-tiba muncul. Kutekan tombol enter pada keyboard.
Kubaca beberapa halaman dari file itu. “Astaga! Ini kan…,” dadaku berdegup kencang. “Apa-apaan ini?!” Terlalu lama jika aku harus membacanya di sini. Ada lima ratus halaman lebih. Sebaiknya kuselidiki di rumah, kataku dalam hati. Segera kutransfer file tersebut ke flashdisk, sekalian file tugasku.
Dengan agak terburu-buru kumatikan komputernya sambil membereskan berkas-berkas eksperimenku.
“Rizal!” suara Dokter Arman terdengar dari belakang.
“Eh…ya,” aku tergagap.
“Sedang apa kamu disini? Bukankah kamu hanya kuizinkan menggunakan ruangan B?” tanya Doktor Arman dengan nada agak tinggi.
“Ma…maaf, Dok. Komputer di ruangan B rusak. Terpaksa saya menggunakan ruangan ini,” jawabku agak terbata-bata.
“Kamu sudah tahu, kan? Tidak ada yang boleh menggunakan ruangan di sini tanpa seizinku. Bahkan kamu telah satu jam lebih berada di laboratorium ini. Itu melanggar kesepakatan!” kali ini Doktor Arman agak marah.
“Ta…tapi, Dok…”
“Sudah. Tidak ada tapi-tapian. Sekarang kamu boleh meninggalkan ruangan ini dan serahkan kuncinya padaku!”
“Ba…baik, Dok,” jawabku lesu. Aku mengembalikan kunci laboratorium kepada Doktor Arman dan meninggalkan ruangan.
Kulirik arlojiku. Aku hanya terlambat lima menit dari waktu yang telah disepakati. Tapi tak kusangka Doktor Arman akan semarah itu. Ah, sudahlah. Aku harus cepat pulang. File Mutant Project itu harus kuselidiki.
***
Aku mempelajari dengan seksama isi dari file Mutant Project. Sebuah rencana eksperimen mutasi ilegal yang objeknya adalah…bayi! Bayi manusia! Seakan belum yakin aku periksa kembali isi file itu sambil memperbaiki letak kacamataku.
“Benar-benar ide gila! Ini pelanggaran kode etik dan kemanusiaan!” pekikku. “Siapapun yang telah melakukannya pasti orang yang tidak bermoral,” gumamku geram.
Segera kuhubungi Ivan, rekanku satu jurusan sekaligus teman dekatku.
“Assalamualaikum,” sapa Ivan lebih dulu.
“Wa’alaikumussalam, ini Rizal. Kamu bisa ke rumahku sekarang?” pintaku.
“Ada apa? Ada masalah?”
“Ya. Dan ini sangat penting. Akan kujelaskan nanti.”
“Oke, aku ke rumahmu sekarang.”
“Aku tunggu ya. Thanks.”
***
“Bagaimana menurutmu?” tanyaku pada Ivan.
“Astaghfirullahal’adzim. Benar-benar keterlaluan. Ini tidak bisa dibiarkan!” respon Ivan setelah melihat sendiri isi file Mutant Project.
“Dari mana kamu mendapatkan file seperti ini?” tanya Ivan yang masih terpaku pada layar komputer.
“Aku tidak sengaja menemukan file itu saat sedang mengerjakan tugas skripsiku di komputer ruangan A laboratorium biologi.”
“Di laboratorium?!” Ivan menoleh dari layar komputer dan memandangku sambil mengernyitkan dahi. “Mungkinkah ada orang dalam yang terlibat?”
“Ya, aku pun berpikir demikian. Dan orang yang kucurigai adalah Doktor Arman.”
“Doktor Arman? Kenapa?” tanya Ivan heran.
Aku mengangkat bahu. “Entahlah. Ini hanya dugaanku. Mungkin kamu sudah tahu, laboratorium menjadi sangat tertutup sejak di bawah koordinasi Doktor Arman. Lagipula saat itu ia terlihat sangat marah ketika tahu bahwa aku menggunakan komputer di ruangan A,” jelasku. “Menurutku ada yang ia sembunyikan.”
“Hmm, cukup masuk akal juga,” kata Ivan “Lalu, apa yang harus kita lakukan? Kau punya rencana?” Ivan meminta pendapatku.
Aku berpikir sejenak. “Bagaimanapun juga rencana percobaan gila ini tidak boleh sampai terlaksana. Besok pagi-pagi sekali kita ke laboratorium. Di sana mungkin ada petunjuk yang mengarah kepada otak di balik rencana eksperimen ini,” aku mencoba menjelaskan rencanaku pada Ivan.
