Andai Aku Bukan Nisa
Januari 3rd, 2007 by jokerholic
Rumah.Ya tempat ini dapat dikatakan rumah karena memiliki atap dan dinding walau hanya terbuat dari anyaman bambu berlantaikan tanah. Tak jelas, mungkin rumah mungkin pula gubug atau apalah namanya, yang jelas disitulah aku mengarungi bahtera kehidupan bersama suamiku Ardi. Kehidupan yang ku anggap sebagai kehidupan yang harmonis.
Mentari pagi mulai terjaga dari tidurnya. Aku melongokkan kepalaku keluar jendela setelah aku mematikan lampu teplok dan melepas mukena yang kupakai untuk sholat subuh tadi, Ardi sudah berangkat kerja. Aku menjadikan memandangi matahari terbit sebagai ritual yang pantang aku lewatkan. Matahari terbit adalah awal dari kehidupan makhluk Tuhan. Aku menyukainya karena dari jendela rumah atau gubugku, aku juga dapat menikmati panorama pedesaan yang asri. Kebun sahang abah Muhlis yang hijau keputih-putihan setelah diterpa embun pagi atau juga pohon sengon yang ditanam oleh abah disekeliling rumahnya dan haram untuk ditebang. Semua tahu siapa abah Muhlis, kata-katanya adalah titah tak terbantah. Abah Muhlis adalah orang yang sangat dihormati didesa kami. Walaupun abah, begitu biasa kami memanggil beliau, bukan RT atau aparat desa, tapi ide-idenya dan sumbangsihnya untuk membangun desa selangkah lebih maju patut untuk dihargai. Abah tak pernah segan untuk menolong penduduk yang memang memerlukan pertolongan, pun kalau ada gotong royong abah tak pernah malu untuk terjun langsung ke lapangan. Ini yang membuat penduduk merasa risih kalau tidak ikut ambil bagian pula saat gotong royong.
Menurut Bu Karjo, dulu sebelum abah Muhlis datang ke desa ini, desa ini kacau balau. Banyak perampok dan pencuri dari desa seberang yang menjarah harta benda milik penduduk. Masih menurut Bu Karjo, setelah kedatangan abah Muhlis 10 tahun silam, semuanya berubah 180 derajat. Abah dulunya penduduk sini juga namun pergi ke kota sejak kecil dan tak seorang pun yang tahu apa yang dilakukan abah Muhlis di kota. Sekembalinya dari kota abah melakukan revolusi besar-besaran didesa kami, sebuah langgar kecil dibangunnya untuk tempat kami sembahyang. Penduduk yang dulunya hanya islam KTP saja, mulai belajar cara sembahyang dan mengaji pada seorang ustadz yang sengaja didatangkan oleh abah Muhlis. Penduduk juga tak perlu meminjam uang pada rentenir lagi, karena abah pasti akan menolong mereka yang memerlukan dana dengan senang hati.
Maling dan rampokpun kini sudah ciut nyali, apalagi setelah abah mengusulkan untuk membangun POSKAMLING kekelurahan dan gol. Abah pula yang mengajari penduduk bagaimana cara bercocok tanam yang benar, entah itu sahang, padi, jagung ataupun buah-buahan lainya. Konon, dari omongan mulut ke mulut, abah adalah seorang insinyur pertanian di sebuah universitas terkenal di Jakarta.
Kebaikan abah bukan sesuatu yang dilebih-lebihkan, aku merasakan sendiri kebaikan abah. Hidupku dan Ardi tak lagi terlunta-lunta juga karena kebaikan abah yang membangun rumah atau gubug mungil kami dan segala fasilitasnya. Aku dan Ardi memang bekerja pada abah. Siangnya Ardi menggarap kebun sahang abah, kadang mencangkul, menyemprot rumput liar atau memetik sahang apabila sudah musimnya. Kadang juga menyadap karet. Aku biasanya membantu acil Ida, istri abah, didapur, tapi kini abah melarangku bekerja karena usia kandunganku yang sudah memasuki masa-masa hendak melahirkan. Maklum, abah setidaknya mempekerjakan 30 orang untuk mengurusi kebun sahang dan karetnya. Semua pekerja adalah penduduk desa kami yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Pada malam hari Ardi dan juga aku mengajari anak-anak mengaji di langgar. Ah, andai semua manusia seperti abah, pasti takkkan ada dendam, iri dan benci.
