Awal Fajar Terbit
Desember 30th, 2006 by jokerholic
Hujan terus memandikan bumi, seperti seorang ibu yang memaksa sang anak. Mengguyur terus menerus.Dingin menyelimuti manusia. Manusia asyik dengan bantal guling dan mimpi-mimpi indah mereka. Langit murka, menyemburkan aumannya, memilukan telinga.
Fajar masih dalam posisi semula. Acuh ia dengan semua. Fajar, seonggok pemuda berusia belasan tahun yang dididik alam untuk mengetahui bagaimana cara hidup yang hakiki. Fajar memperbaiki songkok hitamnya yang kini mulai memerah diperah zaman. Baju koko yang digaunkannyapun sudah compang-camping, Setali tiga uang dengan sarungnya. Mulut Fajar terus saja berkomat-kamit. Memuji kalam-kalam Ilahi. Tasbih, satu-satunya harta warisan orang tuanya, terus berputar mengimbangi mulutnya. Ekor matanya sesekali menangkap kedua adiknya yang ditidurkan alam.
Langit semakin murka, angin semakin kalap. Fajar bangkit dari khusuknya, air merayap masuk menyentuh kepalanya. Fajar mengambil plastik untuk menutup rembesan air dari atap gubug yang bocor. Plastik yang Fajar pungut dari jalan sore tadi. Tapi hujan mungkin tak punya hati nurani. Hujan terus menghujani bumi. Menghantam apa saja yang menjadi penghalangnya. Belum sempat Fajar duduk, hujan terus membobol atap gubug. Fajar tak pernah kenal kata putus asa, diambilnya kaleng untuk memberi rumah yang baik untuk sang hujan.
Fajar tiba-tiba menggigil. Bukan, bukan karena kedinginan Fajar menggigil, tapi karena kerinduannya akan belaian kasih sayang yang membuatnya begitu tersiksa. Orang tua Fajar lebih dulu memenuhi panggilan Tuhan. Meninggalkan Fajar beserta kedua adiknya. Meninggalkan perih dan pedih tanpa muara. Meninggalkan hamparan masa depan yang panjang terbentang. Air mata Fajar terburai, Fajar juga manusia yang memerlukan kasih sayang, air matanya mengimbangi air hujan.
Dalam isaknya, Fajar teringat rengekan Siti, yang menanyakan padanya, kapan Siti sekolah seperti anak sebayanya yang memang usia sekolah. Juga ratapan Ahmad yang menagih sestel baju dan celana sesuai janji Fajar. Fajar menghapus air matanya, tangisnya ditelan gemuruh hujan. Ditatapnya bergantian, antara Siti, Ahmad lalu Siti kembali. Tak seharusnya mereka berada di gubug peot ini, tak seharusnya mereka berjuang sedini ini. Seharusnya mereka memiliki masa kecil mereka. Seharusnya mereka berada di bangku sekolah dan duduk manis mendengarkan petuah-petuah guru, bukannya di jalan raya demi sebutir nasi.
Fajar memperbaiki sarung Ahmad yang sedikit tersingkap. Dikecupnya kening Siti. Kedua adiknya masih tampak polos, tapi sudah dipaksa alam untuk berkenalan dengan sesosok makhluk menyeramkan bernama penderitaan. Koran, alas mereka tidur basah terkena cipratan air. Lampu teplok mulai remang kekurangan kekuatan. Jalan tak lagi sibuk. Orang-orang kaya dikejauhan sana tampaknya sedang menikmati kasur busa atau tubuh sintal istri-istri mereka, atau mungkin dengan wanita-wanita penghibur yang mereka sewa.
Tiba-tiba Siti tersontak dari tidurnya, matanya dipicingkan, menyipit, seakan-akan memastikan bahwa yang duduk bersila dihadapannya adalah kakaknya. Fajar sibuk menyeka air matanya, Fajar tak ingin adiknya ikut menangis karenanya. Siti tersenyum.
