Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)
Posted in Cerpen, Fiksi on Desember 30th, 2006 2 Comments »
Hujan terus memandikan bumi, seperti seorang ibu yang memaksa sang anak. Mengguyur terus menerus.Dingin menyelimuti manusia. Manusia asyik dengan bantal guling dan mimpi-mimpi indah mereka. Langit murka, menyemburkan aumannya, memilukan telinga.
Posted in Cerita Kehidupan on Desember 30th, 2006 4 Comments »
Pagi itu aku terbangun dari tidurku dan melihat diriku dalam kehampaan.Aku merasa telah dibangunkan oleh cahaya pagi yang berusaha menembus jendela kamarku.Aku bangun dan bergegas pergi kekamar mandi untuk mandi dan bersiap-siap mau sekolah karena jam tangan ku menunjukkan pukul 07.00 suatu pertanda bahwa aku telah telat bangun dan aku harus tergesa-gesa mempersiapkan segala sesuatu untuk pergi kesekolah.Setelah semuanya selesai akupun pergi ke sekolah setelah pamit kepada kedua orang tuaku.Itulah aktivitas yang sering aku lakukan ketika aku masih berada pada orang tuaku.Hidup dengan belaian sang bunda dan penuh dengan kasih sayang dan mereka selalu memperhatikanku dan aku merasa aku tidak mau kehilangan kenangan seperti itu.Tapi kenyataan berbalik cita-cita ku membuat aku harus meninggal mereka ketika aku telah menyelesaikan sekolahku disalah satu SMA Negeri dikotaku mau tidak mau aku harus melanjutkan studiku kejejjang yang lebih tinggi.Akupun mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri dan puji Tuhan aku diterima disalah satu perguruan tinggi negeri yang aku dambakan.
This is a preview of
Ketika Aku Terjatuh Kau Menopangku ”Tuhan”
.
Read the full post (916 words, estimated 3:40 mins reading time)
The first time I chose that path,
I thought that ‘everything is gonna be alright’.
But when I came down to that road,
everything did not make any sense to me.
I was no myself and nobody.
“Am I right to choose this path?” the only thing in my mind.
Pada garis pena yang aku tulis,
Pada serangkain kata yang mulai lelah,
Tercecer pada secarik kertas
Tergerus oleh sang waktu,
Terombang-ambing menjelma pada satu kata.
Pada lusuh kertas yang mulai tergilas,
Berontak, tercabik, akan sang senja.
Hai Tuan adakah engkau sadar ?
Adakah engkau mulai tergerak ?
Hingar pada bias-bias sang surya
Posted in Puisi on Desember 29th, 2006 2 Comments »
aku suka menulis puisi di sembarang tempat
di kertas putih
di kertas buram
di kertas lipat
di sini
terlalu sembarangan
seperti saat kau membuang sampah
aku cuma suka menulis saja kok
entah jadinya puisi atau sampah
nyaris tak ada beda
Posted in Puisi on Desember 29th, 2006 No Comments »
Lonceng emas t’lah bergaung
Lanturan nada membentuk bunyi
Lirik singkat dikumandangkan
S’luruh umat bersukacita
Alangkah indah pancaran lukisan
Terpampang jernih dalam tembok bercacat
Tertanam dalam memori terdalam
Belum hilang, hanya ternoda
Tidak dilupakan, hanya terlupakan
Salju putih nan dingin menghempas
Menusuk tulang hingga hati
Tetes kristal sang pembeku
Mengecap noda dalam lukisan
di air manis tahun-tahun tanpa tercatat
seorang anak meraung di antara ruang
ruh berperang raga, nurani dan harga diri
mohon ampunan tanpa bisa membela
kini tahun-tahun berganti
onggokan batu dan denyut nafsu
tak pernah pupus, ombak teluk bayur
mengabarkan petualang yang tak pulang
berjumpa bunda yang kian senja
Posted in Puisi, Intermezzo on Desember 29th, 2006 No Comments »
mengukur-ukur jarak, kemanakah langkah kan berpijak?
ini adalah pengembaraan kesekian kali, nyanyian yang
menyekat kuat. menyusuri lorong asing
suara-suara sederhana dan wajah tanpa dosa
senantiasa meluruhkan gelisah dan penasaran
di kepergian yang tak menyelesaikan
Posted in Cerpen on Desember 29th, 2006 3 Comments »
Akhirnya aku pun diam. Diam dalam hening. Menutup siang dan menggantinya dengan malam. Tak seperti yang dibayangkan dan sungguh tak bisa dipercaya, terlebih lagi teman-temanku. Pemandangan yang sangat tak biasa dari seorang diriku yang biasanya tak pernah bisa diam. Puluhan gelengan kepala pun tampak berpautan di antara mereka yang sekarang tengah berada di ruang tengah, menunggu dalam kecemasan yang sangat.
Eva,
setangkup hati
dibawa lari
seharap asa
menjadi suci
aku mencengkram hujan tipis
setelah reda; kurenggut senja
dari langit dan kuberikan
padamu
padamu
hanyamu, Eva!
adalah cerita aku berada
di hadapmu dan menjelajahlah
kini aku mengukur setiap inci