Pahlawan Desa
Januari 5th, 2007 by bambang widiatmoko
HARI sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam tetapi Murad belum juga memicingkan mata. Ia tampak gelisah. Terus terngiang di telinganya perkataan Pak Guru dalam Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial siang tadi.
“Menurut kalian, siapakah yang pantas disebut pahlawan?” tanya Pak Guru.
“Minggu depan, setiap murid harus siap dengan jawaban masing-masing,” katanya menutup pelajaran hari itu.
Ya, siapakah pahlawan?
Selama ini, Murad banyak mendengar dan membaca kisah tentang pahlawan. Umumnya, mereka adalah orang yang berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Tetapi apakah hanya mereka yang pantas disebut pahlawan?
“Pasti tidak,” pikir Murad. “Setiap orang bisa saja menjadi pahlawan,” pikirnya.
Saat itu, malam sudah menunjukkan pukul sebelas. Murad merasakan kepalanya semakin berat, dan ia pun tertidur.
Keesokan paginya, Murad banyak berdendang. Ayah dan ibu heran dibuatnya.
“Gembira betul kamu hari ini,” kata Ayah, “Ada apa?”
“Ah, tidak ada apa-apa, Yah.” sahut Murad.
Ya, pagi itu Murad merasa pikirannya benderang. Mungkinkah karena mimpi semalam? Dalam tidurnya, Murad sekilas melihat wajah seorang laki-laki setengah baya menatapnya. Murad merasa, wajah itu ada hubungannya dengan pertanyaan Pak Guru. Tetapi siapakah dia?
Pertanyaan itu terus menggayut di kepala sampai saat Murad mengayuh sepeda ke sekolah.
Setelah lima menit perjalanan, ia sampai di depan Kantor Pos, yang masih sepi karena baru buka pada pukul 8.00. Setelah itu, ia melewati Losmen Melati, lalu membelok ke Jalan Pramuka. Selanjutnya, ia melintasi Rumah Sakit Umum, yang pelataran parkirnya tengah dibersihkan oleh seorang laki-laki setengah baya dengan sapu lidi bergagang panjang. Lelaki itu mengenakan topi caping, kakinya terbungkus sepatu karet setinggi lutut.
Murad terus mengayuh, dan kini tengah bersiap membelok ke jalan yang menuju sekolahnya. Namun, tiba-tiba ingatannya kembali kepada lelaki setengah baya yang tengah menyapu pekarangan Rumah Sakit Umum itu.
“Pak Dullah!” ia tersentak. Sejurus kemudian, ia pun sadar, wajah Pak Dullah-lah yang muncul dalam mimpinya.
Dengan seketika Murad memperlambat laju sepedanya, memutar, lalu menuju Rumah Sakit Umum. Setelah sampai, disandarkannya sepeda di sebatang pohon, lalu diamatinya Pak Dullah dari kejauhan.
Murad kagum terhadap laki-laki itu. Betapa mulia hatinya! Setiap hari ia membersihkan seluruh pelosok desa Mekarsari dengan suka rela. Hanya sekali-sekali ia menerima uang lelah dari berbagai kelompok masyarakat warga Desa Mekarsari. Di matanya, Pak Dullah adalah pahlawan.
***
MENJELANG mata pelajaran IPS siang itu, suasana kelas IV SD Abdi Bangsa agak gaduh. Para murid ramai memperbincangkan tugas dari Pak Guru. Suasana pun berubah hening saat Pak Guru memasuki ruang kelas.
“Selamat siang, anak-anak!” sapa pak Guru.
“Siang, Pak!” jawab anak-anak serentak.
Sejenak Pak Guru tersenyum, lalu bertanya, “Siapakah yang siap menjawab pertanyaan Bapak minggu lalu? Siapakah yang layak disebut pahlawan?”
Sejurus lamanya ruangan hening. Namun, setelah itu, Murad mengacungkan tangan.
“Ya, Murad! Apa pendapatmu?” tanya Pak Guru.
“Menurut saya, pahlawan adalah orang yang berjasa bagi orang banyak, Pak,” kata Murad mantap. Pak Guru mengangguk-angguk.
“Menurut kamu, sekarang bangsa kita mempunyai pahlawan atau tidak?” balas Pak Guru.
“Punya, Pak!” jawab Murad spontan, “Malah, pahlawan itu tinggal di desa kita.”
“Oh, ya?” tanya Pak Guru. Murid-murid serentak menatap Murad, penuh rasa ingin tahu.
“Siapakah dia?” tanya Pak Guru.
“Pak Dullah, petugas kebersihan desa kita, Pak!” sahut Murad tanpa ragu-ragu.
Mendengar jawaban itu, serentak ruang kelas riuh dengan gelak tawa.
“Ssst, jangan gaduh, anak-anak!” Pak Guru menenangkan suasana, “Tentu Murad punya alasan. Nah, Murad, coba berikan penjelasan kepada temanmu.”
Sejenak Murad menarik napas.
“Teman-teman,” katanya, “Tentu kalian tahu apa pekerjaan Pak Dullah sehari-hari, bukan? Dengan rajin dan tidak mengenal lelah, ia membersihkan pelosok desa kita. Kalau tidak ada Pak Dullah, desa kita tidak seindah saat ini.”
Suasana kelas hening.
“Meskipun tidak digaji, Pak Dullah ikhlas melakukan pekerjaan itu demi kita semua. Bukankah dia pantas disebut Pahlawan Desa?” tanya Murad.
“Ya … ya … pantas!” murid-murid berseru riuh rendah.
Pak Guru puas melihat keberanian dan kecerdasan Murad.
“Bagus, Murad!” pujinya.
Setelah suasana kelas agak tenang, Pak Guru melanjutkan:
“Perlu kalian ketahui, melalui musyawarah, Persatuan Orang Tua Murid SD Abdi Bangsa sepakat membantu warga Desa Mekarsari yang banyak berjasa kepada sekolah kita dan lingkungan desa kita. Mereka akan diberi santunan setiap bulan. Salah seorang penerima santunan adalah Pak Dullah, karena dia rajin membersihkan lingkungan desa kita.”
Mendengar penuturan Pak Guru, anak-anak kembali bertepuk tangan dan bersorak. Murad pun ikut bertepuk tangan. Ia bahagia karena Pak Dullah resmi diterima sebagai pahlawan desa, juga mendapatkan bantuan uang setiap bulan.
***