“Kak Fajar, tadi Siti mimpi ketemu Emak, Emak bawa seragam sekolah buat Siti, Siti senang sekali Kak Fajar. Siti rindu Emak, Siti rindu Bapak, apakah uang Emak dan Bapak belum cukup atau mungkin mereka sudah lupa sama kita?”, muka Siti tiba-tiba sembab. Hati Fajar tersayat. Fajar memang tak pernah menceritakan kematian orang tuanya kepada adik-adiknya. Fajar takut untuk berterus terang. Fajar tak tega melihat air mata. Fajar hanya mengatakan bahwa kedua orang tuanya sedang mencari uang untuk mereka di luar kota. Lainnya tidak. Siti terus saja berceloteh, senyum Fajar mengembang, mengambang sangat hambar.
“Emak dan Bapak tak mungkin melupakan kita. Jangan lupa Siti berdoa untuk keselamatan Emak dan Bapak“, nasehat Fajar. Siti mengangguk, beranjak ke peraduannya kembali. Melanjutkan mimpi indahnya yang sempat terputus. Mimpi tentang orang tuanya yang sudah tiada. “Malam semakin larut, Siti sekarang lebih baik tidur”, lanjut Fajar. Tangannya sibuk mengganti koran yang telah basah untuk alas tidur Siti. Siti menurut. Sejenak mata Siti sudah kembali mengatup. Fajar kembali bersila.
Tangis Fajar bangkit. Matanya panas demi mendengar kata-kata Siti. Fajar juga ingat, besok adalah hari ulang tahunnya, entah yang ke berapa. Yang Fajar tahu dari emaknya bahwa Fajar lahir menjelang fajar pada bulan pebruari tanggal ke dua puluh delapan, adalah nama yang menjadi bukti ucapan emaknya. Jauh di lubuk hati Fajar ada rasa iri kalau melihat ulang tahun anak-anak seusianya yang dirayakan dengan mewah oleh orang tua mereka, Fajar ingin seperti mereka.
Semua berlari mengikuti evolusi. Malam disalip pagi. Fajar sudah bangun sedari tadi. Hanya sejenak Fajar memejamkan mata, Fajar keluar dari gubug tuanya. Meninggalkan kedua adiknya yang kembali terlelap setelah menunaikan sholat subuh tadi. Fajar tersenyum tipis sebagai ucapan selamat pagi pada dunia. Mentari yang masih tampak seperti seorang perawan, malu-malu untuk menampakkan wajahnya. Tanah becek, karena hujan semalam. Air tidak lagi liar mengalir, mereka sudah kerasan tinggal di kubangan masing-masing. Sampah-sampah Jakarta dibawa hujan semalam, ke bawah kolong gubug Fajar. Fajar menghirup udara pagi yang masih tanpa polusi. Ah tidak…, Jakarta penuh polusi. Kendaraan sudah silih temu, meninggalkan asap gelap.
Fajar mendengar namanya dipanggil dari dalam gubug. Suara seorang bocah lelaki. Ahmad. Fajar memasuki gubug kembali. Menghampiri Ahmad yang masih terbaring. Mata Fajar tertanam pada seonggok rangka kering yang hanya dilapisi sedikit kulit. Lemah dari mulut Ahmad keluar bisikan, bukan, sama sekali bukan bisikan, tapi menyerupai rintihan.
“Kak Fajar, Ahmad lapar, Kak!”, rintih Ahmad. Fajar mengangguk, tiga hari belakangan mereka memang belum makan nasi. Hujan menghalangi mata pencaharian mereka sebagai anak jalanan. Walaupun Fajar masih bekerja pada sore hari, saat hujan mulai reda, tapi uang itu hanya cukup untuk membeli tiga lembar roti. Fajar mengamati adik bungsunya, iba. Ditelitinya bibir Ahmad. Putih pasi menahan sesuatu. Fajar khawatir. Diraba kening Ahmad, Fajar tersentak, kening Ahmad panas. Ahmad sakit. Fajar panik.
“Ahmad sakit?”, Fajar bertanya untuk memastikan kondisi Ahmad. Hening. Tak ada jawaban, hanya anggukan lemah Ahmad. Kemudian kembali hening,“Ahmad juga lapar, Kak“, ulang Ahmad. Bibirnya bergetar.
