Bintang Semata Wayang
Januari 3rd, 2007 by Di
“Hhhg… hhhg… hhhg…,” dia merogoh saku bajunya. Dipegangnya botol kecil itu. ‘Sssh…!’
“Hhh… hhh… hhh….”
*****
“Tambah gelas lagi! Higsk…! Manson house.”
Bintang mengambil gelas baru dari rak bawah, mencabut botol dari rak di belakangnya, dan menuangkan miras dari botol ke dalam gelas. Ia melakukan semuanya tanpa ekspresi, tanpa suara. Dan…, tepat saat tangannya hendak menyendok es….
“Gua ambil alih dari sini,” suara serak dan dingin mencegahnya. “Sana… pergi!”
Bintang menghentakkan tangannya dan berbalik. Meninggalkan customer terakhirnya yang sudah menunjukkan gejala nistakmus tanpa sedikitpun menoleh.
Bintang masuk ke gang kecil di pinggir jalan itu, 700 m dari bar yang baru ditinggalkannya, berbelok ke sudut sempit yang nyaris tak terlihat, meloncati kotak-kotak kayu yang berserakan di sana, lalu melompat meraih tangga besi karatan yang tergantung di tembok. Dengan mudah ia mengangkat tubuhnya sendiri ke atas lalu berjalan di lorong sempitnya, hingga ia sampai di area terbuka, di deretan bangku belakang sebuah misbar.
“Elo,” Bintang menangkap sosok yang dikenalnya sudah duduk berselunjur kaki ke bangku tembok di depannya.
“Ya, ini gua!” orang itu menjawab tanpa menoleh. Bintang mendekat dan duduk di sebelahnya. “Baru dari bar lagi?” orang itu bertanya, masih tanpa menoleh.
“Lo udah tau, ga usah nanya,” Bintang memasukkan tangannya ke saku jaket, mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya.
“Tetep ngerokok?”
“Lo punya mata, lo liat gua lagi ngapain,” Bintang tetap bersuara ketus.
“Ehmmmg,” orang itu, Gilang, berdeham menahan batuk. “Ini!” dia menyodorkan permen karet. “Gua tau lo ga suka kalo gua larang lo ngerokok. Jadi, gua ga bakal banyak cing cong. Kalo sampe waktunya lo mo berhenti, cobain ini, perman karet bisa jadi pengalih dari rokok.”
Bintang menatap Gilang sinis. “Maksud lo apa?”
Gilang menyambar tangan Bintang. “Ambil!” dikatupkannya kembali jari-jari tangan Bintang untuk memastikan benda itu digenggam Bintang. Ia lalu bangkit dan pergi meninggalkan Bintang di sana semata wayang.
*****
‘Brug!’ seseorang menabraknya dari samping.
“Eh, sorry!” orang itu buru-buru minta maaf sambil lantas memandangnya. “Bintang?” tutur kaget sekaligus tak pecaya keluar dari mulut cewe bermata coklat muda itu. Ia memperhatikan Bintang dari atas ke bawah. “Lo sekolah juga!” serunya melihat seragam putih—abu yang dipakai Bintang.
Bintang mulai melirik ‘si penabrak’.
“Ada juga sekolah yang nerima lo!” ucapan sinis itu mulai keluar.
“Gua ga ada urusan ama lo!” Bintang membalas sinis pada cewe mantan ‘temen’ SMP-nya dulu.
“Siapa yang nyari-nyari urusan ama lo?” balasnya dengan nada meninggi. “Sombong! Apa lo sekarang udah jadi ‘bintang’ di tempat lo itu?”
Bintang terkesiap. Rahasia tempat tinggalnya yang terkuak saat SMP dan menjadi gunjingan di sekolah membuat hatinya mencelos. “Lo beruntung ga gua gampar!” tukasnya sambil cepet-cepet cabut dari sana.
“Eh, lo ngehindar ya!” cewe itu berkata setengah teriak. “Atau mo siap-siap? …soalnya udah ada yang booking?”
Tanpa lihat kiri—kanan Bintang berlari menyebrang. Susah payah dia mencoba menutup telinga dan menahan emosi.