“Tunggu dulu! Bagaimana bisa kita masuk ke laboratorium? Sedangkan kita sendiri tidak memegang kuncinya,” sanggah Ivan padaku.
“Itu bisa diusahakan. Kita bisa meminjam kunci ke bagian cleaning service laboratorium. Bilang saja ada pekerjaan yang harus kita selesaikan. Lagipula mereka sudah mengenalku sebagai asisten Doktor Arman. Mereka pasti mengijinkan.”
“Oke, kalau begitu,” Ivan menganggukkan kepala tanda setuju.
“Baiklah, besok rencana ini kita mulai!” tegasku
***
Laboratorium biologi pagi itu masih cukup sepi. Sesuai dugaanku, jam tujuh pagi seperti ini tidak akan ada orang yang datang. Aku dan Ivan akhirnya bisa masuk ke laboratorium setelah berhasil meminjam kunci di bagian cleaning service. Kami segera menuju ruangan A.
Kunyalakan lampu ruangan A. Bukk! Sebuah pukulan benda keras mendarat di kepalaku. Aku jatuh tersungkur. Aku mencoba bertahan, tapi tak bisa. Semua menjadi gelap.
Mataku menyipit silau karena cahaya lampu yang cukup terang. “Dimana ini?” Ukh, kepalaku nyeri sekali. Sial, kaki dan tanganku juga diikat. Aku mengamati sekeliling. Sebuah tempat yang cukup aku kenal. “Ini kan ruangan A. Tapi, apa yang terjadi denganku? Aku mencoba mengingat apa yang baru kualami sambil menahan nyeri di kepala. Oh, iya. Aku baru ingat. Dan saat aku ada di depan ruangan A, aku merasa dihantam sesuatu dari belakang. Pantas, kepalaku terasa begitu nyeri.
Krieet. Ada suara pintu yang terbuka. Samar-samar aku melihat wajah seseorang yang sangat kukenal berjalan mendekatiku.
“Hai, Rizal. Kau sudah sadar rupanya.”
“Ivan!” aku tersentak kaget. Kulihat rona yang lain di wajah Ivan. Tampak tak bersahabat. “Ivan, jangan-jangan kau…”
“Ya, akulah yang telah memukul dan mengikatmu.” Jawab Ivan sambil tersenyum sinis.
“Ja, jadi…kau telah merencanakan semua ini,” aku setengah tidak percaya.
“Ya, begitulah. Sebenarnya aku tidak menyangka kalau kau menemukan file Mutant Project buatanku. Tapi, kau membuat kesalahan bodoh dengan memberitahukannya padaku. Aku pura-pura terkejut dan tidak tahu-menahu tentang file itu saat berada di rumahmu. Rencana inipun kususun semenjak pulang dari rumahmu. Mudah sekali kau kujebak dalam rencanaku ini. Ha…ha…ha, kau benar-benar bodoh!” Ivan menertawaiku. “Dan kau tak menduga kan, kalau akulah otak dibalik rencana eksperimen mutasi ini.”
“Apa katamu! Kurang ajar kau,” pekikku marah. Aku ingin sekali memukulnya, tapi tak bisa. Tangan dan kakiku yang terikat membuatku tak bisa bergerak.
“Sekarang kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Kau sudah terlalu jauh mengetahui Mutant Project yang telah kususun selama dua tahun ini. Kau akan kubungkam untuk selamanya,” Ivan mengeluarkan semacam alat suntik.
“Apa itu? Apa yang akan kau lakukan?” tanyaku panik.
“Ini Kalium Sianida. Aku belum pernah mencobanya pada manusia. Tapi setahuku, reaksi zat ini sangat cepat. Jadi tenanglah, kau tidak akan merasakan sakit menjelang kematian.”
“A…apa!” aku mencoba melepaskan diri. Sial, ikatan tali ini sangat kuat. Tenang, aku harus tenang. Dalam situasi seperti ini, aku tak boleh menggunakan emosiku. Aku mencoba mencari akal. Kutarik napas panjang. “Sebelum aku mati bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanyaku sambil mencoba mengulur waktu.
Ivan tampak berpikir. Kemudian ia berkata, “Baiklah. Lagipula setelah ini kau tidak akan bernyawa lagi. Apa yang mau kau tanyakan?”
“Mengapa kau melakukan semua ini? Bukankah kita telah berteman cukup lama?”
“Teman? Ha…ha…ha,” Ivan kembali tertawa. “Pertemanan kita hanyalah bagian dari rencanaku agar aku bisa lebih leluasa menggunakan larboratorium. Doktor Arman sialan itu terlalu ketat dalam memilih mahasiswa yang boleh menggunakan laboratorium. Setidaknya dengan menjadi temanmu, dia bisa lebih bersikap longgar terhadapku,” jelas Ivan.
