Sri Wulandari
Januari 2nd, 2007 by jokerholic
Wulan mendialogi cermin dihadapannya. Meminta untuk jujur tentang dirinya. Lekat-lekat benar di pandanginya wajah sendiri. Rambut merah dimakan amarah api mentari. Kulit legam menuakan usia. Otot-otot tumbuh di beberapa bagian tubuh. Wulan membelah rambut. Mengepanginya. Pelan sangat, seakan-akan ia takut mahkota itu gugur satu persatu. Takut diguguri tangannya sendiri.
Bayangan hitam bermain-main di kelopak mata. Hitam bahkan sangat kelam. Sedari dulu ia ingin membunuh bayangan itu, tapi bayangannya itu adalah bayangannya sendiri yang mengikuti kemanapun kakinya melangkah. Beberapa kali Wulan ingin membinasakan diri, tapi seketika itu pula bayangan masa depan terhampar di depan mata. Melempar keputusasaannya.
Olokan adalah menunya sehari-hari yang wajib di santapnya. SD, Wulan terusir dari sekolah. Muak ia dengan menunya sendiri. Wulan berontak. Anak kepala sekolah si pramusaji dimemarinya.
Wulan lari dari rumah menuju Jakarta. Terhipnotis dunia kepura-puraan. Ditinggalkan ayahnya yang sudah hampir menyatu dengan tanah. Tak acuh ia dengan semua itu. Untuk mengongkosi kapal laut, Wulan meminjamnya dari rentenir atas nama ayahnya. Menyelami keangkuhan Jakarta, mencari kehidupan yang sebenarnya. Tanpa harus ada keterikatan pada apapun. Menapaki setiap petak untuk seonggok logam recehan.
Tersuruk-suruk, tersungkur jatuh mencium tanah. Menggauli alam kelas bawah, alam yang tak pernah tersentuh oleh orang-orang pemerintahan. Menyanyikan dendang suara hati jiwa tanpa daya.
Manusia takkan pernah puas atas segala keibaan Tuhan. Pun demikian dengan Wulan yang dibentuk alam untuk menjadi jati dirinya sendiri. Menjadikannya seorang kriminal. Keterpepetan melemparkannya ke lembah hitam. Dunia pencopetan. Dan sekali lagi waktu dan keadaanlah yang mendidiknya dan berturut serta dalam semua yang menimpa pada dirinya.
“Kemana kita menggantungkan hari ini ?”, nyaris berbisik pemuda teman Wulan. Mereka jauh dari tampang pencopet, pakaian licin tersetrika, jas plus dasi dilengkapi sepatu yang mentereng. Zaman terus bergulir, matapun mulai pandai menipu sang empunya. Nyaris tampak sama pencopet, perampok, pemerkosa dan pejabat ataupun orang-orang pemerintahan.
“Senen, rezeki kita memang ditabur Tuhan di sana !”, Wulan membersihkan sepatunya. Menginjak tahi anjing saat mereka melintas di depan kampung Arab.
“Ekonomi atau ex ?”.
“Pantang aku menginjak sesama kaum lemah. Kaum berada yang kikir musuh utama kita. Itu yang harus kita timpas. Mengambil harta mereka adalah pahala di mata Tuhan kalau kita meniatinya untuk mengambil zakat dan sedekah yang enggan mereka donorkan “.
“Tapi bukankah kaum the havepun terkadang naik ekonomi ?”, elak temannya.
“Bukankah lebih banyak yang naik ex “, debat Wulan. Wulan memang selalu mendebat mempertahankan pendapatnya. Mendebat sudah adatnya. Temannya tampak enggan untuk mendebat. Taxi tepat berhenti di depan hidung mereka.
“Hati-hati banyak penyakit mewabah “, pesan temannya saat mereka sudah sampai di Senen. Wulan mengernyitkan dahi, sehingga kedua alisnya menyatu. Bertaut.
Lolongan kereta api sudah Wulan ketahui dengan baik. Ada banyak perbedaan antara kereta api ex dan kereta api ekonomi. Wulan sudah sangat faham walaupun mungkin sang masinis sendiri tidak menyadari apa yang kereta mereka teriakkan.
