KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Nia

Kata pemuda-pemuda kampung sini, termasuk anak kostku, nama gadis itu Nia. Rambutnya hitam lurus, panjangnya sebahu. Alis matanya tegas namun memberi kesan ramah. Bibirnya biasa saja, tapi senyumnya manis sekali. Meski tak pernah mendengar gadis itu berbicara maupun menyapa, pemuda-pemuda kampung sini tergila-gila. Setiap sore mereka duduk di depan kostku mengahadap ke arah bangunan berlantai tiga itu.

Bangunan itu adalah sebuah asrama mahasiswi. Dari kamar kostku, aku bisa melihat sisi timur bangunan itu. Lantai pertama asrama itu tidak terlihat karena terhalang tembok. Lantai kedua dan tiga dipenuhi dengan jendela-jendela. Jendela dua daun yang daunnya dibuka ke arah kiri dan kanan. Ada 8 jendela, jadi ada 8 kamar yang terlihat dari sini. Kamar Nia terletak nomor dua dari kiri di lantai dua.

Jendela Nia memang berbeda dari kamar-kamar lainnya. Setiap pagi jendela itu dibuka lebar-lebar mempersilahkan sinar matahari masuk. Tidak ada tirai yang menghalangi sinar. Sementara itu, jendela-jendela lainnya hanya terbuka satu daunnya. Ada juga yang terbuka seluruhnya namun memakai tirai, jadi kami tidak dapat melihat sesuatupun di dalamnya. Sebenarnya, tidak begitu mengherankan bila Nia membuka jendelanya lebar-lebar. Ia punya beberapa pot berisi tanaman hias yang ia letakkan di bingkai jendelanya. Tanaman yang memerlukan sinar matahari.

Aku baru sebulan di kostku yang baru ini, tapi aku juga telah terbius dengan kecantikan, keanggunan dan senyum Nia, gadis yang terlihat di sebuah jendela berukuran 1x 1m itu. Ingin sekali aku mengenalnya lebih dekat, tidak hanya mengamatinya dari jendela.

Kuberanikan diri bertanya pada temanku, siapa tahu dia pernah mengobrol dengan Nia.

“Edo, kamu pernah ngobrol sama tuh cewek?”

“Belum. Kamu?”

“Belum juga. Kalo kamu Bram?”tanyaku pada Bram.

“Belum pernah. Anak asrama situ kan susah ditemui.”

“Oo… eh tahu nggak, kuliahnya dimana?” kucoba mencari info lagi.

“Nah itu… kita juga nggak tahu. Coba aja tanya Mas Eko, dia kan udah 3 tahun disini…”

“Mas Eko yang kosnya deket wartel itu?” Kutarik nafas lega, ada titik terang.

“Iya. Eh inget, habis tanya Mas Eko jangan lupa kasih tahu kita, jangan dimakan sendiri, oke?”

“Aku tersenyum mengiyakan. Segera kuatur rencana menemui Mas Eko sumber informasi. Keesokan sorenya, rencanaku terwujud. Mas Eko bersama teman-temannya sedang duduk di depan kostku memandangi jendela Nia. Ada yang duduk-duduk di pagar, ada yang di lantai, ada yang membawa kursi dari dalam, bahkan ada pula yang menggelar tikar. Jumlahnya sekitar duapuluh orang. Ada yang sambil merokok, ada yang sambil belajar untuk ujian besoknya, ada yang sambil kipas-kipas, ada yang sambil ngemil, ada yang sambil main kartu, ada yang sambil sms-an dan lain-lain, tapi semuanya terlihat rukun-rukun tak ada perpecahan. Sesekali Nia terlihat di jendela dan semua penonton menghentikan kegiatannya untuk menyapa Nia. Dan setiap pemuda-pemuda kampung sini bersorak-sorak memanggilnya, ia tersenyum. Hanya tersenyum. Tak pernah dijawabnya pertanyaan-pertanyaan seperti “Nia sedang apa?, “Nia boleh kenalan gak?”, “Nia sudah mandi apa belum?” yang ditanyakan penggemarnya. Bisa kulihat betapa terpananya pemuda-pemuda kampung itu. Demikian pula aku sampai hampir aku lupa menemui Mas Eko.

