Arena dan Juara
Januari 3rd, 2007 by Abdul Malik
Oleh: Abdul Malik
“Kye shok!!!“1
Begitu wasit memberikan aba-aba bahwa pertandingan dapat segera dilanjutkan, Pierre langsung menyerang dengan sebat. Dua kali tendangan momtong dollyo chagi2 segera dilancarkan. Lawannya yang baru saja bangkit masih bisa menangkis. Tapi pada saat tendangan tersebut diteruskan dengan palkop dwi chagi3, sang lawan terlambat menghindar. Tanpa ampun tumit kanan Pierre bersarang dengan keras di rahangnya lalu membuatnya terjatuh sekali lagi. Wasitpun segera memberikan tanda bahwa pertandingan berakhir. Pierre menang TKO pada ronde ketiga.
“Huh, akhirnya…….,” Pierre Rotu Sinaga, rekanku dari Sumatra Utara itu melemparkan handuk ke atas handbagnya, usai mengeringkan keringat. Dia tampak lelah, namun rona bahagia dan ekspresi bangga terlihat jelas di wajahnya. Aku tersenyum sambil menggandeng bahunya. Di antara rekan-rekan satu tim, memang dia yang paling akrab denganku. Kami langsung merasa cocok saat pertama kali berkenalan. Orangnya terbuka dan enak diajak bicara. Yahh, di ajang seleksi atlet nasional taekwondo, jarang sekali dijumpai sosok yang mau bertukar pikiran di luar masalah pertarungan. Barangkali di semua cabang olahraga beladiri juga sama begitu, para atlet lebih suka melatih otot daripada mengasah otak.
“Ingat lho, ini baru rintangan pertama. Calon lawanmu di Asean Cup jauh lebih kuat. Kamu harus berlatih lebih giat,” aku berkomentar.
“Aku tahu kok,” jawabnya. “Aku cuma ingin sekedar melampiaskan kegembiraan karena berhasil memenuhi target pribadiku.”
“Target apa?” aku jadi penasaran.
Bukannya menjawab, Pierre malah tersenyum tipis. Dia menarikku ke pinggir arena lalu berbicara dengan suara pelan.
“Sederhana saja. Targetku adalah aku harus lolos mutlak,4 agar bisa membuktikan bahwa bukan hanya atlet Jakarta dan Jawa Barat saja yang mampu bertanding di tingkat internasional. Sudah saatnya dominasi mereka diruntuhkan.”
“Kok kamu bicara masalah dominasi?”
“Iya. Sudah lima tahun terakhir ini atlet daerah jarang sekali mendapat tempat di timnas. Paling-paling cuma jadi sparring partner. Lagipula lolosnya para atlet pusat lebih banyak didukung oleh faktor keberpihakan juri.”
“Husss, hati-hati kalau ngomong. Kedengaran pelatih tahu rasa kamu. Dia kan orang Jakarta.”
“Aku mengungkapkan hal yang sebenarnya, Umber! Tidakkah kamu merasakan betapa susahnya kamu terpilih jadi tim inti. Aku yakin pada saat seleksi tingkat nasional kamu juga merasakan ketidakadilan para juri dalam memberikan nilai. Jika selisih jumlah tendangan-masuk kamu dengan lawan hanya sedikit, kecil kemungkinan kamu akan menang. Bahkan bisa jadi kamu tidak mendapat poin.”
Aku tercenung. Ucapan Pierre memang banyak benarnya. Tapi sampai saat ini kami belum berani untuk menyatakan hal ini secara terbuka, melainkan hanya saling bisik-bisik berdua. Banyak pertimbangan yang harus dipikirkan, terutama karier kami sebagai atlet.
“Terus, apakah kamu……….”
“Umber Singam! Dipersilahkan memasuki arena.”
Panggilan dari MC memutus pembicaraan kami. Aku segera mengenakan perlengkapan dan menuju ke arena. Ini adalah pertandinganku yang sangat menentukan, sebab hanya dengan kemenangan minimal selisih empat poin, aku bisa lolos ke Asean Cup. Aku melangkah sambil berdo’a.
