Kepergian
Desember 29th, 2006 by pipinsaswa
-kepada Rei
kurasa kaupun harus cepat beranjak dari keberadaanmu.
Melipatkan semburat-semburat kecemasan yang kaucipta di antara garis-garis cakrawala yang kian demikian memudar. Menghilanglah senjakala sore itu seperti hilangnya aku dengan semua angan dan harapan yang terus menggebu akanmu.
Tak lantas, sungguh pun, aku harus luluh dan membayang di antara semua hasrat untuk memilikimu utuh seluruh dan menjadikan semua harus berada di pangkuanku. Tiada pun semua itu sebuah asa yang harus aku hujam jadinya. Ingin kulingkarkan jemariku dan menggenggamkannya erat di atas sela-sela jemarihatimu. Berucap kata akan harap yang aku simpan selama ini dalam tatap. Menatapmu sepenuh hati dan begitu pun dirimu ada dalam siluet yang terus menjadi kelam kini, karena aku belum sempat memulai semua itu. Kau
terlalu cepat berlalu. Mengepakkan
sayapmu terlalu dini ketika senjakala
tiba padahal belum pun aku berbicara
sepatah kata tentang semua yang jadi
belenggu. Jika harus semua berlalu,
aku takkan bisa mencegahmu dan
menghentikan waktu. Ini kali mungkin
aku harus bersandar untuk ke berapa
kalinya: melapangkan hatiku akan
kepergianmu yang entah apakah kau
masih sadari keberadaanku atau tidak
sekelumit harapan yang jadi bias pun telah aku tepis
dan menanamnya dalam harap yang lain yang lain kali mungkin akan muncul layaknya senja yang aku tatap sore ini. Menggantinya dengan malam –sebuah kesepian dalam senyap yang menjadi tak bernyawa walau justru aku malah lebih bernyawa di sepertiga yang aku lalui– yang terus kelam, membuka tabirnya dalam fajar akan secercah sinar yang Ia beri padaku–padamu.
Dan akhirnya suatu saat nanti, semoga, aku bisa memiliki
senja seutuhnya bersamamu
Rumahkayu, 2006
………………………….
harapan yg kuat…..