Hidup
Desember 30th, 2006 by rifannazhif
Bus itu berhenti mendadak. Menyisakan debu berkepul sehingga membuat dadaku sesak. Segera kukucek mata. Pandanganku sekejap mengabur. Ketika debu mulai menipis, seorang lelaki tinggi-tegap turun dari bus dengan pintu setengah terbuka. Seolah sesuatu di dalam bus sangat rahasia dan tidak boleh dilihat seseorang sepertiku. Sepintas ada beberapa gundukan hitam terlihat di dalam. Tapi kemudian lenyap sama sekali, seiring lelaki tinggi-tegap itu menutup pintu bus dengan suara berdebam.
Kutaksir umurnya sekitar empatpuluhan. Setara denganku. Namun dia kelihatan lebih muda dariku. Mungkin karena dia perlente, apalagi dengan tubuh liat mengkilap diterpa sinar matahari musim kemarau.
Dia menatapku lekat. Seakan telah mengenalku sedemikian dekat. Tapi sepertinya dia ingat-ingat lupa. Aku hanya melemparkan senyum samar. Selebihnya kesibukanku melayani seorang pelanggan yang ingin menjahitkan sepatu, membuatku lupa kepada lelaki itu.
“Mas Panut, bukan?”
Aku mendongak. Melihat ke kiri dan ke kanan. Tapi tidak ada orang lain selain pelangganku itu. Aneh! Kembali kubuang resah yang tiba-tiba menyergap. Panas matahari musim kemarau, semakin membuatku gelisah. Berkali-kali kuseka keringat yang menjalari leher.
“Mas Panut lupa kepadaku?”
Aku menggigil. Pelangganku itukah yang menyapa barusan? Tapi, bukan, bukan! Dia tetap membisu seperti tadi sambil menikmati kacang rebus. Matanya hanya tertuju ke lalu-lalang kendaraan yang seperti tiada akan putus.
Siapa yang menyapaku? Hantu? Ah, seumur-umur aku tidak meyakini akan adanya hantu. Atau, barangkali jin? Tapi mungkinkah jin itu menyapaku? Padahal sampai ubanan begini, aku belum pernah mengadakan pertemuan ritual dengan jin. Belum pernah memesan ghodam sebagai pendamping hidup demi kesuksesan. Karena menurutku itu sirik. Aku memilih pekerjaan sebagai tukang sepatu, sebab lebih halal dan terhormat. Meskipun aku harus berkubang dan berulangkali bermain dengan benda-benda “kelas bawah” itu.
Ya, bukankan sepatu adalah kelas bawah? Yang seringkali tidak diperhatikan. Sering dijejali lumpur, tahi kerbau, comberan dan berbagai benda menjijikkan lainnya. Namun dia telah menyelamatkan jutaan manusia dari paku, beling dan binatang-binatang berbisa. Plus membuat mereka berharga, keren, mewah atau terpandang.
Aku juga tidak merasa jijik ketika memperbaiki puluhan sepatu berbau busuk. Dari berbagai bentuk kaki. Dengan bermacam penyakit yang mencederai kaki-kaki itu. Kudis, kutu air, eksim, koreng!
Namun sekali-dua aku memperbaiki sepatu berbau wangi, berkulit kelas tinggi. Hmm, kuingat suatu hari aku memperbaiku sepatu Pak Camat. Dia memberiku uang limapuluh ribu rupiah. Wah, wah… pengalaman yang tidak mungkin terlupakan!
“Mas! Aku di belakangmu.”
“Ka…kamu siapa?” Aku bertanya sambil menoleh ke belakang. Tubuhku hampir terpental, manakala orang di belakangku adalah lelaki tinggi-tegap yang keluar dari dalam bus tadi.
Dia tersenyum samar. “Aku temanmu!” tegasnya.
Teman? Batinku bergidik. Bagaimana mungkin dia temanku? Berjumpa saja baru sekali. Lagipula orang-orang di sekiling kami, seolah tidak memperhatikannya. Tepatnya tidak dapat melihatnya! Apakah dia serupa bayanganku; sebangsa jin?
“Kau benar, Mas Panut. Mereka tidak mungkin menyadari kehadiranku. Karena cuma dirimu seorang yang dapat melihatku. Karena aku memang sebangsa jin,” ucapnya seolah mampu membaca pikiranku.
Tiba-tiba saja dia sudah mencangkung di sebelahku. Orang-orang di sekeliling kami tetap membisu. Tapi kulihat tatapan mereka semakin aneh. Bertambah curiga melihatku. Lalu seorang demi seorang bergegas menghindar. Seperti menjauh dari penyakit menular. Bahkan pelangganku yang asyik memakan kacang rebus, cepat-cepat meraih sepatunya yang belum kelar dijahit. Dan dia berlari secepat kilat tanpa memberikanku uang.
“Eh, bayarannya!” teriakkku sambil bersungut-sungut, manakala orang itu menghilang di keramaian. “Brengsek! Gara-garamu pelangganku melarikan diri.” Dia tertawa keras.
“Ikut aku!” tekannya.
Aku membisu. Belum pernah aku diperintah orang seperti ini. Tapi dia seolah memiliki kekuatan maha dahysat, sehingga aku terpaksa mengiringinya. Kuperhatikan apakah dia memiliki punuk. Kuamat-amati mungkinkah dia berjalan tanpa menjejakkan kaki di atas tanah. Namun dia tidak memiliki dan berbuat serupa itu. Dia layaknya orang normal. Mungkinkah dia dari bangsa jin seperti pengakuannya barusan?
“Kau butuh uang kan, Mas Panut?”
“Hmm!”
“Benar, Mas Panut?” Lelaki itu memegang bahuku, seolah menekan tubuh ini tenggelam ke dasar bumi.