*****
“Wow, luas sekali gedung olahraga ini, bisa memuat sampai limabelas arena pertandingan,”5 aku berdecak kagum. Mataku tak lepas menyaksikan sekeliling. Susunan matras yang ditata rapi, tribun yang bersih dan nyaman, serta pengaturan cahaya yang artistik namun berfungsi optimal. Di bagian kiri gedung ada ruang ganti, ruang penimbangan badan, ruang tes doping, ruang do’a dan kamar mandi lengkap dengan segala fasilitasnya.
“Jangan heran, Korea adalah negara tempat taekwondo berasal. Sudah barang tentu mereka sangat memperhatikan keberadaan olahraga ini,” pelatihku menjawab. “Dulu, akhir tahun 1996,” dia melanjutkan, “tempat ini masih berupa tanah kosong dengan sedikit semak. Waktu itu kami bertanding di auditorium Universitas Namseoul. Menurut kabar, pemerintah daerah Pusan baru membangun gedung ini awal tahun 2000.”
“Dan sekarang sudah semegah ini!” Aku masih terkagum-kagum dan terus menatap berkeliling saat rekan-rekan satu tim mulai beranjak keluar.
Jangankan berada di tempat ini, saat dipanggil untuk ikut pemusatan latihan di Jakarta dan menginjakkan kaki pertama kali di ibukota Indonesia tersebut, aku sudah terkagum-kagum. Maklum, aku dilahirkan di pedalaman Kalimantan Tengah. Masa kecilku lebih banyak kuhabiskan untuk merambah hutan dan menelusuri sungai sambil sesekali berburu buaya, ular phyton ataupun harimau belang. Namun aku beruntung karena semua itu telah menempaku sedemikian rupa sehingga memiliki fisik yang kuat dan nafas yang panjang. Keberuntungan itu masih berlanjut saat aku nekat meneruskan sekolah ke ibukota propinsi, Palangkaraya. Baru saja tiba di kota itu lewat dermaga Kereng Bengkirai, aku sudah terlibat perkelahian berdarah di area pelabuhan karena membela diri dari sejumlah preman yang memalakku. Lalu serombongan petugas keamanan pelabuhan meringkus kami. Di ruang interogasi, tanpa disangka entah dari mana, ada seorang bapak yang memaksa masuk. Kulihat dia menghampiri para petugas dan terlibat dalam pembicaraan yang serius. Sejurus kemudian dia menghampiriku lalu berkata, “Ayo ikut aku. Kamu tidak jadi dihukum. Aku sudah memberikan jaminan.”
“Maksud bapak?”
“Sudahlah, ikut saja. Nanti kamu juga akan paham. Kamu pasti datang dari udik, kan? Kehidupan di kota memang begini. Kenalkan, aku Nahson Dehen, koordinator pencari bakat atlet bela-diri KONI Daerah Palangkaraya.”
Pertemuan itu ternyata membawa keberuntungan lain. Aku dipilih menjadi atlet daerah. Fasilitas demi fasilitas aku terima, termasuk biaya sekolah dan tempat tinggal. Bahkan setelah lulus, aku diberi beasiswa untuk kuliah di pulau Jawa, dengan syarat harus siap jika sewaktu-waktu dipanggil untuk memperkuat daerah dalam event tertentu.
‘Plak’, tepukan di pundak yang cukup keras membuyarkan lamunanku. Si Pierre, tertawa cekikikan.
“Ada apa kok melamun? Survei tempat pertandingan sudah cukup. Sekarang kita harus kembali ke penginapan guna mempersiapkan diri untuk ikut upacara pembukaan besok pagi. Setelah itu, sesuai undian, tim kita akan langsung bertanding.”
Aku berjalan mengikuti langkahnya keluar gedung. Matahari sudah condong ke barat dan lampu jalanan mulai dinyalakan. Gedung itu terlihat semakin indah dihiasi kerlap-kerlip cahaya senja. Ahh, lagi-lagi aku beruntung, pikirku. Aku bisa sampai di tempat ini. Saat pertandinganku untuk seleksi terakhir, aku tidak pernah menduga bisa menang dengan selisih tujuh poin. Nampaknya lawanku waktu itu terlalu gugup dan terbebani target.
