KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Desember 2006

Awal Fajar Terbit

Hujan terus memandikan bumi, seperti seorang ibu yang memaksa sang anak. Mengguyur terus menerus.Dingin menyelimuti manusia. Manusia asyik dengan bantal guling dan mimpi-mimpi indah mereka. Langit murka, menyemburkan aumannya, memilukan telinga.

Pagi itu aku terbangun dari tidurku dan melihat diriku dalam kehampaan.Aku merasa telah dibangunkan oleh cahaya pagi yang berusaha menembus jendela kamarku.Aku bangun dan bergegas pergi kekamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap mau sekolah karena jam tangan ku menunjukkan pukul 07.00 suatu pertanda bahwa aku telah telat bangun dan aku harus tergesa-gesa mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi kesekolah.Setelah semuanya selesai akupun pergi ke sekolah setelah pamit kepada kedua orang tuaku.Itulah aktivitas yang sering aku lakukan ketika aku masih berada pada orang tuaku.Hidup dengan belaian sang bunda dan penuh dengan kasih sayang dan mereka selalu memperhatikanku dan aku merasa aku tidak mau kehilangan kenangan seperti itu.Tapi kenyataan berbalik cita-cita ku membuat aku harus meninggal mereka ketika aku telah menyelesaikan sekolahku disalah satu SMA Negeri dikotaku mau tidak mau aku harus melanjutkan studiku kejejjang yang lebih tinggi.Akupun mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri dan puji Tuhan aku diterima disalah satu perguruan tinggi negeri yang aku dambakan.

The first time I chose that path,

I thought that ‘everything is gonna be alright’.

But when I came down to that road,

everything did not make any sense to me.

I was no myself and nobody.

“Am I right to choose this path?” the only thing in my mind.

Pada garis pena yang aku tulis,
Pada serangkain kata yang mulai lelah,
Tercecer pada secarik kertas
Tergerus oleh sang waktu,
Terombang-ambing menjelma pada satu kata.

Pada lusuh kertas yang  mulai tergilas,
Berontak, tercabik, akan sang senja.
Hai Tuan adakah engkau sadar ?
Adakah engkau mulai tergerak ?
Hingar pada bias-bias sang surya

Puisi dan Lubang Sampah

aku suka menulis puisi di sembarang tempat

di kertas putih

di kertas buram

di kertas lipat

di sini

terlalu sembarangan

seperti saat kau membuang sampah

aku cuma suka menulis saja kok

entah jadinya puisi atau sampah

nyaris tak ada beda

Lukisan Natal

Lonceng emas t’lah bergaung
Lanturan nada membentuk bunyi
Lirik singkat dikumandangkan
S’luruh umat bersukacita

Alangkah indah pancaran lukisan

Terpampang jernih dalam tembok bercacat

Tertanam dalam memori terdalam

Belum hilang, hanya ternoda

Tidak dilupakan, hanya terlupakan

Salju putih nan dingin menghempas
Menusuk tulang hingga hati
Tetes kristal sang pembeku
Mengecap noda dalam lukisan

di air manis tahun-tahun tanpa tercatat
seorang anak meraung di antara ruang
ruh berperang raga, nurani dan harga diri
mohon ampunan tanpa bisa membela

kini tahun-tahun berganti
onggokan batu dan denyut nafsu
tak pernah pupus, ombak teluk bayur
mengabarkan petualang yang tak pulang
berjumpa bunda yang kian senja

Avonturir

mengukur-ukur jarak, kemanakah langkah kan berpijak?
ini adalah pengembaraan kesekian kali, nyanyian yang
menyekat kuat. menyusuri lorong asing
suara-suara sederhana dan wajah tanpa dosa
senantiasa meluruhkan gelisah dan penasaran
di kepergian yang tak menyelesaikan

Diam

Akhirnya aku pun diam. Diam dalam hening. Menutup siang dan menggantinya dengan malam. Tak seperti yang dibayangkan dan sungguh tak bisa dipercaya, terlebih lagi teman-temanku. Pemandangan yang sangat tak biasa dari seorang diriku yang biasanya tak pernah bisa diam. Puluhan gelengan kepala pun tampak berpautan di antara mereka yang sekarang tengah berada di ruang tengah, menunggu dalam kecemasan yang sangat.

Eva,

setangkup hati

dibawa lari

seharap asa

menjadi suci

aku mencengkram hujan tipis

setelah reda; kurenggut senja

dari langit dan kuberikan

padamu

padamu

hanyamu, Eva!
adalah cerita aku berada

di hadapmu dan menjelajahlah

kini aku mengukur setiap inci

« Prev - Next »