[P. Handoko]
Perempuan seperti ini aku benci. Membangkitkan kenangan traumatikku pada sawi. Kenapa sawi ? Kenapa harus Sawa ? Sawi adalah sayuran, sementara Sawa adalah nama panggilannya. Sayuran dan perempuan tidak pernah menjadi identik, mereka jelas berbeda. Namun, bagiku, sawi dan Sawa adalah sama. Aku benci keduanya.
Dulu suatu masa, sebelum kelaminku disunat, sawi adalah sayuran di dunia yang paling tidak aku sukai. Bahkan, ketidaksukaan itu telah berkembang biak menjadi rasa antipati. Apapun menunya, jika disitu sampai tercampur potongan-potongan daun celaka itu, aku pasti akan menolak untuk memakannya. Sensor-sensor saraf pengecap di lidahku spontan akan menjadi kelu, setiap ada potongan daun hijau layu itu yang masuk ke dalam kunyahanku. Jika sampai terlanjur tertelan, tunggu saja, maka tak lama akan terlihat gompahan-gompahan menjijikkan meluncur lancar keluar dari dalam perutku. Membanjiri selera makan siapa saja yang tadi cukup menggebu. Muntahan kucing saja masih kalah kualitasnya.
Aku ingat, aku pasti menangis setiap kali ibu memaksaku untuk memakan sawi. Aku heran, padahal dia tahu aku sangat benci sayuran itu. Tapi, selalu saja dia nekat memaksaku, jika kebetulan hari itu dia memasak sawi sampai satu panci. Bagiku ketika itu, dipaksa memakan sawi sama dengan sebuah tekanan. Setara mungkin dengan praktek penyiksaan dalam proses interogasi. Memang pada faktanya aku sama sekali tidak sedang diinterogasi, sambil disenteri, dimaki, bahkan terkadang disetrumi. Bukan sedang dipaksa untuk mengakui sesuatu, ataupun menandatangi setumpuk berkas palsu. Hanya sekedar dipaksa memakan sawi. Itu saja.
Konyol memang. Teramat sangat konyol. Habis gimana lagi aku terlanjur merasa jijik dengan sawi. Walau banyak nasehat medis tentang khasiat sawi yang sempat menggetarkan gendang telinga dan merasuk kedalam celah-celah neuron di kepalaku, namun perasaanku terhadap sawi tetap sama. Dan Sawa terkadang mirip dengan sawi. Sungguh mati aku benci. Aku muak. Aku muntah. Aku marah. Aku menangis. Aku ingin lari.
*****
Kau harus percaya. Nama Sawa terkadang juga mengingatkanku pada ular sawa. Ular kejam yang memangsa buruannya dengan membunuhnya terlebih dahulu. Membelit dengan pelan, hingga kau sedikitpun tak merasa terancam. Bahkan, mungkin untuk sejenak akan kau rasakan kenikmatan seperti berada dalam pelukan erat kekasih yang telanjang. Memberi rasa hangat yang menyengat.
Dasar penipu ulung.
Predator berwajah herbivor.
Tapi tunggu saja, setelah beberapa saat, setelah dia merasa puas bermain-main dengan ketidakberdayaanmu, dia akan segera mengencangkan belitannya yang liat. Kemudian dengan penuh nafsu mengontraksi seluruh sel pembuluh darah, otot-otot, dan tulang-tulang rapuhmu. Jika beruntung, di akhir jerit kematianmu akan kau dengar suara seperti ranting-ranting patah. Kratak. Dan game over. Dan kau akan segera tersedot kedalam tungkaknya seperti mie yang lembut tak bertulang, lagi-lagi dengan perlahan. Tapi sayang, kini kau tak dapat merasakan apa-apa. Sementara sang ular pun berlalu dengan tenang. Bisa kau lihat senyumnya ? seolah berkata : ah, kenyang.
Di lain waktu, aku juga tahu, perempuan yang bernama Sawa itu ternyata juga mampu menjelma menjadi agen rahasia yang menembakmu dari lantai tiga puluh. Sementara kau tak sadar, lagi asyik berjalan entah kemana atau tertawa entah dengan siapa. Dan tahu-tahu : dor! Kasihan, tak kau dengar suara letusannya atau detak jantungnya ketika kepalamu masuk ke dalam bidikan lingkaran kecil teleskop senapannya. Jika beruntung mungkin kau masih dapat berteriak, tepat di saat butiran logam alumunium panas yang ditembakkannya mengacak-acak isi kepalamu. Bunyinya keras : chassssss\.
*****
Itulah Sawa. Kau benar-benar harus percaya. Seorang perempuan bertipikal licik. Kelihaiannya dalam memburu mangsa kurasa melampaui ular sawa ataupun sederet agen rahasia ternama. Semua masih kalah gesit dibanding Sawa. Tak ada apa-apanya.
Pengakuan.
Ini memang pengakuan.
Bahwa aku kalah.
Aku mangsa.
Aku tertembak.
Sawa. Sawa. Sawa.
Buka pintumu aku ingin masuk.
Biarkan aku muntah.
*****
Goblok. Aku adalah tamu yang mengetuk pintu rumah yang tidak aku kenal pemiliknya. Membingungkan. Aku pun tidak bisa membuat penjelasan, bahkan sekedar sebuah rasionalisasi yang sangat sederhana kenapa aku harus masuk dan bertamu di rumah ini.
Entahlah, apa aku sedang sangat kehausan setelah berjalan jauh, sehingga membutuhkan penawar dahaga ?