Target? Ya, target. Aku juga selalu dibebani target oleh pelatihku. Upaya untuk menang sudah pasti melahirkan suasana persaingan yang keras. Kompetisi untuk menjadi yang terbaik selalu terjadi. Tapi akhir-akhir ini aku merasa ada sesuatu yang hilang. Dulu, saat pertama kali terjun di kejuaraan nasional, aku masih merasakan semangat sportivitas yang dijunjung tinggi oleh segenap pegiat pertandingan. Namun sekarang, kepiawaian marketing telah menampilkan sisi kelam dunia olahraga. Sportivitas yang dulunya sangat diagungkan kini tergeser oleh semangat menang yang menghalalkan segala upaya dan cara. Kasus doping menjadi peristiwa biasa dan bukan lagi isu besar. Takut dan malu kalah menjadi momok setiap atlet dan kontingen yang bertanding.
Belum lagi jika bicara masalah eksploitasi atlet. Demi mengejar kemenangan, seorang pelatih akan dengan tega memaksa atlet yang cedera untuk turun bertanding. Dokter tim juga sama busuknya, mau saja memberikan rekomendasi sehat yang sangat bertolak belakang dengan hasil diagnosa. Selain itu, dalam tiga tahun terakhir aku menyaksikan sendiri bahwa untuk mencetak kader unggul, biasanya pembinaan atlet muda dilakukan sedini mungkin. Tapi tanpa disadari, hal ini justru membahayakan fisik dan mental si atlet. Bila buruh anak-anak telah mendapat perhatian, dunia masih menutup mata pada eksploitasi atlet anak-anak. Mata kita masih dikagumkan oleh gerak-gerik tubuh yang meliuk indah. Pernahkah terlintas bagaimana mereka ditempa dan dilatih? Seingatku, atlet taekwondo junior mulai berlatih secara intensif dan terprogram sejak usia enam atau tujuh tahun. Porsi latihan adalah lima puluh jam dalam tujuh hari. Coba bayangkan, berapa jam sehari dari masa muda mereka yang tidak bisa dinikmati. Akibatnya mereka kehilangan imajinasi dan kreativitas. Opini pelatih menjadi sumber yang sangat berpengaruh dalam membentuk kepribadian mereka. Beruntung jika sang pelatih adalah orang yang pandai memanusiakan manusia. Namun apa jadinya jika dia hanya memikirkan uang bonus dan kontrak?
“Sekarang kalian boleh santai sampai jam sembilan malam. Tapi setelah itu semua harus masuk kamar dan tidur!” perintah dari pelatih mengagetkanku. Busyet, rupanya sepanjang perjalanan aku terus melamun, sehingga tidak sadar bahwa kami sudah sampai ke penginapan.
*****
Atraksi gabungan dari atlet taekwondo utusan masing-masing kontingen baru saja berakhir. Tepuk tangan membahana. Tribun berkapasitas enam puluh ribu penonton itu penuh sesak dengan para pendukung dari masing-masing negara. Aku melangkah ke pinggir arena sambil menyeka keringat. Sialan, rutukku dalam hati. Dari jumlah delapan orang atlet dalam kontingen Indonesia, tidak ada satupun yang mau diutus untuk atraksi gabungan. Pierre beralasan bahwa dia takut berat badannya turun jika harus banyak bergerak sebelum bertanding. Memang ketika penimbangan ujicoba kemarin berat badannya turun sampai nyaris mendekati standar minimal untuk kelas bantam.6 Jika berat badannya tidak cukup dia akan didiskualifikasi. Sementara teman-teman yang lain beralasan takut cedera sebelum bertanding. Payahnya lagi, mereka sepakat menunjukku untuk tampil. Akhirnya aku terpaksa menjadi satu-satunya utusan kontingen Indonesia dalam tim gabungan tersebut, padahal rata-rata kontingen lain mengutus minimal dua orang. Untung aku cuma kebagian atraksi pemecahan genteng dan bata. Kalau sampai kebagian atraksi jurus, mungkin penampilanku akan jelek sekali, soalnya gerakanku tidak halus.
