Air Mata di Atas Tinta
Januari 6th, 2007 by Cu2t
“Pie….!!!” Teriak Mya memanggil Gupie.
Gupie menggerakan tangannya dari dalam kelas tanda menyahuti panggilan Mya.
“Sini!!!” Seru Mya.
Gupie bangun keluar kelas dan menghampiri Mya yang berdiri di luar kelas.
“Ada apa?” Tanya Gupie penasaran.
Mya menarik tangan Gupie hendak membawanya ke suatu tempat tanpa meminta persetujuan Gupie. Si Pemilik tangan panik tangannya ditarik begitu saja.
“Mau ke mana?” Tanya Gupie panik.
“Ngikut aja kenapa, gak usah pake nanya.”
Gupie diam. Dia lebih memilih tak bersuara dan mengikuti kehendak Mya. Karena Gupie yakin, saat ini ada hal penting yang akan di terimanya dari Mya.
Mya pun diam, matanya sibuk mencari tempat yang dirasa tepat untuknya dan Gupie. Lama Mya memilah-milih, akhirnya ditemukannya sebuah ruangan yang dirasa tepat untuknya dan Gupie.
Mya membuka pintu yang di pintunya tertuliskan “UKS”. Dia masauk dan duduk di kursi yang tersedia di sana yang kemudian diikuti oleh Gupie. Mya mengeluarkan sebuah kado dari dalam tasnya, dan memberikannya kepada Gupie. Yang diberi kado merasa ganjil menerima kado tersebut.
“Ulang tahunku masih jauh kale.” Respon Gupie menerima kado dari Mya.
“PD. Siapa juga yang mau kasih ke kamu.”
“Oh… salah ya!!!” Gupie malu. “Trus ni kado buat siapa?”
Mya diam. Dia terlihat ragu menjawab pertanyaan Gupie.
“Aku gak nyuruh kamu diam loh!”
Mya menatap Gupie. Tak lama setelah itu Mya menangis. Enatah apa yang Mya tangisi saat itu?
Gupie yang melihat Mya menangis menjadi cemas sendiri. Saat itu dia bepikir bahwa dia penyebab temannya itu menangis.
“Kamu kenapa?” Tanya Gupie cemas.
Mya menatap Gupie lagi. Yang ditatap menunduk memendam perasaan salah.
“Itu buat Anjar.” Jawab Mya Lirih. “Tolong kasih ke dia, tapi jangan bilang itu dariku.” Lanjut Mya.
“Anjar???” Teriak Gupie histeris mendengar nama itu.
“Kalau dia Tanya, bilang saja itu titipan buatnya dari perempuan yang pake baju biru.”
***
Jam menunjukan jam 3 Pagi. Aku cepat-cepat pergi ke sekolah, agar aku bisa datang duluan di bandingkan dengan Anjar adik kelasku yang menantangku datang pagi di hari ke tiga MOS.
Setibanya di sekolah, temanku yang bernama Lina berdiri di gerbang sekolah. Karena memang saat itu Lina adalah bagian keamanan.
“Hi Lin!” Sapaku. “Udah ada yang datang?”
“Panitia sih baru beberapa orang.” Jawabnya singkat.
“Kalo peserta MOS?” Tanyaku lagi.
“Kayaknya belum ada tuh.” Jawab Lina lagi.
“Syukurlah.” Bisikku dalam hati.
“Eh… ada, kalo ngak salah si Anjar, peserta yang paling rese itu.” Lina meralat perkataannya. “Tapi mungkin juga aku salah liat.”
Aku cepat berlari menuju kelas Anjar, tanpa pamitan pada Lina. Jujur saat itu aku aku benar-benar meragukan perkataan Lina. Orang setiap kali Anjar selalu datang jam tujuh, masa iya kali ini dia datang jam tiga.
Setibanya di gugus F, suasana masih gelap. Artinya belum ada orang yang datang. Sebab kalau ada orang pasti lampu ini menyala.
“Huh….” Suara napasku lega.
Kunyalakan lampu kelas agar kelas ini terang, sehingga semua orang tahu bahwa di kelas ini ada orang, termasuk Anjar. Agar dia tahu bahwa aku telah datang jauh sebelumnya.
“Pagi Kak!!!” Sebuah suara terdengar dari belakang tepat saat lampu dinyalakan.
Aku berbalik kea rah suara itu. “Anjar???” Spontan aku berteriak.
“Kok kamu bisa?” Aku masih meragukan semua ini.
“Anjar gitu!!!” Pujinya pada dirinya sendiri. “Kakak gak bakalan bisa menang dari Anjar.” Lanjut Anjar.
Aku tersenyum pahit menerima kekalahan. “Trus, kamu mau apa?” Aku meminta ponisku.