“Lalu, apa tujuan di balik proyek gilamu itu?”
“Proyek gila katamu?!” Ivan terlihat marah. “Ini adalah sebuah pembuktian ilmiah bahwa mutasi juga bisa menghasilkan spesies yang lebih baik!”
“Itu mustahil!” seruku, “Mutasi hanya merusak kode informasi pada DNA, itu membahayakan bagi semua mahluk hidup. Dan mutasi yang menguntungkan belum pernah ada. Kau tahu sendiri kan?! Lagipula kau menggunakan bayi manusia sebagai objeknya. Itu pelanggaran moral!”
“Masa bodoh dengan semua itu!” bantah Ivan, “Kau tak usah bicara soal moralitas padaku. Aku telah disumpah untuk melakukan apapun agar proyekku ini berhasil. Dan konsekuensinya, aku harus mengabaikan moral, bahkan moralitasku kepada Tuhan!” tatap Ivan padaku.
“Apa?!” aku terkejut mendengar kalimat terakhirnya. “Jadi kau seorang…”
“Ya. Aku adalah seorang atheis. Aku bersama kaumku yang lain telah memegang doktrin anti Tuhan dan harus menyebarkannya. Dan tugas yang diberikan kepadaku adalah membuktikan kebenaran teori evolusi melalui proyek mutasi ini. Setelah eksperimenku dengan bayi menusia ini berhasil, lebih mudah bagiku untuk melanjutkannya dengan objek yang lebih ringan.”
“Maksudmu…?” tanyaku tak paham.
“Percobaanku terhadap bayi ini hanyalah langkah awal. Eksperimen mutasiku yang sebenarnya ialah menciptakan reptil bersayap.” jawab Ivan.
“Apa! Reptil bersayap!”
“Ya. Reptil bersayap. Dengan adanya mahluk peralihan yang kuciptakan ini akan bisa membuktikan mata rantai evolusi yang hilang. Dan kepercayaan publik akan kebenaran teori evolusi yang mengabaikan aspek transendental maupun ketuhanan akan semakin besar. Akhirnya, paham atheis pun akan semakin mudah disebarluaskan,” Ivan menjawab dengan penuh kepuasan.
Penjelasan Ivan benar-benar membuatku tercengang. Tak kusangka temanku yang selama ini kukenal sebagai orang yang cerdas dan taat beragama adalah seorang ahteis. Bahkan dengan segala cara, dia menyebarkan paham yang dianutnya itu.
“Kukira penjelasanku sudah cukup. Sekarang waktuku untuk mengeksekusimu,” Ivan mendekat ke arahku dengan membawa alat suntiknya.
Ya Allah, tolonglah hambamu ini, doaku dalam hati. Dalam kondisi seperti ini aku hanya bisa pasrah.
Brraak. Terdengar suara pintu yang di dobrak dari luar. “Doktor Arman!” seruku.
“Sudah cukup, Ivan. Aku telah mendengar semuanya. Lebih baik sekarang kau menyerah! Kau tak akan bisa melawan,” gertak Doktor Arman yang datang bersama beberapa orang satpam.
“Sial!” pekik Ivan. Ia segera berlari menuju jendela samping yang letaknya tidak terlalu tinggi. Kaca jendela dipecahnya dengan kursi dan Ivan pun melompat keluar.
“Kejar dia!” perintah Doktor Arman kepada beberapa satpam di sebelahnya.
“Kau tak apa-apa, Zal?” Doktor Arman mendekatiku dan membebaskanku dari tali yang sejak tadi mengikatku.
“Terima kasih, Dok.” kataku sambil sedikit meregangkan otot tubuhku yang kaku akibat terikat tali. “Tapi, Dok, bagaimana Anda bisa datang kesini?”
“Sebenarnya, aku kebetulan datang ke laboratorium ini karena akan mengambil barangku yang tertinggal. Aku datang ke ruangan ini ketika mendengar adanya keributan. Sesampainya di sini aku sempat mendengarkan percakapanmu dengan Ivan dari luar. Untuk menghidari sesuatu yang tidak diinginkan, diam-diam aku memanggil satpam. Tapi sudahlah, lebih baik kita ikut mengejar Ivan,” ajak Doktor Arman.
“Baiklah. Ayo,” jawabku.
Kami segera mengikuti satpam yang sedang mengejar Ivan. Kejar-mengejar tidak berlangsung lama. Seluruh pintu di laboratorium telah dikunci sebelumnya oleh Doktor Arman, sehingga tak ada jalan keluar bagi Ivan. Ivan terpojok di sudut laboratorium. Aku, Doktor Arman, dan para satpam mengepungnya.