Ah, sudahlah…..sudah berlalu, pikirku kemudian. Toh sekarang upacara pembukaan akan ditutup dengan ramah-tamah antar kontingen. Sudah menjadi hal lumrah di kalangan atlet bahwa kesempatan ini akan digunakan untuk mencari info tentang calon lawan. Kubuka daftar undian. Untuk kategori kelas terbang,7 aku harus melakoni total delapan pertandingan jika ingin mencapai final. Wow, keberuntungan itu lagi-lagi datang. Dari sekilas biodata yang kubaca, lawan-lawanku tidak ada yang namanya berkibar kencang di blantika kejuaraan taekwondo. Sebelum ini aku sudah pernah terjun di ajang SEA Games dan pra olimpiade, tapi belum pernah kulihat nama-nama mereka. Hanya satu nama yang membuatku agak resah, Kim Shung Hye, atlet Korea yang menjadi juara Asean Cup periode lalu. Tapi menurut daftar undian, aku baru akan bentrok dengannya di semifinal, itupun jika aku mampu menang dalam enam pertandingan sebelumnya.
“Umber, aku ke sebelah sana dulu,” Pierre mencolek lenganku, “aku mau ke tempat berkumpulnya kontingen Thailand.”
“Oke, selamat menginvestigasi lawan,” kataku mengolok-olok dia.
Hm, di sudut kiri sana banyak anggota kontingen Korea yang berkumpul. Tampaknya mereka mengirimkan atlet untuk semua kategori kelas.8 Berarti aku harus……….
“Excuse me, may I talk to you to know you further?” sapaan lembut itu mengagetkanku.
Aku menoleh. Seorang atlet putri, parasnya lumayan cantik, bahkan sangat cantik untuk ukuran petarung. Apalagi dia sedang tersenyum manis kepadaku. Kubaca tulisan di jaketnya: Malaysia. Kubaca kartu identitas yang tergantung di lehernya: Fatma Azizah, Female Fin Class.9
“Yes, you may. But I see that you are a Malaysian and I am an Indonesian. Would you like to talk in Malay language? I hope it will be easier and closer,” aku langsung menjawab antusias. Sejurus kemudian aku baru sadar bahwa jawabanku tadi terlalu panjang untuk sapaan perkenalan dan terkesan ingin mengatur.
“Baiklah,” dia menjawab sambil tetap tersenyum. Aku jadi malu sendiri. “Panggil saya Fatma. Saya kagum dengan atraksi tuan.”
“Panggil saya Umber,” aku latah sambil menunjukkan kartu identitasku. “Kenapa kamu bisa kagum dengan atraksiku. Bukankah gerakan tadi sangat biasa?”
“Fatma kagum karena sebenarnya Fatma punya memori yang berkesan dalam gerakan itu. Kakak Fatma juga sangat gemar melakukannya. Bahkan Fatma tertarik untuk masuk taekwondo karena gerakan tersebut.”
Jawabannya terdengar jujur dan polos. Seketika kami menjadi akrab. Berbicara dengannya sungguh mengasyikkan. Darinya aku mengetahui bahwa kakaknya ternyata bertanding di kelas yang sama denganku. Kubuka lagi daftar undian. Hedayat Ali Aziz, nama sang kakak tercantum di sebelah kiri bagan, berseberangan jauh dengan namaku. Kuhitung-hitung nampaknya kami tidak akan sempat bentrok, kecuali jika sama-sama menembus final. Itupun dengan catatan dia menang atas Jungko Matnam di perempat final, padahal Jungko adalah atlet Thailand yang menjadi runner up Asean Cup sebelumnya. Aku sendiri pesimis bisa sampai ke semifinal.