Aku menggeliat. Amarah terasa menggelembung sebesar keinginanku memukul bibirnya yang tebal menghitam. Namun semuanya hanya terwujud dengan dengusan kecil dari mulutku yang berasa sepat.
Jujur, dalam hati kecil ini, ada keinginan teramat besar untuk memiliki banyak uang. Menjadi orang kaya! Karena sejak kecil sampai bangkotan begini, kemalaratan demi kemarataran silih-berganti melindasi hidupku. Membuatku acapkali putus asa.
Meskipun sering terlintas potong kompas, misalnya menjadi maling, tapi keinginan busuk itu mampu kucegah. Memang aku akan sangat mudah memperoleh uang jutaan, puluhan bahkan ratusan juta rupiah dengan menjadi maling. Tapi buat apa semua itu? Kalaupun kelak lolos dari jeratan hukum, toh jeratan Tuhan tidak mungkin kuhindari. Sebab aku miliknya. Dan setiap pemilik berhak memperlakukan apa saja bagi sesuatu yang dimilikinya.
Jadi, takdir sebagai tukang sepatu tetap kujalani. Tidak perduli akhirnya aku harus jungkir-balik menghidupi seorang istri dan tiga orang anak. Tidak perduli harus gali-tutup lobang, sehinga aku tertimbun hutang. Ah, kuingat bagaimana Juragan Fatonah, si rentenir, berulangkali menyatroni rumahku seminggu ini. Sekali-dua dia menyempatkan mengangkut barang tidak berharga dari ruang tamu. Dan sebab utamanya adalah karena aku tidak sanggup membayar pinjaman bunga-berbunga. Pinjaman dari Juragan Fatonah ibarat tali kapal yang semakin lama bertambah menjerat leherku.
Lalu, apakah lelaki tinggi-tegap di dekatku akan memberikan tawaran menarik? Misalkan menyumbangkan uangnya kepadaku.
“Aku memang butuh uang. Tapi aku tidak ingin bersekutu denganmu untuk memperoleh semua kenikmatan itu. Kau lebih cenderung menyesatkanku. Mengajarkan yang sirik dan membutakan hati nurani.”
Dia tertawa keras. “Mas Panut, Mas Panut! Kau tidak usah ragu. Agar cepat hidup mapan, takdir harus dilawan.”
“Juga Tuhan maksudmu?”
Dia terdiam sambil memegang dagu. “Tergantung!”
“Melawan Tuhan? Tidak mungkin! Aku menolak mentah-mentah.” Dengan wajah kesal aku berbalik. Berjalan meninggalkannya sambil mendengus kesal. Tapi teriakan lelaki itu seperti menghipnotisku. Membuatku memutar tubuh seratus delapan puluh derajat.
Dia tersenyum seraya mengangsurkan segepok uang berwarna merah-kecoklatan. “Tidakkah ini menggiurkan?”
Mendadak melintas di mataku hutang menumpuk, rumah reot dan lauk ikan asin. Percekcokan yang kerapkali timbul karena uang. Tuntutan anak-anak tentang baju baru, buku-buku, seragam, kursus-kursus, juga panasnya sinar matahari yang memanggang tubuhku di pinggir jalan. Bersama bergumpal debu. Bersama teriakan budak-budak pasar. Bah!
Aku mendelik. Jakunku naik-turun. Seketika setan mengelilingi kepalaku dengan berjumput rayuan. “Aku menginginkannya. Tapi…?”
“Takut kepada Tuhan?” Dia mengejek sambil mencibir.
Entah kegilaan darimana, aku langsung menjawab, “Oke, aku memang butuh uangmu berikut resiko-resiko yang akan kutanggung.”
“Meskipun harus menjadi pengikutku?”
“Ya!” jawabku tegas.
Perlahan dia memberikan segepok uang itu. Perlahan pula tiba-tiba tubuhku membesar sepertinya. Telingaku melebar. Moncongku memanjang. Bulu-bulu kasar bermunculan selembar demi selembar di sekujur tubuhku.
Aku menjerit ketakutan. Lelaki itu tertawa lebar. Dia berubah menjadi kabut, kemudian menghilang.
Teriakanku bertambah keras. Ketika sebentuk tangan menyentuh kasar lenganku, aku langsung terlonjak.
“Jangan pura-pura tidur brengsek!” Lelaki tinggi-tegap itu telah berdiri di depanku. Sebuah pentungan digenggamnya.
“Kau…?” Aku bingung, tapi cepat menyadari bahwa kejadian beberapa saat lalu hanyalah mimpi.
“Bandel! Berulangkali dilarang menggelar lapak di sini, masih berani juga!” Dia menendang kotak kayu di depanku.
Tubuhku menggigil menahan amarah. Kugenggam tangannya yang liat. Dia balas merengkuh lenganku. Lalu menyeretku ke dalam bus yang entah darimana sudah terparkir di pinggir jalan.
Aku langsung dijerembabkan di lantai bus yang sudah sesak pedagang kaki lima. Hatiku memendam amarah. Tapi kulihat wajah-wajah orang di sekelilingku tidak ada gairah. Tidak ada emosi sama-sekali. Seolah menerima semuanya dengan pasrah tanpa berusaha berontak untuk merubah keadaan.
Bus pun mulai merangkak di atas jalan berdebu. Panas yang menggigit terasa semakin memanggang di dalam bus. Kuingat selintas, aku belum shalat lohor. Aku meringis mengingat mimpiku tadi. Heh! Mana mungkin aku meninggalkan Tuhan dan pekerjaan sebagai tukang sepatu. Aku berjanji, besok akan menggelar lapak di tempat yang sama. Perduli setan yang mengusirku. Sebab ada Tuhan yang membimbingku.
Rajawali, 03122004
—sekian—