Barisan Pengungsi
Desember 30th, 2006 by rifannazhif
Barisan pengungsi itu semakin panjang. Berderet, berliku dari ujung utara ke selatan. Matahari yang memanggang tanah, membuarkan aroma pengap. Aroma dari sampah dan mayat-mayat yang belum semuanya bisa diangkut ke pembuangan terakhir.
Tapi barisan itu tetap tidak berkurang. Tidak ada seorang-dua yang jengah menunggu. Kemudian keluar dari barisan. Semua tetap ngotot di tempatnya. Menunggu beberapa kotak mie, baju bekas dan lembaran uang.
Aku berdiri hampir di tengah barisan panjang itu. Sesekali mengeluh, sesekali menggeram. Barisan di depan seperti tidak maju-maju. Malahan bertambah menonjok ke belakang, sehingga jarakku dari tempat barak pembagian derma itu, menjauh sekitar dua depa.
Brengsek! Aku memanjangkan leher. Melihat suasana di depan. Aku merasa ada yang tidak beres. Ada perkolusian di barak yang diatapi dengan terpal tebal itu. Pasti. Pasti mereka seperti kebiasaan umum orang-orang di negeri ini. Tidak perduli masyarakat sedang kesusahan, mereka masih mencuri-curi kesempatan. Memancing di air keruh. Memanfaatkan berdikit-dikit bantuan yang menimbun di gudang untuk perut buncit mereka. Wah, wah. Aku yakin di otak mereka tersembunyi keinginan cukup besar untuk menilep barang-barang bantuan itu.
“Barisan di depan belum berkurang juga! Kita malahan terdesak ke belakang!” Seorang lelaki berkepala plontos, menggeram sekitar lima depa di belakangku. Aku menoleh sepintas. Lalu memicing karena silau melihat cahaya matahari pecah di kepalanya. Mungkin dia sudah kelelahan sedari tadi menunggu. Keringatnya tiada pula berhenti mengucur seperti aku dan lainnya. Kalau tanah ini tidak menyerap keringat dari jutaan orang yang berbaris, barangkali kami semua akan melangkah di tengah sungai keringat. Atau bisa saja kami termegap-megap dilantak keringat berbau asem itu.
“Kenapa barisan ini tidak bergerak ke depan?” Perempuan berwajah bayi di belakangku, mengeluh. Pipinya yang seharusnya merah seperti mata dadu, sekarang menghitam legam. Selintas aku terbayang kepada Mardiana, istriku, yang hilang ditelan tsunami.
Kuingat pagi sebelum gelombang tsunami melanda bumi rencong, dia meletakkan kopi panas di sebelahku. Wanginya yang khas menyengat, memaksaku untuk merubah posisi tidur. Mardiana telah rapi. Bibirnya bergincu merah. Sebuah tas mungil disandangnya dengan santai. Wah, seperti gadis belasan tahun saja dia!
Mardiana akan pergi piknik ke pantai bersama Agam, anak tunggal kami. Piknik yang tidak direncanakan dan kurang kusetujui. Sebab sebelumnya aku memiliki rencana lain. Rencana berkunjung ke rumah Bunda di Medan.
Mardiana dan Agam tidak setuju. Mereka tetap akan pergi ke pantai, meskipun aku mengancam tidak akan ikut. Semalaman akhirnya aku sediaman dengan Mardiana. Semalaman kami saling memunggungi.
“Nasi dan lauknya sudah masak, Bang! Kami pergi sekarang!” tegasnya.
“Bunda! Ayo, cepat! Bisnya sudah menunggu!” Agam berteriak keras dari halaman rumah.
Setelah mencium keningku dengan dingin, Mardiana pun lenyap di balik pintu. Dan itu adalah ciumannya yang terakhir, karena badai keparat meluluhlantakkan negeri kami. Membangunkanku dari tidur. Menghanyutkan tubuh ini sekian ratus meter dari rumah. Beruntung aku selamat. Tapi bagaimana dengan Mardiana dan Agam? Sampai sepekan setelah badai tsunami reda, tidak kudengar kabar baik tentang Mardiana dan Agam. Jadi, aku menganggapnya sama seperti yang lain; menjadi mayat!
