KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Sajak Garis Tangan

Eva,

setangkup hati

dibawa lari

seharap asa

menjadi suci

aku mencengkram hujan tipis

setelah reda; kurenggut senja

dari langit dan kuberikan

padamu

padamu

hanyamu, Eva!
adalah cerita aku berada

di hadapmu dan menjelajahlah

kini aku mengukur setiap inci

raut wajahmu

sampai pada sebuah titik

pada titik di hidupmu

-di ujung peluh juga

aku harus menengadahkan

wajahku. Mencoba menyentuh

cahya dalam matamu yang surga
tiga bulan tiga matari aku

lewati. Tiga yang terus meluka

-dan melukalah aku akhirnya

dulu- menyiratkan awan hitam

langit kosong. Senja aku robek

dan simpan dalam diary
sungguh peluh aku

aku peluh sungguh

dalam tiga langkah:
/1/

adalah jejak langkah luka ku-

torehkan di atas batu. Via

dibawa angin; udara yang

lindap membawa ia dari

dekapan. Aku pun deraskan

kesumat dan rindu; cengkraman

kosong, akhirnya memeluk

kesenyapan meninggalkan

sebesit luka di dalam rabu

detik ini seakan tak ingin

lelah. Kumasih berlari

merabanya bersama

angin, awan, dan buih

O, temukan aku di bawah mata!
/2/

kedewasaan dan ci(n)ta yang

bohong kureguk di antara

perhelatan. Fuji merebah alam

sekejap mata. Tujuh samudera

membawa lima benua. Fuji pun

harus kembali menggapai puncak

menara

(aku menampar udara yang bertuba

berkal-kali)

satu pijakan kelelakian

enam nada sinar bulan

harus duduk bersama bara

melepaskan jari-jarinya di

peraduan. Kuharus menyergapnya

berkali-kali, berribu langkah

mati. Bernaung pada senja

akhirnya harus kering di pelupuk

mata. Angka 31 jadi angka

kemurkaan segala derap. O angin,

kirimlah ia ke belahan yang

ia minta!
/3 /

kosong. Hati suci menjelaga

dalam dekapan Robbi. Ah

cukup saja aku menyapa dan

melipatnya –karena Qodar

adalah sebuah bingkai kenangan

diary bertuliskan janji
kuhempas dalam kedipan mata

dan potret itu pun cuma

jadi sarang laba-laba di atas

kaca; sekerat kisah yang

manisnya bagai gulali. Biar saja

rindu ini bersembunyi dalam sendu
tiga

tiga

tiga kejadian

tiga peristiwa

tiga senja berlalu

tiga senja datang mengancamku

kisahku masih dicoretkan

garis tangan pada malam yang

lumar, pada keheningan yang qudus

di atas kolam dan teratai

suara katak dan semilir

bunga kemboja seakan

meledekku sementara

aku masih mengantongi

bara-bara yang tak pernah

mati
kata kunci dalam abstraksi

untuk kisah selanjutnya:

balutan awan cirrus pada

hati yang redap-redup. Megap-

megap semua lagu membawa

kata; tatapan gelas kaca

di bawah meja

-senja harus kuyu

diterawang kekosongan

tiga dara
(:kelahiranku tuk habis dimakan usia)
garis tangan ternyata tak sampai pada

tepian. Va, kusongsong senja jingga

dengan semua kepalsuan. Tabir hanya

gumaman mimpi yang sengit berkumandang

bersahutan seperti suara adzan –bahkan

suara adzan jadi lagu patah hati-

memeluk hari yang kian pudar warnanya

lembaran pada album bertajuk

sebuah ikatan, masing-masing

menorehkan coretan-coretan

peluh; begitu juga dengan sajak

ini.

senja pun –untuk sekali lagi-

harus bersua dengan malam

dan keheningan. Semua harus

terantuk dalam permenunganku

bersama kata. Va, apakah harus

aku membuka mata untuk

menyambut matari lagi sementara

kebisuan ini jadi sebuah nyanyian

yang tak bisa didengar oleh deru

angin dan linangan telapak tangan?

-keraguan itu muncul juga

dalam padamu

aku berharap pada sebuah muara

pada sebuah akhir cerita yang harus

berakhir. Di atas menara dan dua

jejak langkah kaki, aku terus

memuja Eva, memuja kebenaran yang

belum pasti.

Entah apakah kehampaan akan kembali

menerpa kita sedang perjumpaan itu

telah berlalu tanpa rahasia karena baru

saja aku membaca wajahmu -garis tangan

yang mulai rekat pada sebuah cerita yang

singkat?
Eva,

serupa sebuah kata

kucari dan (ingin)

kubawa lari: aku

ingin membacamu

pada lembar-lembar

diary dan sama-sama

menyentuhkan garis

tangan kita dalam bingkai

senja yang tak pernah bisa

pudar sekalipun malam

jadi kedekatan setiap asa.
Lantaidua, 2006

Tinggalkan Komentar