KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Bencana

KAU datang tanpa secarik undangan. Seperti angin yang datang tiba-tiba tanpa seorangpun menyangka. Kau adalah seutas garis tipis antara kematian dan kehidupan. Bahkan segala ilmu pengetahuan yang ada di bumi tak pernah mampu mencegahmu. Satu hal yang dapat kita pahami, ada sesuatu kekuatan yang luar biasa di balik peristiwa yang seharusnya menyadarkan kita, bahwa kita adalah manusia yang tak berdaya.

***

Hari masih terlalu pagi untuk segera berangkat ke kantor. Kopi yang sedari tadi mengepulkan aroma nikmat yang menusuk hidung masih juga terasa hangat di lidah ketika aku menyeruputnya kembali untuk yang ke sekian kali.

Tubuhku masih terasa basah, setelah ritual mandi pagi yang cukup menyegarkan. Sengaja aku duduk di depan meja sambil menikmati secangkir kopi, sebelum aku mengganti handuk yang melilit sebagian tubuhku ini dengan baju kantor.

Di samping cangkir itu, tepatnya di samping remot control, ada sebuah bungkus rokok sisa kemarin malam. Kubuka bungkusnya dan masih kutemukan beberapa batang rokok.

Kunyalaan rokok di mulutku setelah menekan tombol on pada remote control. Layar menyala secepat ibu jariku meninggalkan tombol on. Kunikmati asap rokok yang mengalir dalam darahku. Sebuah lembaran hari pagi yang sangat nikmat, ketika aku membukaya dengan sebatang rokok dan secangkir kopi hangat.

“Pemirsa, kita berjumpa lagi dalam Berita Pagi Indonesia. Bersama saya Herawati. Beberapa topik berita aktual akan kami sajikan pagi hari ini”

Opening berita itu sama sekali tak membuatku tertarik. Lidahku masih juga menikmati kentalnya kopi hangat manis diantara hisapan rokok yang asapnya mengepul di atas kepala. Tak kupedulikan sebuah kalimat di salah satu sisi bungkus: Merokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.

“Berita utama kita kali ini adalah bencana tsunami yang terjadi di Jawa Barat. Juga beberapa bencana yang terjadi di negara kita”

Uhk! Aku tersedak. Seseruput kopi hangat yang di lidah terasa agak dingin itu menenangkanku.Gila, pikirku. Salah apa negara ini, sehingga banyak sekali bencana yang musti terjadi. Mungkin juga, pikirku, Tuhan mengirimkan ombak menyapu daratan dan membinasakan manusia adalah peringatan yang benar-benar nyata dan kita masih tetap saja terlena kepada gelap dunia.

Aku teringat berita di koran kemarin bahwa ada seorang pensiunan purnawirawan yang pura-pura sakit jantung ketika polisi menyelidiki kasusnya tentang pembalakan liar di hutan Kalimantan. Jelas-jelas saat itu dirinya melarikan diri dari tanggungjawab. Betapa tidak, jika ia memang benar-benar sakit jantung, rumah sakit mana yang memberikan rekomendasi semacam itu. Inilah sikap pengecut yang sekecut-kecutnya!

Lebih parah lagi, kemarin juga kudengar dari seorang teman, tentang berita kriminal di ibu kota tentang dua kasus kejahatan yang masing-masing melibatkan oknum polisi. Tindak kriminal itu terjadi sesaat setelah mereka keluar dari tempat hiburan malam beraroma alkohol.

Ah! Itu hanyalah dua contoh dari sekian ribu kasus dimana kejahatan di lakukan oleh orang-orang yang seharusnya menjadi contoh publik. Menjadi suriteladan baik kepada masyarakat. Bukannya memberikan contoh semacam itu. Apa yang terjadi kalau pemuka-pemuka publik dibiarkan seperti itu.

Entah kenapa tiba-tiba tanganku meraih remote control dan menekannya menjadi off. Gambar dalam layar mencelat secepat kilat. Secepat ibu jariku menekan tombol off pada remote control.

Kulangkahkan kaki keluar rumah, tentunya setelah aku berbenah dengan memakai baju kantor. Kulirik jam di tanganku sudah menunjukkan pukul setengah delapan. Setelah menggerutu karena ban mobilku bocor, aku akhirnya berdiri di depan rumah dan mencegat sebuah mikrolet.

Mikrolet sedikit berjubel, tapi apa boleh buat dari pada terlambat dan membuat bos sebel. Aku duduk di samping seorang mahasiswi yang tengah sibuk dalam bukunya. Sempat kulirik bukunya berjudul Manusia Indonesia dan Perilakunya: Sebuah Idiologi.

Aku turut melirik beberapa paragraf dalam buku itu. Sebelum sempat aku membaca lebih jauh, perempuan dengan wajah manis itu menutup bukunya dan berteriak “kiri bang!” kepada sopir.

Ketika ia turun dari mobil, aku masih juga sempat memperhatikan perempuan itu turun. Ia turun di depan sebuah universitas negeri terkenal di kota ini. Kini aku duduk dengan seorang perempuan tua yang membawa barang dagangan kain.

Seperti sebelumnya, si sopir menjalankan mobil dengan ngebut. Sesekali mencaci mobil di depannya yang sekiranya memperlambat laju mobilnya. Dan, bukan sesuatu hal yang aneh lagi, jika sopir mikrolet itu berhenti mendadak. Bagaimana tidak, kalau ada penumpang melambaikan tangan, biarpun ngebut mikrolet ini berhenti juga.

Mobil berheti pada perempatan berikutnya, perempuan tua itu turun. Seperti mahasiswi manis sebelumnya, perempuan tua itupun tak luput dari perhatian. Ia turun di seberang perempatan dengan dua karung kain.

Mikrolet melaju cepat, tak ketinggalan kata-kata sopir yang keluar dari bibir untuk mengumpat. Kini, aku masih duduk bersama dengan seorang lelaki yang mendekap sebuah tas. Sepertinya ia juga seorang pekerja pagi, seperti saya.

Ia tersenyum kepada saya, dan saya tersenyum membalasnya.

“Sekarang banyak bencana ya mas?” ia membuka percakapan.

“Iya Mas, saya juga tidak ngerti dengan tanah air ini. Sepertinya tidak ramah lagi.” Jawabku sebisanya.

“Gempa, tsunami, banjir, lumpur, badai, entah apa lagi” jawab seorang perempuan yang duduk di samping lelaki yang baru saja bicara tadi, sepertinya dia juga tidak mau ketinggalan berbicara.

Kiri Bang! Maaf ya saya duluan” aku berteriak menirukan seorang mahasiswi manis yang turun tadi. Seusai membayar, dan ketika aku masih melangkahkan kaki beberapa kali terdengar sebuah tabrakan.

Mikrolet yang tadi kutumpangi menabrak mobil di depannya. Orang-orang yang mendengar bunyi tabrakan itu segera berlari mendekat atau sekedar melihat. Dan untung saja semuanya selamat Aku menghela nafas lega. Siapa yang belum percaya bahwa bencana itu datang dengan tiba-tiba?

Kediri, Juli 2006

Tinggalkan Komentar