RESOLUSI (REncana SOfisme LUruh bak SIlalatu)
Januari 5th, 2007 by Roz
“Aaa . . . tahun baru, tahun baru !”
Ritual gerakan Kermit dengan tangan ributnya diudara berlangsung beberapa detik, eh tidak, mungkin cukup untuk satu iklan.
“Sst ! . . . jangan norak ah. Apa sih hebatnya tahun baru sampai dirayakan seperti itu. Sudah ngabisin duit, gak ada manfaatnya lagi. Itukan cuma pergantian hari biasa.”
“Tentu saja tidak. Namanya saja tahun baru tentu lain dengan tahun lama. Dan malam tahun baru ini akan menjadi malam panjang.”
“Alaa . . . paling-paling yang ganti cuma kalendernya. Setelah habis pesta penghamburan uang semua kegiatan balik pada kebiasaan lama yang artinya tidak ada perubahan.”
“Mm . . . mungkin kamu benar, tapi tahun ini aku sudah bertekad untuk berubah.”
“Berubah bagaimana maksudmu ? mengubah interior kamar atau screen saver seperti yang kamu lakukan tahun lalu.”
“Bukan. Aku ingin mengubah hidupku secara radikal.”
“Radikal ? maksudmu rada jadi nakal ? bukannya sudah super jail ?”
“Ck! Kamu ini kenapa, dendam padaku ? bilang saja.”
“Bukan, aku hanya melihatnya dari sisi realita. Sori kalau tersinggung, tapi coba teruskan apa maksudmu dengan mengubah hidupmu secara radikal.”
“Aku baru membaca buku motivasi.”
“Aaa . . . “
“Diam dulu ! jangan bikin komentar sinis yang menyebalkan” menarik nafas kesal sesaat lalu meneruskan, “Dibuku itu ditulis - Perubahan itu harus radikal. Jika kamu ingin mengubah hidupmu secara radikal, maka kamu harus mengubah cara berpikirmu secara radikal juga”
“Lalu ?”
“Nah itu dia . . . radikal apaan si ? “
“Mm ?” alis bersatu tidak percaya
“Serius nih !”
“Iyaa . . . kata profesor Sema radikal itu berasal dari kata radiks dan akal yang artinya akar pikiran, yang artinya inti dari pemahaman, yang artinya sangat mendasar. Dengan begitu radikal adalah sesuatu yang mendasar dan berdampak sangat luas.”
“Ngg . . . agak ribet ya pemahamannya. Eh, siapa profesor Sema ?”
“Sema-uku . . . hehe . . . tapi aku jamin artinya gak jauh beda dengan yang diterangkan oleh pak Poer.”
“Siapa pula pak Poer ?”
“Nah, ketahuan banget gak punya kamus Indonesia. Apa kamu tidak pernah mendengar pemeo yang mengatakan untuk melanggar aturan dengan sukses ketahui dulu aturan dengan jelas. Itu sebabnya para koruptor di negeri kita susah sekali ditangkap karena mereka yang membuat peraturannya.”
“Hh . . . ngomong sama kamu emang ribet, pusing aku. POKOKNYA AKU INGIN TAHUN DEPAN HIDUPKU BERUBAH !”
“Sst ! . . . gak perlu teriak-teriak begitu. Kalau mau berubah kenapa harus tahun depan, berubah saja mulai dari sekarang.”
“Kan biar jelas start-nya. Biar nanti evaluasinya mudah dan rapi dalam penanggalannya.”
“Kamu pikir hidup kita seperti itu. Tidak peduli dimana kamu memulai suatu kegiatan pada hakikatnya kita selalu berada dalam suatu proses. Satu kejadian akan mempengaruhi kejadian berikutnya. Jadi kalau mau perubahan tahun depan berubah saja sejak sekarang.”
“Gitu ya ?”
“Mm ! Jadi apa yang ingin kamu ubah dari hidupmu ?”
“Semuanya. “
“Maksudmu . . kamu juga ingin mengganti keluargamu dan temanmu saat ini ?
“Eee . . . bukan itu maksudku. Aku ingin penghasilanku meningkat pesat misalnya jadi 50 juta /bulan. Aku ingin mendapat piala vidya sebagai penulis skenario terbaik. Aku ingin segera menikah. Aku ingin mendirikan yayasan nirlaba untuk mengurus anak-anak korban trafficking. Aku ingin . . .”
“Sebentar. . itu untuk tahun depan ? rasanya itu bukan radikal, tapi rahikal, rada hilang akal. Itu sih bukan tujuan yang S.M.A.R.T tapi Sma.R.T”
“Apa itu Sma.R.T ?”
“Smakin Repot Tau.”
“Gitu ya . . . maksudmu itu sama saja dengan bunuh diri ?”
“He-eh. Atau paling tidak itu akan membuatmu cepat frustasi lalu depressi dan menjadi agresif, lalu . . .”
“Sudah-sudah. Lalu aku harus bagaimana ?”
“Bagaimana kalau kita mulai dari yang simple saja. Tujuan tahun lalu kamu yang gagal apa ? . . salah satunya saja ya.”
“Mm . . mendapatkan kontrak menulis dari Multivision. “
“Gitu ? Sudah berapa kali kamu menghubungi mereka ? “
“Bb . . belum. Soalnya aku kan harus menyiapkan tiga atau empat skenario supaya bisa dipilih.”
“Memangnya baru berapa yang sudah jadi ?”
“Empat sih, tapi yang tiga baru plotlinenya dan yang satu setengah jadi.”
“Apa kamu menjadwalkan kegiatannya ? satu skenario selesai dalam berapa lama ? berapa kuota tulisan perharinya ?”
“Hmm ? . . .” menatap dengan wajah tak berdosa.
“Ihh !” menepuk jidatnya sendiri “Aku tidak mengerti kenapa kamu bisa jadi temanku. Katanya burung akan berkelompok dengan sejenisnya.” Menghela nafas panjaaaaang sekali lalu memasang muka manis, “Baiklah teman, aku akan memberimu kursus singkat mengenai goal setting. Malam tahun baru ini akan menjadi malam yang paling panjang. Hh . . .”
Mendadak sang teman menepuk bahunya penuh semangat.
“Akhirnya kau setuju juga. Jangan khawatir kita akan melewatkan malam tahun baru dengan banyak persediaan. Kamu lihat ? aku sudah membawa kembang api, air mancur, roketer dan . . terompet !”
TREEEEEEEETTTTT!!!!
Ditatapnya sang teman dengan 1001 emosi berseliweran diwajahnya, lalu memukul jidatnya sendiri berulangkali.
“Ihh ! Ihh ! Ihh ! . . . “
***