KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Tak Tumbuh Sorga di Kelopakku

kau gagahi bunga-bunga yang melubangi wajah.
dalam igauan jiwa, bait-bait masa lalu memanggilmu pulang.

aku berkarat di lipatan kitab: huruf-huruf mati.
kau menghayati perempuan sebuah pembunuhan.

aku baru saja bercermin, saling mengenal gairah kepedihan,
selagi memberi aroma pada setiap pecahan kelopak yang kulupa
mewarnainya dengan pilihan ini: kususui anak-anak dari kebencian sejarah moyangku

lelaki, padamukah aku berhutang berpuluh tahun kutukan?
aku berdiri gagu memahat darah dan nyeri
kulahirkan beratus tumbal: lupa pada kelopak rahimnya

dengan cinta ataukah dendam,
aku, perempuan dari guguran cinta ini
kehilangan bahasa hati
yang mahir mengeja kemunkaran dalam satu nafas.

seperti inilah, tak tumbuh sorga di kelopakku.
alangkah durhaka jejak-jejak tertinggal,
tak pernah paham benih-benih pahala yang ditebar,
membakar tubuh-tubuh kecil dalam setiap ngilu aminku.
dan membuat neraka baru diam-diam
—di antara langit dan bumi yang tersesat.

ke mana pinjaman tubuh kecilku mesti dipulangkan
pada siapa mimpi ini kutitipkan
kehidupan makin jauh dan angkuh
memburu merayakan gugur pupus sajak benciku yang menguning renta.
dengan dupa dan bunga
agar sepi mati terakhir kali
dan melahirkan cahaya.

Surabaya 2006

One Response to “Tak Tumbuh Sorga di Kelopakku”

  1. on 14 Jan 2007 at 11:45budi

    kepedihan itu………
    terasa menusuk tulang!!!!

Tinggalkan Komentar