Gilang sedang membereskan kardus-kardus berisi buku yang dijualnya ketika tiba-tiba… ’Brug!’ seseorang menabraknya dari samping. “Eh, Bin!”
Bintang berjalan lurus cepat sambil memasukkan tangannya ke saku jaket.
“Bin!”
Panggilan Gilang tak digubrisnya.
“Bintang!”
Bintang tak menyahut.
Gilang bergegas dan mengejar. “Kenapa?” ia menarik tangan Bintang.
‘Hhgh?!’ Bintang tersentak kaget. “Ga ada apa-apa,” Bintang menjawab singkat.
“Gua udah lama kenal elo, ga mungkin ga ada apa-apa,” Gilang tak melepaskan pegangan tangannya.
Bintang menatap Gilang sesaat. “Gua… gua cuma lagi butuh rokok, itu aja! Jadi baiknya lo nyingkir!” ucapnya ketus.
Gilang menatap Bintang tajam. “Lu lagi butuh temen, Bin! Asap rokok ga bakalan nyingkirin masalah elu!”
Bintang menatap tajam. “Gua… punya masalah? Masalah apa? Elo jangan sok tau! Emangnya apa masalah gua? Lo tau?” tantangnya.
Gilang diam.
“Biar gua kasih tau!” Bintang berdiri menantang Gilang. “Lo bener! Bener banget! Gua lagi punya masalah,” satu tangannya yang bebas menunjuk-nunjuk dada Gilang. “Dan masalah gua itu ELO! Elo terlalu sok turut campur masalah gua!” semprotnya.
Gilang tetap ga melepas pegangan tangannya. Menatap Bintang, mencoba cari kebenaran.
“Gua muak!” matanya menyorot sendu. “Gua muak ama semuanya! Gua muak sama lingkungan ini, sama orang-orangnya! Gua muak ama hidup gua!” suara Bintang meninggi. Orang-orang di sekitar menoleh sesaat. “Gua muak jadi diri gua!” ucapnya dengan suara mulai lirih. “Kenapa gua harus jadi gua? Apa lo tau alasannya, Lang?”
Gilang tak menjawab.
“Lo ga tau kan, Lang! Lo ga tau!” Bintang menghentakkan pegangan tangan Gilang dan berjalan menjauh.
Bintang mengurung diri di kamar; duduk menyudur, dengan batang rokok di tangan. Tak banyak sinar yang masuk ke ruangan itu: jendela yang ada kurang memberi jalan masuk bagi sinar, terhalang rimbunnya pohon di luar. Kamar remang dan gelap. Pengap. Bekas puntung rokok sudah meluap dari tempatnya. Bintang sudah mulai menyulut yang baru ketika….
‘Tek… tek… tek…,’ seseorang mengetuk kaca jendela dari luar.
Bintang menoleh pada jendela tak bertirai itu.
Gilang.
Bintang bangkit dan membuka daun jendela. Bau rokok yang sengit melesak keluar.
Gilang berjengit. ‘Bin, lo ini mo bunuh diri ato apa?’ pikirnya.
‘Ehmg,” Gilang menahan batuk.
“Elo!” Bintang tak terkejut dengan kedatangan Gilang.
“Iya, ini gua!”
“Gua lagi ga mau ketemu siapa-siapa,” Bintang bersiap menutup daun jendela kembali.
“Ibu pernah bilang, perempuan dalam keadaan gimana pun jangan dibiarin sendiri tanpa teman.”
Bintang menahan gerakannya dan berbalik, menyandarkan badan ke tembok di sisi jendela.
“Perempuan itu sensitif; itu kekuatan sekaligus kelemahan perempuan. Perempuan adalah perhiasan indah dunia… jadi cukup berharga untuk ga dibiarin sendiri.” Gilang membalikkan badan lalu bersandar pada dinding luar, di belakang Bintang; saling berpunggungan, hanya terhalang tembok. “Ibu bilang ada 1001 hal baik dalam hidup, tapi seringkali 1 saja kenyataan buruk menghapus yang banyak itu,” Gilang berhenti untuk menarik napas. “Dan… ada 1001 kekecewaan yang tejadi dalam hidup… yang membutuhkan 1 saja harapan yang timbul dari pikiran positif, untuk melahirkan kenyataan bahagia. “
“Trus…?,” Bintang berharap mendengar perkataan yang lebih lagi.
