Sajak Garis Tangan
Desember 29th, 2006 by pipinsaswa
Eva,
setangkup hati
dibawa lari
seharap asa
menjadi suci
aku mencengkram hujan tipis
setelah reda; kurenggut senja
dari langit dan kuberikan
padamu
padamu
hanyamu, Eva!
adalah cerita aku berada
di hadapmu dan menjelajahlah
kini aku mengukur setiap inci
raut wajahmu
sampai pada sebuah titik
pada titik di hidupmu
-di ujung peluh juga
aku harus menengadahkan
wajahku. Mencoba menyentuh
cahya dalam matamu yang surga
tiga bulan tiga matari aku
lewati. Tiga yang terus meluka
-dan melukalah aku akhirnya
dulu- menyiratkan awan hitam
langit kosong. Senja aku robek
dan simpan dalam diary
sungguh peluh aku
aku peluh sungguh
dalam tiga langkah:
/1/
adalah jejak langkah luka ku-
torehkan di atas batu. Via
dibawa angin; udara yang
lindap membawa ia dari
dekapan. Aku pun deraskan
kesumat dan rindu; cengkraman
kosong, akhirnya memeluk
kesenyapan meninggalkan
sebesit luka di dalam rabu
detik ini seakan tak ingin
lelah. Kumasih berlari
merabanya bersama
angin, awan, dan buih
O, temukan aku di bawah mata!
/2/
kedewasaan dan ci(n)ta yang
bohong kureguk di antara
perhelatan. Fuji merebah alam
sekejap mata. Tujuh samudera
membawa lima benua. Fuji pun
harus kembali menggapai puncak
menara
(aku menampar udara yang bertuba
berkal-kali)
satu pijakan kelelakian
enam nada sinar bulan
harus duduk bersama bara
melepaskan jari-jarinya di
peraduan. Kuharus menyergapnya
berkali-kali, berribu langkah
mati. Bernaung pada senja
akhirnya harus kering di pelupuk
mata. Angka 31 jadi angka
kemurkaan segala derap. O angin,
kirimlah ia ke belahan yang
ia minta!
/3 /
kosong. Hati suci menjelaga
dalam dekapan Robbi. Ah
cukup saja aku menyapa dan
melipatnya –karena Qodar
adalah sebuah bingkai kenangan
diary bertuliskan janji
kuhempas dalam kedipan mata
dan potret itu pun cuma
jadi sarang laba-laba di atas
kaca; sekerat kisah yang
manisnya bagai gulali. Biar saja
rindu ini bersembunyi dalam sendu
tiga
tiga
tiga kejadian
tiga peristiwa
tiga senja berlalu
tiga senja datang mengancamku
kisahku masih dicoretkan
garis tangan pada malam yang
lumar, pada keheningan yang qudus
di atas kolam dan teratai
suara katak dan semilir
bunga kemboja seakan
meledekku sementara
aku masih mengantongi
bara-bara yang tak pernah
mati
kata kunci dalam abstraksi
untuk kisah selanjutnya:
balutan awan cirrus pada
hati yang redap-redup. Megap-
megap semua lagu membawa
kata; tatapan gelas kaca
di bawah meja
-senja harus kuyu
diterawang kekosongan
tiga dara
(:kelahiranku tuk habis dimakan usia)
garis tangan ternyata tak sampai pada
tepian. Va, kusongsong senja jingga
dengan semua kepalsuan. Tabir hanya
gumaman mimpi yang sengit berkumandang
bersahutan seperti suara adzan –bahkan
suara adzan jadi lagu patah hati-
memeluk hari yang kian pudar warnanya
lembaran pada album bertajuk
sebuah ikatan, masing-masing
menorehkan coretan-coretan
peluh; begitu juga dengan sajak
ini.
senja pun –untuk sekali lagi-
harus bersua dengan malam
dan keheningan. Semua harus
terantuk dalam permenunganku
bersama kata. Va, apakah harus
aku membuka mata untuk
menyambut matari lagi sementara
kebisuan ini jadi sebuah nyanyian
yang tak bisa didengar oleh deru
angin dan linangan telapak tangan?
-keraguan itu muncul juga
dalam padamu
aku berharap pada sebuah muara
pada sebuah akhir cerita yang harus
berakhir. Di atas menara dan dua
jejak langkah kaki, aku terus
memuja Eva, memuja kebenaran yang
belum pasti.
Entah apakah kehampaan akan kembali
menerpa kita sedang perjumpaan itu
telah berlalu tanpa rahasia karena baru
saja aku membaca wajahmu -garis tangan
yang mulai rekat pada sebuah cerita yang
singkat?
Eva,
serupa sebuah kata
kucari dan (ingin)
kubawa lari: aku
ingin membacamu
pada lembar-lembar
diary dan sama-sama
menyentuhkan garis
tangan kita dalam bingkai
senja yang tak pernah bisa
pudar sekalipun malam
jadi kedekatan setiap asa.
Lantaidua, 2006