KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Diam

Akhirnya aku pun diam. Diam dalam hening. Menutup siang dan menggantinya dengan malam. Tak seperti yang dibayangkan dan sungguh tak bisa dipercaya, terlebih lagi teman-temanku. Pemandangan yang sangat tak biasa dari seorang diriku yang biasanya tak pernah bisa diam. Puluhan gelengan kepala pun tampak berpautan di antara mereka yang sekarang tengah berada di ruang tengah, menunggu dalam kecemasan yang sangat.

Sekarang ini aku berada ada dalam sebuah kamar. Hening, sepi, kelam, terasa henti, terang tak bisa aku lihat. Tak lagi bisa aku raba rasa, bahkan untuk menyentuh sesuatu pun tiada. Bibir ini kelu tak lagi bisa bicara. Tiada sedikit pun aku mendengar suara. Lebih dari siang. Ya, diam ini lebih dari siang. Malam ini mungkin kan tetap selamanya lelap, tanpa sikap, tanpa semuanya bisa bisa lagi kuperbuat. Diam dalam sepuluh ribu bahasa. Hanya denyut jantung yang entah aku pun tak tahu apakah masih berdegup atau tidak. Hanya saja terasa teramat lambat kurasa. Namun semua kudapat tenang. Aku lelap dibuaikan oleh diam ini. Sungguh jiwa ini damai dibuatnya. Bahkan di menit-menit terakhir sebelum aku diam, semua tampak sejuk. Dan yang kulakukan hanyalah tersenyum.

Semuanya berawal ketika Daka, sahabatku, mengenalkan aku dengan Dia. Sungguh penuh kasih dan sayang dengan dibalut cahaya dan hati ini seperti seterang qolbu yang tetap suci. Sikap lemah gemulai terhadap manusia. Cantik atas semua yang ada dalam diri-Nya. Daka kenalkan aku dengannya tak sengaja di malam aku, Daka, dan teman-teman lainnya tengah berada di dalam sebuah ruang hati yang berserah diri.

Sebelumnya aku bukanlah anak-baik-baik seperti saat ini. Lingkungan sekitar yang tak mendukung, mendorongku untuk senantiasa berbuat nista. Entah suatu ketika aku pun merasa tertekan sekali dengan kondisiku saat itu. Ingin lari dari semua kepenatan yang ada namun tak kuasa. Kala itu aku abaikan segala aturan hidup. Aku abaikan sisi-sisi kemanusiaanku. Tak ada skiap saling menghargai, tak ada saling menghormati. Aku hidup di tengah masyarakat yang notabene telah dicap rusak. Tak ubahnya seperti zaman jahiliyah di masa kenabian. Aku dan teman-temanku dulu hidup dalam pergaulan bebas yang tak mengenal batsan-batasan. Sebut saja hura-hura, gonta-ganti pasangan, hancurnya lagi kita sering mabuk-mabukkan dan berjudi. Aku pun menganggap bahwa saat itu aku bukanlah manusia. Aku adalah binatang, bahkan lebih rendah daripadanya.

Sekelumit kehidupan kota telah merenggutku. Kukira kehidupan modern yang serba rumit, serba ada, serba glamor, bisa senantiasa memberikan jalan yang lebih baik atas hidupku. Tapi ternyata tidak. Tidak sama sekali. Dengan kata lain, aku telah terjerumus ke lembah hitam dunia fana. Mungkin ini semua didasari dari sebuah jati diri yang kurang kuat. Tanpa bekal yang diberikan orang-orang dekatku sebelumnya, orang tuaku. Tak jauh beda dengan kondisi saat itu, aku berasal dari sebuah keluarga yang kurang terurus, kurang kasih sayang, dan perhatian orang tua. Mereka bercerai saat umurku lima belas tahun. Sebelumnya aku selalu menjadi bulan-bulanan pelampiasan kekesalan mereka jika sedang sedang marah. Jika sudah seperti itu, tetanggalah yang sering turun tangan membantuku.

