KolomKita.Com

Ceritakan Pada Dunia

Your Ad Here

Dengan menggunakan mesin pencari ini Anda ikut mendukung keberadaan situs KolomKita.Com. (?)

Google
 

Angin Utara Untuk Khayla

Pagi ini seakan kelam. Hanya sebuah kesunyian yang melenguh terus menerus. Daundaun waktu terus berjatuhan. Terkoyak. Hancur berkepingan. Tapi mengapa kau masih di sini? Masih diam membisu. Masih terus saja berimajinasi dalam dunia khayalanmu yang kau buat sendiri.

“Bangunlah sayang… Aku sudah terlalu lelah menunggumu. Terlalu lelah mendengar setiap rintihan dari imajinasimu.” rintihku dalam hati. Aku pandangi wajahnya, yang sedikitpun tidak bergeming. Yang sedikitpun tidak pernah terbuka kelopak matanya. Mata yang bulat. Yang memancarkan kehangatan. Kini mulai meredup. Terkatup seakan terkunci rapat. “Bukalah matamu sayang… Matahari hari ini cemberut. Karena kehilangan ceria candamu. Dia menangis. Sendu. Akupun begitu.”

Aku berjalan mendekat. Menggenggam tangannya. Tangan hangat milik seseorang yang aku cintai. Milik seseorang yang saat ini terbaring lemah berjuang demi hidupnya. Masih hangat seperti saat kau genggam dulu.

“Bangunlah cantik… karena tanpamu matahari enggan bersinar seperti biasanya. Karena tanpamu bumi terdiam. Karena tanpamu burung tiada lagi berkicau. Bangunlah Khayla…. aku mohon….” Aku bisikan telinganya, harapku agar dia dapat mendengarnya…. Tapi…ternyata belum lagi terbuka kedua matanya.

Aku melihat kelender meja yang menjadi temannya sejak dia terbaring di sini. Menemaninya. Jika aku bisa mendengarnya, mungkin aku mendapatinya sedang menangis. Hari ini 14 November. “Hari ulang tahunmu sayang. Mengapa belum juga kau buka matamu. Agar bisa kita rayakan bersama. Tertawa……oh yah!”

Aku kemudian berpaling. Melihat sebuah kotak yang aku bawakan tadi. “Ada hadiah untuk hari jadimu sayang. Sebuah kue tart mungil berwarna merah seperti kesukaanmu.”

Aku beranjak. Mengambil dan membawa di sampingnya. Membuka. Kemudian aku nyalakan lilin yang berdiri manja di atasnya. Lalu aku nyanyikan sebuah lagu yang biasa dinyanyikan ketika sedang berulang tahun.

“Selamat ulang tahun… selamat ulang tahun… sayang…”, aku tidak sanggup lagi. Tidak lagi sanggup untuk bernyanyi di hadapannya, “sayang… sampai kapan kau akan terus menutup matamu…Aku bawa ini…bangunlah Khayla…karena setelah ini kita akan pergi ke pantai. Tempat yang kau suka…Kita bercanda, tertawa, bermain air dan melihat matahari tenggelam…”, aku tersenyum, membayangkan aku dan dia benarbenar pergi. Tertawa, bermain air atau melihat matahari tenggelam. “Atau… ke mana saja yang kamu inginkan. Aku akan membawamu. Tapi aku mohon, bangunlah…” aku mengusap air mata yang menetes. Jatuh terjerembab menghujam tanah. Hancur berkepingkeping. Kamudian aku meniup lilin yang sejenak tadi menari sambil menutup mata dan memohon agar kau terjaga.

Karena lelah aku terjaga semalam, aku beranjak mencari mesin penyedia minuman kaleng, untuk membeli sekaleng kopi. Aku berjalan gontai sambil mengingat kenangan yang aku buat dulu bersamanya. Kenangan yang teramat manis untuk menjadi sebuah kenangan. Kita tertawa. Bercanda. Saling ejek. Bergandengan. Terkekeh. Bercerita. Berpelukan. Saling memandang. Begitu seterusnya seakan dalam cerita ini hanya ada kau dan aku.

Aku memilih sekaleng kopi dan duduk di ruang tunggu.

Aku tersenyum. Menutup mata. Membiarkan cerita ini terus memenuhi setiap jengkal pikiranku. Menggambarkan betapa indahnya dahulu.