‘Hmfh…,’ Gilang menghembuskan napas perlahan. “Ga ada,” sayangnya Gilang tak memberi apa yang diharapkan Bintang. “Ibu keburu meninggal. Asmanya terlalu parah,” Gilang berdiri lagi menghadap kamar Bintang. “Bin, gua cuma mo bilang, lo ga pernah sendiri! Lo boleh muak ama semuanya… tapi jangan lupa lo masih punya temen. Kalo lo banyak bertanya tentang hidup lu, gua cuma mo bilang kalo hidup itu bukan tentang bertanya tapi mengerti dan menjalani. Karena hidup bukan jawaban kenapa kita diciptakan.
Hening sejenak.
“Tapi kalo lo masih bertanya kenapa lo harus jadi elo? Gua pikir karena Tuhan tau, ga ada orang lain yang lebih bisa jalanin hidup seperti elo ketimbang elo sendiri.”
*****
“Johny walker!”
“Hmm…, biasanya lo lebih suka kamput, black n white! Kenapa sekarang ….”
“Sesekali minum yang lain boleh kan!”
Bintang masuk tanpa memperhatikan sekeliling.
“Dari mana lo?” suara serak dan dingin itu langsung mencegatnya.
Bintang tidak menjawab.
“Well, bung, siapa nih?” customer tadi angkat suara. “Anak lo, ya, heh?” matanya memandang Bintang liar. “Boleh juga! Pasti laku di sini dan lo bisa kaya!”
“Dia masih terlalu kecil,” laki-laki bersuara serak dan dingin itu menanggapi sambil menyerahkan gelas minuman.
“Oh, ya?” matanya tetap menyelidiki Bintang. “Tapi bener, gua rasa dia bakalan laris!”
Emosi Bintang naik, ia melirik ayahnya, mengharapkan pembelaan.
“Lo rasa begitu ya? Mungkin!” katanya sambil menuangkan minuman.
‘Apa?!’ Bintang ga percaya ini.
Orang itu mulai bangkit dan berlaku tidak senonoh pada Bintang.
Serta merta Bintang mendorong orang itu hingga tersungkur dan…, ‘Cuih!’ meludahinya.
“Bintang!” ayahnya membentak murka. “Harusnya kamu coba sopan sama tamu kita!”
Bintang berang, dia langsung lari dan keluar dari tempat itu.
Bintang duduk di bangku misbar yang sama. Asap rokok dihembuskan dari mulutnya.
‘Tap… tap… tap,’ suara langkah kaki mendekat.
Bintang menoleh, “Elo!”
“Ya, ini gua!’ Gilang menyahut sambil duduk dan menjaga jarak.
Mereka berdua terdiam untuk beberapa lama.
“Danang bilang… ga lama abis lo keluar dari bar, ayah lo berang nyariin lo, “ Gilang membuka suara. “Kayaknya baru ada kekacauan di dalam sana….”
Bintang terdiam sebentar, lalu mematikan rokoknya. “Lo ga tau apa-apa, Lang! Lo ga tau rasanya hidup jadi gua!” nada bicaranya dalam dan dingin. “Gua mo nanya satu hal…,” Bintang menatap jauh lurus ke depan, “apa gua ga cukup berharga untuk dibela?” sorotan matanya penuh amarah. “Karena gua yakin suatu saat nanti ayah gua sendiri bakalan tega ngejual gua dan nyeret gua ke kehidupan kotor dia, sepenuhnya! Gua punya tanda-tandanya!” getar pada suaranya terdengar getir. “Apa karena gua lahir dari kehidupan macam itu? Ibu yang katanya jadi ‘mainan’ di tempat macam itu dan ayah yang bahkan ga yakin kalo gua ini anak kandungnya!” Bintang mencoba nahan amarahnya. Dia menghela napas panjang, “Lo selalu ada di samping gua dan omongan lo ga pernah salah. Gua percaya ama elo! Tapi gua pikir sekarang lo salah! Gua ga bisa jalanin hidup gua kayak gini! Mungkin Tuhan salah udah nyiptain gua,” ucapannya dikatakan hampa.