Abah Muhlis adalah konotasi dari ayahku. Ah, kalau aku mengingat ayahku, aku sama saja kembali membuka luka lamaku. Semuanya salah ayah. Ayah yang membuat aku terlunta-lunta dulu. Ayah yang membuat aku merasa terbuang dan tercampakkan. Keluarga habib, kata orang–orang. Ayahku pun dihormati karena ayahku adalah seorang habib yang konon masih mempunyai keturunan darah dengan nabi Muhammad S.A.W.
Di Karang Joang, dulu sewaktu aku tinggal di kota, siapa yang tak kenal habib Yahya ?, da`i kondang dengan embel-embel habib didepan nama. Siapa pula yang tak kenal dengan Syariefah Khairunnisa, putrinya yang cantik dan selalu menjadi teman dan bunga mimpi para lelaki di Karang Joang. Hanya menjadi mimpi karena tak seorang pun yang berani untuk mengungkapkan hal itu, walau tatapan mata mereka penuh nafsu saat aku melintas dihadapan mereka. Mungkin karena aku putri dari seorang habib. Ku pikir mereka adalah pengecut.
Ayahku juga yang membatasi pegaulanku. Aku tak boleh bergaul dengan sembarang orang. Takut terkena pengaruh yang tidak-tidak, itu alasan ayahku. Aku hanya diperkenankan untuk bergaul dengan anak pejabat, anak orang kaya ataupun juga putra sesama habib. Kebebasanku dikekang. Semuanya serba di batasi. Aku yang ingin menjadi anak baik, menurut saja apa yang diperintahkan ayah, walau dalam hati aku berontak. Aku takut menjadi anak durhaka, kata ayah anak yang mendurhakai orang tua sama saja mendurhakai Tuhan dan orang yang mendurhakai Tuhan akan di panggang di api neraka.
***
Otakku masih belum bisa dirusak oleh penderitaan. Pita kaset otakku masih dapat merekam jelas di mana pertama kali aku bertemu Ardi. Aku yang saat itu belajar mengendarai mobil, tanpa sengaja menabrak sepeda butut Ardi dari arah belakang. Ardi jatuh ke tanah gersang disamping jalan aspal. Seketika itu pula aku dan sopir pribadi ayahku, secepat kilat keluar dari mobil dan menghampirinya. Dari kepalanya ku lihat jelas darah mengucur cukup deras. Aku sudah siap menerima segala resiko, karena dalam kasus ini memang aku yang bersalah. Pun seandainya saat itu dia menampar wajahku untuk melampiaskan kemarahannya, aku ikhlas, tapi tidak. Ardi bergeming. Ardi hanya berdiri dan meluruskan kembali stang sepedanya tampak pilas, tanpa menoleh kearahku . Lama aku termangu, tak tahu apa yang harus aku lakukan.
“Mas…Mas nggak apa-apa ?”, tanyaku sedikit kikuk.
“Nggak, Nggak apa-apa kok, cuma sedikit lecet “, ekspresi wajahnya tetap sama seperti tadi, tenang tanpa menoleh. Seakan-akan tak terjadi sesuatu pada dirinya. Aku semakin bingung, mungkin dia juga tahu siapa aku atau memang tidak punya hati nurani sehingga tak tampak ada nada marah di wajahnya.
“Saya bawa ke dokter ya, Mas ?”, tawarku sedikit memaksa. Tawaran untuk membalas rasa bersalahku. Darah semakin deras mengucur dari kepalanya.
“Nggak usah, sebentar juga sembuh “, dia menggelengkan kepalanya dan masih saja berkonsentrasi memperbaiki stang sepedanya. Entahlah, antara sadar dan tidak sadar aku melepas jilbab putihku dan mengikatkan kekepalanya dari belakang. Ardi tampak terkejut, tapi aku tak kalah terkejut. Astaga, seumuran baru pertama kali ini aku melepas jilbab di hadapan seorang lelaki yang bukan mahromku, tak kukenal pula. Ardi kini berhadapan denganku dengan jarak yang sangat dekat. Aku salah tingkah. Ardi menatapku tajam, seakan-akan ingin menelanjangi diriku. Ardi mengulurkan tangannya.
