Senja Tertegun Sepi
Januari 2nd, 2007 by rifannazhif
Ketika senja sebagai akhir mimpi
hadirkan masa suram memasung perih
perjalanan yang tiada memiliki paut
selain ombak menjilati bantaran rapuh
berulang-kali, bersuap jiwa terperosok jurang
di mana teriak hanya sipongang
juga pantulan yang menghantam-hantam telinga
sementara di langit
pelangi bukan serupa jembatan malaikat
dimana aku akan meniti menyongsong Tuhan
karena sepi menua serupa gugur daun-daun
merupakan sisa kuncup wangi ketika shubuh dilecut mentari
siang yang garang menyusutkan keringat selaksana sungai
kehidupan penuh dusta
cita-cita dosa, sampai sudah sampai pula
sesal serupa kain blacu terendam pemutih
tiada berupa selain gombal-gombal penghias keringat
buduk
.
Ketika senja sebagai perupa sepi
tertegun pula tak punya jawab
sesampai pusara pun tiada bernama
entah lecutan terakhir mengakhiri segalanya
atau merupakan permulaan derita
dari segala caci-maki, nista di muka bumi
yang kudarahi perawannya
.
Ketika senja tertegun sepi
waktu pergi itu pun pasti
menjemput tangis selaksa mimpi
.
(Palembang, 29 Mei 2004)
.