Bergegas Fajar dari gubugnya. Tekadnya untuk mendapatkan nasi dan obat-obatan untuk Ahmad semakin kuat. Kala Fajar mendapati Bus Kopaja yang sarat penumpang, Fajar mulai memetik gitar yang Fajar bawa dari gubug, Fajar terus bernyanyi, walau kupingnya masih dengan jelas dapat menangkap suara hardikan penumpang yang tidak menyenangi kehadirannya. Sesekali matanya beradu pandang dengan mata penuh kebencian. Diantara penumpang yang berjejal, Fajar mulai mengeluarkan bekas bungkus permen untuk meminta sedikit recehan seikhlasnya pada penumpang. Tak jarang ia hanya mendapatkan sumbangan sumpah dan serapah atau umpatan.
Entah berapa bus yang Fajar turun-naiki. Mentari terus berlari. Fajar mengelap peluh yang melepuh di kulitnya. Mukanya merah terbakar amarah mentari. Terpanggang. Kembali Fajar menghitung tiap denting recehan. Rezeki siang ini cukup untuk membeli sebungkus roti dan obat demam untuk Ahmad. Fajar terus menghitung.
“Wah takkan berlari uang dikejar“, Fajar tersentak. Sontak tangannya menyembunyikan recehan itu ke dalam kantong celananya. Lima lelaki bertubuh besar mengelilingi tubuh kecilnya. Mereka tertawa terbahak-bahak. Tubuh Fajar bergetar hebat. Fajar tahu siapa mereka. Mereka adalah tukang palak yang tak perduli siapa yang dijadikan korban. Mereka sama sekali tak punya hati nurani.
“Hei bangsat, mana duit elo?”, maju seorang diantara mereka. Sama seperti yang lain, tubuh orang itu penuh dengan tato bercorak naga. Jaraknya semakin dekat dengan Fajar. Fajar mundur selangkah, tapi ia tak bisa menghindar. Dari mulut mereka dengan jelas Fajar mencium bau alkohol.
“Jangan, Bang, gua belon makan tiga hari, adik gua juga lagi sakit, jangan, Bang!”, mohon Fajar. Air matanya tumpah.
“Peduli amat sama urusan orang lain, elo mau mati kek, mau mampus kek, peduli apa. Yang penting gua hepi, itu sudah cukup”, mereka terus tertawa. Seorang diantaranya menangkap tubuh Fajar dari belakang. Fajar berontak, tapi lima orang terlalu kuat untuk seorang bocah dengan perut yang kosong tak terisi. Sia-sia Fajar mempertahankan semua uangnya. Tendangan salah satu diantara mereka tepat mengenai rusuk Fajar. Muka Fajar kinipun lebam.
Fajar menangis. Gerombolan pemalak itu pergi meninggalkan dirinya sendiri. Kepala Fajar masih pening. Isak tangisnya masih terang. Tertatih-tatih Fajar berjalan. Bayangan Siti dan Ahmad yang terbujur demam bermain-main, Fajar terus berjalan dan terus, mengikuti ajakan kakinya ynag mengajak pulang kembali ke gubug.
Sekonyong-konyongnya Fajar ingin berteriak. Meminta keadilan Tuhan. Ingin Fajar bertanya pada Tuhan: Mengapa ia di ciptakan kalau hanya untuk menjadi korban ketidakadilan hidup?. Belum cukupkah doa-doanya setiap malam kala orang-orang lebih senang untuk menggapai mimpi mereka masing-masing?. Ataukah kemiskinan dan penderitaan itu adalah kutukan yang harus dijalani secara turun-temurun dan sampai kapan ia bisa merasakan sebuah makhluk ciptaan Tuhan bernama kebahagiaan ?. Kapankah ia dapat menyekolahkan Siti dan membeli sepotong pakaian untuk Ahmad ?.
Kapan ?. Kapan ?.
Didapatinya Ahmad yang masih terbujur kaku. Sekali lagi Fajar meraba kening adiknya. Semakin panas, Fajar menyobek bajunya, membasahinya dengan air, lalu mengompreskan ke kepala Ahmad. Air matanya ikut jatuh melebur menjadi satu dengan air kompresan Ahmad. Tak didapatinya Siti. Mungkin Siti juga sedang berjuang untuk sang adik.
“Kak Fajar, Ahmad lapar Kak“, Ahmad mulai membuka kedua kelopak matanya. Fajar tak mampu menjawab dengan kata-kata. Hanya anggukan kepala yang mewakili semua kata-katanya.