“Ardiansyah, panggil saja Ardi “, ujarnya, ” Boleh tahu nama saudari ?”, tanyanya. Aku membalas mengulurkan tanganku. Astaga, lagi-lagi untuk pertama kali aku menyentuh bahkan berjabat tangan dengan lelaki yang bukan mahromku. Tanganku bergetar. Cepat kulepas tanganku dari genggamannya, aku takut dosa. Dia bertanya namaku, ah, aku lega seketika berarti dia benar-benar tidak mengetahui namaku, tapi aku masih ragu, “Kalau saudari keberatan, saya tidak memaksa “, tampaknya Ardi dapat menterjemahkan kegelisahanku. Aku semakin kikuk.
“Tidak, saya sama sekali tidak keberatan. Nama saya…Nadya, ya… nama saya Nadya !”, akuku berbohong, sebab kupikir kalaupun dia tidak mengenali wajahku, mungkin Ardi akan mengenali namaku, apalgi engan embel-embel yang sangat jelas “Syariefah “. Ardi hanya mengangguk-angguk kecil. Jilbabku di kepalanya sudah berubah warna. Merah darah. Aku sebenarnya sangat takut darah, tapi entah mengapa aku kini betah berada dihadapannya.
“Saya antarkan Ardi pulang , di mana rumah Ardi ?“, Ardi menggeleng lemah.
“Saya tidak punya rumah Nadya, saya kemari untuk mencari kerja “, ujarnya lemah. Aku baru mengerti sekarang mengapa dia tidak tahu siapa aku. Aku mengambil dompet di jok mobil dan menyerahkan dua lembar seratus ribuan, tapi Ardi menggeleng. Aku tersinggung dan mengambil empat lembar lagi, tapi Ardi tetap menggeleng.
“Maaf Nadya, saya tidak bisa menerimanya “.
“Kenapa ? apa masih kurang ?”, aku kembali hendak membuka dompetku, tapi dia menahan tanganku. Aku yang tak biasa di pegang lelaki hampir tak kuat menahan diri. Perbuatan Ardi yang memegang tanganku, kuanggap sebagai perbuatan kurang ajar. Aku takut dosa.
“Aku tidak bisa menerima apapun dari seseorang tanpa aku bekerja “, tolaknya halus.
Pertemuanku yang kedua dengan Ardi terjadi disebuah bengkel. Ternyata dia sudah bekerja di bengkel itu. Akhirnya aku juga tahu bahwa Ardi juga seorang penulis yang terkadang menulis di beberapa majalah remaja. Entah apa yang terjadi pada otak dan hatiku, aku mulai sering mengunjungi Ardi di bengkelnya walau mobilku sama sekali tidak rusak. Terus terang aku mulai mengaguminya. Aku juga tak tahu apa yang membuat aku begitu mengaguminya. Dari tatapan matanya aku juga menafsirkan hal yang sama terjadi pada diri Ardi, merasakan sama seperti apa yang aku rasakan. Lima bulan berlalu saat-saat yang kunanti akhirnya terjadi. Ardi mengungkapkan perasaan hatinya lewat sebuah puisi padaku. Tak ada kata tidak dalam kamusku untuk seorang Ardi. Cinta Ardi tak bertepuk sebelah tangan dan berada pada tempat yang tepat, di hatiku.
Aku selalu menghabiskan malam mingguku bersama Ardi, mengakali ayahku agar dapat bersamanya. Satu-satunya yang tahu rahasia hubunganku dengan Ardi adalah sopir pribadi yang mengerti seluk beluk kemana aku jalan, karena saat aku menabrak Ardi dulu, dia ikut bersamaku, tapi aku sudah mengancamnya untuk tutup mulut. Sampai saat itu aku masih sanggup menyembunyikan identitasku, aku sengaja tak memberi tahunya pada Ardi karena aku takut kehilangan dirinya, aku juga khawatir Ardi sama pengecutnya dengan lelaki lainnya.
