KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Harta Karun

Safitri masih menghembus-hembus bara di bawah tungku. Mulutnya membulat seperti ikan mas koki. Mengembang, mengempis. Merah menghitam. Asap berkepul. Menggeliat melintasi dinding yang terbuat dari batako bersusun ke atas. Berundak-undak membentuk tangga. Sehingga akhirnya menggelepar di terowongan asap, bersatu dengan teman-temannya; awan yang melintas perlahan.

Wangi nasi kampung pun membuar. Bercampur dengan semerbak ikan asin. Tapi sungguh, sedikitpun tidak melecut seleraku. Semangkuk besar kopi di meja, pun tidak mengundang dahaga. Air menghitam itu laksana comberan yang berpuluh bulan tidak dibersihkan. Aku muak. Aku gelisah. Namun tetap saja tidak ada yang dapat kuperbuat selain berselonjor di sofa lapuk berlapis jerami. Atau, sebentar-sebentar aku berpindah ke teras rumah. Mencangkung di situ sambil mencongkel-congkel tanah liat yang keras seperti batu.

Beberapa lelaki-perempuan dewasa dan anak-anak mereka, kulihat melintas di depan rumah. Berjalan beriringan di sepanjang bantaran persawahan. Kemudian kaki-kaki kukuh itu, berjalan menurun ke pematang sawah. Si lelaki bersiul menyanyikan lagu-lagu kampung. Dan anak-anak yang berpipi merah menghitam, mendendangkan dolanan yang biasa mereka persembahkan ketika bulan purnama pecah di lapangan kampung.

Aku mendesah. Selintas kulihat percikan sinar menebar dari pantulan cangkul yang dipanggul si lelaki.

“Apa lagi yang kau lakukan, Bapak? Melamun lagi, melamun lagi! Hidup tidak akan sejahtera kalau setiap hari dibumbui lamunan. “Safitri bersungut-sungut sambil merapikan wadah makanan di meja ruang makan. Oh, bukan, bukan ruang makan. Tapi sebuah ruangan merangkap ruang tamu, ruang makan dan ruang keluarga. Di sebelah utara sebuah kamar mungil sebagai tempat kami lelap. Hanya disekat dengan anyaman bambu yang diserut tipis-tipis. Di belakang adalah dapur kecil yang sengaja dibangun permanen dengan batako kasar. Sebagai kerajaan istriku, karena dia memang jagoan masak. Meskipun hanya sepotong ikan asin yang dihidangkannya kepadaku, tapi itu berasa rendang.

Kalau kamar mandi dan kakus, kami tidak punya. Mandi dan buang air besar, biasa dilakukan di sungai yang masih jernih berjarak sekitar seratus langkah dari rumah.

“Aku kesal! Hidup kita tidak pernah berubah!” gerutuku membalas. Rokok nipah kubuang ke halaman.

“Kalau hidup ingin berubah, bapak harus bekerja! Bukan terus-terusan mengeluh! Bermalas-malasan setiap hari. Tanah di belakang masih luas. Kenapa bapak tidak mengolahnya menjadi kebun seperti milik Pak Samiun?” Dia mengomel seperti mulutnya memuntahkan puluhan butir peluru.

Aku tertawa hambar. Pak Samiun itu memang gigih dan telaten. Dia sekarang menjadi juragan kebun yang memiliki berhektar-hektar tanah. Padahal ketika bapakku masih hidup, dia hanya memiliki tanah sekapling..

“Kau benar, Pak Samiun memang jago mengolah tanahnya menjadi kebun. Tapi tanahnya itu tidak seperti tanah kita. Tanah Pak Samiun subur, sehingga dilempari batu saja bisa berubah tomat,” kataku tertawa mengejek. “Kalau tanah kita, heh sekeras batu! Kalaupun aku menanam pohon durian yang sudah berbuah lebat ke tanah brengsek itu, maka dalam hitungan jam dia langsung meranggas dan mati.”