“The match will begin in five minutes. All athletes have to prepare themselves“, pengumuman dari MC memutus obrolan kami. Tak terasa waktu ramah-tamah berakhir sudah. Aku baru ingat, bahwa aku tidak sempat bertemu dengan Kim Shung Hye untuk menjajaki kekuatannya. Ah, tidak apa-apa, pikirku. Lebih baik aku konsentrasi untuk pertandingan yang sebentar lagi harus kujalani.
*****
“Tapi Pak, cidera Umber cukup mengkhawatirkan. Pertandingan melawan Kim telah menguras banyak tenaganya. Sebaiknya dia beristirahat untuk persiapan final,” Pierre mencoba membujuk pelatih.
“Aku tidak menyuruhnya berlatih. Aku hanya menyuruhnya untuk melihat rekaman pertandingan Hedayat, lalu mempelajari gerakan ringan untuk melumpuhkan calon lawannya itu. Lagipula harapan untuk mendapat medali emas tinggal ada pada Umber. Jika aku gagal memenuhi target minimal satu emas maka orang-orang PBTI10 akan memecatku sebagai pelatih timnas.”
Aku hanya diam saja mendengarkan pelatihku berdebat dengan Pierre. Lutut kiriku masih nyeri. Terapi yang diberikan tim medis hanya bisa mengurangi rasa sakit. Sebenarnya aku ingin tidur lebih awal agar bisa fit menjelang final besok pagi, tapi bagaimanapun juga aku harus mematuhi keputusan pelatih.
Sulit dipercaya, keberuntungan datang padaku silih berganti selama kejuaraan ini. Pertanda apa ini, pikirku. Setelah berhasil menembus semifinal, tanpa diduga aku bisa menang atas Kim dengan sebuah tendangan keberuntungan. Waktu itu poin yang diraih Kim sudah jauh mengungguliku. Tapi itu ternyata membuatnya terlalu meremehkanku. Akibatnya, tanpa dia sangka aku bisa mendaratkan tendangan keras di kepalanya menjelang menit-menit akhir ronde ketiga. Aku menang KO, meski dengan tubuh babak belur.
“Kekuatan berasal dari luar diri kita dan bisa hilang setiap saat, tapi semangat berasal dari dalam dan tidak akan hilang selamanya. Kebanyakan orang lebih siap untuk kalah atau menerima kesialan, daripada menjadi juara atau menerima keberuntungan,” kata-kata Fatma yang diucapkannya buatku kemarin kembali terngiang. Meskipun tidak paham maksudnya, aku mencatat kata-kata itu dalam buku harianku. Aku jadi tersenyum sendiri ketika ingat bahwa sesaat sebelum bertanding di semifinal, aku membuka catatan tersebut. Dan kata-kata itulah yang menyemangatiku, membuatku bisa bertahan dari gempuran Kim. Menurut Fatma, kata-kata itu selalu diucapkan kakaknya untuk dia setiap kali akan bertanding. Fatma hanya bisa mencapai perdelapan final, tapi penampilan bertarungnya sungguh atraktif dan sportif. Tak sekalipun dia berusaha mencurangi lawan. Dan besok, kakaknya akan menjadi lawanku di final.
“Sudahlah, aku masih sanggup untuk berlatih ringan,” aku menengahi perdebatan antara Pierre dengan pelatih. “Tapi tolong porsinya dikurangi dan durasinya diperpendek.”
“Oke,” pelatihku tersenyum senang. “Kamu harus bisa merebut emas!”
Pierre mendengus. Tapi sebelum melangkah pergi dia menepuk pundakku.
“Kudoakan semoga kamu menang besok pagi. Kudoakan pula semoga setiap pelatih bisa lebih familiar dan empati terhadap atlet.”
Aku menatap punggung Pierre sebelum tubuhnya menghilang di balik pintu kamar penginapan.
*****
Akhir ronde kedua, nafasku sudah terengah-engah. Hedayat ternyata mengubah taktik secara total sehingga rekaman pertandingannya yang kulihat tadi malam jadi tidak berguna. Dia sudah unggul lima poin dariku.