***
“Jadi ini katamu pemuda yang bernama Ardi ?”, tanya ayah menunjuk Ardi. Aku mengagguk mengiyakan. Ardi menunduk, mempermainkan jari-jari tangannya. Tampaknya Ardi sudah mulai mengerti siapa aku dan dengan siapa dia berhadapan sekarang.
“Dimana orang tua Ardi tinggal ?”, tanya ayah kemudian. Ardi semakin menunduk, aku tak tahu apa yang ada dalam fikirannya. Aku dan ayah menunggu jawaban Ardi, karena walaupun aku sudah empat bulan berpacaran, aku belum pernah menanyakan hal ini.
“Ayah saya sudah meninggal sejak saya masih kecil, sedangkan ibu tak lagi saya dengar khabarnya. Ibu menjadi gila sejak kepergian Ayah “, mimik Ardi berubah sedih. Matanya memerah menahan desakan air matanya yang hendak mengalir keluar. Aku terkejut dan melirik ayah. Tidak, aku tidak salah lihat, ayah tersenyum sinis.
“Maaf ,Di, kami tidak bermaksud untuk mengingatkan mu akan…”.
“Sudahlah, lagian aku aku tidak pernah menceritakan hal ini kepadamu, Nis “, potong Ardi. Aku tak mengerti Ardi tahu nama asliku dari mana. Ardi berusaha tersenyum, senyum yang di paksakan sehingga terasa hambar.
“Punya pekerjaan tetap ?”, ayah bertindak seperti polisi yang menginterogasi pelaku kejahatan. Ardi kembali ke posisi semula, menunduk. Ayah menyulut rokok filternya. Menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskannya kuat-kuat.
“Untuk sementara saya jadi montir di bengkel dan kadang menulis artikel di bebarapa majalah remaja “, ayah hanya mendengarkan apa yang di katakan Ardi. Mengangguk-angguk. Aku senang, tampaknya ayah menyukai kesopanan dan kejujuran Ardi.
“Apakah kamu benar-benar mencintai Nisa ?”, ayah kembali menghisap rokoknya, lalu mempermainkan asapnya.
“Benar, Pak. Dan kalau bapak mengizinkan mungkin setelah uang saya terkumpul banyak, Insyaallah saya berniat melamar Nisa !”, aku hampir saja roboh mendengar ucapan Ardi. Senang dan terharu dengan keberanian Ardi mengatakan hal itu pada ayah.
“Melamar ?, kamu mau kasih makan apa anakku?, mau kamu kasih makan baut-baut mobil rongsok atau dengan tulisan-tulisanmu di majalah ?”, Ayah bangkit dari duduknya. Menuding-nuding wajah Ardi. Ardi tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. Aku lebih dari Ardi. Perasaan kewanitaanku bangkit. Aku menangis.
“Kami benar-benar saling mencintai, Ayah !”, isakku dalam tangisku.
“Cinta tahi kucing. Rumah ini tak pantas menerima gembel kurang ajar seperti kamu. Nisa pun tak pantas bersahabat apalagi menikah dengan mu !”, suara ayah semakin meninggi.
“Saya…”, plaaaak. Belum sempat sempat Ardi mengatakan apa yang ingin dikatakan, tangan ayah sudah lebih dulu mendarat dipipi Ardi. Ardi terhuyung-huyung roboh. Aku histeris. Ummi yang mencoba menenangkan ayah, tak luput terkena tangan ayah.
“Sekarang keluar kamu dari rumah ini atau kau benar-benar ku bunuh “, ayah mengusir Ardi. Tangisku semakin menjadi-jadi, semakin keras.
“Baiklah, Pak. Tapi tolong bapak ingat satu hal, saya mencintai Nisa dan saya akan berusaha untuk membuat anda merestui hubungan kami !”, ancam Ardi sebelum benar-benar meninggalkan rumahku.
Plaaaak. Kini aku yang jadi pelampiasan kekesalan ayah. Aku memegang pipiku. Panas. Sakit, tapi ada yang lebih sakit dari itu. Aku tak tahu apa yang bisa kuperbuat selain menangis.
“Bagus Nisa, jadi selama ini kepercayaan yang ayah berikan kamu pergunakan untuk bergaul dengan gembel semacam Ardi , anak durhaka kamu !”, nampaknya kemarahan ayah mencapai titik tertinggi.