Diluar hujan turut menangis.
Fajar berlari diantara hujaman hujan. Fajar sudah tak tak tahan, bagaimanapun caranya ia harus mendapatkan sebungkus nasi dan obat untuk Ahmad. Harus, bahkan wajib. Fajar tak ingin kehilangan Ahmad. Fajar tak perduli lagi, duri-duri menghalangi derap kakinya, tapi tekad Fajar sudah sangat bulat. Mengalahkan semua perih kakinya. Fajar mendarat disebuah warung. Memasukinya.
“Mpok nasi bungkusnya satu, terus obat demamnya juga satu“, tutur Fajar gemetar. Bajunya yang koyak basah. Celananya basah. Badannya basah akibat hujan. Fajar menyilangkan kedua tangannya di dada kurusnya. Menahan getaran badannya yang menggigil kedinginan. Giginya bergemeretak, beradu satu sama lain.
“Lo punya duit kagak?”, tanya pemilik warung ragu demi melihat penampilan Fajar.
“Jangan liat orang dari tampangnya doang dong, Mpok. Mpok tahu kagak, gua anaknya orang kaya yang ada dipojok sono”, tangan Fajar menunjuk sebuah rumah di ujung barat, mata pemilik warung mengikuti telunjuk Fajar. Fajar menjerit dalam hati. Ia menjadi seorang penipu!. Sesuatu yang tak pernah dilakukannya seumur hidup.
“Terus kenapa baju lo kayak gembel gitu?”, tanya pemilik warung masih belum percaya. Fajar duduk di kursi sambil memperlambat geraknya, mencari jawaban yang tepat. Jawaban yang tidak menimbulkan kecurigaan pemilik warung.
“Biasa Mpok, diajakin main bola ama bocah-bocah, tapi gua cabut duluan, gua demam nih. Cepetan dong Mpok, entar gua diomelin Bokap nih”, desakan Fajar membuat pemilik warung mengangguk-angguk percaya. Terjebak. Fajar terus menunggu. Pemilik warung dengan cekatan membungkus nasi. Cepat karena sudah terlatih, lalu menjulurkannya ke muka Fajar. Fajar menerimanya dengan hati yang tak menentu. Disatu sisi ia ingin membantu adiknya, disisi lain ia tak bisa menyangkal bahwa perbuatan itu dosa. Fajar masih menunggu obat demam dari pemilik warung.
Begitu obat itu sudah berpindah tangan, Fajar berlari meninggalkan warung. Pemilik warung berteriak-teriak minta tolong. Abang becak yang sedari tadi duduk di warung-warung yang berjejer di situ, serentak keluar. Mengejar Fajar. Sekitar dua puluh orang. Jalan raya masih ramai walaupun hujan. Semakin lama, Fajar makin merasakan derap langkah kaki pengejar semakin dekat di telinganya disertai teriakan “maaliiiiiing”, yang dialamatkan pada dirinya. Hati Fajar bergidik ngeri.
Langkah Fajar semakin pelan, kakinya tertusuk paku. Nyeri. Tiba-tiba matanya menangkap sekelebat bayangan didepannya, masih agak jauh, tapi derap kaki itu menghilangkan akal sehat Fajar. Fajar menyeberang melintasi jalan raya. Sial bagi Fajar.
Brrrrraaaaaaaaaaak.
Fajar roboh bersimbah darah. Jalan tiba-tiba macet. Kepala Fajar berkunang-kunang. Kesadarannya terbang. Nasinya bercecaran. Berhamburan.
“Mampus lo bocah“, hanya teriakan itu yang Fajar dengar. Otaknya tiba-tiba memaksanya untuk mengingat Siti dan Ahmad yang menunggu kepulangannya.
Sayup-sayup Fajar mendengar suara adzan. Entah dari mana dan suara siapa?. kalimat syahadat adalah kata-kata terakhir yang keluar dari mulutnya, karena setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.
***
good your inspiration!!! terima kasih tuhan kau ciptakan mereka yang memiliki hati peka menagis dan berdoa atas nama penderitaan dimuka bumi!!!
kata-katanya bagus..fitri suka.