KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Aspal Putih

Siapa penduduk desa ini yang tidak mengenal La Mande?. Namanya begitu terkenal di desa kami, jangankan di desa kami, sampai desa sebelah pun tahu atau setidaknya pernah mendengar namanya. Karena keberadaannyalah desa kami menjadi makmur seperti sekarang ini. Bayangkan, dulu desa kami serasa mati di malam hari, karena tak ada penerangan sama sekali. Kami hanya memakai lampu minyak terbuat dari kaleng bekas lalu kami beri sumbu. Jangankan untuk belajar, kami sama sekali buta informasi. Tak ada televisi, tak ada koran, kalaupun ada mungkin kami hanya punya radio. Itu pun hanya sedikit orang, tapi berkat perjuangan La Mande, semuanya berubah. Sekarang orang di desaku sudah tahu apa yang terjadi di nusantara bahkan dunia berkat bantuan televisi.

Aku masih ingat dengan jelas, saat itu aku masih SD, dulu penghasilan pertanian di desa kami mubazir. Panen memang berhasil, tapi untuk kami makan sendiri. Untuk menjualnya ke kota hampir tidak mungkin, karena desa kami benar-benar terpencil dan jauh dari peradaban kota. Dan tak mungkin menjual hasil panen ke sesama penduduk desa, karena mereka juga menanam apa yang aku tanam. Alhasil, hasil pertanian kami hanya dipakai sendiri dan sisanya ditaruh di gudang, untuk diambil apabila sewaktu-waktu dibutuhkan. Tak jarang kami mendapatkan hasil pertanian kami rusak atau busuk karena terlalu lama di gudang dan tidak terpakai. La Mande yang membuat mimpi kami untuk membuat jalan menuju kota tergapai.

Kalaupun bukan karena perannya, tak mungkin pula aku bisa kuliah. Universitas berada jauh di kota. Dengan jalan yang sudah baik, sejauh apapun universitas itu berada bisa kutempuh dengan waktu yang relatif singkat memakai sepeda motor. Kebaikan La Mande yang mungkin akan diceritakan turun temurun dari ayah ke aku dan dari aku ke anakku dan anakku ke cucuku.

Intinya La Mande adalah simbol keberhasilan. Maskot kesejahteraan. Dewa kebaikan. Tak ada celaan, apalagi cercaan. Semua yang keluar dari mulut kami adalah pujian. La Mande adalah sinonim dari kata malaikat, walaupun sebenarnya La Mande bukan penduduk asli desa kami, tetapi kami menganggapnya sebagai penduduk kehormatan.

La Mande muda, setelah berhasil membangun desa kami pergi ke kota. Konon ia menjabat anggota DPRD di kota. Tapi dana untuk membangun desa kami untuk maju terus cair. Tak lama setelah kepergiannya berdiri sebuah masjid yang megah untuk kami sembahyang, kemudian disusul oleh pasar rakyat. SD tempat aku belajarpun, saat itu dan sampai sekarang pun tak kalah mentereng dengan SD-SD di kota. Sekali waktu La Mande menjenguk kami. Walaupun hanya sebentar kami dapat memahami, karena menurut kami, pasti La Mande sangat sibuk dengan pekerjaannya sebagai wakil rakyat dan imbasnya sedikit banyak menyita waktunya untuk kami.

Anehnya, walaupun menurut kami La Mande sudah sangat mapan, ia membiarkan rumah kumuhnya di desa. Padahal kami saja saling adu pamer kemewahan bangunan rumah kami. Pun demikian dengan pakaian dan pribadinya. Tak ada yang berubah. Malah yang kadang membuat aku trenyuh, aku acapkali memergoki La Mande memakai sandal yang tak sama alias lain sebelah.

Kini, setelah 21 tahun lamanya La Mande meninggalkan kami, La Mande kembali. Tapi kembalinya La Mande bukan untuk menjenguk kami, dia kembali untuk menjadi bagian keseharian kami. Aku mengira dia datang hanya sesaat seperti kunjungan biasanya, tapi nyatanya tidak.