“Sudahlah ayah, Nggak enak didengar tetangga, jangan teriak-teriak begitu “, Ummi menenangkan ayah sambil merangkul tubuhku.
“Kasih tahu anakmu yang tak tahu di untung itu “, ayah membanting pintu kamar.
“Sudahlah, Nisa. Darah tinggi ayahmu kumat lagi “, Ummi memapahku kembali duduk di sofa. Ummi membelai rambutku. Aku menumpah segala emosiku dengan menangis dan saat in hanya Ummi tempat aku bersandar.
“Tapi Nisa mencintai Ardi, Mi !”, tandasku sekali lagi.
“Ummi tahu perasaan kamu Nisa, tapi kamu juga harus mau mengerti dengan keadaan ayahmu. Kamu anak tunggal perempuan Nisa. Jadi sangat wajar kalau ayahmu ingin terus menjaga kehabibannya dengan menjodohkan kamu. Ayahmu sudah menyetujui rencana pernikahanmu dengan putra Habib Rahmat Affandi “, bisik Ummi ditelingaku.
“Apa ?, jadi selama ini Ayah dan Ummi sudah menjodohkan Nisa tanpa sepengetahuan dan persetujuan Nisa ?”, banyak rahasia terbongkar hari itu. Ummi mengangguk lemah, air matanya ikut mengalir.
“Sudahlah Nisa. Cinta bisa datang sambil berjalan “, nasehat ummi hanyalah sebagai pecut menambah perih luka hatiku.
“Apakah semua wanita ditakdirkan untuk tertindas,Ummi ?, apakah Tuhan menciptakan Adam untuk memperkosa Hawa ?”.
***
Aku menghempaskan tubuhku di tempat tidur. Aku benci ayah, aku muak nasehat ummi. tangisku belum juga reda. Aku harus mempunyai tekad. Sekarang bukan lagi zaman Siti Nurbaya. Tekadku sudah benar-benar bulat. Aku ingin menikah hanya dengan seorang Ardi. Dan bukan lelaki lainnya. Aku tak mengerti mengapa ayah semurka itu hanya karena Ardi seorang penulis dan montir. Ayah memang hidup di zaman modern, tapi pemikirannya masih sangat kolot. Aku meraih sebatang spidol di meja belajarku, Aku ingin menyampaikan pesan terakhirku untuk ayah dan Ummi. Malam ini juga aku harus pergi dari rumah yang sudah kuanggap neraka. Tempat penyiksaan bathinku, aku akan mengajak Ardi untuk berlari dari kenyataan ini. Ardi setuju atau tidak itu masalah belakangan, yang terpenting aku harus pergi.
Aku menumpahkan segala deritaku kepada ayah dan ummi melalui secarik kertas.
Ayah dan Ummi terhormat,
Sejak Tuhan meniupkan roh kepada ananda, ananda sudah bertekad untuk mematuhi apa yang Ayah-Ummi perintahkan, tapi segalanya berubah saat Ardi mulai memasuki kehidupan Ananda.
Andai ayah tahu bahwa cinta adalah sesuatu hal yang sangat sakral. Cinta tak akan datang dengan dipaksakan, semuanya akan berjalan alamiah. Ayah mungkin Nanda harus menandaskan sekali lagi bahwa Ananda benar-benar mencintai Ardi dan nanda yakin dengan semua itu. Ardi yang akan menahkodai kapalku untuk menempuh derasnya gelombang kehidupan.
Ananda tak ingin menjadi seorang anak yang durhaka pada orang tua. Tapi ini harus Nanda lakukan demi kebahagian Nanda. jangan pernah mencari Nanda, karena Nanda tak akan kembali kecuali pada saatnya. Pada saat ayah mau merestui hubungan kami.
Salam hormat Nanda
Syariefah Khairunnisa.
Aku meninggalkan surat itu diatas bantal tempat tidurku. Aku benar-benar melarikan diri dari rumah tanpa membawa apapun kecuali pakaian yang aku gaunkan di tubuhku. Tujuanku hanya satu, tempat Ardi bekerja. Di bengkel pak Budi.
Ardi terkejut dengan kedatanganku, tapi lebih terkejut lagi saat aku mengajaknya untuk meloloskan diri dari kenyataan. Ardi terbungkam beberapa saat. Menarik nafas berat. Sama seperti beban itu begitu menyesakkan dada.