Atau apa karena tekstur fisik rumah ini yang eksentrik, sehingga aku tertarik untuk mampir sejenak, mengaguminya, memegang-megang lekuk-lekuk indah ukiran di pintu, melihat-lihat kamar mandi yang tertata rapi dan dapur yang elok mewangi ?
Atau apa aku perampok psikopat yang ingin menguras segala isi rumah, membunuh semua penghuninya, sambil memperkosa setiap perempuan yang ada ?
Atau apa tiba-tiba kini aku menjadi kolektor rumah yang berambisi untuk memiliki dan menguasai rumah antik ini ?
Atau aku memang ternyata cuma seorang tamu yang lugu ? Tamu yang sedikit linglung mungkin. Sehingga setelah masuk menjadi gamang, tak tahu harus bersikap bagaimana. Hingga bertubi-tubi tanpa sadar atau takut menyinggung perasaan sang pemilik rumah kulontarkan pertanyaan yang berserabutan tak karuan.
ββIni benar-benar rumahmu ? Apa letak semua benda sudah seperti ini dari awal ? Atau jangan-jangan ini semua palsu dan kau pun sebenarnya tak menginginkannya. Kumohon jangan tersinggung. Mengaku sajalah. Kau melakukan ini hanya demi menjebak aku seperti kata banyak orang yang kagum dan mengagumiku itu kan ? Aduh Sawa, siapa sih kamu ? Apa sesungguhnya maumu ? Kapan dewasamu ? Bisa belajar bersyukur dan sabar nggak sih kamu ? Apa ini sekedar main-main bagimu ? Kamu anggap apa aku ? Aku suka kamu ! Bagaimana dengan kamu ? Apa sejauh aku ? Terus terang aku masih ragu sama sikapku ? Sekali lagi jawab yang serius, ini sungguh rumahmu ?ββ
Sialan ! Kamu hanya tersenyum kecil, lalu duduk di sofa dan terus tertawa-tawa. Mungkin merasa menang. Tapi, aku tak peduli. Sebab, aku sudah terlanjur masuk. Dengan hati-hati lagaknya seorang peneliti yang takut melewatkan sesuatu, aku terus mengamati rumah ini. Tak bosan-bosan kutelusuri lagi.
Bagiku, rumah ini tampak seperti barisan free cell yang selalu penuh misteri. Rumah ini juga seperti sarang kunang-kunang yang selalu membinarkan cahaya. Rumah ini adalah tempat berteduh yang semua pintu dan jendelanya tak pernah terkunci, namun tak seorang pun mampu untuk masuk dan berkeliaran sesuka hatinya. Rumah ini adalah gua bagi para pilsuf dan nabi merenungi diri dan dunianya. Rumah ini jelas tak begitu membanggakan namun selalu mampu membuat siapapun menjadi tenang. Rumah ini serupa mimpi indah yang akan menjadi sangat menjengkelkan ketika kau terpaksa terbangun, padahal ceritanya masih belum usai. Rumah ini terkadang menjadi lemari es yang mampu membekukan kemarahan dan ambisi yang terlepas tak terkendali. Rumah ini terkadang juga menjadi tungku pemanggang yang mampu menghanguskan setumpuk keputusasaan dan segumpal jasad-jasad keimanan yang telah mengkista. Rumah ini adalah hatinya. Dan kini aku berada di sini. Didalamnya.
Benarkah aku berada didalamnya ?
Jangan-jangan ini hanya sebuah imajinasiku yang lain ?
Ketakutan dan harapan yang menggumpal rapat menjadi satu, membentuk kebodohan. Bangsat ! Aku selalu merasa terus-menerus dipermainkan kesempurnaan yang kudambakan. Bodohnya aku !
Benarkah rumah ini ada, hidup dan nyata ?
* * * * *
Sawa. Sawa. Sawa.
Aku terjebak.
Aku baru sadar kalau aku tak pernah punya mantra rahasia atau secuil kekuatanpun untuk keluar dari sini. Entah itu berarti keluar dari rumah ini ataupun imajinasi hampa yang kubangun sendiri detil demi detilnya.
Tapi entah kenapa aku begitu yakin, jika memang rumah ini ada dan aku ingin segera keluar karena harum ruangan yang terasa kian menyengat atau entah sebab lain
yang aku tak tahu
yang aku tak harapkan
yang jangan sampai termunculkan
yang akan merisaukan
yang pasti akan menyedihkan,
tanpa perlu kupaksa kamu pasti akan mengantarkanku dengan ikhlas hingga kedepan pintu. Tanpa tangis yang berlapis-lapis. Tanpa marah yang pongah. Tanpa dendam yang menggaram. Tanpa perlu bisik-bisik di belakang.
Sebab aku datang baik-baik, menjadi seorang tamu yang selalu mencoba berperilaku baik, mantap belajar untuk menjadi lebih baik, memperlakukanmu dan rumah ini baik-baik, dan yang jika pergipun tak akan mencoba-coba untuk mencuri sedikitpun milikmu, sebab aku merasa harus menutupnya dengan sebuah kepergian yang juga baik.
Sawa.
Sawa.
Sawa.
Saat ini izinkan aku terus muntah di sini. Membasahi dinding dan lantai rumahmu hingga berkilau-kilau menjadi embun yang kacau.
*****
Cinta tanpa pamrih
Cinta tanpa pertimbangan
Cuih../ menyedihkan
Mungkin disana kamu sedang mentertawakanku
Menggosipkan kekonyolanku
Menimati kemenanganmu
Awas Sawa, pertarungan baru saja dimulai !