Catatan Sehabis Hujan
Desember 30th, 2006 by koko_p_bhairawa
Cerpen Koko P. Bhairawa
FAJAR sudah semakin dekat, tetapi lampu di ruang kerja Mas Putera masih tetap menyala. “Tidak biasanya ma-mas kerja selarut ini” pikir Wanja. Adik Mas Putera yang baru genap berusia 16 tahun itu memang rajin bangun di waktu tiga perempat malam untuk melaksanakan solat Malam. Wanjapun kemudian mendekati ruang kerja Mas Putera.
“Mas, mau dibuatin kopi gak?” sapa Wanja sembari mengetuk pintu ruang kerja.
Mas Putera merupakan kakak tertua di keluarga, walaupun masih kuliah ditingkat akhir ia telah bekerja di sebuah perusahaan penerbitan. Wanja masih berdiri di depan pintu, tetapi masih belum ada jawaban dari dalam. Akhirnya ia memberanikan diri untuk masuk ke ruang kerja Mas Putera.
Dengan hati-hati Wanja membuka pintu, dilihatnya Mas Putera tertidur di kursi. Sementara itu ruangan yang berukuran tidak lebih dari 4 X 6 meter itu dipenuhi buku-buku dan kertas yang berserakan. Wanja coba menatanya kembali. Ditengah keasyikanya menata, tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah buku setebal 250 halaman yang tak lain merupakan buku yang selalu di isi Ma-masnya sebelum tidur. Buku itu tampak tergeletak begitu saja di lantai tepat disebelah meja kerja Mas Putera. Rasa penasarannya yang begitu tinggi, membuat Wanja membuka buku catatan harian ma-masnya. Ia mulai membaca halaman pertama, tetapi niat itu kemudia diurungkannya.
“Em,…kayaknya kalo aku baca dari halaman pertama nanti ma-mas akan bangun. Yup lebih baik aku baca halaman terakhir yang ditulisi ma-mas” Wanja kemudian membuka halaman yang baru saja selesai diisi ma-mas. “Yup, ini dia”
Pukul 23.11 WIB
Entahlah apa yang telah merubah malam ini, sehingga yang ada di benakku hanyalah dirimu. Rinai hujan, dan dingin malam seakan semakin membuat perasaan ini hanyut melalui selokan pinggir rumah, melewati gorong-gorong dan mungkin akan bermuara di Sungai Musi pagi nanti. Berlembar-lembar memori yang baru saja hangus terbakar karena emosi jiwa kembali kutulisi dengan cerita baru. Ternyata masih tersisa lembaran yang disetiap lembarnya akan mulai menuliskan namamu, dan ada kisah tentang kita.
“Ha….? wah tumben ma-mas bisa romantis? Gila…!!” Wanja tertawa-tawa kecil. Memang, Mas Putera selama ini selalu diam dan tidak pernah curhat mengenai siapa ceweknya.
Pukul 23.20 WIB
Entah siapa yang melukis malam ini, karena aku ingin sekali melihatnya walau langit dipenuhi awan hitam dan jatuhan hujan. Sesekali aku menegakkan leher ke atas, memadukan retinaku dalam imaji fragmen cinta yang setiap adegannya adalah engkau dan aku. Ada tawa, ada senyum manjamu, ada celotehku tentang dirimu, dan ada segala tentang kisah kita.
Kucoba melukis sebuah senyum diantara langit malam hingga tiba-tiba imajiku tersentak,… oh… aku urung melukisnya, aku tak sanggup mewujudkan dalam imaji fragmen cinta karena aku belum menyiapkan kuas dan pewarna yang cocok untuk menampung air mata.
Pukul 23.42 WIB
Entah apa yang dipikirkan malam, ketika melihatku tersenyum memandangi hujan. Kedewasaan malam telah membuat mataku menjadi liar. Bola mataku mencoba berlarian ke bufet depan, dimana tempatku biasa menyimpan buku-buku.
Entah apa yang telah terjadi pada diriku malam ini, aku begitu ingin membaca semua surat-surat cinta darinya. Aku telah menelorkan jutaan ukiran kata pada puluhan surat cinta yang tercipta, berlipat-lipat suka dan duka disana, adakala huruf-huruf itu menonjok-nonjok bibirku, adakala kata-kata itu menggelitik bibirku hingga tersenyumku, adakala kalimat-kalimat itu mengerutkan dahiku. Betapa aku telah mencipta suatu kisah cinta yang terhebat untuk CINTA. Aku tersenyum dalam kenangan yang tak pernah terbayarkan.
Namun entahlah, cerita ini kembali terhenti pada halaman terakhir diary dan pada sepucuk surat terakhir. Aku ragu tuk menyelesaikannya, tapi.. ini harus berakhir. Degup jantung kian cepat, pori-pori muntah, mata memerah, tangan gemetar saat buku harian ini telah berada dalam genggaman, dan aku harus menyelesaikan semuanya, saat ini.
Pukul 00.05 WIB
Aku terdiam beberapa jurus merenung setelah membaca coretan pagi diri hari. Izinkan aku mengucap “selamat datang cinta” saat ia menyapaku.
“Wah,…ternyata ma-mas lagi jatuh cinta nih” gumam Wanja dalam hati… kini Wanja semakin serius untuk membaca kelanjutan diary Ma-masnya. Tetapi ketika Wanja sedang membetulkan posisi duduknya tanpa sengaja ia menyenggol kotak sampah yang terbuat dari kaleng. Alhasil, Ma-masnya terbangun dan…
“Ngapain disini? tanya Mas Putera kaget. “Em..em..Wanja tadi kebetulan lewat, terus liat lampu di ruang masih nyala jadi Wanja mau nawarin kopi, eh taunya udah tidur” bela Wanja dengan sedikit manja.
“Trus, apa tuh yang ditangan?” tanya Mas Putera lagi.
“Enggak, cuma buku yang Wanja temukan di lantai waktu bersih-bersih tadi”
“Sini liat…” minta Mas Putera.
“Ini..!”
“Ha? Jadi kamu udah baca?” kini mas Putera benar-benar kaget. Melihat ma-masnya yang semakin menaikan intonasi bicara. Wanja segera keluar meninggalkan Ma-masnya yang masih sedikit schok. Tetapi Wanja masih tetap penasaran siapakah cewek yang telah mampu mencuri hati Ma-masnya setelah dua tahun yang lalu Mas Putera putus dari Rika.
“Ih coba, aku ngak nyenggol itu tong sampah….”***