Penumpang berjejal-jejal, memburu waktu dan menabrak siapa saja yang menjadi penghalangnya. Wulan memulai petualangannya. Wulan ikut berjejal-jejal. Dengan awas matanya terus membaca gerak-gerik temannya. Temannya mengangkat jari kelingking, Wulan terpaksa meningggalkan pria berkoper besar. Wulan mendekati pria gendut yang terus mendorong-dorong, dari mulutnya terloncat sumpah serapah. Menganjingi orang sekereta. Wulan tahu, orang seperti ini tak akan terkonsentrasi pada hartanya. Otaknya hanya hanya terpusat pada satu titik, bagaimana solusi agar ia bisa secepatnya lolos dari kereta itu.
“Daun di garasi, botol di udara “, komando temannya.
Dalam sekelumit menit semua barang gendut sudah terpindah tangan. Berganti kepemilikan. Wulan mulai berjalan menjauh., tapi sial baginya HP si gendut berteriak minta tolong dan gendut tampaknya sudah hafal benar-benar suara barangnya itu. Sontak mulutnya ikut berteriak. Orang-orang masih sibuk dengan dirinya sendiri. Mengacuhkan teriakan minta tolong gendut. Gendut mulai menyadari pada saat situasi seperti tak akan ada orang yang sudi meluangkan waktu untuk menolongnya. Gendut mengejar sendiri. Badan besarnya berlari diantara lorong-lorong sempit dan gerombolan manusia sekereta. Menjatuhkan semua penghalangnya. Kali ini gendut di karmai. Wulan terus berjalan, suara gendut lambat laun mulai hilang dari telinganya.
Wulan terus berjalan menyusuri jalan tikus menggapai markas. Bangunan tua. Menunggu temannya datang. Wulan menduduki kursi yang tak kalah tua dengan bangunannya. Membuka dompet dan menghitung isinya. Tiga juta seratus empat puluh tujuh lima ratus lima puluh ribu rupiah. Wulan ternganga sejenak. Dasi dan jas ditanggalkannya berturut-turut. Mentari tegak tepat di atas kepala. Wulan mengamati HP, mempreteli isinya dan mencampakkan kartunya. Cukuplah ambil cuti tidak mencopet selama satu minggu. Temannya masuk bersimbah keringat. Nafasnya seperti diburu. Tanpa kata apapun Wulan mulai membagi hasil jerih payah mereka, walau seorang pencopet, Wulan tak pernah menipu teman satu profesinya. Wulan sesosok manusia jujur.
Wulan mencampakkan dompet ke sarang laba-laba. Temannya tertawa, Wulan mengikuti.
“Wulan…Sri Wulandari, kenapa lo nggak pernah ngasih tahu ke gua kalo nama asli lo Sri Wulandari. Buat apa lo nyembunyiin identitas lo “, tawa temannya semakin nyaring, semakin garing. Menertawakan Wulan.
“Anjing lo, sekali lagi lo berani manggil gua Wulan, jangan salahkan gua kalo` lo nggak bisa liat matahari terbit besok pagi “, ancam Wulan. Wulan sendiri tak tahu dari mana temannya tahu nama aslinya.
“Dasar bencong. Wulan dipalsukan dengan Ryan. Kedengarannya seru juga tuh…!”, temannya terus mengoceh. Darah naik ke ubun-ubun Wulan. Kemarahannya bertamu di hatinya. Diambang alam sadarnya, Wulan mencomot balok yang ada di sampingnya dan menghantamkannya ke batok temannya. Tak ada perlawanan untuk sebuah serangan mendadak. Tanpa ada suara, hanya darah yang terus mengucur dari batok kepala temannya. Wulan sadar temannya itu kini telah ditewasinya. Wulan tertawa. Menertawakan nasibnya.
Uberan polisi melarikan Wulan kembali ke kampung halamannya di Sungai Merdeka. Di temui ayahnya yang telah bangka, bahkan sangat bangka. Mentakziminya. Meminta maaf atas segala kelancangannya. Taburan air mata bapaknya adalah lambang kebahagian orang tua.
