KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Mekarnya sang Bunga

Duduk selama berjam-jam benar-benar membuatku lelah. Tapi aku harus terus bertahan, “Rapat tinggal setengah jam lagi…” Hiburku dalam hati, “Capek ya Hana? Tahan dulu ya…” Hibur seseorang yang ada di sebelahku sambil setengah berbisik. Aku tersenyum kecil. Sebenarnya aku agak segan dipanggil Hana*, sebab namaku adalah Bunga. Namun aku bukan gadis yang tega menyakiti orang lain hanya karena sebuah nama.

Setelah rapat selesai, aku merenggangkan tubuh dan bersantai di taman perusahaan besar itu. Orang itu menghampiriku, “Moshi-moshi**, ini aku bawakan jus,” Lalu ia menyerahkan jus jeruk yang ada di tangannya padaku, “Arigatou***” Ujarku singkat, “Sudah satu bulan sejak kamu bergabung di perusahaan kami,” Katanya. Aku mengagguk kecil. Aku jadi teringat masa lalu.

Aku bergabung di perusahaan besar Tsuchihura Group sebulan yang lalu karena rekomendasi orang itu. Namanya Takashi-sensei****. Waktu itu, kami bertemu di UI. Takashi-sensei adalah dosen UI yang bekerja tidak begitu lama. Tepatnya sih Takashi-sensei cuma coba-coba saja jadi dosen di Indonesia. Saat aku lulus, karena tahu akan potensiku dalam berkarya hampir segala hal, ia merekomendasikan aku untuk ikut dirinya bekerja di Jepang. Aku hanya menurut saja. Kurasa tak ada jeleknya bekerja di luar negeri.

Orang tuaku sudah setuju. Namun karena masih ragu, aku berdiskusi dengan sahabat-sahabatku, “Ah, masa’ sih?” Ujar Rara tak percaya. Aku mengagguk,”Wah hebat dong! Terima saja,” Karen menanggapi. Namun sepertinya Yeni tidak begitu setuju,” Tapi sukses itu tidak seperti sihir lho. Memangnya kayak Zero dan Ichii***** apa. Langsung sukses jadi penyihir profesional,” Katanya sambil membaca komik. Ya dia memang maniak anime sih. Tak bisa lepas dari komik,” Sudahlah, Yen. Kamu iri kan karena Bunga bisa ke Jepang…” Sindir Karen, “Oh ya… Yeni kan ingin banget ke Jepang,” Aku ingat, “Sorry, Yen. Nanti kalau pulang aku bawain oleh-oleh dari Jepang deh,” Diskusi yang seru sekali.

1minggu setelah aku lulus, aku bekerja di sana. Rasanya capek sekali. Tak kusangka hari-hariku begitu sibuk,”Kalau capek istirahat dulu, biar aku yang gantikan,” Ujar Kirisawa-san****** yang cemas saat aku tengah sibuk mengutak-atik data semalaman. Aku menggeleng, “Ini tanggung jawabku. Tenang saja…” Aku bekerja terlalu keras sampai sakit dan tidak masuk kerja selama 1 minggu. Untungnya cepat sembuh, sih. Namun hal itu membuat Takashi-sensei cemas. Aku bahkan sempat dimarahi. Tapi aku tetap berusaha untuk bekerja agar tidak dibilang lemah.

“Hana?” Aku tersentak. Aku langsung sadar dari lamunanku,”Hana, kau tidak apa-apa kan?” Aku menggeleng, “Tenang saja,” “Kamu ini terlalu memaksakan diri. santailah sedikit, ya?” Aku mengangguk seraya tersenyum. Aku menyadari satu hal, “Baik Yeni, Kirisawa-san maupun Takashi-sensei pasti mengkhawatirkanku. seperti ibu yang sempat menasehatiku macam-macam menjelang keberangkatan-ku ke Jepang,” “Hana, bagaimana kalau setelah ini kita ke pohon Ginko******* di kuil Yamishiro? Untuk refreshing. Tempat itu bagus sekali, ” Aku mengangguk senang.

_____________________________________

Istilah

* (Bahasa Jepang) Bunga

** (Bahasa Jepang) Hallo

*** (Bahasa Jepang) Terima kasih

**** (Bahasa Jepang) Sebutan untuk orang yang dihormati.

***** Nama tokoh dalam komik Sweet Lollipop

****** (Bahasa Jepang) Sebutan untuk orang yang baru dikenal. Bahasa sopan.

******* Pohon yang daunnya berbentuk hampir mirip payung dan berwarna kuning keemasan. Akan terlihat saat musim gugur.

Tinggalkan Komentar