Dalam Alur yang Lain*
Januari 5th, 2007 by lyntang
Seorang putri memandang senja dari sudut balkon yang dingin
Di kedalaman matanya seolah ia mengerti
matahari tak akan kembali esok pagi
Tiba-tiba sebuah suara memanggilnya
“Siapakah engkau di sana?”
“Akulah pangeran, akulah takdirmu. Pada hari yang telah
ditentukan, sebuah kutuk dari masa lalu akan jatuh
kepadamu.”
“Mereka menabur angin, mengapa aku menuai badai?
Pada hari yang tak ditentukan, akan kutusukkan pedang
pada dadaku
agar aku dapat mati atas kehendakku
atas dosa-dosaku sendiri.”
Sang Pangeran tertawa, “Kau tak dapat mati, Putri.
Kau hanya tidur. Seribu tahun kemudian aku datang,
menciummu, dan kita hidup bahagia untuk selama-lamanya.”
“Tetapi aku tidak membutuhkan pahlawan
Aku tidak ingin menjadi putri
Aku tidak mau menjadi legenda.
Kau, tak mengerti juga rupanya
Aku hanya ingin menjadi nyata.”
Sang Pangeran masih saja tertawa.
Putri itu berlari sambil menangis
menaiki menara tertinggi dan bersembunyi di dalamnya.
Di antara kabut dan rumah laba-laba, sebuah benda yang tak
ia kenal menusuk jarinya, ia pun tertidur untuk selama-lamanya.
Februari 2005
*) Sleeping Beauty