KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Januari 2007

Dia, Sang Penyumbang Pajak

Hampir tiap hari aku melihat ditangannya terselip batang rokok, dari bungkusnya dapat kuketahui bahwa rokok tersebut bermerek gudang garam filter. Rokok filter produksi kediri yang sekarang sahamnya telah dibeli George Soros tersebut selalu dibawanya. Rokok yang dibuat oleh wanita-wanita desa di sekitar kabupaten kediri, sebuah wilayah di provinsi jawa timur.

Hanya Anggraini*

aku bermimpi menjadi dewi
dan memberimu tahta negeri
pulanglah, segala telah dijanjikan
dua istana yang menyatu
juga cinta yang membunuhku
sedangkan aku hanya memiliki nama:
Anggraini
di sini pernah ada bunga, katamu
tetapi aku tak sempat melihat
aku telah tersesat dalam jejak yang jauh
barangkali surga, barangkali neraka
tetapi apakah bedanya?
sedangkan aku hanya memiliki nama:
Anggraini
di sini pernah ada bunga, katamu
tetapi aku tak sempat mengingat
seorang putri mengecup dadamu
dan darahku membekukan tanah
masihkah aku akan kausebut?
sedangkan aku hanya memiliki nama:
Anggraini

Ladang

Tak adakah yang sayang

pada sepetak ladang?

Di ladang bungabunga tumbuh dan berkembang

Menebar semerbak pada hidunghidung

Belalang dan kumbang

Ladang adalah medan berperang:

Antara bunga dengan kumbang
Antara harga diri dengan cemoohan
Antara kehormatan dengan hinaan
Dan
Antara pengakuan dan kucilan

Antara Darah dan Bisikan Hati

Semburat tinta hitam
di atas sebuah kanvas. Putih.
Ragu nan sedih tak terbisukan
Jari-jari mungil seorang nirmala terluka!
Parah!

Darah … Darah …
Bukankah lukisan itu lebih indah!!!
Dengan darahmu, Nirmala!!
Biarkan kanvas itu melukiskan kesedihan
dan duka. Yang lama terpuruk
dalam butiran-butiran yang biadap!

Ini tidak seperti perpisahan,
barangkali pertemuan ruh kita yang lain
Lalu kita mengenalkan diri kembali
Hari ini aku berganti nama, seruku
Kau pun tersenyum dengan mata yang sedih

Sejak awal kita percaya bahwa hati tak kekal
Hingga dalam sebuah dongeng kita mengikat
benang merah pada jari
Tali yang hanya kita lihat sendiri
Ia indah karena maya, tetapi benarkah kita tak bahagia?

Aku Mati

Badai datang sekeras hatiku mengadu
Kau tahu aku
Tak pernah menyerah aku mau
Tapi kini ku mengaku

Badai datang dari seberang jurang
Mengangkatku ke lembah yang curam
Duduk termanggu tak tau muram
Hingga nafas tak mungkin lagi menggeram

Y.T.C riantyMencari malam Seikat selendang,
terkadang
cuma nyanyi tangis yang lalu
sepi merdu buat jemari berwarna
Tersebar! diri melambung bumbui
masa yang lampau,
Ah, sejenak mampir kelabui diri
cuma barang rusak di buang sia sia
taruh di sisi sudut tembok gudang
lembut jalin kasih tiada lampu yang menyala
kembali
cuma tangis yang lalu sepi merdu buat ngilu
jadi berbuah tanya di sisi gelap:
semua hidup kembali kewujudkan?
jadi tak’ada tangan lembut sapu
si air mata coba mati
di atas sesal
yang seterang guntur.

Kurakura Cangkangretak

Aku cuma seekor kurakura
yang lambat pula
Hingga cangkangku retak,
kukejar percikmu

Tapi cinta tak pernah
mau menunggu.

aku ditinggalkannya, dengan
telur-telur penuh harapan

busuk.

Sementara cinta yang pernah muncrat di wajahku,yang kuanggap peluh, yang melembabkan kering hati, yang menggangguku, yang kuabaikan

Aku Bukan Karang

Mendung tak tercatat disudut mata;
bukan berarti hujan tiada….

Ia menderas, hanya dilangit gelap
Hati yang kedinginan dalam sepi dan nyeri

Kulit tak koyak oleh luka;
tak berarti darah tak mengucur…

Ia menganak sungai, hanya dicabik rindu
Harapan yang tersembelih dalam sepi dan nyeri….

Nyawa Bersama Lara

Tetes demi tetes

ku arungi semua lara dan duka

seakan dewi kecil tak terasa lihat olehku

aku sadar….

sempurna adalah ilusi

bukan imajinasi

dulu, berkata dalam hati

ingin sekali kutiup angin sendu dihatiku

aku ingin mengucap janji bisu

untuk angin yang kelabu

Next »