“Alah, bapak ini bisanya hanya berkilah saja! Sudahlah, aku mau membantu menyiangi rumput di sawah Pak Rajab. Makanan sudah kusiapkan. Bertengkar dengan bapak tidak akan habis-habisnya. Tidak menghasilkan duit!” Dia mengambil arit yang diselipkan di dinding rumah. Meraih caping dengan tali kedodoran dan menekankannya ke kepalanya yang bulat. Setelah itu dia pergi tanpa permisi.

* * *

Akhirnya setelah dipikir masak-masak, mencari harta karun di tanah belakang rumahlah sebagai pilihan terbaik. Aku sudah tidak sanggup menganggur terus begini, sementara Safitri berjibaku membantu juragan-juragan kaya demi sesuap nasi. Aku juga ingin seperti juragan-juragan kaya di kampung ini. Bisa menyuruh siapa saja untuk mengurus sawah, kebun atau ternaknya. Bisa berfoya-foya, pergi keluar kota, bahkan beristri dua, tiga atau empat!

“Harta karun?” Safitri menendang kakiku sambil berbalik memunggungiku. Tubuhnya yang serupa buntalan kain, menyebarkan bau kurang sedap. Bau kelelahan bercampur keringat. Kupukul perlahan dipan yang beralas kasur tipis karena kesal.

Memang menggali harta karun itulah jalan satu-satunya. Sebab dulu sebelum bapak meninggal, dia berpesan kepadaku. Ketika aku mengalami kesulitan teramat sangat kelak, maka harta karun di belakang rumahlah sebagai pengobatnya. Aku akan kaya dan bermartabat. Begitulah dia menjanjikan kepadaku. Dalam benakku, harta karun itu serupa emas sebesar kepala kuda. Wah, wah… Aku akan kaya dan bermartabat. Safitri harus bersiap-siap dimadu. Aku tersenyum sambil menatap sarang laba-laba yang teriup angin malam.

* * *

Meskipun berulangkali Safitri menuduhku seorang gila, tapi niat membongkar harta karun di belakang rumah tetap begitu menggelitik. Selepas perempuan pemarah itu pergi bekerja dan menghilang di balik rimbunan perdu, aku pun bergegas mengambil cangkul. Kemudian buru-buru meminjam linggis kepada Rofi’i yang kebetulan libur menggali sumur.

Di bawah sinar matahari yang merambat menyengat, kulepas bajuku. Aku hanya mengenakan celana pendek dengan beberapa tambalan di pantatnya. Lalu dimulailah pekerjaan maha berat ini. Mencangkul secangkul-dua. Melinggis selinggis-dua. Seketika terbitlah keringat sebesar biji jagung di sekujur tubuhku. Menggeliatlah kelelahan seperti meluluhlantakkan belulang dan otot-otot di tubuh ini. Barangkali karena sejak dulu senang bermalas-malasan, tubuhku sedemikian cepat lelah. Baru sepuluh menit menggali tanah, tiba-tiba mataku langsung berkunang-kunang.

Tapi membayangkan emas sebesar kepala kuda, niatku tidak mungkin surut. Kugali sedepa demi sedepa tanah di belakang rumah. Berpindah dari satu posisi ke posisi lainnya. Sehingga tanah yang dulu kering, kini membuncah laksana terkena longsor. Tanah berhamburan di sana-sini.

Selepas lohor, ternyata aku tidak memperoleh apa-apa selain kelelahan amat sangat. Safitri yang sudah pulang bekerja membantu memberi makan ternak Juragan Partokairun, hanya terbelalak dan berdiri serupa patung di pintu rumah. Barangkali emosinya akan meledak dan mengubahku menjadi jeroan. Namun tidak, tidak! Dia hanya berkacak-pinggang, lalu tersenyum cerah.

“Wah, aku bangga melihat kau bekerja, Pak! Tanah kita yang luas ini akan berubah menjadi lautan kehijauan yang menghasilkan limpahan harta,” katanya mengkhayal. Aku seperti melihat hamparan kekayaan di mata Safitri. Dan aku tertawa sumbang.

