Kalaupun detik ini aku menyebutmu anjing, sepersekian sekon berikutnya aku pasti segera menghapusnya dengan panggilan sayang. Sebab, aku butuh kamu dalam setiap pekik sumpah makiku dan jurang lemah hati laki-lakiku
[P. Handoko]
.
*Celah itu tidak terletak di sana, juga tidak berada di sini. Celah itu tercipta di antara kau dan aku, karena kita saling mencinta. Tempat netral untuk sejenak menjadi gila dan lupa. Masihkah kau berfikir dua pribadi dapat menjadi satu hanya gara-gara cinta ?
.
Celah Satu :
Matahari yang sejak tadi mengawasi
Terasa semakin mendekati bumi
Pas tengah hari
Kumulai khawatir
Jika kau tak datang lagi
.
Celah Dua :
Ajari aku tidur dalam pelukan semesta
Biar kuhirup seluruh ruh kehidupannya
Mengisi pundi-pundi jiwaku yang terasa kosong menganga
Bantu aku dan jiwaku untuk berfotosintesis lagi
Agar terbuka semua pintu kebangkitanku
Yang terkunci palang-palang kekalahan
Terkulai jauh di tengah timbunan bunga-bunga mati
dan rongsokan wajahku sendiri
.
Celah Tiga :
Kupergoki matahari sedang berbenah diri
Kelihatannya tergesa dan bersemangat sekali
Hingga cahayanya tercecer tak merata kemana-mana
Kutanya hendak kemana
Rupanya dia hendak menjemput pagi
Pelan kuraba hati
Ada denyut lembut menghangati
Bahagia rasanya tak perlu tergesa-gesa
Aku percaya dia takkan pergi kemana-mana
Cinta semakin curam meringkuk di dalam dada
Teruslah ada
Bersama kita buat iri matahari
Sampai semua ciptaan Tuhan tak ada lagi.
Celah Empat :
Dengan marah
Kamu menuduhku telah memekarkan
Kuncup bunga mawar kesayanganmu itu
’’belum waktunya’’, katamu
Hanya karena kemarin tanpa sengaja
Aku menyentuh seulas daunnya
Ah, kamu memang benar-benar aneh
.
Celah Lima :
Dalam potretmu kulihat indah dirimu
Dalam buku hadiahmu kubaca kata-kata ikhlasmu
Dan di dalam kamarku pun masih bisa kuraba
sisa-sisa bayanganmu
Tapi,kenapa di dalam hatiku
Sedikitpun tak lagi terlihat kamu ?
Celah Enam :
Besok, ultahmu
Kamu memintaku untuk menjemputmu
Dengan mengenakan baju berwarna biru
’’Tepat pukul tujuh, jangan telat’’, ancammu lagi-lagi
Lalu pergi
Tanpa pernah bertanya :
Apa aku masih mencintaimu
.
Celah Tujuh :
Sore, bumi dipanah langit
Tameng matahari tak berkutik
Paginya, aku dipanah kamu
Tameng hatiku spontan menampik
Sambil beralasan :
’’maaf, aku belum bisa’’
.
Celah Delapan :
Tak semua barang dapat diangkut kopor usang ini
Hanya beberapa helai pakaian, buku-buku kesayangan, handuk hotel bergambar langit yang kita curi sebagai kenang-kenangan, dan beberapa perlengkapan pribadi milikmu
Masih banyak yang belum terbawa
Apakah kau akan kembali untuk mengambilnya ?
Aku tahu kau menghindarinya
Ingin meninggalkannya di sini bersamaku
Tapi, aku benar-benar ingin agar kau membawanya
Kalau keberatan, mari kita bagi dua
Walau akan menyebabkan semuanya menjadi hambar tak berharga
seperti sampah yang terlunta-lunta, lalu membusuk, mengurai dan terlupa
Kita pisah menjadi segala yang dapat membuat tertawa
dan separuhnya segala yang penuh kepedihan
Bawalah yang pertama
Akan kujaga yang kedua
Aku sebenarnya tak rela
Namun apa boleh buat
Memelihara keduanyapun aku tak bisa
Karenanya, izinkanlah
Diantara keduanya ada yang menempati sisi kopermu
Memadati ruang-ruang yang tak terisi
Meski nanti harus menjadi sampah dan terurai
Biarlah dia terlupa bersamamu di suatu hari
.
Celah Sembilan :
Ini…kupersembahkan liang lahat yang harum semerbak
Mewangi empat bunga musim pancaroba
Juga nisan berbalut sutra sehalus kapas
Yang bertahtakan mutiara berjumlah dua puluh lima
Tak lupa…
Kukalungkan pula untaian kamboja layu dilehermu
: ’’mati sajalah kau !’’
.
Celah Sepuluh :
Tetap bertahan
Tak mau pergi
Padahal sudah kuusir berulang kali
Dasar tuli
Umpatku pelan-pelan
Takut dia marah
Dan semakin menjadi-jadi
.
Celah Sebelas :
Tangismu membuat minder deras hujan malam ini
Sejenak mereka enggan bergerak
Katak-katak di tanah becek sampai sungkan meneruskan pestanya
Masih belum puaskah dirimu ?
Aku sudah lelah mengusap air matamu yang terus mengalir membentuk cabang-cabang sungai kecil di sketsa wajahmu
Tolong, jangan kau banjiri kota kita lagi
Kasihan mereka dan aku yang tak berumah tinggi
Apa perlu kuminum air matamu ?
Biar kurasa asin pedih dukamu
Sampai tercipta lukisan peristiwamu di otakku
Membiusku
Terus membimbingku untuk terluka bersamamu
.
Celah Duabelas :
Teruslah menangis jika kau masih mau
Jangan ragu
Rendam saja dadaku dengan genangan air matamu
Jadikan aku waduk bagi sesalmu
.
Celah Tigabelas :
Tuhan maha tahu
Hanya Dia yang sesungguhnya menjadi kebutuhanku
Karena itu, Dia juga pasti sudah tahu
Bahwa saat ini, aku mulai membutuhkan kamu
.
Celah Empatbelas :
Lihatlah bintang-bintang yang bertaburan malam ini
Saling canda dan melontarkan puji
Tak pernah mereka takuti pagi
Yang akan menutupi kehadiran mereka sekali lagi
.
Celah Limabelas :
Cinta kita pasang surutnya air laut
Seperti iman kepada Tuhan
Kadang cemburu
Kadang nafsu
Kadang lebam membiru
puisi-puisi yang begitu menghentak, tanpa tedeng aling-aling. Semua kata-katanya bermakna. Tak ada yang mubadzir.