Selepas perceraian aku dibawa oleh ayah pindah ke ibu kota. Kota yang sangat besar kiranya. Ayah mencoba peruntungan nasib dengan jalan mencari pekerjaan di kota ini. Syukur bagi dia karena kemampuan menyetirnya telah menjadikan dirinya menadapat pekerjaan sebagai supir pribadi seorang direktur bank ternama.

Kami hidup layak. Semua kebutuhan serba tercukupi. Terbesit saat itu ayah ingin menikah lagi dengan tujuan agar rumah tangga bisa terurus. Namun tak juga lebih baik. Aku dan ibu tiriku sering berselisih pendapat. Ya, dia hanya sayang pada ayahku saja dan hartanya, bukan padaku. Seperti lirik sebuah lagu jadinya. Aku pun untuk sekali lagi terlantar dan jauh dari urusan kasih sayang serta perhatian. Di tengah kegalauan, aku lari dari rumah dan mulai bergaul dengan teman-teman sekelasku. Seperti menjadi sebuah awal dari hidup baru yang tak kurasa sedikit pun baik. Semasa itu aku sudah jarang berada di rumah. Keseharianku kuhabiskan untuk nongkorng-nongkrong, minum-minum dengan teman-temanku sampai-sampai sering pulang malam. Suka berkelahi dan terlibat tawuran. Pernah suatu ketika aku tertangkap gara-gara kasus tawuran dan mau tak mau aku pun harus berurusan dengan polisi. Mendengar itu ayah sangat marah sampai-sampai memukulku habis-habisan tak lama setiba aku pulang ke rumah. Tindakan bejatku ini berlangsung cukup lama hingga pada akhirnya aku masuk ke jenjang perkuliahan.

Tingkah dan sikapku semenjak sekolah ternyata tak juga hilang. Aku sering bolos kuliah, pergi ke diskotik dan mabuk-mabukan. Itu yang aku lakukan jika punya masalah. Semua berjalan mulus tanpa ada masalah apa pun. Perjalanan panjang yang mulus dalam kesesatan pikirku. Suatu saat ketika semuaya berada pada titik kulminasi yang sangat. Aku merasa ini semua salah. Ini benar-benar salah. Jalan hidupku bukanlah seperti ini harusnya. Saat merasa seperti itu, Daka-lah yang sering aku bicara dengannya. Di kampus dialah orang yang pertama aku kenal. Kami ada dalam kelas dan jurusan yang sama. Orang yang kukenal baik walau bagaimanapun sering kali Daka kesal akan sikapku yang mengarah kepada keburukan. Dia menjadi teman yang baik ketika aku dilanda kecemasan. Dia menjadi teman yang sangat diandalkan hingga saat ini pun masih begitu.

Di kampus aku seperti kebanyakan teman-teman: belajar, bermain, bergaul dengan yang lainnya, hanya saja duniaku yang lain tak pernah kuperlihatkan di hadapan teman-teman sekelasku. Dunia dimana aku buruk di mata fitrah seorang manusia. Sering pergi ke diskotik, minum-minum, berjudi dan akhlak rusak lainnya. Tapi jangan dikira, aku pun mempunyai prestasi yang cukup lumayan. Sikapku yang lain, yaitu bahwa aku paling tak bisa diam. Maksudku, ada saja tingkahku yang suka jadi perhatian orang. Pernah suatu ketik aku diam selama satu hari. Dan yang terdengar di telingaku anak-anak berkata “ Aneh, tumben dia diam. Apa ada sesuatu dengannya?” Tentu saja perubahan ini sungguh sangat tak biasa bahkan bisa bagi mereka. Tapi tak kuhiraukan semua itu.

Berusaha mencoba lari dari semua kesalahan yang aku lakukan ini, sedikit-sedikit ku pun mulai mengenal dunia narkotika. Di dunia kampus, apa sih yang tak ada. Mulai dari ayam kampus, peredaraan narkoba, orang-orang yang menyelewangkan ilmu pengetahuan untuk hal-hal yang tak baik. Mulai dari yang baik sampai yang buruk, mulai dari orang baik sampai bahkan orang buruk semuanya ada di sini. Ibarat sebuah miniatur negara. Ya, memang seperti itulah adanya.