Gilang terkesiap mendengar kalimat terakhir Bintang. “Meragukan Tuhan itu dosa, Bin! Tuhan ga pernah salah!” Gilang berkata tajam. “OK, mungkin gua salah! Tapi bukan tentang alasan elo jadi elo yang gua salah, ato tentang kenapa Tuhan nyiptain elo yang gua salah! Gua salah nilai elo: ngira kalo gua kenal elo, gua tau semua tentang elo! Gua salah karena gua pikir Bintang yang gua kenal ga selembek ini!”
Bintang menoleh cepat dikatai lembek. Dia berdiri. “Lo liat gua! Elo tau hidup gua! Lo pikir gua musti ngapain? Karena gua sendiri bahkan ga tau gua musti ngapain? Buat apa gua masih hidup? Gua… gua pengen keluar dari sini, gua pengen pergi dari tempat ini!” suaranya meninggi.
“Setidaknya lo masih punya keinginan. Karena manusia tanpa asa sama aja binasa. Sekarang lo tau kenapa lo masih hidup kan, Bin,” Gilang membalikkan perkataan Bintang. “Kalo lo bener mo pergi dari sini… gua juga pergi.”
Bintang menatap Gilang tak percaya. “Lo ini sinting! Buat apa? Waktu gua bilang mo pergi maksud gua keluar dari lingkungan dan kehidupan kotor kayak gini. Hidup itu ga gampang, Lang! Apalagi kalo lo mo coba untuk hidup ‘bersih’!”
“Justru itu,“ tukas Gilang. “Ga gampang dan gak murah.”
Bintang mengangguk.
“Gua bisa kerja lebih,” Gilang berkata ringan.
“Lo ngomong apa?”
“Lagian berdua lebih baik daripada sendiri,” tambahnya. Gilang lalu bangkit dari duduknya dan berdiri, “Bin,” panggilnya lembut, ”gua ga akan diem aja di belakang lo ikutin ke mana lo pergi…, tapi gua juga ga mau jalan di depan lo dan maksa lo ikut gua…, gua pengen kita jalan bareng dan jadi teman.”[1]
Bintang tertawa melecehkan. “Kita liat aja!”
*****
Bintang berjalan tertunduk di bawah hujan gerimis.
“Ayo!” Gilang keluar dari kios bukunya yang baru saja ditutup dan menarik tangan Bintang.
“Ke mana?”
“Rumah gua,” ucapnya ringan. Gilang menarik napas berat tapi sambil senyum, “Ada yang mo gua tunjukin!”
“Lu duduk sini,” Gilang mendudukkan Bintang di kursi lalu masuk ke kamarnya. Ga lama kemudian dia muncul sambil membawa foto.
“Ini apaan, Lang?” tanya Bintang waktu Gilang menyodorkan foto-foto itu padanya.
“Tempat asal ibu gua,” jawab Gilang. “Bin, lo inget kan lo mo pergi dari sini…, lo juga inget kan kalo gua mau pergi ama lo! Apa lo mau kalo gua bawa kita berdua ke sini?”
Bintang tak berkata apa-apa.
“Emang gak keren-keren amat, sih! Tapi tempatnya ‘bersih’!” tutur Gilang. “Gua ga maksa, cuma… gua ga akan diem aja di belakang lo ikutin ke mana lo pergi…, tapi gua juga ga mau jalan di depan lo dan maksa lo ikut gua…, gua pengen….”
“Kita jalan bareng dan jadi teman,” Bintang ikut menyelesaikan kalimat itu bareng Gilang.
“Iya! Bareng…, teman…!” Gilang mengulang beberapa kata-katanya. “Hoghk!” Gilang terbatuk sebentar.