“Barisan ini tidak akan maju, tapi semakin dan bertambah mundur!” ucap lelaki di depanku dengan ketus. Perempuan di belakangku mengguman tidak jelas. Aku berjinjit. Memanjangkan leher lebih tinggi. Tapi yang tampak di depan hanyalah barisan kepala. Barak pembagian derma di ujung utara, sekarang berubah menjadi noktah kecil yang sulit untuk dijangkau. Kepulan debu yang berubah laksana halimun, membuat barak itu bertambah kabur.
“Darimana kau tahu barisan tidak akan maju?” tanyaku setengah menghardik. Gumaman kekesalan dari ribuan bahkan jutaan mulut yang memenuhi barisan, membuat setiap orang berbicara dengan nada menghardik.
“Apakah matamu buta? Lihat, jarak kita tidak bertambah dekat dengan barak. Kita semakin jauh. Itu artinya apa?” Dia mengomel sambil menggarukgaruk kakinya yang korengan.
“Artinya apa?” balasku.
“Artinya ada yang menyusup di barisan depan! Memotong barisan sehingga kita bertambah jauh dari bala bantuan.”
Kuseka keringat yang membanjir di dada. “Kenapa bisa begitu? Kita sudah berdiri di sini dari subuh. Harusnya sekarang kita sudah duduk ongkang-ongkang di barak pengungsian.”
“Katamu! Tapi orang-orang yang membagi derma itu tidak kenal siapa dirimu. Telah ada permainan tidak bagus di depan,” jelasnya dengan nada pesimis.
“Ah, tidak mungkin!” Kucoba menenangkan jiwa. “Jangan berspekulasi, teman. Tidak baik! Selalulah berprasangka baik.”
Aku berkata demikian, hanyalah sekedar meredam amarahku yang meledak-ledak. Sejak berdiri di sini sedari subuh, aku sudah yakin pembagian barang derma itu tidak akan berjalan sebagaimana mestinya. Akan terjadi juga penilepan. Akan terjadi juga penyunatan. Ada yang didulukan, ada yang dibelakangkan. Toh masyarakat di negeri ini kadung betah berkutat dengan korupsi, kolusi dan nepotisme.
Konon demi per-kkn-an yang brengsek itu, orang-orang berjibaku untuk memainkan angka dan kata-kata. Dan semuanya butuh keahlian serta kepintaran. Lalu bagaimana mungkin mereka membiarkan derma yang sekian triliunan tersebut menguap dimakan massa? Tanpa sedkitpun mencium saku safari mereka yang kelaparan. Wah, wah… alangkah bodohnya. Padahal derma itu sedemikian mudah diperoleh. Setelah tumpah-ruah di bumi rencong, toh semuanya tidak lagi memiliki label. Seluruh orang tidak berhak mengklaim bahwa itu miliknya, selain massa pengungsi yang mudah dibodohi
Ah, kutatap langit merah dengan dahaga yang menohok kerongkongan. Kulihat bintang-bintang yang seharusnya tidak muncul, menari-nari di sana, seirama dengungan kesal barisan pengungsi. Kemudian tiba-tiba aku merasa lemas. Aku terjatuh ke tanah, seiring rubuhnya barisan di belakangku, sehingga masing-masing orang timpa-menimpa.
Ratusan lagi di antara kami mungkin akan kelaparan dan mati. Ratusan lagi akan sakit-sakitan dan mati. Sementara barisan di depan semakin meninju ke belakang. Semakin menjauhkan massa dari barak penampungan derma. Selintas kulihat Mardiana dan Agam melambai. Akankah aku akan menyusul mereka?
Tidak! Sebuah bisikan menyuruhku bangkit. Menyuruhku berlari menerobos barisan sampai ke barak pembagian derma di depan. Kemudian mengambil hakku dan berlari menyongsong tenggelamnya matahari.
O0o0o0o0o0O