“Sudahlah Nisa, kalaupun takdir memvonis kita harus berpisah, kita sebagai manusia tak dapat menentangnya. Status kita memang jauh berbeda, dari semula aku sadari mencintaimu sama saja dengan membuat perapian diatas air “, Ardi menyembunyikan air mukanya. Tapi aku dapat menangkap dengan jelas tirta bening keluar dari kelopak matanya terburai.
“Kamu menyesal mencintai aku, Di ?”, sangsiku.
“Yang aku sesalkan hanya aku yang terlalu berharap banyak cintamu dan kebohonganmu yang memang sudah aku ketahui “.
“Sayap cinta bisa hinggap dimanapun dan kapanpu dia mau dan tak ada satupun ranting cinta yang sanggup untuk menolak kehadirannya ”,
“Sayapmu adalah sayap Cenderawasih dan induk cenderawasih tak akan pernah rela melihat burung yang indah itu singgah di ranting yang hitam terbakar dan telah rapuh “.
“Aku tak pernah meminta kepada Tuhan untuk menjadikan aku sebagai cenderawasih. Aku hanya ingin menjadi burung pipit yang bebas. Ardi, sekarang aku menjadi burung pipit dan akan setia berada diranting hatimu. Kita semua tercipta untuk setia, tapi kita yang sering mengkhianatinya. Kalau ada cinta di hati kita, kenapa kita harus mengingkarinya ?”.
“Kamu akan tetap menjadi cenderawasih walau kamu merontokkan bulu indahmu hanya untuk menjadi pipit “.
“Andai aku bukan cenderawasih. Andai aku bukan Nisa “.
“Diam Nisa, aku bukan solusi. Pulanglah !”, usir Ardi tiba-tiba. Suaranya lantang memecahkan gendang telingaku. Aku bersimpuh di kaki Ardi, menyumpahi kehabiban ayahku, mengutuki kesyariefahanku. Ardi menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Seakan ingin menutup semua penderitaan di hatinya, juga di hatiku. “Benar Nisa, kita tidak bisa mengingkari cinta, kita akan ke desa tempat aku dilahirkan. kertas-kertas sudah penuh untuk kita tulisi dengan penderitaan kita dan kita harus mencari kertas baru. Sekarang tidurlah, malam sudah merangkak larut, sedangkan perjalanan kita besok cukup menguras tenaga “, suara Ardi kembali melunak seperti sedia kala. Aku laksana anak kecil yang mendapat mainan baru, senang tak tertuliskan. Aku menuruti perintah Ardi untuk berangkat tidur. Ardi mencium keningku dan meninggalkan aku tidur sendiri. Entah kemana dia pergi. Aku tidur dengan sebuah harapan baru.
Keesokan harinya aku dan Ardi benar-benar pergi. Dua hari setelahnya, kami menikah resmi didepan penghulu. Abah dan Acil yang menjadi waliku dan juga Ardi.
***
Deru mobil memasuki pelantaran. Membuangku ke alam sadar dari alam kenangan. Aku berdiri agar lebih leluasa melihat mobil yang datang, mungkin tamu abah. Tidak, itu bukan tamu abah. Nopol mobil itu…. Mobil ayahku. Belum sempat aku mengakhiri rasa keterkejutanku, ayah dan Ummi disusul abah dan acil Ida keluar dari dalam mobil. Aku ingin segera berlari dan memeluk abah dan Ummi. Aku ingin meminta maaf dan restu mereka, aku tak ingin menjadi anak durhaka.
Tapi…
Istilah :
Sahang : Merica, Nama rempah-rempah
Acil ( Banjar ) : Bibi, tante, panggilan hormat
Sadap ( me ) : Mengambil getah karet
ceritanya bagus. tapi kok berhenti di tengah jalan? jadi bikin penasaran lho
maaf cerita ini terlau mengada-ada, dan saya mohon jangan mengotori nama habaib
Aku tak se-ide dg tkoh ‘aku
mgkin nisa blum mmprdlam agma, brjbtan tngan, mlpas hjab, dan kwin lari..
Aku rasa pnulisnya bukan s’org mslim