“Kenapa, Lang?”
“Gua.. ke belakang dulu bentar,” Gilang berdiri dan berlalu.
Bintang menunggu sambil terus memperhatikan foto. Lama, Gilang masih belum kembali. Bintang bangkit dan menyusul Gilang.
“Uhugh… uhugh…!” Gilang berdiri sambil menempelkan keningnya di kaca, bernafas cepat, tersenggal, dan sulit. Uap dari mulut tergambar jelas di kaca.
Bintang terpaku.
Gilang sadar Bintang berdiri di muka pintu kamarnya. “Kenapa liatin gua kayak gitu?”
Bintang diam.
Gilang menoleh liat cermin, menundukkan kepala sesaat, menarik napas sambil berusaha tak kentara menghapus uap air di kaca, tersenyum, berusaha terlihat sehat.
“Sakit, Lang?” tanya Bintang singkat.
“Kita duduk lagi di depan, ya, Bin!” Gilang mendorong Bintang kembali ke ruang depan tanpa menjawab pertanyaan Bintang.
Sudah hampir telat ke sekolah, tapi langkah Bintang serasa enggan untuk cepat-cepat, dan malah berhenti di depan rumah Gilang. Pintunya terbuka. Entah keinginan dari mana yang membuat Bintang memasuki rumah itu.
Bintang melongokkan kepalanya ke dalam kamar.
Perempuan itu berdiri sambil menempelkan keningnya di kaca, bernafas cepat, tersenggal, dan sulit. Uap dari mulut tergambar jelas di kaca.
Perempuan itu melihatnya. Dengan isyarat tangan ia menyuruh Bintang mendekat. Seperti baru tersadar dari sikap mematungnya Bintang buru-buru mendekat.
“Gilang…!” ucapnya lirih. “Gilang….”
Bintang mengangguk-angguk. Antara bingung dan panik ia keluar dari rumah itu, mundur pelan-pelan tapi lalu makin cepat dan makin terburu-buru. Saking bingung serta paniknya, Bintang bahkan tak sempat membuat perempuan tadi duduk atau sekadar memberinya air. Dan saking terburu-burunya, ia lari dengan tas sekolah yang terlempar ke sana-kemari di sisi rok birunya.
Berlari hingga jauh perempatan jalan tak juga membuat Bintang menemukan Gilang.
“Gilang… hhh… hhh… mana Gilang?” napasnya tersenggal-senggal.
Danang menjawab sambil menatap Bintang heran, “Lagi ngambil jatah koran… emangnya…, Bin!” belum sempat Danang bertanya kenapa Bintang datang dengan keadaan kayak gitu Bintang sudah melesat lari lagi.
“Brug!” Bintang tak sempat mengerem larinya dan menabrak Gilang serta menjatuhkan eksemplar-eksemplar koran yang siap dijual Gilang.
“Bintang!”
“Ibu… rumah…,” Bintang berbicara diantara napasnya yang tersenggal-senggal.
“Hah?” kening Gilang berkerut.
Bintang menarik tangan Gilang.
Gilang, seakan mengerti masud Bintang, langsung lari menuju rumahnya.
Dan sampai di sana… ibunya sudah tergeletak tak sadarkan diri. “Ibu…,” Gilang langsung menghambur ke sosok tergeletak ibunya.
Hati Bintang mencelos menyaksikan sendiri saat-saat terakhir ibu—anak ini.
“Hhhg… hhhg… hhhg…,” Bintang terbangun di gelap kamarnya. Dia menyeka keringat yang membasahi keningnya.
*****
Bintang berpapasan dengan Danang di luar bar. Dia melangkah ke kiri, Danang ikut. Dia melangkah ke kanan, Danang ikut melangkah menghalanginya.
“Ada apa?” tanya Bintang penuh selidik.
Danang ga menjawab.
“Kalo ga ada apa-apa lo minggir, gua mo lewat!” ucapnya ketus.
“Gilang…,” akhirnya Danang bersuara.
“Gilang ga mungkin ada di dalem,” tukas Bintang cepat.
“Gua tau,” sahut Danang, “asmanya!”