“Hah, siapa yang mau mengubah tanah ini menjadi kehijauan? Menjadi lahan kebun yang luas?” Aku membanting cangkul. “Bukan, bukan aku! Sekarang semua hanya omong-kosong! Aku capek, muak! Ceita bapak tentang harta karun itu hanyalah mimpi di siang bolong.”

Safitri masuk ke dalam rumah. Kemudian keluar lagi sambil membawa air di kendi. “Minumlah, Pak! Pekerjaan belum selesai! Tanah di dekat pokok rambung itu kan belum bapak gali.”

Aku terkesiap. “Jadi, jadi kau mempercayai akan keberadaan harta karun itu, istriku?” tanyaku histeris. Dia mengangguk pasti.

Seolah angin segar bertiup memompakan semangatku. Bagaikan prajurit aku siap berperang bersenjatakan cangkul dan linggis. Mencangkul pulalah aku bercangkul-cangkul. Melinggis pulalah aku berlinggis-linggis. Sampai kelelahan tidak terasa lagi. Sampai matahari merayap menuju peraduan.

Ketika suatu saat cangkulku menyentuh sebuah benda yang berbunyi nyaring, bergegas kupeluk Safitri dengan bernafsu. Perbuatan yang teramat jarang kulakukan, setelah kemelaratan menjerat kami dua tahun lalu.

Ya, ya! Semua salahku. Aku hanya mampu menghabiskan harta peninggalan bapak, tanpa mau mengelolanya hingga beranak-pinak. Beruntung aku memiliki Safitri yang gigih bekerja, sehingga kami tidak perlu memakan batu.

“Kita akan kaya, sayang! Kita akan kaya!” Terbersit di alam khayalku emas sebesar kepala kuda.

Safitri semakin bergairah manakala bunyi dentingan cangkul yang menyentuh benda keras itu bertambah nyaring. Dan dia tidak sanggup lagi untuk balas memelukku erat-erat tatkala sebuah peti besi kuangkat dari persembunyiannya.

Inilah kiranya harta karun yang ditinggalkan bapak kepadaku, batinku tidak sabaran. Segera kuambil linggis. Kucongkel gembok yang menguncinya sehingga terlepas.

“Apa dia isinya, Pak?” Safitri melongok dari balik bahuku.

“Belum tahu!” balasku sambil membuka penutup peti besi lebih lebar.

Tapi alangkah kecewanya kami karena isi peti besi itu hanyalah selembar kertas yang sudah menguning.

“Kita tertipu!” Aku langsung terduduk.

Safitri memeluk leherku. “Belum tentu, Pak. Coba lihat tulisan di kertas ini. Barangkali ini petunjuk menuju emas sebesar kepala kuda yang bapak khayalkan.”

“Baiklah, aku akan membacanya; Anakku, kupersembahkan harta karun ini kepadamu. Dia adalah tanah yang harus kau urus, kau tanami pokok-pokok yang akan membuatmu sejahtera. Karena dia adalah pemberian Allah. Karena tanaman yang berasal dari tanah ini memberikan hasil yang tidak akan putus-putusnya. Kamu tidak butuh emas, perak atau perunggu anakku. Kau hanya butuh tanah dan bibit tanaman. Kau hanya butuh kegigihan dan keuletan. Ingatlah, nak. Kalian semua, bahkan seluruh manusia tidak akan dapat memakan emas, perak atau perunggu ketika masa paceklik tiba. Tapi kalian akan tetap memakan hasil dari tanaman. Maka kupersembahkan ini semua untuk kau ciptakan sebagai istanamu sendiri.”

Safitri terdiam. Aku membisu. Tapi kami seolah melihat tahi bintang jatuh ke tumpahan tanah yang kacau-balau. Sambil memeluk erat lengan Safitri aku berkata, “Besok kau tidak usah lagi pergi bekerja membantu para juragan kaya itu. Kita harus mengolah tanah ini menjadi istana. Kita harus bekerja di tanah sendiri! Di lahan yang sudah disediakan demi kejayaan kita. Allah pasti telah memberikan kita yang terbaik!”

—sekian—

Plaju, 12 Desember 2004

Tinggalkan Komentar