KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Ketika Memandang Musi

Hempasan Musi di kaki Bagus Kuning sepi
ketika sekilas nelayan memecah jala
menangkup lumpur dan seonggok sandal
saat mana bunting matahari berenang di hulu yang gigil
sampai senja menjadi hambar di percik lampu-lampu kota
duh… polusi yang menjadi plasenta cuaca

Seiring langkah susah mencari pernaungan malam
kota yang keras serupa jembatan Ampera
angkuh menjulang di ubun-ubun kepunahan cita-rasa
karena layang-layang kedustaan mewarnainya
tentang jalan-jalan rompal sepanjang gelisah
mesin-mesin berat, sampai minyak-minyak
hanya menghamili kantung-kantung rahwana
sang penguasa kalap

Hempasan Musi di kaki Kuto Besak sunyi
sesaat tangis pengamen hanya sebagai lagu geli
karena orang-orang kaya membuang kentut
di bantaran kota tanpa rawa-rawa
sampai pula waktunya air membanjir
memperkosa jalan-jalan kehidupan tak punya alur
tujuan yang mandul

Musiku
mengalir bersama mimpi

(Palembang, 24 Mei 2004)

Tinggalkan Komentar