Di suatu kesempatan Wulan memburaikan segala isi hatinya, karena Wulan pasti bahwa ayahnyalah dalang dari segala perwayangan hidupnya. Wulan adalah nama ibu Wulan juga, tapi satu hal yang Wulan tak mengerti mengapa ayahnya memberi nama yang sama dengan ibunya. Wulan yakin, nama itu di berikan untuk Wulan sebagai penghormatan bagi ibunya yang terusir dari dunia bersamaan dengan awal kehidupannya. Tapi jawaban ayahnya ternyata jauh dari apa yang Wulan prediksikan selama ini.
“Aku hanya ingin tahu kenapa ayah memberiku nama Sri Wulandari ?”, Wulan bertanya, sementara tangannya terus mencangkul tanah. Sesekali cangkulnya mencium batu ataupun damar. Capil bambu mengakali matahari agar enggan hinggap ke wajahnya. Peluh membanjiri baju bututnya. Matahari terus mengawasi bumi, melotot dan enggan berkedip walau sejenak.
Pak Udin, ayahnya diam. Bernaung pada pohon jambu air yang tumbuh ditengah kebun. Hanya batuk-batuk yang keluar dari mulutnya, sesekali ia menyumpal mulutnya dengan air. Sementara tangannya terus bercanda dengan rokok.
Wulan gelisah menanti jawaban. Terpaksa ia duduk, dahaganya bangkit tersedot panas. Cangkul masih di gengamannya. Wulan mengulang pertanyaan yang sama seperti tadi, tapi kali ini Wulan menaikkan volume suaranya. Pak Udin hanya terkekeh, diiklani batuk-batuk berat. Mulut Pak Udin terus menjadi cerobong rokok.
“Bukankah nama Sri Wulandari itu nama yang bagus “, respon Pak Udin dingin.
“Kenapa ayah tak memberiku nama seperti kebanyakan orang, bukankah dengan nama Sri Wulandari aku kelihatan seperti orang gila ?”.
“Setahuku tak ada orang gila yang bernama Sri Wulandari “.
“Maksudku kenapa ayah tak memberiku nama Ahmad, Bejo atau Muhammad ataupun nama lainnya yang memang pantas untuk aku sandang “.
“Kau akan tahu setelah malaikat maut menjemput aku “, Wulan merasa seakan disulut api. Amarahnya bangkit mengalahkan semua perasaannya. Wulan mengutuk segala jenis teka-teki. Entah setan dari mana yang mengomando dirinya, cangkul sudah berpindah dari tangannya ke kepala pak Udin. Badan Pak Udin yang kokoh berpijak pada bumi selama 84 tahun kini roboh. Wulan bergeming.
“Kau sudah menemukan jawabannya anakku “, senyum tersungging di tepi bibir Pak Udin.
“Jawaban apa ?”, desak Wulan seraya mengambil rokok Pak Udin yang tergeletak di tanah, kemudian menghisapnya.
“Sri Wulandari, mungkin nama itu telah melemparkanmu ke dalam dunia yang sejati. Yang pasti kamu menjadi alien di planetmu sendiri, tapi dengan nama itu mendidikmu menjadi seorang yang berani, yang tidak mudah menerima kenyataan “, mata Pak Udin mulai memberat, bicaranya masih terang.
“Jadi ayah memberiku nama Wulan hanya dengan harapan agar aku menjadi seorang pemberani dan melawan semua nasib yang tak aku harapkan ?“, Wulan bertanya gelisah. Pak Udin mengangguk untuk terakhir kalinya.
Wulan terus menghisap rokoknya.
***
Sedikit bocoran bahasa copet :
Penyakit : Polisi
Daun : Uang
Udara : Kantong baju atas
Botol : HP, Handphone
Bagasi : Kantong celana belakang
Sayap : Kantong celana samping
Isyarat Jempol : Sasaran empuk/sasaran belum tahu
Kelingking : Sasaran sudah tahu