Pelan-pelan kudekati Mas Eko, dan kutanya

“Mas Eko, saya Dodon, anak kost sini. Boleh nanya tentang Nia, Mas?” tanyaku sesopan mungkin.

“Oh eh ya, Nia… Manis bener tuh cewek… Gile…”

“Mas sudah pernah ngobrol sama Nia?”

“Ngobrol? Ehm belum. Emangnya kenapa? Lu naksir ya? Ngaku aja deh lu, nggak heran kok, kita-kita juga.”

“Wah jadi ketahuan deh. Eh Nia kuliah dimana ya Mas? Sapa tahu bisa ketemu…”

“Waduh. Iyaya… gue gak tahu tuh cewek kuliah dimana, eh ada yang tahu gak Nia kuliah dimana?” Mas Eko bertanya ke sekumpulan pemuda yang sedang terpana dan hasilnya nihil. Tidak ada yang tahu Nia kuliah dimana. Tidak ada yang pernah ngobrol dengan Nia. Jadi heran, darimana mereka tahu nama Nia?

“Yang bilang anak-anak kost sini yang udah pada pergi. Mereka yang suka nongkrong di sini sambil ngelihat cewek itu. Mereka bilang namanya Nia. Pokoknya Nia sudah jadi kecengan en bidadari anak-anak sini sebelum aku mulai tinggal di sini.”

Jawaban Mas Eko membuatku sedikit murung. Lenyap sudah kesempatan mencari tahu tentang Nia. Sumber informasi sudah meninggalkan kost ini. Meskipun demikian, tetap saja kuberharap suatu waktu aku dapat bertemu dengannya.

Hari demi hari berlalu, sudah setengah tahun aku di sini dengan kebiasaan memandangi jendela Nia setiap sore mulai sekitar pukul setengah lima, sampai maghrib. Seperti nonton TV, saking teraturnya. Kursusku sudah berakhir dan dalam dua minggu aku akan kembali ke kampungku untuk bekerja. Hari ini aku pulang ke kampung mengambil beberapa dokumen sekaligus menjenguk ibu.

Stasiun lengang, hanya ada beberapa penumpang menunggu kereta. Diantara mereka ada satu perempuan dengan wajah yang sangat kukenal. Kuamat-amati wajah itu, dan aku kaget bukan kepalang sekaligus gembira karena perempuan itu Nia. Ya. NIA. Gadis yang selama ini hanya kulihat dari jendela. Sekarang, bagaikan malaikat ia duduk persis di depanku. Tak kusia-siakan kesempatan itu. Aku segera duduk di sampingnya.

“Mbak Nia?” suaraku bergetar. Dia cantik sekali.

Perempuan itu menoleh sedikit heran, kemudian tersenyum kecil.

“Kenalkan, saya Dodon, anak kost di samping asramanya Mbak Nia.”

“Ooo…” jawabnya sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya, aku mendengar suaranya, dan rasaku aku berada di surga.

“Mau mudik, Mas?” tanyanya membuatku tersadar dar keterpanaanku.

“I..iya. Mbak Nia mau mudik juga?”

“Iya. Lagi nunggu kereta. Eh Mas, maaf sebelumnya, tapi nama aku bukan Nia.”

Sekejap aliran darahku mengalir dengan deras. Aku salah orang? Tidak mungkin. Perempuan ini gadis yang selalu kulihat setiap sore, dan aku tidak mungkin SALAH.

“Mas heran ya? Aku memang cewek yang tinggal di lantai dua asrama mahasiswi itu, tapi namaku bukan Nia. Namaku Dewi. Aku juga tidak tahu mengapa tiba-tiba saja mereka memberiku nama Nia.”