Anjar terlihat berpikir sebentar. “Apa ya?”
“Jangan yang susah ya!” Aku meminta keringanan.
Anjar tersenyum. “Yang kalah kan harus nurutin kemauan yang menang, benar kan?” Tanya Anjar mengulang perjanjian kita kemarin.
Aku menganggukan kepala membenarkan. “Sialan.” Keluhku dalam hati. “Jebakan makan tuan.”
“Kemarin Kakak kan nyuruh Anjar ngikutin Kakak, sampai ke perum belakang sekolah.” Anjar berhenti seraya menarik napas. “Sekarang gentian, Kakak harus lari dua keliling lapang sekolah di depan Anjar.”
Ponis dijatuhkan. Aku berlari mengelilingi lapangan sebanyak dua putaran sesuai permintaan Anjar. Sedangkan Anjar tersenyum terbahak-bahak melihat aku berlari.
Setelah selesai, aku menghampiri Anjar dan kita kembali ke kelas. “Huh….”
“Cape ya!!!” Ledek Anjar padaku.
“Benget.” Balasku sinis.
“Anjar kan sudah bilang, jangan mau taruhan sama Anjar.”
“Berisik.”
Aku duduk di bangku yang biasa diduduki Anjar, untuk sekedar menghilangkan letih kakiku yang diolahragakan sebelum waktunya. Anjar mengikutiku, dia duduk di bangku yang biasa diduduki teman sebangkunya.
“Kak, besok Anjar gak usah pake celana biru lagi ya?” Tanya Anjar memulai percakapan.
Aku diam mendengar perkataannya. Anjar benar, besok tak akan ada lagi yang namanya MOS. Takan lagi ada taruhan dengannya seperti ini.
“Kok diam?” Tanya Anjar heran melihatku melamun. “Ngelamun ya?”
Aku tersadar dari lamunku. “Enggak kok!” Jawabku. “Kakak Cuma sedang berpikir besok gak usah cape-cape lagi ngurusin adik kelas yang rese kayak kamu.”
Anjar tertawa cengengesan. “Makasih.” Balas Anjar pendek.
“Buat apa?” Tanyaku tak mengerti.
“Buat semua hukuman Kakak padaku.” Jawab Anjar.
Aku diam mendengar jawaban Anjar. Ingin sekali kukatan bahwa aku lebih senang dan lebih tenang jika aku menghukummu, bukan orang lain Jar.
“Anjar salah ngomong ya Kak?” Anjar terlihat menyesal.
“Pinter.” Jawabku sambil tertawa. “Atauran kamu harusnya bilang makasih karena sering membuat aku repot.” Lanjutku.
“Emang iya Anjar ngerepotin Kakak?” Anjar meragukan perkataanku.
“Harusnya kamu tahu Anjar, kamulah alasan mengapa aku datang pagi. Harusnya kamu juga tahu, betapa gelisahnya aku menunggumu setiap pagi di gerbang sekolah. Semua itu kulakukan untukmu. Karena jujur, aku tak sanggup melihatmu menerima hukuman dari panitia MOS lainnya.” Bisiku dalam hati.
“Ngak nyadar, kelakuanmu yang rese itu sering ngerepotin aku dan panitia lainnya. Makanya aku ngajak kamu taruhan datang pagi biar kita ngak usah repot ngehukum kamu.”
Kini Anjar yang diam. Dia terlihat menyesali perbuatannya.
“Maafin Anjar ya!” Pintanya polos. “Anjar kayak gini karena Anjar tinggal ma nenek Anjar.”
“Orang tua kamu?” Tanyaku spontan.
“Anjar anak broken home.” Jawabnya pahit.
“Sorry! Kakak ngak tahu.” Sesalku membuka lukanya.
“Ngak apa-apa.”
Pagi ini, Anjar menceritakan semua kisah hidupnya padaku. Aku mendengarnya bicara tanpa banyak komentar. Karena aku tahu, ini mungkin akan menjadi yang terakhir kalinya aku bicara dengan Anjar sedekat ini.
Angin pagi bertiup kencang, membuatku menggigil kedinginan. Anjar yang melihatku mmnggigil kedinginan membuka jaketnya dan memakaikannya padaku.
“Kamu?”
“Ngak usah dipikirin.” Balasnya. “Anjar pergi solat dulu ya Kak!” Anjar bicara sampil berlalu menjalankan kewajibannya meninggalkanku seorang diri di kelas itu dengan air mata.
***
Setahun sudah aku memendam perasaan pada Anjar yang sesekali sering kucurahkan pada teman sekelasnya. Aku sengaja memilih teman sekelas Anjar sebagai teman curhatku agar setidaknya aku taku keadaan Anjar lewat temannya.