“Menyerahlah Ivan! Kau tidak bisa lari lagi,” perintahku pada Ivan.
“Menyerah? Kau pikir aku akan menyerah begitu saja,” Ivan mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya. Ia berlari ke arah kami sambil menodongkan pisau itu. Namun salah seorang satpam dengan sigap menendangnya hingga ia jatuh tersungkur dan pisaunya terlempar.
“Sudahlah, Ivan. Menyerahlah. Tak ada gunanya melawan,” kataku lagi.
Perlahan Ivan bangkit dan berkata, “Kau tahu, Rizal? Dalam sumpah yang telah kuucapkan, apabila misiku gagal maka harus ditebus dengan nyawaku ini,” Ivan mengeluarkan alat suntik berisi Kalium Sianida yang masih dibawanya. Ia menyuntikkan ke lehernya sambil tertawa dan meneriakkan sesuatu.
***
“Terima kasih atas pertolongan Anda, Dok. Saya tak tahu apa yang akan terjadi jika Anda tidak menolong saya kemarin,” ucapku pada Doktor Arman saat kami sedang duduk di gazebo dekat rumah beliau, sehari setelah peristiwa naas di laboratorium yang menyebabkan kematian Ivan.
“Tak usah dipikirkan. Justru saya seharusnya minta maaf padamu, Zal. Saya malah mencurigaimu, bukannya Ivan,” Doktor Arman berkata tanpa melihat wajahku. Aku mengerutkan dahi. “Maksud Anda, Dok?” aku tak mengerti.
Doktor Arman menatapku tajam, seperti mau menjelaskan sesuatu. “Dengarkan baik-baik, Zal! Sebenarnya sudah sejak lama saya menemukan file Mutant Project di komputer ruangan A, bahkan sebelum saya menjadi penanggung jawab laboratorium. Saya sangat terkejut melihat isi file itu, walapun waktu itu masih dalam bentuk draft kasar. Saat itu saya berpikir bahwa ini adalah perbuatan orang dalam yang sering menggunakan laboratorium. Saya mencurigai beberapa orang, kamu dan Ivan termasuk di dalamnya.”
Doktor Arman menghela napas. Lalu beliaupun melanjutkan penjelasannya. “Karena itu, sejak menjadi penanggung jawab laboratorium ini, saya sangat membatasi penggunaannya. Yang boleh menggunakannya hanya beberapa orang yang sebelumnya saya curigai. Saya melakukan hal itu dan sengaja tidak menghapus file Mutant Project agar bisa segera tahu siapa yang telah membuat file itu. Saat itu, ketika saya tahu bahwa kamu menggunakan ruangan A, kecurigaan saya padamu semakin besar, sehingga saya mengabaikan Ivan dan beberapa orang yang lain. Ternyata saya salah. Maafkan saya, Zal.”
Sekarang aku mulai mengerti mengapa Doktor Arman begitu ketat dan tegas dalam mengatur penggunaan laboratorium. Aku telah salah menilanya, bahkan aku mencurigainya sebagai orang yang telah membuat file Mutant Project itu, bodohnya aku.
“Tapi, Dok, saya masih belum mengerti kenapa orang sepandai dan secerdas Ivan begitu ngototnya mempertahankan teori evolusi yang sudah terbukti salah?” tanyaku pada Doktor Arman.
Doktor Arman kembali memalingkan wajahnya. Kali ini beliau memandang langit. “Ivan, sepertinya dia seorang atheis dan evolusionis fundamentalis, yang tidak mampu membuktikan kebenaran teori evolusi berusaha merekayasa dan memalsukan bukti kebenaran teori tersebut dengan segala cara. Padahal secara tidak langsung, ia telah menyatakan sebuah pesan yang penting, bahwa evolusi bukanlah ilmu pengetahuan, melainkan dogma, keyakinan buta yang ia coba terus pertahankan, walaupun fakta ilmiah telah membuktikan sebaliknya.”
Dogma. Kata itu mengingatkanku pada waktu sesaat sebelum kematian Ivan. Saat itu ia meneriakkkan sumpah setianya kepada atheisme, sebuah paham yang sangat dogmatis dalam menentang keberadaan Tuhan. Sungguh naas nasibnya. Dogma yang telah ia terima terlalu dalam menancap di hatinya sehingga menafikan segala akal dan logikanya sebagai seorang manusia.
cukup seru juga ceritanya.
tentang mutant, evolusi, dan atheisme.
jujur saja aku tertarik dengan ketiganya, tapi bukan berarti aku suka dengan ketiganya.
hanya satu yang aku kagumi. ‘berjuang sampai mati’
Idenya kren orizinil menarik dan kreatif
Good job pren