Perempuan Penunggu Senja
Januari 5th, 2007 by lubisgrafura
IA akan duduk terkadang juga berdiri di teras depan rumahnya seusai mandi dan sholat ashar. Ia juga akan terlihat rapi dengan kebaya dan kain jarik yang penuh dengan wiron. Rambut yang menutupi kepalanya itu seluruhnya telah menjelma putih dan tersanggul dibelakang. Ia sering berlama-lama di sana. Menunggu senja bersama bayangannya.
***
Kalau saja, aku masih memiliki orang tua, aku akan selalu menjaganya. Biarpun aku bukan orang yang berada, tak punya. Kehadiran orang tua bagiku akan memiliki sebuah makna utuh sebuah keluarga. Tentunya Maulidah, sulungku yang berusia dua tahun, akan senang menghabiskan hari-harinya bersama neneknya. Pun Firdausi, bungsuku yang berusia delapan bulan, akan tertidur pulas dengan tembang-tembang yang dilagukan.
Bapak telah meninggal ketika usiaku sepuluh tahun. Tak lama berselang disusul ibuku. Aku tinggal bersama mbah, walau pada akhirnya ia juga menyusul kedua orang tuaku. Padahal dulu, aku memiliki angan kelak jika bersuami: mebuat rumah yang jauh dari orang tua, kemudian ketika liburan sekolah atau lebaran berkunjung ke rumah nenek.
Pun kedua orang tua Mas Harya. Nasibnya tak lebih dari garis nasibku. Sejujurnya aku memeliki perasaan iri kepada tetangga sebelah yang selalu bertandang ke rumah orang tuanya yang berada di Desa Dinorejo. Juga beberapa kali orang tuanya bertandang ke cucu-cucunya ketika liburan sambil membawa oleh-oleh.
Perempuan tua di belakang pekarangan rumah itu sudah kuanggap sebagai orang tua kami sendiri. Kami sering mengiriminya masakan, apabila kami sedang memasak lebih. Sebetulnya ia memiliki tiga orang anak yang tidak mbeneh.
Anak pertamanya, kata orang, menjadi perempuan nakal di Surabaya. Tidak pernah pulang ke desa, sekalipun. Anak keduanyalah yang beberapa kali dating memberinya uang. Walau tak seberapa, karena juga kerjaannya tak tetap. Tapi untunglah, ia masih mau membawakan uang untuk ibunya. Apalagi isu tentang BBM naik. Bensin langka. Mas Haryapun kini harus meninggalkan sepeda motor tuanya –yang katanya boros—di rumah, kalau kulak dagangan sekarang harus memakai sepeda pancal, biarpun jarak berpuluh-puluh kilo.
“Sekarang apa-apa sulit. Tak makan, kalau tak ada duit. Kita harus belajar ngirit.”
Anak lelaki yang terakhir itu juga sudah beranak, tinggal di desa sebelah, kerjanya maen dan mendem. Kalau pulang, pasti minta uang dan warisan.
Di samping pekarangan Mak Isah, begitu orang-orang desa memanggil nama perempuan tua itu, terdapat beebrapa pohon kelapa dan rambutan. Pohon rambutan bisa ia jual ketika musimnya tiba, sedang pohon kelapa dapat ia petik sewaktu-waktu butuh. Mak Isah terkadang masih juga sempat menyelipkan uang lima ratus atau seribu untuk Maulidah. Padahal sudah kularang untuk memberi Idah (nama panggilan dari sulungku) uang.
“Kapan lagi kalau tidak sekarang. Mumpung masih dapat rejeki. Kalau sudah mati, aku tak lagi bisa memberi.” Katanya padaku sambil menggenggamkan uang ke tangan Idah.
Mak Isah juga sering menolak kutawari ketika belanja di rumah membeli bumbu-bumbu. Ia membeli bumbu di rumah beberapa hari sekali. Bahkan seminggu sekali. Ah, begitulah enaknya tinggal di desa. Sayuran sudah tersedia di samping rumah, terkadang tumbuh liar dan dibabat oleh Mas Harya. Mak Isah akan membawa uang seribu membeli bumbu. Lima ratus untuk lombok, dan lima ratus lagi untuk garam.
***
Malam ini kami berkumpul seperti biasanya di rumah. Mas Harya membetulkan jam dinding yang rusak, katanya hanya perlu ganti batrei. Idah sedang sibuk menggambar. Sedangkan Firdausi dengan lahab melumat putting susu di dekapanku. Radio tua yang tergeletak di meja sedang melantunkan sebuah lagu, kemudian RRI itu kembali menyiarkan berita.