Soal narkotika ini, aku dengan mudah mendapatkannya dari seseorang yang menawarkanku. Di tengah semua masalah yang kuhadapai, dengan mudah aku pun terpikat dan mulai mencoba barang jahanam itu. Semula yang kupikir aku bisa lebih baik dan tenang dan bisa menyendiri serta keluar dari masalah, setelah aku menggunakan zat-zat adiktif ini malahan jadi memperparah keadaan. Masalah demi masalah pun datang silih berganti. Aku tehimpit dalam sebuah masa di mana aku harus dengan berat hati terkungkung, terperas, teraniaya, oleh  diriku sendiri. Kecanduanku terhadap narkotika semakin menjadi. Dengan konsumsi yang terlampau lebih, untuk setiap waktu, jam, menit, detik yang kulalui, tak bisa aku hidup tanpa narkotika. Badanku menggigil kedinginan jika tak bersamanya. Tubuhku meronta kesakitan. Keringat dingin mengucur seluruh tubuh. Mataku merah. Untuk menenangkannya aku pun raih zat-zat itu lagi.

Setiap harinya aku habiskan beratus-ratus ribu rupiah untuk membeli barang setan itu. Sepeser demi sepeser uangku pun hilang entah ke mana. Mencoba bertahan dalam situasi dan kondisi saat itu, aku mulai menggadaikan barang-barang apa pun yang mengisi kamarku. Ketika semuanya sudah habis, penderitaan yang sesungguhnya pun datang. Tubuhku meronta tak tertahankan, busa keluar dari mulutku dan semua indikasi-indikasi yang entah sepertinya ku merasa ajalku sudah dekat dan memanggil.

Hari itu, dalam tak sadar, aku terbangun dari lelapnya tidurku setelah rasa sakit yang aku rasakan di kepalaku sebelumnya. Ketika mataku terbuka,… putih, semua putih. Semua yang kupandang tampak putih. Di mana aku? Aku tak pernah tahu. Hanya saja aku kaget ketika kudengar isakan tangis di samping aku berbaring.

“Siapa ka…?’

“Kau sudah sadar?’ sambil membelai rambutku.

“Di mana ini?’

“Jangan dulu bicara, kau masih sakit,” berbicara masih dengan isakan tangis,“ kau dirumah sakit sekarang,” jelasnya lagi.

“Apa rumah sakit? Memangnya apa yang sudah terjadi?” keheranan

“Istirahat saja dulu!”

Dalam remang-remang pandangan ini, aku melihat sebuah sosok mendekat. Kucoba tuk melihat lebih jelas, dan yang kulihat…

“Daka?” tukasku

Kemudian aku terlelap tiba-tiba. Sepertinya badanku memang masih lemah dan belum stabil. Kupun kembali menutupkan mata dengan membawa kepusingan yang sangat di kepalaku.

Tak lama kemudian, kudengar lantunan-lantunan ayat suci di sekitarku. Entah siapa yang menggumamkannya, tapi seperti ada banyak orang waktu itu.

“Ka…?”

“Iya, Ded?”

“Makasih.”

“Sudahlah…,” mecengkram pundakku, “kau sudah kuat sekarang?”

“Sedikit.”

“Teman-teman datang menjengukmu.”

“Makasih.”

“Ded?”

“Ya, Ka?”

“Kita dzikir, yuk.”

“Apa bisa?”

“Kau pasti bisa. Dicoba, ya!” setetes air mengalir di pelupuk mata dan aku pun berdzikir dengan bimbingan Daka.

Aku masih ingat ketika Daka mengajakku mengaji, waktu itu. Ia ajari aku shalat dan mengenal Sang Khalik lebih dalam. Ada suatu waktu ketika aku sangat bergitu pasrah dalam penyerahan diri. Sepertiga malam itu, yang hanya kulalui satu kali, membuatku sangat begitu ridha atas segala sesuatu. Berserah diri sepenuh hati dan mengembalikan semua hakikat diri yang ada dalam diriku. Satu waktu itu sungguh begitu khusyuk dan takkan pernah kulupakan.