“Itu lo tau! Lagian di dalam pengap, ntar bengeknya kambuh! Cari mati kalau Gilang coba-coba masuk ke bar.”
“Justru itu…,” sahut Danang lagi, tapi kata-katanya terputus.
“Trus ngapain lu ke sini?”
“Bin…, Gilang tadi pagi… meninggal.”
Bintang tersentak. “Lo ga serius, kan! Bilang ama gua lo ga serius!” bentak Bintang.
“Ngapain gua becanda masalah beginian!” bantah Danang denagn suara tak kalah tinggi.
Sekujur tubuh Bintang serasa menegang. ‘Brug!’ Bintang menabrak Danang dan berlari.
“Bin!” panggil Danang.
Bintang berlari terus, berhenti di depan kios tempat Gilang kerja, tapi tutup. Bintang lari lagi, langsung ke rumah Gilang.
Bintang menyambar pintu rumah Gilang, mencoba membukanya, tapi ga bisa. Terkunci. “Kenapa pintunya dikunci? Buka pintunya!” Bintang memaksa. “Nang, bantuin gua!”
“Bin,” Danang yang mengejar Bintang berdiri tanpa berbuat apa-apa.
“Gua mo ketemu Gilang, gua mo liat dia!”
“Bin…,” sergah Danang.
“Bukain, Danang!” suara Bintang kini terdengar memelas. Bintang mengedor-gedor pintu rumah itu.
“Bin, Gilang lagi dimandiin di masjid.”
“Ngapain? Dia bisa mandi sendiri! Gilang bukan anak kecil! Gilang pasti ada di dalam!”
“Bin!” Danang membalikkan badan Bintang untuk menghadapnya.
Mata Bintang berkaca-kaca walau tak sampai menangis. Dia lalu jatuh terduduk.
“Bin,” Danang berniat menghibur.
Bintang terisak. “Pergi!” serunya di sela isakan. Kepalanya tertunduk.
Rombongan yang mengantar jenazah Gilang sudah setengah jam yang lalu berangkat. Bintang masih terduduk di samping jendela kamarnya sambil menatap ke arah luar yang mendung. Matanya merah berkaca-kaca.
“Gimana rasanya?” Bintang duduk tegak menoleh pada Gilang yang duduk di sampingnya di bangku tembok misbar. “Ibu…,” Bintang ga kuasa melanjutkan pekataannya. Seumur-umur Bintang belum pernah merasa ditinggal mati seseorang, bahkan ibunya. Mengenal sosok ibu kandungnya itu saja tidak. “Apa… sakit?”
“Sakit?” Gilang diam sejenak. “Apanya yang sakit? Lu bahkan ga tau apa itu sakit?” Gilang menarik napas panjang. “Rasanya… kayak lo tiba-tiba kejatuhan beban berton-ton sedang bumi tiba-tiba menghilang buat lo pijak…,” Gilang tediam lagi.
“Lo sedih?” tanya Bintang lagi.
Gilang menoleh sebentar. “Sedih?” dia menerawang lagi. “Sedih itu cuma alasan dari ketakutan kita. …takut yang namanya mati. Padahal mati itu pasti datang, Bin! Karena dia udah ada di deretan langkah kita. Hari ini ibu gua, mungkin besok giliran gua… atau elo!”
‘Gua sekarang tau, Lang! Tau gimana rasanya ditinggal orang yang kita sayang! Tau gimana rasanya sakit yang lo maksud! Ga enak, Lang! Ga enak!’ Bintang membiarkan airmatanya jatuh tak terseka.
“Ada 1001 kekecewaan yang tejadi dalam hidup… yang membutuhkan 1 saja harapan yang timbul dari pikiran positif, untuk melahirkan kenyataan bahagia.”
‘Gua punya harapan…, gua punya harapan…,’ berulang Bintang menggumamkan kata-kata itu sendiri.
“Gua… gua pengen keluar dari sini, gua pengen pergi dari tempat ini!”
“Setidaknya lo masih punya keinginan. Karena manusia tanpa asa sama aja binasa. Sekarang lo tau kenapa lo masih hidup kan, Bin!”