“Selamat Malam. Para pendengar kembali bersama saya Sahrul Yahya dalam acara Ulasan Berita Malam. Sari berita penting. Presiden RI akan segera mengesahkan penyesuaian harga BBM nanti pada pukul 12 malam. Langkanya bensin, memaksa para pedagang dan supir angkot menaikkan harga. Dan juga ikuti beberapa berita ringan dan olah raga dari dalam dan luar negeri.
Berita pertama, Presiden RI nanti malam telah resmi memutuskan untuk menaikkan harga BBM. Hal ini dikarenakan untuk menyesuaikan harga minyak di dunia, juga untuk mengimbangkan anggaran belanja negara. Para pejabat tinggi negara merevisi kata “menaikkan” yang dipakai oleh kalangan jurnalisme menjadi “penyesuaian” atau “pencabutan subsidi”. Protes keras yang dilakukan masyarakat, akan segera ditindak lanjuti oleh Presiden RI segera setelah peresmian kenaikan harga BBM disahkan nanti malam.
Berita kedua, akan dibacakan oleh Syahril Sidik.
Para pendengar, isu kelangkaan BBM telah menimbulkan kepanikan di masyarakat dunia pada umumnya dan masyarakat Indonesia pada khususnya. Bensin yang semula di jual di masyarakat sekitar dua ribu lima ratus rupiah, kini dapat melambung menjadi lima ribu. Bahkan ada yang menjual hingga enam sampai tujuh ribu.
Di jalanan tampak agak lenggang. Banyak sopir angkot yang tidak mengoperasikan angkotnya. Alasan mereka mahalnya bensin membuat penumpang enggan naik angkot. Sedangkan para sopir angkot harus segera menyetor uang sewa angkot. Beberapa sopir angkot terpaksa merogoh tabungannya untuk membayar setoran. Hal ini dialami oleh Poniran selaku sopir angkot. Padahal, ia harus menyekolahkan anaknya yang masih duduk di bangku SD dan SMP. Lain halnya dengan Ponidi. Ia memilih tidak mengoperasikan angkotnya dari pada harus merogoh tabungan untuk membayar uang setoran.
Bertolak dari alasan transportasi yang mahal, para pedagang juga memilih untuk menaikkan harga dagangan mereka. Nasib pedagang ternyata juga tak lebih dari nasib supir angkot. Dagangan masih banyak, sedangkan pembeli sepi. Hal ini dialami oleh Supinah, pedagang sayuran di pasar. Berikut komentar Supinah ketika dimintai pendapat tentang kenaikan harga BBM
Ya, gimana lagi. Lha wong saya ini hanya rakyat cilik. Nggak ngerti. Oalah tiba-tiba harga naik. Belom lagi bayar listrik. Buat bayar nggak ada. Lha gimana, lha wong ya dagangan sepi. Nggak laku Mas.
Dari dalam negeri kita beralih ke berita manca negara.”
Klik. Suara radio di putar oleh Mas Harya. Idah sudah tertidur di atas kertas gambarnya. Firdausi juga sudah terlelap dengan bibir terkulai di depan putting susuku. Mas Harya menggendong Idah ke kamar. Aku menyusulnya sambil mematikan lampu.
***
Mak Isah datang lagi ke rumah membeli bumbu-bumbu. Masih seperti biasanya ia akan membawa uang seribuan. Lima ratus rupiah untuk lombok, sedangkan lima ratusnya lagi untuk garam atau mrica. Tapi, aku tak tega untuk mengatakan bahwa barang-barang sekarang naik. Aku tak tega memberinya lombok dan mrica tidak seperti biasanya. Uang lima ratus sekarang tidak ada harganya. Apalagi Mak Isah bercerita lagi tentang anaknya yang ngamuk tadi malam gara-gara kalah judi. Ia minta sertifikat tempat tinggal Mak Isah satu-satunya untuk di jual. Intinya, anak laki-laki terakhirnya minta warisan!
Tanganku gemetar ketika mengmabil lombok yang hendak kutaruh di kertas pembungkus. Perasaanku berdebat antara tega dan tidak. Akhirnya kuputuskan untuk memberi Mak Isah seperti harga sebelum-sebelumnya. Senyum yang tergaris di bibir layunya mengiris hatiku, ketika ia pamit hendak segera merebus air. Trenyuh.
***
Mak Isah kulihat sore itu berdandan seperti biasanya. Memakai kebaya dan kain jarik berwiru. Rambut putihnya tergelung dibelakang kepala seperti biasanya. Ia berdiri di emperan rumah menunggu senja bersama bayangannya.