Saat ini, kurasakan seperti suasana saat itu. Ruangan terisi oleh lantunan dan isakkan pujian bagi-Nya. Suara ayat-ayat masih menguntaikan kata-katanya di ngiang telingaku. Aku pun lantunkan dzikir-dzikir Illahi dalam tak fasih bacaanku. Lama-kelamaan aku pun kembali terlelap dan…

***

“Jadi gimana, Dok?”

            “Saudara Daka, sepertinya rekan Anda harus cepat dioperasi. Kondisinya sudah sangat kritis. Kankernya harus diangkat karena kalau tidak … ”

“Apa tidak terlalu riskan, Dok?”

            “Tak ada yang lebih riskan dari sebuah operasi, namun akan lebih parah lagi jika dibiarkan. Oh ya, bagaimana dengan kerabatnya? Apakah Anda sudah menghubungi mereka?”

            “Ayahnya sedang dalam perjalanan. Tapi beliau sudah menyerahkan seutuhnya tanggung jawab ini pada saya bahkan soal operasi ini.”

            “Nanti suster akan membawa saudara Dedi ke ruang operasi dan … berdoa saja.”

            “Terima kasih, Dok.”

***

Sekarang entah dibawa ke mana aku. Kurasakan roda menggelinding dan teman-teman tampak di belakangku mengantarkan –beribu isakkan terlihat dari picingan mataku. Dalam keadaan pusing yang sangat di kepalaku ini, kembali kukuatkan diri dengan menyebut-Nya dalam dzikir-dzikirku. Daka juga tampak di pinggirku dan masih dengan mulutnya yang basah dan tetesan air mata.

Terakhir yang kulihat adalah sebuah cahaya silau menyoroti mataku dan setelapak tangan yang begitu hangat membasuh wajahku.

Sekarang ini aku berada dalam sebuah kamar. Hening, sepi, kelam, terasa henti, terang tak bisa aku lihat. Tak lagi bisa aku raba rasa, bahkan untuk menyentuh sesuatu pun tiada. Bibir ini kelu tak lagi bisa bicara. Tiada sedikit pun aku mendengar suara. Lebih dari siang. Ya, diam ini lebih dari siang. Malam ini mungkin kan tetap selamanya lelap, tanpa sikap, tanpa semuanya bisa lagi kuperbuat. Diam dalam sepuluh ribu bahasa. Hanya denyut jantung yang entah aku pun tak tahu apakah masih berdegup atau tidak. Semuanya kudapatkan sangat tenang. Aku lelap dibuaikan oleh diam ini. Sungguh jiwa ini damai dibuatnya. Bahkan di menit-menit terakhir sebelum aku diam, semua tampak sejuk. Dan yang kulakukan hanyalah tersenyum.

            Innalillahi wa innailaihi rooji’un. a

 

Bandung, 2005/2006

3 Responses to “Diam”

  1. on 13 Jun 2007 at 16:11fitriyanti

    bagusssssssssssss banget. aku suka, tapi ajari aku tuk bisa buat cerpen aku masuk kemari dong, soalnya aku dah kirim ke sini, tapi kok blom ada yang di muat, kacian deh gueeeeeeee, langsung ke gue ya balasnya,

    maukan jadi temen gue,,, plzzzzzzzzzzzzzz
    makasih

  2. on 06 Sep 2007 at 18:24dea_Ch@

    KKEEEEYYEEEENZZZZZ>>>>>>>>>>>>>>

  3. on 12 Jun 2008 at 21:17akbar maulana

    cerpennya bagus n asik tuk baca
    tapi apakah unu kisah nyata?
    oh ya buat teman2 yang punya
    cerpen tolong kirim ke email aq ya!!
    co_maulana@yahoo.com
    jng lupa
    ditunggu
    ok.!

Tinggalkan Komentar