‘Gua tau, Lang! Gua tau! Gua pengen hidup gua lebih baik! Dan itu ga di tempat ini!’ Bintang bangkit dari duduknya dan mulai berkemas.
“Mo ke mana lo?” suara serak dan dingin membuatnya diam.
“Pergi,” sahut Bintang, juga tak kalah dingin.
“Ke mana?” dia memasuki kamar.
Bintang tak menjawab, tetap membelakangi asal suara.
“Jawab pertanyaan gua atau….”
“Atau apa? Mo mukul? Atau mo ngejual gua ke bisnis prostitusi?!” Bintang berbalik dan menantang.
Sosok di depannya melotot marah.
“Sebelum itu terjadi, gua udah pergi dari sini!”
“Berani, ya, lo melawan ayah!”
“Ayah?!” Bintang berkata sinis. “Apa itu ayah? Ga ada ayah yang bakalan ngebiarin anaknya terjerumus dunia sesat!“ Bintang menyandangkan tasnya. “Tapi… makasih… karena udah pernah biarin gua sekolah!” Bintang lalu pergi tanpa menghiraukan suara serak yang marah.
Bintang berjalan sendirian berjam-jam di sepanjang jalan. Setelan kaos hitam nge-pas dan celana jeans hitam menyamarkannya di keremangan malam.
‘Tap… tap… ssrtt…!’ kasak-kusuk beberapa cowo yang dari tadi mengikutinya membuat Bintang resah. Bintang memandang ke jalanan sepi. Malam sudah terlalu larut. Hanya ada beberapa kendaraan yang lewat. Dan…
Bintang menghentikan sebuah truk.
“Boleh numpang?” tanyanya dari luar jendela truk.
Laki-laki itu tak menjawab.
“Boleh, kan?” tanyanya lagi dengan nada memelas.
“Mo ke mana?”
“Ke stasiun!” sahutnya cepat.
Dahi laki-laki itu mengenyit.
“Atau ke depan aja! Terminal!” tukas Bintang cepat, tak ingin oang itu urung memberi dia tumpangan.
Laki-laki itu memperhatikan Bintang seksama. “Naik!”
“Makasih! “ Bintang bernapas lega. Yang penting sekarang dia sudah selamat dari kuntitan orang-orang ga beres itu.
Bintang berusaha membuat dirinya nyaman.
“Mo rokok?” sopir truk itu menyodorkan sebatang rokok.
Bintang menatap sesaat. Teringat permen karet yang selalu disodorkan Gilang, dia menggeleng.
Bintang lebih banyak diam dan melamun di perjalanan, tenggelam dalam malam yang sepi dengan suara gerimis yang lirih. Ini sudah terlalu lama…, Bintang lalu tersadar… ‘belum sampai juga?’ Instingnya mulai jalan dan dia menjadi waspada.
Bintang menoleh pada si supir. Mata supir truk itu mencuri-curi pandang liar. Bintang mulai merasa tak nyaman. “Berhenti di sini aja!”
“Mo ke mana? Ini kan gelap… ntar kenapa-kenapa…. Dan sekarang lagi hujan gini.”
“Ga apa-apa di sini aja,” paksa Bintang. ‘Orang ini juga mabuk!’ pikir Bintang. Ia mulai melihat gejala nistakmus dan juga bau alkohol. ‘Sial! Harusnya gua sadar dari awal!’ Bintang merutuki dirinya sendiri. “Berhenti di sini aja!”
Supir itu tak mau menghentikan truknya. Tangannya malah berusaha menggapai Bintang.
“Brak!” Bintang melompat keluar dari truk dan terjatuh.
Spontan supir itu menghentikan truknya dan ikut keluar.
Bintang bangun dari jatuhnya dan lari, tapi supir truk itu mengejarnya. “Mo ke mana?”
Walau sudah berlari secepat ia bisa, tapi Bintang masih bisa terkejar.
“Kamu!” supir truk itu berhasil meraihnya. “Mo lari ke mana, heh?!”