Desa kami adalah desa kecil yang berita sekecil apapun dengan cepat merambat dari mulut ke mulut melebihi kecepatan angin. Pun demikian tentang La mande. Istriku yang datang dari pasar menceritakan, tapi berita itu membuat aku terhenyak, tak percaya. Entah darimana sumbernya tiba-tiba aku marah pada istriku dan dengan kesadaran yang masih penuh aku menamparnya. Kali ini istriku yang terhenyak. Tak percaya aku menamparnya. Matanya tiba-tiba menjadi sumber mata air.

“Tak baik menjelek-jelekkan La Mande, Aminah. Apa jadinya kalau omonganmu terdengar tetangga ?”, tuturku menurunkan tekanan suara. Istriku masih sesegukan.

“Aku hanya mengatakan apa yang aku dengar mas. Aku juga sudah melihat sendiri keadaan La Mande. Demi Allah, aku nggak nambah-nambahin mas!”, tensi darah istrikupun mulai turun. Aku tahu istriku serius. Aku tahu tabiat istriku walaupun baru kunikahi setahun lalu. Aminah, istriku, hanya mau mengucapkan Demi Allah kalau dia sedang serius.

Aku dilema. Antara percaya dan tidak.

“Kalau memang mas ndak percaya omonganku, kenapa ndak buktikan sendiri ?”, Aminah menembus batas kegamanganku dan aku sadar memang itu yang harus kulakukan.

Hatiku hampir tak mempercayai mataku. Ya, aku tak mengatakan La Mande gila, aku tak kan pernah mengatakan dia gila karena dia masih mengenal dan menyapaku. Aku hanya mengatakan dia nyaris gila. Rambut La Mande sekarang gondrong dengan cat putih di tengahnya. Bajunya tak ada beda dengan baju yang dipakai orang-orang gila. Tak seperti biasanya, La Mande menyambutku dengan senyum sinis.

“Dullah, kemarilah. Aku membutuhkan bantuanmu”, kata La Mande. Sejurus aku turun dari sepeda motor yang baru kubeli. Aku mendekat, walaupun sebenarnya aku mual dengan bau badan La Mande, “Apakah kau akan mengatakan sama seperti orang lain bahwa La Mande telah gila?”, lanjut La Mande begitu aku sudah berada di dekatnya.

Aku tak menyangka La Mande akan menanyakan itu. “Tidak kau masih waras dan tak pernah gila seperti kata orang-orang”, bohongku. Bohong, karena yang terjadi kontra dengan hati dan mulutku. Ya, La Mande memang telah gila.

“Bodoh kau dullah, aku memang sudah gila dan hatimu tak memungkiri hal itu kan?”, serang La Mande dengan suara tinggi. Aku terdiam. Orang-orang lalu-lalang melirik ke arah kami dan tersenyum sinis. Bahkan Tono, teman sebangkuku saat SLTP mengangkat ibu jarinya dan menaruh dengan posisi terbalik. Secara tak langsung Tono mangatakan bahwa La Mande benar-benar gila. Ah, walaupun mereka mungkin benar, tapi tak seharusnya mereka begitu. Harusnya mereka bisa mikir, apa jadinya desa ini tanpa kehadiran dan peran La Mande. Mereka memang tidak tahu terima kasih.

“Ya mungkin kau memang gila”, jawabku sekenanya.

“Bukan mungkin, tapi memang benar-benar gila. Kalau kamu memang hatimu merasa aku sudah gila, kenapa kamu mengkianatinya?. Bukankah berdosa orang-orang yang berbohong itu?”, mata La Mande memerah. Mungkin marah sekali lagi mungkin. Aku tak berani berlama-lama menatap mata.