Jawaban Nia yang mengaku bernama Dewi itu mulai membuka pikiranku. Untunglah tujuan kami searah hingga aku dapat melanjutkan ngobrol dengannya. Empat tahun lalu Nia mulai tinggal di kamar itu, dan setiap hari ia melihat banyak pemuda berkumpul di depan kostku memandangi jendela kamarnya. Jika sesekali ia muncul, pemuda-pemuda itu ribut mengajaknya berkenalan atau sekedar menanyakan namanya. Pertanyaan-pertanyaan itu tak pernah dijawab Dewi, hanya ia tanggapi dengan senyum. Dan setelah kurang lebih sebulan, setiap Dewi terlihat di jendela kamar itu, terdengar teriakan pemuda-pemuda itu memanggilnya Nia. Dewi tak terlalu menggubris hal itu sampai sekarang. Pertemuan sore itu begitu mengesankan, pertemuan yang tidak kuceritakan pada teman-teman, karena dari pengamatanku, mereka sudah merasa cukup dengan mengaguminya dari jendela.

***

Bulan demi bulan berlalu, hubunganku dan Dewi yang dimulai dari pertemuan di stasiun itu berlanjut menjadi hubungan sepasang kekasih. Aku sudah bekerja di kampung halamanku, sedang Dewi bekerja di kota asalnya. Tahun ini, saat libur lebaran, aku dan Dewi menyempatkan mengunjungi tempat kostku untuk bersilaturahmi dengan bapak ibu kostku.

Saat aku sampai, hari sudah menjelang sore. Dan aku teringat sore saat aku mengagumi Dewi dari depan kostku. Aku menyusuri gang kecil menuju kostku sambil membayangkan reaksi teman-temanku saat melihat “Nia”, gadis yang selama ini mereka kagumi, datang bersamaku. Aku juga membayangkan bagaimana tradisi duduk-duduk di sore hari memandangi jendela telah hilang karena Dewi sudah tidak tinggal di sana lagi. Betapa sepinya sore tanpa kebiasaan itu!

Tinggal satu belokan lagi aku sampai ke depan kostku, dan semua lamunanku buyar saat aku mendengar sorak sorai pemuda-pemuda kampung memanggil sebuah nama: Nia. Aku dan Dewi berpandang-pandangan, saat melihat di depan kostku sejumlah pemuda duduk-duduk memandangi jendela asrama nomor dua dari kiri di lantai dua. Persis seperti setahun lalu saat aku tinggal di sana. Orang-orangnya beberapa berganti. Gadis di jendela itupun berganti. Rambutnya pendek dan matanya bulat. Biasa saja menurutku. Tapi gadis itulah yang kini dipuja-puja penduduk kampung sini, dan dipanggil dengan nama Nia.

Aku semakin heran saat aku mngenalkan Dewi kepada Edo dan Bram tetangga kamarku dulu yang belum lulus kuliah. Sikap mereka benar-benar mengherankan. Mereka bahkan seperti tak pernah melihat Dewi sebelumnya.

“Oh Dewi, pacarnya Dodon ya? Aku Edo.”

“Gue Bram, Dewi satu kampung dengan Dodon? Salam kenal.”

Dan setelah berjabat tangan dengan Dewi mereka kembali duduk dan memandangi jendela “Nia” lagi. Kedatangan kami benar-benar bukan sesuatu yang istimewa. Bagaimana mungkin mereka tidak ingat gadis yang setiap sore selama bertahun-tahun mereka kagumi? Berbagai macam pikiran memenuhi benakku, tapi kubiarkan semua itu berlalu seiring berjalannya waktu.

Lima tahun kemudian aku, Dewi dan anakku yang masih bayi mengunjungi tempat kostku itu. Kami tidak lagi heran saat melihat pemuda-pemuda kampung duduk-duduk di depan kostku sambil meneriakkan nama “Nia” pada gadis yang sesekali terlihat di jendela nomor dua dari kiri di lantai dua asrama itu. Semuanya sudah berubah. Pemuda-pemuda itu, maupun gadis yang dipanggil “Nia”. Jendela-jendela lantai dua dan tiga terbuka semua saat ini, isi dan aktivitas di dalam kamar dapat terlihat dari sini, dan hampir semua kamar memiliki pot tanaman hias, namun entah mengapa hanya kamar nomor dua dari kiri di lantai dualah yang selalu dipandangi oleh pemuda-pemuda kampung sini.

Tinggalkan Komentar