KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Senja Tertegun Sepi

Ketika senja sebagai akhir mimpi

hadirkan masa suram memasung perih

perjalanan yang tiada memiliki paut

selain ombak menjilati bantaran rapuh

berulang-kali, bersuap jiwa terperosok jurang

di mana teriak hanya sipongang

juga pantulan yang menghantam-hantam telinga

sementara di langit

pelangi bukan serupa jembatan malaikat

dimana aku akan meniti menyongsong Tuhan

karena sepi menua serupa gugur daun-daun

merupakan sisa kuncup wangi ketika shubuh dilecut mentari

siang yang garang menyusutkan keringat selaksana sungai

kehidupan penuh dusta

cita-cita dosa, sampai sudah sampai pula

sesal serupa kain blacu terendam pemutih

tiada berupa selain gombal-gombal penghias keringat

buduk

.

Ketika senja sebagai perupa sepi

tertegun pula tak punya jawab

sesampai pusara pun tiada bernama

entah lecutan terakhir mengakhiri segalanya

atau merupakan permulaan derita

dari segala caci-maki, nista di muka bumi

yang kudarahi perawannya

.

Ketika senja tertegun sepi

waktu pergi itu pun pasti

menjemput tangis selaksa mimpi

.

(Palembang, 29 Mei 2004)

.

Tinggalkan Komentar