KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Arsip Untuk Bulan Desember 2006

Warung Merdeka

Horison jingga bangkit menyilet bumi. Gumintang telah pulang, sementara gumawan tampak risih untuk bertamu sepagi ini. 12 jam malam akan terganti 12 jam siang. Knalpot-knalpot kehidupan lalu lintas bentak membentak. Asapnya mengkerudungi langit pesing. Menggaunkan dengan paksa. Jakarta hidup lagi walau belum sempat mengusaikan mimpinya.

Aku Berharap

Aku berharap
Matahari hadir di malam hari
Terangi gelapnya malam
Hangati dinginnya malam
Hadirnya bulan dan bintang di siang hari
Romantiskan panasnya siang
Untuk mereka yang sedang jatuh cinta

Aku berharap
Palestina negara merdeka
Tidak ada lagi menghirup asap peluru
Tidak ada lagi simponi ledakan bom
Tidak ada lagi diplomasi omong kosong lagi
Yang hanya mengambil waktu dan korban

Dua Tiga Empat

Dua tiga empat
Ini bukan belajar menghitung
Bukan juga irama gerakan aerobik
Ini hanyalah salah satu pilihan manusia di dunia
Yang menimbulkan dua warna yang berbeda
Yang saling bertubrukkan
Yang timbul seperti musim durian

Kalau mau dua tiga empat
Tak harusĀ  punya banyak uang
Tak harus punya harta melimpah
Yang penting jago melobi

Dua Bulan Lalu

eh, angin telah berhasil mengusung hitamnya awan, kemari, di atas kepalaku

namun aku, masih diam menunggu di persimpangan, bukan perempatan tapi tujuh cabang, harusnya terus lurus aku, berjalan bahkan berlari, tapi aku tertunduk, dan tertunduk, hampir menangis, terlalu sedih, kecewa memenuhi batinku, bukan terhadapmu, tapi diriku, aku menoleh ke samping jalan, ingin belok

Dua Isi Otak Si Botak

Pak Botak dulunya bukan siapa-siapa. Dia hanya seorang buruh tani musiman, tapi sejak pemilihan kepala desa setahun yang lalu, tiba-tiba Pak Botak menjadi orang terpenting pertama di desa. Dia menang dan menyingkirkan semua rival-rivalnya. Wajar memang, karena kepribadian Pak Botak sangat disenangi oleh masyarakat desa kami. Seorang ksatria berhati lembut, tapi tak jarang berontak saat melihat ketidakwajaran. Dalam pemilihan kepala desa, 75% suara yang diperolehnya terasa sangat lumrah dan bisa diterima semua lapisan masyarakat. Pak Botak memang tak punya ijazah pendidikan, karena dia tak pernah merasakan bangku sekolah, tapi opini masyarakat bahwa kepribadian lebih berharga dari selembar ijazah, melempengkan jalan Pak Botak untuk menjadi kepala desa.

Empat tahun yang lalu, ketika aku memutuskan untuk datang ke kota dubai ini, aku datang dengan membawa sejuta harapan, cita-cita dan juga cinta. namun ketika mimpi sudah terwujud, dan cita-cita telah tercapai, aku tetap tidak bisa bertemu denganmu ya habibie (sayangku). seringkali aku bertanya, mengapa Tuhan tidak mengizinkan aku untuk bertemu denganmu walau hanya untuk sesaat? apakah sudah suratan takdirku untuk tidak bertemu denganmu? entahlah. tapi hati ini begitu perih dan menjerit akan kerinduan yang mendalam akan dirimu ya habibie (sayangku).

Belati dan Melati

Aku sekali lagi menghisap rokok yang terselip di jari-jari tanganku, mempermainkan asapnya. Menikmati setiap helai nikotin yang disandera paru-paru. Malam kian hening, hanya sesekali terdengar kokok ayam jantan. Botol bir di depanku tinggal separuh dan tak mampu membunuh rasa sakitku. Bagaimana tidak!, apa yang selama ini menjadi desas desus tetanggaku, ternyata benar adanya. Istriku selingkuh dengan mantan pacarnya, padahal baru lima bulan kami menikah. Tetanggaku berkali-kali mengingatkan aku, awalnya aku sangat mempercayai istriku, tapi semuanya berubah saat aku menyaksikan sendiri mereka bergandengan tangan di pusat perbelanjaan tadi siang.

Refleksi Kemungkinan

Di sini aku bertanya,
Kemanakah ruang jingga hinggap pada malam?
Di sini aku mengaduh,
Adakah muatan kalbu bersemayam?

Retak pada setiap hening yang kau cipta.
Luruh pada sejengkal kemunafikan.
Semua maya belaka,
Tanpa rasa, mencoba berkata,
Karma atau luka menderma,hingga sayap merayap
Mendengkur dalam keangkuhan,

Bisikan Hujan

pelan, lalu deras, dan pelan lagi, akhirnya berhenti.
sangat berirama.
aku suka hujan.
saat yang paling aku nantikan.
air. jernih. tidak bisa diartikan.
orang-orang hanya bisa mengatakan hujan itu seperti orang yang menangis,
dan menyudutkan hujan sebagai tanda kesedihan.
aku tidak suka!
jika berbicara filosofis hujan, rasanya menjadi cerita yang sama pada
manusia.
hukum alam pun akan berlaku.
setelah menangis, maka akan terjadi kebahagiaan.
tersenyum.
begitu pula sebaliknya. Dan akhirnya kembali menangis.
manusia tidak menyadarinya.
anggapan yang aneh!
tetapi, apakah anggapan hujan sebagai tanda kebahagiaan hati itu…
menjadi hal yang lebih aneh lagi?
aku tidak tahu.
tapi aku sangat menikmatinya

Pertanyaan di Waktu Sore Hari

sore.
perkelahian antara siang dan malam.
aku mencintai sore.
angin menyentuhku dengan lembut.
dan bernyanyi, nikmati sore ini dengannya.
batangan nikotin terus meronta-ronta ingin ikut menemaniku.
dan ikut menikmati sore ini.
segelas kafein terus memohon, agar dipertemukan dengan kekasihnya,
yaitu batangan-batangan nikotin di tas belelku.
sistem tubuhku juga terus menerus ingin diracuni oleh mereka.
hahaha…perihal yang aneh!
apa salahnya aku menikmati sore ini dengan mereka?
sore sering menegurku.
kapan aku akan menikmati sore ini dengan sesosok raga.
jujur saja aku tidak tahu. bimbang.
sore terus mendesakku, agar aku menjawab dengan sikap optimis.
akhirnya aku menjawab dengan penuh keyakinan,
walaupun itu belum pasti.
aku menjawab,”Sore, aku ingin bersamanya!!!”
sore tersenyum kepadaku, dan memberiku nafas baru.
sore tidak lagi menegurku, karena sudah mengetahui jawabanku.
walaupun sore mengerti, sesosok raga itu belum sepenuhnya mengerti,
arti dari jawaban dan sikapku selama ini.
mungkin.
karena aku menghadapi kisah baru yang penuh ketidak pastian.
dan sore tetap setia menungguku sampai aku tahu,
jawaban dari sesosok raga itu.

« Prev - Next »