KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Celah*

Kalaupun detik ini aku menyebutmu anjing, sepersekian sekon berikutnya aku pasti segera menghapusnya dengan panggilan sayang. Sebab, aku butuh kamu dalam setiap pekik sumpah makiku dan jurang lemah hati laki-lakiku

[P. Handoko]

.

*Celah itu tidak terletak di sana, juga tidak berada di sini. Celah itu tercipta di antara kau dan aku, karena kita saling mencinta. Tempat netral untuk sejenak menjadi gila dan lupa. Masihkah kau berfikir dua pribadi dapat menjadi satu hanya gara-gara cinta ?

.

Celah Satu :

Matahari yang sejak tadi mengawasi

Terasa semakin mendekati bumi

Pas tengah hari

Kumulai khawatir

Jika kau tak datang lagi

.

Celah Dua :

Ajari aku tidur dalam pelukan semesta

Biar kuhirup seluruh ruh kehidupannya

Mengisi pundi-pundi jiwaku yang terasa kosong menganga

Bantu aku dan jiwaku untuk berfotosintesis lagi

Agar terbuka semua pintu kebangkitanku

Yang terkunci palang-palang kekalahan

Terkulai jauh di tengah timbunan bunga-bunga mati

dan rongsokan wajahku sendiri

.

Celah Tiga :

Kupergoki matahari sedang berbenah diri

Kelihatannya tergesa dan bersemangat sekali

Hingga cahayanya tercecer tak merata kemana-mana

Kutanya hendak kemana

Rupanya dia hendak menjemput pagi

Pelan kuraba hati

Ada denyut lembut menghangati

Bahagia rasanya tak perlu tergesa-gesa

Aku percaya dia takkan pergi kemana-mana

Cinta semakin curam meringkuk di dalam dada

Teruslah ada

Bersama kita buat iri matahari

Sampai semua ciptaan Tuhan tak ada lagi.

Celah Empat :

Dengan marah

Kamu menuduhku telah memekarkan

Kuncup bunga mawar kesayanganmu itu

’’belum waktunya’’, katamu

Hanya karena kemarin tanpa sengaja

Aku menyentuh seulas daunnya

Ah, kamu memang benar-benar aneh

.

Celah Lima :

Dalam potretmu kulihat indah dirimu

Dalam buku hadiahmu kubaca kata-kata ikhlasmu

Dan di dalam kamarku pun masih bisa kuraba

sisa-sisa bayanganmu

Tapi,kenapa di dalam hatiku

Sedikitpun tak lagi terlihat kamu ?

Celah Enam :

Besok, ultahmu

Kamu memintaku untuk menjemputmu

Dengan mengenakan baju berwarna biru

’’Tepat pukul tujuh, jangan telat’’, ancammu lagi-lagi

Lalu pergi

Tanpa pernah bertanya :

Apa aku masih mencintaimu

.

Celah Tujuh :

Sore, bumi dipanah langit

Tameng matahari tak berkutik

Paginya, aku dipanah kamu

Tameng hatiku spontan menampik

Sambil beralasan :

’’maaf, aku belum bisa’’

.

Celah Delapan :

Tak semua barang dapat diangkut kopor usang ini

Hanya beberapa helai pakaian, buku-buku kesayangan, handuk hotel bergambar langit yang kita curi sebagai kenang-kenangan, dan beberapa perlengkapan pribadi milikmu

Masih banyak yang belum terbawa

Apakah kau akan kembali untuk mengambilnya ?

Aku tahu kau menghindarinya

Ingin meninggalkannya di sini bersamaku

Tapi, aku benar-benar ingin agar kau membawanya

Kalau keberatan, mari kita bagi dua

Walau akan menyebabkan semuanya menjadi hambar tak berharga

seperti sampah yang terlunta-lunta, lalu membusuk, mengurai dan terlupa

Kita pisah menjadi segala yang dapat membuat tertawa

dan separuhnya segala yang penuh kepedihan

Bawalah yang pertama

Akan kujaga yang kedua

Aku sebenarnya tak rela

Namun apa boleh buat

Memelihara keduanyapun aku tak bisa

Karenanya, izinkanlah

Diantara keduanya ada yang menempati sisi kopermu

Memadati ruang-ruang yang tak terisi

Meski nanti harus menjadi sampah dan terurai

Biarlah dia terlupa bersamamu di suatu hari

.

Celah Sembilan :

Ini…kupersembahkan liang lahat yang harum semerbak

Mewangi empat bunga musim pancaroba

Juga nisan berbalut sutra sehalus kapas

Yang bertahtakan mutiara berjumlah dua puluh lima

Tak lupa…

Kukalungkan pula untaian kamboja layu dilehermu

: ’’mati sajalah kau !’’

.

Celah Sepuluh :

Tetap bertahan

Tak mau pergi

Padahal sudah kuusir berulang kali

Dasar tuli

Umpatku pelan-pelan

Takut dia marah

Dan semakin menjadi-jadi

.

Celah Sebelas :

Tangismu membuat minder deras hujan malam ini

Sejenak mereka enggan bergerak

Katak-katak di tanah becek sampai sungkan meneruskan pestanya

Masih belum puaskah dirimu ?

Aku sudah lelah mengusap air matamu yang terus mengalir membentuk cabang-cabang sungai kecil di sketsa wajahmu

Tolong, jangan kau banjiri kota kita lagi

Kasihan mereka dan aku yang tak berumah tinggi

Apa perlu kuminum air matamu ?

Biar kurasa asin pedih dukamu

Sampai tercipta lukisan peristiwamu di otakku

Membiusku

Terus membimbingku untuk terluka bersamamu

.

Celah Duabelas :

Teruslah menangis jika kau masih mau

Jangan ragu

Rendam saja dadaku dengan genangan air matamu

Jadikan aku waduk bagi sesalmu

.

Celah Tigabelas :

Tuhan maha tahu

Hanya Dia yang sesungguhnya menjadi kebutuhanku

Karena itu, Dia juga pasti sudah tahu

Bahwa saat ini, aku mulai membutuhkan kamu

.

Celah Empatbelas :

Lihatlah bintang-bintang yang bertaburan malam ini

Saling canda dan melontarkan puji

Tak pernah mereka takuti pagi

Yang akan menutupi kehadiran mereka sekali lagi

.

Celah Limabelas :

Cinta kita pasang surutnya air laut

Seperti iman kepada Tuhan

Kadang cemburu

Kadang nafsu

Kadang lebam membiru

One Response to “Celah*”

  1. on 28 Feb 2009 at 17:54cadaslanang

    puisi-puisi yang begitu menghentak, tanpa tedeng aling-aling. Semua kata-katanya bermakna. Tak ada yang mubadzir.

Tinggalkan Komentar