“Kalau saya boleh tahu, kenapa La Mande gila?”, pertanyaanku terasa tolol. Mana ada orang waras yang bertanya begitu pada orang gila, atau mungkin aku telah gila pula ?.

Aku kira La Mande tersinggung, tapi ternyata dia malah tertawa ngakak.

“Apakah La Mande gila karena kehilangan kursi setelah pemilu di DPRD?”, mulai bangkit keberanianku untuk bertanya lebih jauh.

“Bukan itu Dullah, kursi tak akan goyah, karena aku bersih. Aku ingin menyejahterakan rakyat dan rakyat tahu itu. Satu hal yang membuat aku gila adalah aku gagal menjadi aspal putih”.

“Aspal putih?”.

“Sudah cita-citaku dari dulu untuk menjadi aspal putih, Dullah. Tapi aku gagal total. Pemborong jalan rupanya lebih senang dengan aspal hitam tanpa warna putih di tengahnya”.

“Maksud La Mande apa ?, apa cuma lantaran pemborong lebih senang aspal hitam tanpa warna putih di tengahnya bisa membuat La Mande depresi seperti ini ?”, heranku.

“Dullah, kamu orang terpelajar, buat apa gelar SS di belakang namamu kalau hanya ungkapanku ini tidak bisa kau maknai ?”, pungkasnya. Ada tekanan kata-kata seakan-akan La Mande mengusirku. Jelas aku terpukul dengan ucapannya. La Mande secara tidak langsung mengejek nama dan gelarku.

“Aku mengerti La Mande, sudahlah, lupakan semua. Itu hal lumrah dalam kehidupan yang serba pelangi. Antonim. Masalah tidak akan ada kalau kita tidak mempermasalahkannya. Jadi buat apa La Mande nyari-nyari masalah ?”, aku pura-pura mengerti walau sebenarnya aku tidak mengerti sama sekali apa yang La Mande maksud dengan aspal hitam dan aspal putih itu. Biarlah, mungkin saja ungkapanku benar.

“Kau memang bodoh Dullah, kalau semua aspal berwarna hitam apa jadinya jalan raya. Sekarang kamu menyingkir dari hadapanku”.

Aku segera menancap motorku. Terus terang aku ketakutan dan aku mengambil satu kesimpulan yang dengan istriku dan semua warga desa. Ya, La Mande telah benar-benar gila. Sang pahlawan itu telah kehilangan akal warasnya. Sudah tradisi di desa kami dari dulu bahwa orang gila patut dibenci karena kami menganggap orang gila tak bisa berfikir sehat, padahal kami sangat mendewakan pemikiran dan uang tentunya. Dan sistim La Mande yang dulu dituhankanpun kini telah disetankan.

Tetapi aku sebagai seniman masih kepikiran akan kata-kata La Mande. Semakin aku menafsirkan maknanya semakin aku terhanyut dan tersentak. Aku lupa segala-galanya. La Mande benar kita harus menjadi aspal putih karena sangat jarang orang yang menyukai aspal putih.

Aku masih sadar saat aku mengatakan aku ingin bebas berpikir dan menjadi gila kepada istriku. Aku juga ingat bagaimana istriku berteriak histeris saat ku utarakan niat agungku itu. Sekarang aku hanya ingin menjadi aspal putih. Aku hanya ingin menjadi aku yang sejati. Lainnya tidak.

Dan aku tidak mempersoalkan hilangnya La Mande dari tempat biasa dia nongkrong dan menunjuk-nunjuk aspal putih. Selentingan desas-sesus orang, La Mande kena razia dan dipenjara.

Posisi La Mande aku yang menggantikan. Aku malah senang saat mendengar anak-anak berteriak, “Hai lihat itu Pak Dullah yang gila karena ingin menjadi aspal putih !”.

***

One Response to “Aspal Putih”

  1. on 11 Jan 2008 at 02:15u-bed

    Good story…
    I’m very impressed..

Tinggalkan Komentar