Aku duduk mengatur nafas di sudut biru,11 menunggu lonceng ronde ketiga, ronde terakhir. Sulit sekali untuk bisa menyusul perolehan poin lawanku. Satu-satunya cara untuk menang adalah dengan berjudi melancarkan tendangan ke arah kepala dengan tujuan meng-KO lawan. Tapi pertahanan Hedayat sangat rapat. Apalagi sorak-sorai pendukungnya cukup mempengaruhi konsentrasiku.
“Kamu harus menang!” pelatihku membentak pelan. “Kalau sulit menembus pertahanannya, cobalah untuk sedikit curang dalam jarak dekat. Yang penting wasit dan para juri tidak melihat!”
Aku jadi ragu. Tapi ronde ketiga akan segera dimulai dan aku tidak sempat berpikir. Aku melangkah memasuki arena. Wasit memberikan aba-aba. Aku mencoba melakukan pancingan agar pertahan Hedayat terbuka, namun dia menyadari taktikku dan mengendorkan serangan. Waktu terus berjalan dan kami sama-sama belum berhasil menambah poin. Tinggal empat puluh detik lagi.
“Kamu harus menang! Harus!!” teriakan pelatih menggema dari pinggir arena. Aku tiba-tiba jadi sangat bernafsu. Egoku menyeruak, aku harus menang apapun caranya. Segera aku melakukan serangan tipuan agar bisa clinch. Dalam jarak hampir berpelukan aku menyadari posisi Hedayat membelakangi wasit. Kesempatan emas, batinku. Lutut kananku naik dan menghantam kemaluannya12 tanpa ada yang mengetahui. Dia terjajar lalu membungkuk menahan sakit. Secepat kilat aku melancarkan tendangan naryo chagi13 ke ubun-ubunnya, disusul dengan dwichagi ke dagunya. Kena dengan telak! Hedayat jatuh berguling. Hidung dan mulutnya mengeluarkan darah. Wasit menghentikan pertandingan kemudian menyatakan aku menang. Sebelum meninggalkan arena aku sempat menatap tim medis Malaysia menandu Hedayat keluar. Juga Fatma yang terlihat cemas berlari di samping tandu. Sementara di sudut, pelatihku tampak berjingkrak kegirangan.
*****
Tiba saatnya penyerahan medali. Setelah rehat selama hampir dua jam aku merasa lebih segar dan rileks. Tadi, rekan-rekan satu tim bergantian mengucapkan selamat kepadaku. Pelatihku kelihatan sangat senang. Aku sendiri masih sedikit heran atas kemenangan yang tak disangka. Bayangkan, seorang debutan keluar sebagai juara dalam event yang cukup bergengsi. Rasa heran itu masih menyelimutiku, bahkan sampai tiba giliranku untuk berada di atas podium dalam rangka menerima hadiah.
Aku menatap ke arah deretan panitia dan tribun tamu kehormatan. Sebentar lagi petugas pengalungan medali akan tiba di hadapan kami. Namun sekonyong-konyong, dari arah pintu masuk, ada seorang ofisial kontingen Malaysia menghampiri meja panitia dengan tergesa-gesa lalu berbicara singkat.
“Berita duka. Hedayat Ali Aziz, atlet kelas terbang dari kontingen Malaysia, telah meninggal dunia setengah jam yang lalu di Rumah Sakit Seoul. Dia mengalami penyumbatan rongga udara oleh darah beku di tulang tengkorak. Sebelum pengalungan medali, kami mohon hadirin sudi mengheningkan cipta selama satu menit.“
Pengumuman dari MC membuat gedung menjadi hening. Aku tersentak! Benarkah ini? Benarkah tendanganku telah mencelakainya? Benarkah kecuranganku telah berakibat sefatal ini? Ya Tuhan! Betapa kejamnya aku. Apa bedanya aku dengan mereka yang selama ini kuanggap menghalalkan segala cara untuk menang? Ambisi untuk memenuhi target emas kontingen telah menggelapkan mataku. Jatuh sudah seorang korban akibat kecurangan.
