mengukur-ukur jarak, kemanakah langkah kan berpijak?
ini adalah pengembaraan kesekian kali, nyanyian yang
menyekat kuat. menyusuri lorong asing
suara-suara sederhana dan wajah tanpa dosa
senantiasa meluruhkan gelisah dan penasaran
di kepergian yang tak menyelesaikan
mengukur-ukur jarak, melodi avonturir menyusup di hati
jadi cerita purba. perjalanan melelahkan
selalu saja mengubur masa lalu dituanya usia
“masihkah akan menemukan mawar yang lain
saat aromanya mengigilkan segenap kenangan?”
ujar suara yang mendera
menguku-ukur jarak, menghitung-hitung umur
“masih jauhkah?”
entah tanya siapa. avonturir memanggil, tubuh
menggigil. keberangkatan berperang kesia-siaan
“kita berangkat di kelamnya malam
dan gulitanya perhentian?”
– OO –