—o0o—

Entah berapa lama aku tertidur ketika sedang duduk. Aku terjaga kemudian berjalan menyeret kakiku dengan teramat berat. Gontai. Sepertinya aku sedang mengusung sesuatu di pundakku.

Tapi apa yang aku dapati ketika aku kembali ke dalam kamar? Hanya sebuah ruangan kosong. Tanpa seorangpun di dalamnya. Aku mengamati. Meyakinkan bahwa ini adalah kamar yang benar. Kamar yang dia tempati tadi. Lalu dimana dia sekarang? Mengapa tidak ada di sini? Timbul niatku untuk keluar memanggil suster dan menanyakan keberadaannya. Namun…

Aku terperangah. Karena kini aku dapatinya berdiri di hadapanku. “Khayla?? Kamu… sudah sadar?? Lalu… a…aa…”

“Ssst… ini aku…” telunjuknya menempel di bibirku. Mengatup. “Mengapa kau menangis Sandy?” dengan tangannya mengusap lelehan air mataku.

“…” banyak sebenarnya yang ingin aku tanyakan. Tentang kapan ia terjaga. Dan mimpi apa saja yang membuatnya terus menutup mata. Tapi, tak dapat tersampaikan dengan ucapan. Seperti terkunci begitu saja.

“Sayang, mau nggak kamu temani aku? Sebentaaar saja? Yah? Please?” pintanya.

Entah apa yang aku lakukan. Tapi yang aku tahu, aku hanya menganggukan kepalaku. Dan tersenyum. Aku menggandeng tangannya, seperti tidak pernah terjadi apapun.

—o0o—

Desir sayu ombak yang menggulung terdengar sangat jelas. Deru angin utara menerpa wajahku dan hanya melewat begitu saja. Tapi hatiku senang. Karena di sinilah aku bertemu kali pertama dengannya.

Angin yang sama. Angin utara yang lembut yang menemaniku saat itu. Aku senang karena dia bersamaku lagi. Berdiri di sisiku. Tertawa. Tersenyum. Bercanda.

“Ternyata masih sama seperti saat itu yah?” ucapnya dengan tersenyum. Akupun tersenyum melihatnya. “Tidak ada yang berubah.”

“Yah…tidak ada yang berubah sedikitpun.”

Waktu seakan berhenti berputar. Yang ada dalam benakku hanya dia dan angin utara. Angin utara yang sekali lagi temani aku dan dia.

Dia terus bercerita. Tentang masa kecilnya dulu, tentang bagaimana dia menyukai laut, tentang bagaimana senangnya aku bisa temani dia, tapi sedikitpun tidak pernah bercerita tentang bagaimana dia bangun dari tidurnya. Seakan tidak pernah terjadi suatu apapun.

Aku mencintainya. Benarbenar mencintainya. Aku tidak ingin semuanya berakhir. Tidak ingin kehilangan dirinya. Aku ingin terus berada di sisinya. Hal itu terus berputar di telingaku. Terus mengema di rongga kepalaku. Tapi kenapa? Bukankah dia sekarang ada di sini? Bukankah dia sedang bersamaku sekarang? Lalu apa yang aku pikirkan hingga berpikir dia akan pergi jauh? Seakan aku dan dia tidak bisa bersama.

Aku tidak mengerti. Tidak ada satupun jawaban yang aku temukan. Tidak ada seorangpun yang membantuku. Aku seakan sendirian. Aku seakan berada di suatu tempat yang hanya ada aku seorang. Padahal dia di sini, bersamaku sekarang. Berada di sampingku. Tertawa. Namun…ah, aku bingung.

Aku melihat wajahnya. Wajah yang aku temukan dulu. Wajah yang hangat yang membuatku mencintainya. Aku tersenyum. Namun, dia tidak lagi tertawa bersamaku. Tidak lagi tersenyum padaku. Tidak lagi melihatku. Dia bersama orang lain. Seseorang yang tidak aku sadari sejak kapan dia duduk di sampingnya. Seseorang yang mencuri perhatiannya. Sesorang yang membuatnya tertawa. Seseorang yang membuatnya tersenyum.

Aku cermati dia. Aku amati lebih dekat. Suasana ini… suasana yang pernah aku alami. Suasana yang pernah terjadi dulu. Ya, sangat jelas. Aku seakan dibawanya kembali ke waktu itu. Bahkan aku mengenali benar siapa yang sekarang duduk di sampingnya. Aku sangat mengenalinya. Dan itu adalah aku? Ya, aku!! Aku yang berada di sampingnya. Tapi mengapa bisa ada aku? Lalu siapa aku? Di mana sebenarnya ini? Di mana ini? Di mana????