Awalnya Anjar selalu menyapa atau tersenyum jika bertemu denganku. Namun, sekarang dia memalingkan muka bahkan menghindariku jika melihatku. Entah apa yang telah kulakukan padanya, hingga dia seperti itu padaku. Lama kupikirkan perubahan itu. Hingga akhirnya aku sadar sendiri akan perubahan Anjar. Mungkin Anjar tahu perasaanku padanya dan dia tak ingin membuatku kecewa dengan memberi harapan padaku.
Aku menangis menyesali semua ini. Menyesali perasaan yang tak seharusnya ada untuk Anjar. Harusnya aku hanya menganggap Anjar tak lebih dari adik kelas. “Maafkan aku!!!” Sesalku lirih dalam hati.
Ku ambil selembar kertas. Kutulis beberapa kata yang tak akan sempat kusampaikan padanya dengan air mata yang tak sempat membasahi kedua pipiku.
Kuselipkan selembar kertas itu di sebuah buku. Buku yang kuanggap benda special dalam hidupku. Karena specialnya, aku belum mau membuka segelnya dan tak ingin sama sekali membacanya. Sebab, aku inginkan orang yang special dalam hidupkulah yang membuka dan membaca buku specialku.
Kubungkus buku itu dan kubuat menjadi sebuah kado. Kado yang akan kuberikan pada Anjar besok, saat aku tak lagi berada di kota ini. Saat aku akan memulai hidup baru dengan melupakan semua perasaanku pada Anjar yang tak seharusnya ada. Walaupun kusadari hati ini terlanjur mengukir namanya dan tak akn pernah bisa menghapus ukiran ini sampai kapanpun.
***
Anjar terlihat duduk di taman belakang sekolah. Gupie menghampirinya dan duduk di sebelah Anjar.
“Kamu Anjar kan?” Tanya Gupie ragu.
Anjar mengangguk membenarkan. Dia menatap Gupie meminta penjelasan atas pertanyaannya.
Gupie mengeluarkan sebuah kado dari tasnya dan memberikannya kepada Anjar.
“Buatmu!”
“Buatku?” Anjar mengulangi perkataan Gupie.
“Iya.” Gupie meyakinkan.
Anjar diam memandangi kado di tangannya. Gupie yang melihat Anjar seperti itu merasa tak perlu berlama-lama di sana dan pergi meninggalkan Anjar tanpa pamit.
“Makasih.” Triak Anjar pada Gupie yang membuat Gupie terhenti dari langkahnya dan berbalik ke arah Anjar.
“Bilang saja pada perempuan yang pake baju biru, bukan padaku!” Gupie balas berteriak sambil kembali melanjutkan pekerjaannya yang sempat terhambat dan meninggalkan Anjar seorang diri.
Anjar masih diam dengan kado ditangannya. Dipandangnya kado itu berkali-kali. Sesaat dia terlihat memikirkan asal kado itu. Lama Anjar berpikir, hingga akhirnya dia putuskan untuk membukanya.
Dear: Anjar
Aku ingin mencintaimu secara sederhana, lewat kata-kata yang tak sempat diucapkan Api kepada kayu yang menjadikannya Abu…
Aku ingin mencintaimu secara sederhana, dengan kata-kata yang tak sempat diucapkan Hujan kepada Awan yang menjadikannya tiada…
By
………
***
Keren banget lho!!! Masih ada terusannya gak? Kan sayang kalo berhenti di tengah2 begini. Please…mau tahu lanjutannya nih
Trz Endingnya gmn tuh?! kok g Ad lanjutannya.. Wah bikin penasaran ni. Klo bisa lanjutin lg donk smp sls!
hah..lagi syeru2nya baca kq slese. mls ni klo hrs pake mikir gmn klanjutannya…..yag pasti KEREN BUANGEEET, lanjutin dunx
Keren banget ceritanya biar endingnya ‘ngegantung’ tapi gw malah suka ending begini.
cukup membuat penasaran pembacanya shic.
emang cinta itu kadang g` selamanya kita miliki tapi kita sadar, bahwa itu semua adalah kesalaan kita yg tak mau terus terang
keRen bAngetz nI cEriTa,,
LanjUtin Dunkz,,,
Kan lum kEtahUan eNdinGnya gMna???
CeritAx Baguz dEgh..
di Lanjutin y,,…Pliese..
wah..penasaran gue..
Kereeen!
Suratnya keren banget!!
lanjutannya mana……
Baguz bngetz ne crta bkin terharu gw.
Eh, kata2 yg trakhir (ak ngin mncntaimu …) itu bukannya kata2 kahlil gibran??
q mw lanjutan na dunk!!!!!!!!!!!!!!!