Ketika Berkabut
Januari 3rd, 2007 by moifati
ketika berkabut
cinta pernah singgah mengantar pelangi
pulang pada mendung
menyelamatkan belingsatan warna darahku
hitam pun jadi warna asing yang memulas rupa bulanku
dan matamu menyaksikan senyalang lintang
di tapal batas malam dan mimpi
dengan penuh geram rindu
suaramu memantulkan kehilangan wujud daun-daun muda
kau dekap sejarah kuldi
lama. menghikmahi gairah dan nelangsa
di antara tumpukan kertas usang dan debu yang asing
langit kilap. ruhnya menembus kesunyian puisiku
terpenjara dalam berpuluh tahun impian
nafas terasa henti
kaujanjikan aku purnama
lengkap dengan bugil dan bulatnya
katamu: “kau lintang tercerlang
yang memulas kerling
dalam pasungan malam
tanpa mengiba. di luar,
rontokan dedaun menggelegak
bergumam tentang hati terkapar
menyetubuhi sepinya sendiri
yang dirajahkan langit.”
kau menggeliat, menarikan sayap sagamu
yang kecil dan retak.
aku duduk dengan kerak ampas kopi
sepucuk embun runtuh malu-malu
membasuh selusin balada yang menyihir ngiluku;
para dewa menurunkan anak-anak percintaan untuk meminangku
sementara aku tengah merampungkan luka
di setiap nafas dan retakan airmata
hingga pecahan matahari yang kutanam
mulai tumbuh akar cahayanya
Surabaya 2006