Aku masih seperti orang linglung ketika panitia mengalungkan medali emas ke leherku. Mataku menatap kosong. Seperti robot aku menerima jabat tangan dari mereka. Kugenggam medali itu dan serta-merta wajah Fatma terbayang di benakku.
Ah, medali itu……..tak lepas kupandangi di telapak tanganku. Tali pengalungnya serasa menjepit leherku. Kemilaunya membutakan penglihatanku, memberikan nuansa cemerlang yang menggiring perasaanku ke pertandingan demi pertandingan yang telah kulalui. Dan bayangan itu………wajah cantik milik Fatma yang nyaris sempurna menari-nari di pelupukku. Melela mengendap tak usai-usai. Teriakannya dari pinggir arena seakan-akan menggema lagi, membahana mengalahkan suara tepuk tangan pendukung lawanku, dan gema itu seperti tak ingin berhenti.
Tiba-tiba sebuah rasa kehilangan yang amat sangat dalam menyergapku. Apalah artinya medali ini, piala ini, piagam ini, bonus ini, bahkan penobatan man of the match ini. Tak kudengar lagi sorak sorai teman-teman satu kontingen yang mengelu-elukanku, tak kuperhatikan lagi sambutan ketua panitia penyelenggara yang memujiku, tak kurasakan lagi pijakanku di atas podium pemberian hadiah. Yang ada hanya gigir ngilu di keping hati, saat aku berusaha keras mengingat kata-katanya yang kucatat di buku harianku, dua hari sebelum kutendang KO kakaknya di pertandingan final……….
- Yogyakarta, akhir Januari 2006.
- Kenangan Asean Cup Taekwondo Championship, Desember 2005.
- Teriring salam untuk Fatma Azizah binti Abdul Majid, atlet tarung taekwondo kelas fin putri dari kontingen Malaysia.
1. Bahasa Korea, secara harfiah artinya “lanjutkan!” Merupakan salah satu aba-aba dalam pertandingan taekwondo.
2. Tendangan setengah lingkaran dengan punggung kaki, diarahkan ke perut atau dada lawan.
3. Tendangan sambil memutar tubuh membelakangi lawan, diarahkan ke kepala.
4. Dalam taekwondo, seorang atlet dinyataan lolos mutlak apabila punya catatan 25% kemenangan KO atau TKO dari total pertandingan seleksi tanpa pernah sekalipun kalah.
5. Sebuah arena bertanding taekwondo terdiri dari susunan matras dengan luas 12×12 m.
6. Kelas bantam putra taekwondo = 58,1 – 62 kg.
7. Kelas terbang putra taekwondo = 54,1 – 58 kg.
8. Dalam taekwondo ada 8 kelas putra-putri untuk kategori tarung dan satu regu berjumlah minimal 6 orang dan maksimal 12 orang untuk kategori seni jurus. Jika sebuah kontingen mengirim untuk semua kategori, maka jumlah atletnya antara 22 sampai 28 orang.
9. Kelas fin putri di taekwondo = 46 – 50 kg.
10. Pengurus Besar Taekwondo Indonesia, sama dengan PSSI di sepak bola.
11. Pertandingan taekwondo menggunakan istilah sudut biru dan sudut merah sebagai tempat jeda antar ronde bagi atlet dan pelatih.
12. Dalam pertandingan resmi taekwondo, dilarang untuk menyerang daerah kemaluan.
13. Tendangan yang gerakannya seperti mencangkul.
pengumuman pemenang buat lomba menulis cerpen dan puisi yang doperpanjang nyampe akhir tahun 2007 dmana sih?
boleh gak kirim ke emailku aja…
makasih..
Assalamu’alaikum,…………Gua Pecinta Taekwondo asal dari aceh timur dan ingin mendapatkan aba-aba seluruh kata-kata korea untuk memperdalam ilmu taekwondo yang aku pelajari, tolong kirim ya
redaksi pengumuman lomba cerpen 2008 dah da belum? katanya februari tapi kok lum muncul juga di website. tolong dong kasih tahu ke e-mailku ……………….thanks