Sekarang Bintang benar-benar terancam. Badannya sudah basah kuyup oleh air hujan. Derap kakinya yang panik membawa dia lari ke bangunan belum selesai di jalanan sepi itu.
Supir itu bertindak liar, Bintang berusaha bertahan dan melawan.
“Aaahg!” Bintang mengayunkan pukulan. Supir itu menghindar dan mencengkeram.
Tangan Bintang berontak mencari sesuatu untuk melawan. ‘Tep!’ tangannya meraih batangan dingin, sebuah tongkat besi. Tak ayal lagi Bintang langsung mengayunkan tongkatnya tak terkendali. Sebuah pukulan mengenainya. Laki-laki itu mundur beberapa langkah, namun tidak dengan begitu saja melepaskan Bintang. Bintang makin berang memukulkan tongkat besinya dan dia menghujamkan tongkat itu keras ke badan si supir. Supir itu benar-benar tersungkur sekarang. Bintang tak melepaskan kesempatan ini, dihujamkannya tongkat besi yang dipegangnya itu berkali-kali. Sementara malam makin larut dan hujan terus saja turun.
“Ehgh!” Bintang mengayunkan pukulan terakhirnya. Laki-laki itu jelas sudah K.O.
Bintang menatapnya miris. “Hhgs…,” tongkat yang jadi pedangnya meluncur turun dari tangan Bintang yang basah. Antara air mata dan tetesan air hujan yang membasahi wajah sudah tak bisa dibedakan lagi. Bintang terisak. “Lo di mana?” Bintang jatuh berlutut lalu terduduk. “Kenapa ga jalan di samping gua dan jadi teman?”
Bintang terisak.
“Gua cape sendirian, Lang! Gua ga mau melawan semuanya sendirian!”
Bintang berusaha mengontrol emosinya. Bintang lalu berdiri, mendekati ‘penolong palsu’-nya, dan menendangnya. Laki-laki itu tampak tak sadarkan diri dengan tergeletak begitu saja di genangan air.
Bintang pergi dari tempat itu dan merogoh saku celananya, permen karet. Entah pemen karet ke-berapa yang diberi Gilang. Tapi itu cukup membuatnya tersenyum sambil menahan air keluar dari matanya. Tapi toh apa bedanya, badannya sudah basah kuyup.
Hujan perlahan mulai mereda. Bintang terus berjalan.
“Ada 1001 hal baik dalam hidup, tapi seringkali 1 saja kenyataan buruk menghapus yang banyak itu. Dan ada 1001 kekecewaan yang tejadi dalam hidup… yang membutuhkan 1 saja harapan yang timbul dari pikiran positif, untuk melahirkan kenyataan bahagia.”
“Bintang yang gua kenal ga selembek ini!”
“Manusia tanpa asa sama aja binasa.”
‘Gua ga lembek, gua masih punya asa, gua mo dapetin 1001 hal yang baik itu, Lang! Gua mau dapetin kenyataan yang bahagia!’
Bintang berjalan terseret di jalanan entah di mana dan mengarah ke mana. Lama dia berjalan di kiri jalanan gelap kosong itu….
‘Brrrmmm…sssrrrr… brrrmmm….’
‘Splashrt!’
“Ehg!” tersembur air dari genangan di jalan akibat mobil yang ngebut membuat Bintang terhuyung ke belakang, menabrak pembatas jalan, dan….
….
Jalanan gelap…, murni kosong. Ga ada tanda-tanda kendaraan… atau pun… manusia.
“Sialan lo! Bisa nyetir ga sih? Jalanan basah hujan gini…, kalo slip abis riwayat kita! Sebelah kiri kita tuh jurang!” cowo di sebelah pengemudi mencak-mencak sambil tetap pegangan pada dashboard.
“Nyantei aja kenapa, sih! Toh sekarang kita selamat-selamat aja, kan!” balas cewe di sebelahnya sambil melotot tajam dengan mata coklat mudanya.
[1] adaptasi bebas dari quote:
don’t walk behind me; I may not lead
don’t walk in front of me; I may not follow
just walk beside me and be my friend