—o0o—

“Aaaakhhh…”

Sialan, ternyata aku hanya bermimpi. Tapi mimpi itu terlalu nyata buatku. Terlalu menyakitkan. Uh, kepalaku sakit sekali. Mungkin karena kurang tidur semalam.

Aku buang kaleng minuman yang aku letakkan di sampingku di tempat sampah yang letaknya tidak jauh dariku. Dan aku beranjak menuju kamarnya, memastikan bahwa itu hanyalah mimpi semata, dan bukan kenyataan. Tapi aku masih memikirkannya. Masih merasa bahwa itu adalah nyata.

Aku berhenti sejenak di depan pintu kamarnya. Ada perasaan takut yang membuncah dalam hatiku. Perasaan takut seperti anak kecil yang kehilangan sesuatu.

Perlahan aku membuka pintu kamarnya. Sangat perlahan. Bahkan aku menertawakan diriku. Karena aku seperti sedang bermain dalam film horor yang ketakutan untuk memastikan sesuatu. Ini konyol.

Ada. Ternyata ada dan masih tertidur seperti aku tinggalkan tadi. Belum terjaga sama sekali. Ternyata bayangan itu hanyalah mimpi. Hanya ketakutanku semata.

Aku duduk di sampingnya. Mengajaknya bercerita. Bercerita tentang indahnya pantai yang aku alami tadi. Bercerita kalau seandaninya dia sudah sembuh aku akan mengajaknya pergi.

Aku genggam tangannya. Tapi…, di mana kehangatan yang tadi aku rasakan? Di mana? Bahkan ini terlalu dingin. Sangat dingin. Dingin…dingin.

“Nggak mungkin, ini hanya bercanda kan sayang? Bukan beneran kan? Kamu tidak mungkin ninggalin aku kan? Kamu…kamu…” aku mencari. Mencari dan mencari. Tapi tidak aku temukan. Di mana tadi. Di mana alat ukur detak jantung yang tadi ada di sampingnya? Dan di mana kabelkabel yang tadi mengitari tubuhnya? Di mana selang infus yang… argh, aku tidak bisa berfikir.

“Kenapa sayang?! Aku yang temani kamu sejak pertama kau di rawat di sini! Aku yang menjagamu!! Aku yang terus menerus berdoa. Aku yang nyanyikan lagu tiap pagi untukmu. Tapi?! Kenapa kamu lakuin ini sama aku?! Kenapa sayang?! Kenapa?!!”

Aku berlari ke luar. Berlari mencari suster jaga yang biasa memeriksanya.

“Suster! Kenapa anda tidak panggil saya tadi? Kenapa saya tidak di beri tahu? Kenapa Sus, kenapa?”

Lalu tibatiba.

“Ibu yang sengaja tidak memberitahukannya padamu.”

“Ibu? Tapi aku yang…. yang… mengharapkan dia… untuk… untuk…” aku tidak kuasa lagi membendung air mata.

“Ibu tahu, karena itulah ibu tidak memanggilmu. Kamu tidak akan merelakan kepergiannya.”

“Tapi itukan anak ibu? Kenapa Ibu bisa setegar itu?”

“…”

“Ibu hanya melakukan apa yang seharusnya ibu lakukan. Ibu sudah terlalu lelah untuk menangis lagi.”

………………………

—o0o—

Selamat jalan sayang… aku tidak akan mengucapkan selamat tinggal karena aku masih mencintaimu. Kenangan tentangmu akan menemaniku hari ini, esok dan seterusnya. Terima kasih Khayla… karenamu aku mengerti arti dari cinta itu sendiri.

One Response to “Angin Utara Untuk Khayla”

  1. on 05 Dec 2007 at 12:33dija

    apakah kisah kamu nyata??????????
    kisah kamu hampir mirip dengan kisah aq
    ditinggal oleh orang yang pertama kali mengajarkan cinta dan menjaga cinta. tapi, semua dah berlalu bersama dengan jalannya waktu. dia adalah kenanganku dan akan tetap hidup dihatiku selama aq masih bernafas. sebab tidak ada satupun yang akan mampu menggantikannya dihatiku.

Tinggalkan Komentar